[Resensi] Let’s Fall In Love – Rina Suryakusuma

Judul : Let’s Fall In Love

Penulis : Rina Suryakusuma

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Baca via ScooPremium

Capture+_2017-06-24-18-29-13

“Cara terbaik untuk melewati sesuatu adalah dengan mulai melangkah dan berjalan melaluinya. Bukan dengan membeku ketakutan dan tak berbuat apa-apa”

(Halaman : 137)

Memiliki jabatan sebagai Financial Analyst di sebuah hotel bintang lima tidak membuat Florida Adinegoro (Flo) merasa bangga apalagi nyaman dengan pekerjaannya. Analis cashflow, dasar pembiayaan awal, pembiayaan perbulan serta analisis return on assests terlihat bagai momok yang ‘menakutkan’ baginya. Bergelut dengan angka merupakan salah satu cara untuk membuat ‘ibunya’ melihat padanya, cara lainnya adalah dengan tetap mempertahankan hubungannya dengan Frans Sudrajat, si dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, walaupun Flo tidak bahagia.

Tekanan yang dihadapi oleh Flo sebenarnya berasal dari Ibunya yang selalu memaksakan kehendaknya pada Flo. Baik soal pekerjaan maupun pendamping hidup. Lagi pun ibunya selalu membandingkan Flo dengan Trisia – kakak Flo yang sangat berbeda dengannya. Di mata Ibunya, tak ada sisi baik yang dimiliki oleh Flo termasuk dalam selera berpakaian. Sialnya, Frans (pacar Flo) sependapat dengan ibunya. Dia beranggapan selera berpakaian Flo yang sedikit nyentrik dan unik seperti fondant kue warna-warni dan gadis gipsi.

Dalam pekerjaan, ketidakbahagiaan Flo berdampak pada hasil pekerjaannya yang salah dan berantakan, sehingga membuatnya menerima SP, agar lebih berhati-hati dalam menganalisa serta bersikap profesional dalam bekerja – dengan tidak berselancar di dunia maya lalu mengumpulkan berbagai macam resep masakan dan kue-kue serta tidak melakukan chat di sela-sela jam kerja.

Adalah Jonathan Aswary, General Manager yang pernah diberi kue kopi oleh Flo sekaligus orang yang memberikan surat peringatan kepada Flo karena ketidakbecusannya dalam bekerja. Dia jugalah yang berperan sebagai mentor bagi Flo dalam menghadapi asessment terkait penilaian kinerja Flo yang dilakukan oleh HRD hotel. Meskipun awalnya terkesan galak dan acuh pada Flo, sungguhnya Jo peduli padanya. Tanpa sadar, Jo pun mulai menyukainya.

Lalu apakah Jo akan menyatakan perasaannya pada Flo? Sementara Flo memiliki seorang kekasih? Dan apakah Flo akan melakukan sesuatu yang disukainya – yakni mengaplikasikan resep yang dilihatnya, membuat kue dan menu baru – walau tahu Ibunya tidak menyukainya?

“Menurutku, kamu harus melakukan apa yang membuatmu bahagia, Flo”

(Halaman : 150)

*****

Ini adalah karya pertama Rina Suryakusuma yang ku baca, aku menyukai cara Mbak Rina mendeskripsikan kue-kue buatan Flo. Detail dan jelas, sehingga aku bisa membayangkan bagaimana wujud visual dari kue yang dibawa Flo pada pertemuannya dengan orangtua Frans.

Bicara tentang karakter, Mbak Rina sukses membuatku mengernyit sebal pada karakter Frans yang pengen ditendang. Ironisnya, banyak karakter seperti ini dalam realitas sosial masyarakat kita. Belum lagi dengan penggambaran karakter Ibu yang tidak membuatku simpati sama sekali. Kok yah, ada gitu Ibu yang gak bisa diajak diskusi dan merasa paling tahu apa yang anaknya inginkan. Ibu yang sungguh egois sekali. Untungnya si tokoh utama (Flo) memiliki Bianca (teman sekantor) dan Trisia (kakak) yang berada dipihaknya, kalau tidak sungguh malang nasib Flo.

Karakter kesukaan? Tentu saja Jo, hahaha.

Sepintas aku merasa karakter Jo mirip karakter CEO-CEO dalam drama korea yang belakangan ini kutonton. Sikap jutek dan galak yang ditampilkannya adalah kamuflase agar orang yang disukainya tidak mengetahuinya. Namun dibalik itu, diam-diam memperhatikan dengan sayang, halah :p. Tentang plot, aku tidak menduga alasan mengapa Jo ‘memandang tidak suka’ pada Flo di awal. Ku pikir, itu murni karena ketidakbecusan Flo dalam bekerja. Bukan karena ada sesuatu pada diri Flo yang mengingatkan Jo akan masa lalunya di Surabaya.

Melalui tokoh Flo, novel ini membawa pesan untuk dapat memilih apapun itu – cita maupun cinta – dengan syarat : yang kita pilih nantinya adalah sesuatu yang kita suka. Yang dapat membuat kita bahagia. Karena kalau dengan senang hati mengerjakannya, apapun masalah yang terjadi, kita akan menganggapnya sebagai proses pembelajaran, dan tak enggan untuk segera bangkit memperbaikinya.

“Dengan hati, segala rintangan yang datang menerpa dapat kau terima dengan senyum dan tekad untuk memperbaiki diri.”

“Saat bekerja dengan hati, kau bahagia” (Halaman : 206)

Dan jika ternyata memiliki orangtua seperti Ibunya Flo, yang bisa dilakukan adalah tak pantang menyerah untuk selalu memberi penjelasan serta pengertian mengapa ingin mengambil pilihan tersebut, dan berusaha untuk bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil serta tak lupa berdoa pada Tuhan agar kiranya membuka pintu hati Ibu agar meridhoinya, karena kalau Ibu gak ridho, gawat juga nanti hehehe.

flying-fish-3[6]

 

 

 

[Resensi] Di Tanah Lada – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Aku akan menyebut mereka Salt dan Pepper.

“Lada itu bumbu masak yang bikin perut hangat. Dia temannya garam. Di meja yang ada ladanya, pasti ada garam juga.” (Hal : 88)

lada atau Pepper dan garam atau Salt.

Mereka adalah dua sahabat baik yang bertemu di sebuah warung makan.  Salt, adalah anak berumur 6 tahun yang baru saja pindah ke Rusun Nero. Rusun yang sama yang juga dihuni oleh Pepper.  Meski baru berusia 6 tahun, Salt adalah anak yang pintar berbahasa Indonesia. Berbekal kamus pemberian dari Kakek Kia saat usianya menginjak tahun ketiga, Salt selalu membawa kamus ke manapun dia pergi. Untuk menemukan arti dari kata-kata yang sering diucapkan oleh orang dewasa – yang  tidak dia mengerti.

Kepindahannya ke Rusun Nero adalah karena Papanya. Papa yang dianggapnya hantu, orang jahat dan monster. Papa yang selalu membuat Mamanya menangis. Yang bahkan ingin mengunci dirinya yang sedang tidur di dalam koper. Papanya yang boros dan suka berjudi. Selain Pepper dan Salt, Rusun Nero juga memiliki penghuni baik hati di lantai 4 seperti Kak Suri – yang mengajari Pepper Bahasa Inggris – Mas Alri – yang mengajari Pepper bermain gitar serta Ibu, Bapak pemilik Rusun.

Masalah mulai muncul saat Papanya Pepper mensetrika tangan Pepper, hingga Salt yang saat itu berada di lokasi segera membawa Pepper ke tempat Kak Suri, untuk mencari perlindungan sekaligus pengobatan. Kak Suri membawa Pepper ke rumah sakit dan berencana untuk melaporkan tindakan Papanya Pepper ke polisi. Sementara Salt, tak ingin jauh dari Pepper. Dia merasa bahwa mereka mengalami nasib yang sama. Memiliki Papa yang jahat. Bahwa, semua papa di dunia ini jahat.

“Skeptis, maksudnya kamu berhenti percaya pada terlalu banyak hal. Kamu berhenti percaya kalau di dunia ini ada hal yang baik. Ada Papa yang baik, ada orang yang baik, ada nasib yang baik. Kamu berhenti percaya kalau kamu nggak perlu mati dan bereinkarnasi untuk bisa hidup bahagia.” (Hal : 196)

Salt dan Pepper menjadi anak yang skeptis akibat perlakuan orangtua mereka sendiri. ‘Melarikan diri’ mereka anggap sebagai jalan untuk dapat hidup bahagia. Maka mereka pun mulai melakukan perjalanan yang tanpa disadari dapat mengungkap masa lalu Pepper.

*****

17-05-01-23-33-02-030_photo

Di Tanah Lada

Pantas saja rasanya novel ini menjadi salah satu pemenang dalam sayembara DKJ 2014. Topik yang dipilih Ziggy sebenarnya adalah topik umum yang sering menjadi fenomena di Ibukota. Tentang kehidupan di Rumah Susun. Tentang kebiasaan berjudi pada masyarakat. Tentang KDRT. Tentang pergaulan bebas serta perihal berbahasa Indonesia yang baik, yang makin terpinggirkan dengan penggunaan istilah-istilah asing.

Yang membedakan adalah sudut pandang penceritaannya. Melalui kacamata anak berusia 6 dan 10 tahun Ziggy mencoba melihat bagaimana anak-anak berusaha memahami dunia orang dewasa. Bagaimana efek yang ditimbulkan dari KDRT bagi anak serta tentang bagaimana menyikapi sebuah kesalahan yang terjadi akibat dari pergaulan bebas di masa lalu.

Beberapa sindiran halus yang kutemukan dalam novel berjumlah 244 halaman ini, seperti misalnya :

“Yang lebih penting daripada bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat.” (Hal : 66)

“Aku menangis karena orang dewasa tidak mengerti apa-apa.” (Hal : 92)

Penulis juga sedikit menyentil fenomena pasca perceraian yang kerap di masyarakat perceraian dalam kalimat polos yang diucapkan oleh Pepper saat dia diberi boneka Pinguin oleh Salt.

“Aku dan kamu sama-sama boleh main dengan bonekanya,” jelas Pepper. “Kadang-kadang, bonekanya ikut aku, kadang-kadang ikut kamu.”

“Memangnya bisa begitu?”

“Bisa dong. Kayak punya anak. Anak, kan punya Papa dan Mama. Jadi, mereka bagi-bagi.” (Hal : 108)

Karena POV nya dari seorang anak, maka dialog-dialog khas anak-anak pun tertulis dalam beberapa kalimat yang mengundang senyum simpul saat membacanya.

Capture+_2017-05-01-23-53-21

Masih ada beberapa kalimat-kalimat yang kusukai dari buku ini :

Ada banyak orang yang menunduk ketika seseorang meninggal. Orang-orang tertarik dengan kuku kaki dan lantai marmer ketika itu terjadi (Hal : 5)

“Tidak ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan – sayang atau tidak – kalau kamu tidak mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar.” ( Hal : 8)

 “Budi bahasa baik membentuk manusia bersahaja.” (Hal : 103)

Sedih sekali, tidak ada bintang di Jakarta. Aku bilang, “Kalau begitu, bagaimana caranya permohonan orang Jakarta bisa terkabul.” (Hal : 123)

“Yang menurut kamu bagus, nggak berarti bagus untuk orang lain, tahu?” (Hal : 138)

Aku bilang ke Kakek Kia, sulit sekali menemukan ‘kebenaran’ dalam kamus. Lalu, dia tampak sedikit sedih. Dan, kata Kakek Kia, “Lebih sulit lagi menemukannya di dunia nyata.” (Hal : 210)

Yang sedikit menganggu pikirku kala menyelesaikan novel ini adalah, kok yah Salt dan Pepper itu cerdas untuk anak seumuran mereka. Agaknya setelah semua ‘kekerasan fisik dan mental’ yang mereka terima dari orang-orang terdekatnya yang membuat mereka lebih awal mendewasa, namun tetap tidak kehilangan ciri khas kekanakan mereka – polos, ingin tahu dan blak-blakan. Inginnya sih aku memberi bintang sempurna untuk novel ini, tapi yah endingnya itu membuatku mengurungkannya.

4,5 /  5 bintang untuk persahabatan sehidup semati  Garam dan Lada.

Judul : Di Tanah Lada | Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie | Halaman : 244 | Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Capture+_2017-05-01-23-52-30

Bermain di IRF part 1

Desember ke sepuluh di tahun ini telah kutandai dalam penanggalan sebagai sesuatu yang dinanti. Acara tahunan yang menjembatani para penggiat literatur – penulis, pembaca, penerbit – kembali digelar. Museum Nasional menjadi saksi berkumpulnya para penyuka atau mungkin pencinta buku merayakan acara yang digagas oleh Goodreads Indonesia, bernama, Indonesia Readers Festival (IRF) atau Festival Pembaca Indonesia. Ini kali kedua aku mengikutinya. Berbeda dari tahun lalu, ketika aku berjalan sendirian memutari satu demi satu booth dari berbagai penerbit, di IRF yang sekarang aku bersama dengan dua orang rekan yang sungguh baik hati karena bersedia menjadi fotografer dari tiap moment yang telah kulewati selama acara berlangsung (semoga menjadi ladang amal untuk kalian, karena membuat orang bahagia aka senang akan mendapat pahala bukan?)

Aku menjadi orang yang ingkar.

Selisih 90 menit dari waktu temu yang disepakati membuatku berjalan sendirian menuju tempat penyelenggaraan. Tapi tak mengapa karena kemampuanku membaca petunjuk tempat sudah mengalami kemajuan, tidak lagi ada tersasar seperti tahun lalu. Dua orang teman telah tiba lebih dahulu. Acara belumlah dimulai ketika aku melangkahkan kaki ke dalam ruang berkapasitas 50-60 orang tersebut. Tak sampai lima menit aku duduk, mataku menemukan sosok yang akan menjadi pembicara dalam workshop yang akan kuikuti pagi kala itu. Seorang perempuan yang kukagumi. Setidaknya sejak aku membacai rekam jejaknya dalam dunia kepenulisan yang telah sepuluh tahun lamanya. Perempuan yang biasa disapa dengan “Mbak, W.”

“Udah sana minta tanda tangannya sekarang aja, sebelum ramai.” Temanku memberi saran.

“Nanti ajalah, Mbak W nya masih sibuk liatin laptop. Gak enak, nanti ganggu pulak.” Aku beralasan. Padahal lebih tepatnya aku sungkan dan pemalu 😛 (tapi sungguh jika kalian sudah mengenalku dengan baik, pemalu yang tadi kukatakan bertransformasi menjadi ‘malu-maluin’).

Tak habis akal, temanku malah mengajari bagaimana cara memulai percakapan. “Awali dengan senyum, nanti juga dia bakalan senyum.” Kira-kira begitu petuahnya. Temanku itu belum tahu saja, bahwa ada seorang anak Adam yang ketika aku tersenyum hanya padanya, alih-alih membalas dengan senyum juga, wajah datar tanpa ekspresi malah yang kudapatkan, eh kok jadi curcol kenangan lama ya, maafkan 🙂

Singkat kata, singkat cerita, aku dan dia jatuh cinta. 

Eh bukan, bukan, maksudnya singkat kata, singkat cerita aku dan temanku itu beranjak menuju meja Mbak W dan memintanya untuk membubuhkan autograf di buku Life Traveler kepunyaanku. Buku yang kukirim khusus dari kampung agar dapat ditandatangani langsung oleh penulisnya. Tak lengkap rasanya bila hanya mendapat sebuah tanda tangan tanpa mengabadikannya secara visual dalam wujud potret.

Banyak wawasan baru yang kudapatkan selama mengikuti proses workshop yang bertajuk “Creative Writing 101”. Insya Allah, aku akan menceritakan ‘permainan jari’ apa saja yang dilakukan dalam workshop tersebut di postingan yang selanjutnya. Sekalian bercerita juga tentang workshop lainnya yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang tentang “Make Your Own Book With What You Have and What You Can Do” yang juga aku hadiri.

15443052_10207832482234184_7734129306871638396_o
udah pasang gaya maksimal, eh malah blur huhu 😦

 *****

Sarapan, tidak.

Makan siang, lewat.

Biasanya pada pukul 15.00 aku telah mengonsumsi nasi, minimal sekali. Namun karena padatnya acara yang kuikuti hari itu tidak menyempatkanku untuk keluar gedung mencari warteg terdekat. Alhasil, perutku harus bersyukut karena masih kuberi nutrisi berupa dua potong biskuit berlapis gula, beberapa roll stik cokelat dan sebotol air mineral. Setidaknya dapat sedikit mengganjal rasa lapar yang sedari tadi sudah terasa sembari menunggu rangkaian acara selesai pada pukul 17.00.

Selain kedua workshop yang telah kusebutkan, aku juga turut menjadi penonton yang menyaksikan talkshow dan peluncuran perdana buku karangan dari Adhitya Mulya – Bajak Laut dan Purnama Terakhir.

Jika tahun lalu aku memiliki cukup banyak waktu untuk mengitari dan singgah di tiap booth, kali ini tidak. Mungkin hanya sekitar 15-30 menit alokasi waktu antara :

…. aku berdiri menatap satu persatu tumpukan buku di meja panjang bernama arena : book swap.

…. berpindah ke meja satunya yang berisi buku-buku bersampul cokelat yang telah diberi petunjuk, bernama arena : blind date book.

15400900_10207832575756522_2898579477677576684_n

15369082_10207832530955402_4020707477077182244_o
Hasil blind date books and book swap (^_^)

…. berjalan-jalan dari satu booth ke booth lainnya lalu melihat seorang penulis kesayangan ada di sana.

“Mbak Mo, boleh foto bareng gak?”

“Tunggu…” ada jeda dalam kalimatnya “Indri ya? aku ingat kan, padahal udah setahun lalu.”

Aku kaget. Tidak menduga sama sekali kalau Mbak Mo mengingat namaku. Secara pertemuan pertama kami adalah setahun lalu, dalam IRF juga.

“Sebentar ya, aku mau ngobrol sebentar sama Kang Adit”

15392998_10207832499794623_7861304295648976710_o
Menangkap moment temu dengan Mbak Morra 🙂

*****

IRF 2016 ini juga menjadi kali kedua aku melihatnya. Dia yang kumaksud bukan penulis, melainkan pembaca yang entah mengapa dulu pernah hadir di mimpiku setahun silam. Dia masih sama seperti pertama aku menatapnya, dengan kacamata, kumis tipis dan janggut yang sedikit. Kali ini dia mengenakan jaket abu-abu dengan sepatu kets bertuliskan diadora.

Aku senang melihatnya lagi, meski tanpa ada sensasi kupu-kupu di perutku. Hidup adalah drama. Namun tidak semua kejadian dalam hidup sesuai dengan drama kesukaan kita yang biasa disaksikan dalam layar kaca. Misalnya saja ketika dua orang bersilang jalan, mengapa dalam realitanya waktu tidak berjalan lambat dan pelan hingga pada akhirnya dua orang tersebut dapat mengenali satu sama lain. Coba saja di dalam drama layar kaca, sudah pasti akan ada yang namanya slow motion yang menandakan inilah awal mereka bertemu.

Ya, aku bersilang jalan dengannya.

Pintu keluar yang menjadi latar.Aku berniat kembali ke gedung pasca menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan dia sedang menuju tempat yang baru saja kudatangi.

*****

Rintik hujan yang turun.

Bergesernya waktu makan.

Lelahnya tubuh karena sedari pagi melakukan aktivitas dengan membawa 5 buku dalam tas di selempangan bahu dan 4 sisanya dalam goodie bag.

Lalu ditambah dengan terlambat munculnya bus bernomor AC 34.

Membuatku menutup mata di tengah perjalanan pulang. Padahal biasanya aku bukanlah orang yang mudah tertidur dalam transportasi umum. Mungkin itu terjadi karena akumulasi semuanya, dan semakin lengkap dengan dinginnya suhu ruangan dalam bus tersebut. Aku jatuh tertidur dan kembali tersadar ketika kondektur mengatakan “Islamic, Islamic.”

*****

PS : Terima kasih untuk kedua rekan yang meluangkan waktunya untuk bermain bersamaku di IRF kali ini.

Terima kasih kepada F untuk pinjaman buku kesukaannya.Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi diacara serupa tahun depan.

Aamiin.

15356584_10207832518355087_1214878249229915518_n
ki-ka : Mbak Morra, Mbak Windy, Mbak Lala, Kang Adit

[Semacam] Review – Pulang

pulang-5691e8292a7a61520fb229e4

Pulang pada hakikat kehidupan.

Pulang, memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan (hal : 219)

Hanya karena libur teramat panjang dan aku tidak ingin mati gaya, maka selain nama besar tere liye sebagai pengarang – aku pernah membaca beberapa bukunya dan tidak masalah dengan cara berceritanya – dan judul yang sesuai dengan kejadian yang ketika itu ku lalui, maka aku membawa serta buku ini bersama daftar buku pinjaman lainnya.

PULANG

Ya, ketika itu aku sedang pulang. Ke kota di mana aku dilahirkan.

Buku ini pun ku bawa pulang.

Romansa, keluarga, dan kepergian menuju masa depan (merantau) adalah beberapa bagian yang berkelindan dalam buku ini, pikirku pada awalnya. Namun ternyata tebakan ku sedikit meleset. Sama sekali tidak ada nuansa romansa antara laki-laki dan perempuan dalam buku ini, tapi tidak berarti aku kecewa akan keseluruhan isi buku.  Meski aku merasa tertipu dengan asumsiku sendiri, aku tidak lantas dapat meletakkannya begitu saja. Banyak wawasan baru yang aku ketahui setelah membacanya, tentang shadow economy – dulu sekali pernah dengar tentang bagaimana para pengusaha-pengusaha kaya menjalankan bisnisnya dan keterlibatan mereka dalam ‘dunia gelap’ soal perputaran uang – tentang cara menjadi seorang ninja dan samurai sejati serta filosofi pistol dari seorang Salonga.

Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing (hal : 101).

Semua orang di dunia hitam mengenal kakekmu, Bujang. Dia adalah jagal ternama hingga pulau seberang. Julukannya ‘Si Mata Merah’ karena matanya selalu terlihat merah. Bisikkan nama kakekmu di perempatan jalan, satu kota akan bergegas masuk ke dalam rumah, meringkuk terkencing-kencing. Sebutkan nama kakekmu di balai bambu, satu kota akan bergegas pulang, memadamkan lampu (hal : 144).

 

Pulang berhasil menyentuh sisi melankolisku tanpa balutan cinta-cintaan ‘keju’ yang biasanya ada dalam novel romance.

Buku ini menyajikan lebih dari itu.

Perkara pilihan hidup yang seringnya tidak adil dan sulit untuk dipilih, lalu dilain hari akan menyesali mengapa waktu tidak dapat diputar ulang.

Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan (hal : 262)

Hidup ini sebenarnya perjalanan panjang, yang setiap harinya disaksikan oleh matahari (hal : 336)

Tentang keberserahan diri pada apa-apa yang telah menjadi rencanaNya. Yakinilah  bahwa apa yang telah ditulis olehNya adalah skenario terbaik yang memang hanya mampu dilalui oleh kita sebagai pemeran utamanya.

Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egosime. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja (hal : 219)

“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran” (hal : 340)

Tentang cinta pada keluarga – meski tanpa ada kesamaan ikatan darah. Tentang kesetiaan, pengorbanan dan kesabaran.

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain (hal : 188).

Bersabarlah, maka gunung-gunung akan luruh dengan sendirinya, lautan akan kering. Biarkan waktu menghabisi semuanya (hal : 288)

Serta tentang sejauh apa pun langkah kaki ini menapak, sekelam apa pun jalan yang pernah di tempuh, Sang Pemilik kehidupan senantiasa menanti kita untuk kembali pulang kepadanya.

Karena cinta yang paling hakiki adalah cinta Sang Pencipta pada hambanya.

“Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan. Segelap apa pun hitamnya jalan yang ku tempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang (hal : 400)

Dan pada akhirnya, nilai sempurna – lima – untuk suara panggilan pulang yang berasal dari Tuhan.

 

Pasangan Kencan

a

Cinta itu sabar. Ia akan selalu belajar dari sebuah kesalahan. Bukan malah mencari kesalahan. Ia akan belajar memaafkan dan menerima. (halaman : 59)

Cerita bermula dengan bagaimana Kia dan Bas adalah dua orang teman yang sangat dekat. Di mana ada Kia, maka akan ditemukan pula Bas di sisinya. Mereka akrab. Saling menguatkan dan mendukung satu sama lain. Bukan berarti tidak ada intrik di antara mereka, namun pada akhirnya mereka akan berbaikan lagi dan lagi. Kembali menikmati senja dari atas atap bersama.

Konflik mulai terasa ketika hidup memasuki fase selanjutnya. Kuliah. Bas dan Kia yang terpisah jarak semakin jarang berkomunikasi. Menatap senja dari atas atap sembari menikmati secangkir cokelat panas ditemani dengan orang yang dicinta adalah rutinitas yang sering dirindukan oleh Kia ketika dia harus pergi ke Gunung Kidul untuk KKN. Dan Bas, sahabat sejak kecil Kia, yang juga menjadi cintanya, pergi ke negeri seberang demi membuat orang tuanya bangga. Beruntungnya Kia, selama KKN dia ditemani oleh teman yang selalu membuatnya nyaman, Hisyam. Orang yang ada di sisinya pasca kepergian Bas. Hisyam pula yang setia menemaninya menikmati cokelat panas di akhir hari.

Akankah Kia masih menyimpan perasaan yang sama untuk Bas yang telah lama tidak berjumpa dengannya, meskipun Hisyam senantiasa ada di sampingnya ? Akankah tujuh belas tahun kebersamaan Kia – Bas harus berakhir demi meraih masa depan ?

Emang kalau ngeluh gitu, skripsinya bisa cepet selesai? (halaman : 261)

*****

Zonk.

Bukan. Bukan zonk mengenai cerita dalam novel ini. Bukan. Sama sekali bukan.

Begitu kubuka sampul pembungkusnya, aku sudah punya dugaan tentang cerita apa yang disuguhkan dalam novel ini. Jadi aku tidak menaruh ekspektasi apa-apa ketika membacanya.

Yang aku maksud zonk adalah, ‘tebakanku mengenai apa yang menjadi pasangan kencanku’. Aku punya dugaan bahwa prioritas pertamaku yang akan menjadi pasanganku, karena eh karena si ‘pemilik’nya mengirim pesan kepadaku. Ternyata aku salah, yang berjodoh denganku bukanlah pilihanku yang pertama, melainkan pilihanku yang kedua.

Berbicara tentang pilihan pertamaku, aku punya dugaan buku apa itu sebenarnya. ALLY. Apakah ada unsur kata itu dalam judul buku yang menjadi pilihan pertamaku? (tanya Putri Natalia :P)

Kaget ketika pasangan kencanku ternyata bukan buku yang telah kuduga, haha. Jadinya gak bisa membuktikan apakah analisisku sudah sehebat Heiji ataukah masih setingkat Kogoro 😀 hehe.

Walau tebakanku salah, aku cukup senang ketika menemukan selembar kertas yang diapit bookmark yang berasal dari si pengirim. Menerima sebuah surat dari teman bertukar buku yang selama ini hanya kuikuti dalam linimasa.

P_ambangsari, terima kasih telah menuliskan ‘surat pengantar’ itu 🙂

Fifah dan Putri Natalia, terima kasih telah menyelenggarakan event kece bertajuk Blind Date With A Book. Semoga tahun depan masih akan ada event serupa atau malah event yang jauh lebih kece lagi dan aku dengan senang hati akan berpartisipasi meramaikannya.

PS :

Ah iyaa, sekalian ingin memberi tahu identitas asli dari buku yang ku ikutsertakan dalam Blind Date kemarin :

my-favorite-good-bye
Penulis adalah orang-orang kesepian yang sulit dimengerti | Diterbitkan di dua negara | Tokoh utamanya pria
51rQ38oOgXL._SX348_BO1,204,203,200_
Kumpulan cerpen | Penulis perempuan yang pernah memenangkan Khastulistiwa Literary Award | Anjing | Manusia yang hidup abadi
26869062
Remaja | Aceh | Sebuah Janji | Kertas

Bagi yang menebak Tere Liye untuk buku yang ketiga, kalian salah total saudara-saudara huahaha 😛

 

Cheers,

Indri

Blind Date with A Book

BLIND DATE WITHBOOK(3)

Assalamualaikum, dan selamat pagi..

Lagi, mood menguasai diri hingga akhirnya blog ini antara ada dan tiada. Padahal niatnya sedari awal membuat blog yang khusus berkenaan dengan buku eh malah jarang diisi. Ditambah lagi dengan reading slump yang belakangan ini melanda, makin jadilah ini blog penuh keheningan. Demi menyiasati itu semua maka aku membuat keputusan untuk mengikuti event kece yang digawangi oleh Afifah dan Putri. Event yang diberi nama Blind Date with a Book. Di mana nanti tiap-tiap orang yang menjadi peserta event akan ‘memberikan’ bukunya kepada peserta lain. Namun masing-masing peserta tidak tahu wujud real buku seperti apa yang akan mereka terima. Mereka hanya akan diberi kode – kode yang akan membantu untuk memilih buku mana yang diinginkan. Nah sebagai salah satu dari peserta, maka aku juga berkewajiban menebar petunjuk tentang buku apa yang ingin kuberi pada peserta lain.

Buku-buku ini memiliki arti tersendiri bagiku. Satu diantaranya hadiah dari penerbit mayor, karena alhamdulillah aku memenangkan kompetisi menulis surat. Dua lainnya, kumiliki ketika untuk pertama kalinya aku hadir dalam event pembaca di Jakarta. So udah siap menebak kode-kode dariku?

Here it is :

  1. Penulis adalah orang-orang kesepian yang sulit dimengerti | Diterbitkan di dua negara | Tokoh utamanya pria.

  2. Kumpulan cerpen | Penulis perempuan yang pernah memenangkan Khatulistiwa Literary Award | Anjing | Manusia yang hidup abadi

  3. Remaja | Aceh | Sebuah Janji | Kertas

Sudahkah punya dugaan buku apa yang kumaksud? Tidak terlalu sulit kan petunjuknya? 🙂

Ah iyaa, sebagai catatan saja :

Jangan berekspektasi tinggi terhadap buku-buku ini. Aku tidak tahu genre seperti apa yang kamu sukai, jadi pesanku jika nantinya buku tersebut berjodoh denganmu, sayangi dia sebagaimana aku (pernah) menyayanginya.  Pesanku cukup mudah bukan?

Semoga buku-buku ini dapat bermanfaat untuk kamu.

Cheers,

Indri..

[Resensi] Lautan Langit

Judul : Lautan Langit
Penulis : Kurniawan Gunadi
Halaman : 203
Penerbit :  Langitlangit Creative Studio

CdPj2nmUEAAnyw2

“Semoga Allah menyelamatkan orang-orang yang lemah karena jatuh cinta.” (Hal : 6)

Pernah sesekali aku membaca tulisannya dari postingan status seorang teman maya. Itu kali pertama aku mengenal namanya. Sebatas kenal dan hei, aku menyukai gaya menulisnya. Sederhana tapi mengena dalam jiwa. Merasa relate dengan situasi yang terjadi pada diri, segera aku menekan tombol jempol pada postingan tersebut. Sepertinya temanku – yang bahkan aku tak tahu darimana circle pertemanan kami terkait, kawan masa kecil bukan, teman semasa sekolah juga tidak – itu juga menyukai gaya menulis dirinya, terlihat dari cukup seringnya dia mencatut tulisan-tulisan kepunyaannya.

Dari situlah semua bermula.

Tak hanya berhenti di sana, dalam flatform lain aku menemukannya. Tanpa sengaja. Tulisannya kembali mengambil hatiku. Tidak perlu berpikir dua kali aku pun mengikuti official blog miliknya, Kurniawan Gunadi.

Menyelusuri tiap tulisan yang telah dipublikasikannya. Membaca satu persatu, dan sampai pada satu halaman entah dipostingan yang mana, aku baru tahu kalau ternyata dia telah menerbitkan buku. Dua buku. Kemana saja aku selama ini, kenapa baru tau sekarang?

Satu dari dua bukunya lah yang ingin kubicarakan.

Lautan Langit.

Buku keduanya yang kupilih untuk lebih mengenal tulisan Mas Gun (begitu sapaan akrabnya). Katanya orang cerdas adalah orang yang mampu menjelaskan sesuatu secara sederhana. Nah dalam tulisan ini aku merasa begitu. Sederhana, manis sekaligus menyentuh. Meski sebagian besar isi buku ini berputar soal ‘menemukan-yang-namanya-pasangan-hidup’ Mas Gun mengemas itu semua dengan untaian kalimat sederhana namun membekas di hati pembacanya (apa hanya aku saja yang merasa begitu?) dan sama sekali tidak terlihat picisan. Selain itu dalam buku ini juga banyak kisah tentang cinta orang tua terhadap anak-anaknya dengan memberinya pesan-pesan bijaksana yang mampu membuatku mbremes mili dan jadi kangen sama keluarga. Salah satu judul tulisan yang ku maksud adalah “Sebelum Esok” dan “Nasihat Ayah”.

Lautan langit adalah kumpulan cerita yang dibagi dalam tiga part.

Ilustrasi cantik yang ada dalam tiap part menegaskan apa yang biasanya terjadi di pagi, siang dan sore hari. Ya, ketiga part tersebut adalah :

Pagi.

Memandang LANGIT DI KACA JENDELA membawa ingatanku akan NASIHAT AYAH kala itu, di hari SEBELUM ESOK kukemas koper, bahwa sejauh manapun langkah ini membawaku pergi, ingatlah satu hal yang pasti RESTU ORANG TUA harus selalu mengiringi. Agar nantinya perjalanan terlalui dengan ringan.

Jilbab yang baik adalah jilbab yang membuatmu bisa shalat tanpa mukena lagi, kamu bisa melaksanakan shalat dengan pakaian dan jilbabmu itu. Karena pakaian dan jilbabmu sudah memenuhi syarat sebagai pakaian untuk shalat. Menutup aurat. (Nasihat Ayah – Hal : 59)

Siang.

Nak,

Meski SEJUTA PASANG MATA memandangmu dengan tatapan miring, meragukan tampilan fisikmu, yang kata orang, kurang menarik. Kurang sempurna. Ketahuilah PASTI (AKAN) ADA seorang hawa yang menerimamu apa adanya, karena dia telah paham bahwa untuk MENCINTAIMU ADA CARANYA. Dia mengerti bersama kemudahan akan ada kesulitan. Bersama kelebihan BIASANYA selalu ada kekurangan. Dari sanalah dia belajar untuk senantiasa mengucap SYUKUR atas apa yang telah Tuhan gariskan dalam takdir hidupnya. Termasuk untuk menjadi istrimu, kelak.

Hawa itu mengusap bulir air yang membasahi pipinya dengan segera. Dia tak ingin calon suaminya mendapati dia menangis di hari bahagia mereka. Mungkin dia lupa, kalau suaminya tak mampu mengetahui gaun warna apa yang sedang dia kenakan sekarang. Dan bahwa dia telah tanpa izin membuka sepucuk surat yang berisi PESAN IBU KEPADA ANAK LAKI-LAKINYA TENTANG CINTA.

“Ada orang-orang baik yang sengaja dihadirkan dalam hidup kita hanya untuk menguji perasaan kita, bukan untuk menjadi pasangan hidup kita.” (Syukur – Hal : 134)

Sore.

DENGAN CARA KITA SENDIRI, kita dapat MEMPERJUANGKAN mimpi. ORANG-ORANG YANG MENULIS apa yang menjadi mimpinya mungkin lupa bahwa selain daftar panjang tentang apa yang ingin diraih dan bagaimana cara menggapainya, ada satu cara yang tidak boleh dilewatkan, yakni MENJAGA DOA yang disertai usaha keras untuk dapat mewujudkannya.

“Rumah menjadi sesuatu yang paling sering kita tinggal pergi tapi selalu berhasil membuat kita merasa ingin pulang.” (Menjaga Doa – Hal : 177)

Sebagai penutup, jika ingin membaca tulisan ringan yang memiliki makna mendalam, yang syahdu untuk dinikmati dengan segelas teh hangat dan kudapan renyah, tidak usah ragu untuk memasukkan Lautan Langit dalam daftar bacaanmu selanjutnya.

“Perjalanan yang sesungguhnya adalah kepulangan bukan kepergian.”

 

Catatan :

Kata berhuruf kapital adalah judul dari beberapa kumpulan cerita yang paling kusukai dalam buku 203 halaman ini.

bukan review Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

51rQ38oOgXL._SX348_BO1,204,203,200_

Alasan utamaku membawa pulang buku ini dari arena bookswap di IRF 2015 kemaren adalah ingin melihat bagaimana contoh cerpen yang berhasil masuk ke berbagai media nasional. Nama Linda Christanty yang menjadi penulis mengusik rasa ingin tahuku tentang seperti apa isi kumpulan cerpen di dalamnya. Sebelumnya gak pernah baca karya Mbak Linda (tapi udah sering dengar namanya), namun setelah membaca kumcer ini aku semakin yakin bahwa untuk dapat menembus media nasional yang menjadi incaran, cerpen yang ditulis haruslah memiliki kekhasan dalam penulisan serta memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial budaya yang terjadi di sekitar.

Ada sepuluh cerita dalam buku yang memiliki 129 halaman ini, yakni :

Ketika Makan Kepiting | Zakaria | Karunia dari Laut | Sihir Musim Dingin | Jack dan Bidadari | Perpisahan | Kisah Cinta | Pertemuan Atlantik | Seekor Anjing Mati di Bala Murghab | Catatan tentang Luta; Manusia yang Hidup Abadi

dan yang membekas (baca : yang paling dipahami jalan ceritanya) adalah tiga cerpen berikut :

Zakaria => suka dengan twist yang hadir di akhir cerita.

Kisah Cinta => tentang ‘bunuh diri’ yang terjadi di sebuah rumah.

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab => pantas cerpen ini dipilih untuk menjadi judul dari kumcer. Cerpennya keren, mengambil latar di Afghanistan yang bermula dari seorang serdadu menembak mati seekor anjing tidak berdosa. Lewat kepiawaian Mbak Linda merangkai kalimat dengan bahasa yang sederhana, aku dapat ikut merasakan ‘kehilangan’ yang juga dirasakan Aref.

At least, buku kumcer ini (bukan) bacaan ringan yang dapat membuat kita sedikit berpikir, kira-kira ketika sedang menulis cerpen ini Mbak Linda sedang memberi perhatian pada isu-isu sosial budaya yang mana lagi ya.

bukan review Segenggam Daun Di Tepi La Seine

IMG-20151121-00938Suka dengan informasi tentang budaya Perancis yang jarang ditemukan dalam novel-novel yang berlatar sama. Banyak dapat wawasan baru :

soal melon dan kiwi yang ternyata hanya boleh dijadikan sebagai hidangan pembuka. Sementara mangga, biasanya disajikan sebagai makanan penutup.

Mengenai PACS – Le Pacte de Solidarite, open marriage, pantai nudis – yang katanya sebagai salah satu cara untuk hidup lebih dekat dengan alam tanpa ‘pembatas’ apa-apa, dan yang paling ekstrem tentang swinger club (shock culture kali ya kalo gue tetiba kesasar di situ :P)

btw, pengen banget baca nih buku sampai kemaren ikutan giveawaynya (tapi gak menang), eh ternyata sepupu gue punya buku ini plus ada pesan dari penulisnya langsung yang ternyata temennya.

Makasih Mbak Ully atas pinjemannya hehehe ^^

[Semacam] review The Little Prince [movie]

1

Kau hanya bisa melihat jelas dengan hatimu.
Hal yang penting tak terlihat oleh manusia.

Adegan dibuka dengan menampilkan seorang gadis kecil yang ditemani oleh ibunya yang terlihat cemas dan tegang. Mereka akan berhadapan dengan orang-orang yang berkuasa untuk menentukan masuk tidaknya gadis kecil tersebut di sekolah – lupa nama sekolahnya :p – yang (kelihatannya) bergengsi tersebut. Sebelum mereka menghadap, si Ibu berpesan “jika mereka terlihat tertarik pada esai dan cv yang dikirim, mereka hanya akan memberi satu pertanyaan besar.” Dan Ibu tersebut sudah menyiapkan jawaban terbaik untuk dikatakan oleh gadis kecilnya jika dia mendapat pertanyaan tersebut.
“No. 107, silahkan masuk!” giliran mereka tiba. Gadis kecil berdiri kaku di atas panggung, menatap kepada tiga penanya yang sudah membaca dan memeriksa cv dan esai miliknya. Lalu petaka itu terjadi. Penanya hanya memberikan satu pertanyaan pada gadis kecil tersebut, namun bukanlah pertanyaan yang telah diduga sebelumnya. Seperti telah ditemplate, gadis kecil tersebut malah memberikan jawaban yang telah dia hapal. Salah total.
Sebuah mobil berjalan memasuki kompleks perumahan yang tertata rapi. Di salah satu rumah, papan penanda telah dibeli diturunkan. Ibu dan gadis kecil itu telah pindah. Sang Ibu memberitahu gadis kecil itu apa-apa saja yang harus dilakukan gadis kecil itu agar dapat mengikuti seleksi di sekolah bergengsi tersebut pada periode selanjutnya, yakni dengan memberinya segudang peraturan dan to do list yang harus dilakukan setiap harinya. Ibunya membuatkan jadwal yang rinci dan teratur. Agar nantinya si gadis kecil siap untuk memulai semuanya. Gadis kecil itu ‘dipaksa’ mengikuti ritme hidup orang dewasa.

2

Pagi hari, selepas Ibu pergi ke kantor, gadis kecil tersebut mulai menjalankan satu persatu apa yang tertulis dalam jadwalnya, hingga sebuah kejadian ‘mengacaukan’ segalanya. Tetangga mereka, seorang kakek yang mencoba menerbangkan pesawatnya mengalami kecelakaan dengan tidak sengaja merusak rumah gadis kecil itu. Dari situlah pertemuan pertama si gadis kecil dengan kakek yang ternyata seorang penerbang.

Kakek penerbang jugalah yang sengaja mengirimkan sebuah pesawat kertas yang merupakan sobekan dari cerita little prince yang dia terbangkan melalui atap rumahnya ke kamar gadis kecil sebagai permintaan maaf. Gadis kecil itu acuh. Namun si kakek tidak menyerah, dia benar-benar ingin meminta maaf dengan memberikan sekarung uang koin yang dia kumpulkan sebagai ganti rugi atas kerusakan yang telah terjadi.

Gadis kecil itu menumpahkan isi karung, menghitung koin yang ada satu persatu, hingga dia menemukan semacam pedang dalam tumpukan koin. Lalu matanya menangkap sebuah manekin rubah dan seorang laki-laki kecil. Laki-laki yang pernah dia lihat sebelumnya. laki-laki yang mirip dengan tokoh cerita yang dikirim oleh kakek penerbang. The Little Prince.
Rasa penasaran gadis kecil itu terusik. Dia mengambil kembali secarik pesawat kertas yang telah dibuangnya ke dalam tempat sampah, merapikannya kembali, lalu membacanya. Itu pulalah yang membawanya pergi ke rumah si kakek penerbang, dia ingin tahun lebih banyak. And the story begin.

*****

Ini adalah film animasi pertama yang gue tonton sendirian. Di bioskop. Padahal biasanya gue gak terlalu addict sama yang namanya animasi, tapi ini The Little Prince lhoo.
Apa ?
Lu belum tau The Little Prince itu apa?
Jadi gini, The Little Prince itu awalnya adalah sebuah novel klasik berbahasa Perancis (1943) yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry. Novel ini bercerita tentang seorang pangeran kecil yang meninggalkan planet tempat tinggalnya (asteroid) untuk berpetualang dari satu planet ke planet lain. Jangan terkecoh dengan ilustrasi ‘cantik’, berwarna dan khas anak-anak yang betebaran dalam novel ini. Memang novel ini berkisah tentang anak-anak, tapi sebenarnya novel ini lebih tepat dibaca oleh orang dewasa. Banyak pemikiran yang mengajak kita agar lebih merenungi arti hidup dari kisah yang disajikan oleh pangeran kecil dan orang-orang yang ditemuinya dalam petualangan tersebut. Kalau mau tau lebih lengkapnya, google aja atuh atau beli aja bukunya (kalau gak salah, bakal di cetul lagi deh sama Gramedia)

“Jika kau berkata kepada orang-orang dewasa, “Aku melihat rumah indah terbuat dari bata merah jambu, dengan bunga geranium di jendela-jendelanya, dan merpati di atapnya, mereka tak bisa membayangkan rumah semacam itu. Kau harus berkata, ‘Aku melihat rumah yang harganya seratus ribu franc;’ Maka mereka akan berseru, ‘Oh pasti indah sekali!” (halaman 24).

Film The Little Prince adalah campuran yang keren lagi bagus antara papercraft animasi (untuk kisah Little Prince sendiri) dan Pixar-esque CG (untuk cerita sampingan – gadis kecil, ibunya dan si kakek penerbang). Untuk kisah The Little Prince sendiri, tidak jauh berbeda dengan novelnya, pangeran kecil bertemu dengan seorang raja, pengusaha yang sibuk dengan angka-angka, orang yang angkuh, dan seekor rubah. Pangeran kecil juga akan bertemu dengan ‘mawarnya’.

3

Sangat disayangkan jika film seperti ini tidak populer dari segi pemasukan dibanding film-film yang bersamaan jadwal tayangnya – misal : paranormal activity 5, film-film Indonesia yang bahkan gue lupa judulnya, Spectre dll – karena ketika gue memasuki studio 6, hanya ada satu penonton pria yang berada di tribun atas. SATU. Ditambah gue jadi ada dua (dalam hati : macem bioskop punya sendiri bah). Selang lima – sepuluh menit kemudian gue mendengar derap langkah mencari kursi yang sesuai dengan yang tertera di tiket. Jika di total hanya ada enam orang saat itu. Enam orang yang gue terka menonton film itu karena sudah terlebih dahulu membaca novelnya.

Kekhusyukan menonton sedikit terganggu ketika tidak ada suara yang terdengar, namun teks di bawah telah berganti-ganti. Salah seorang penonton melaporkan kejadian tersebut kepada yang bertanggung jawab. Film sempat dihentikan, mungkin sekitar 2-5 menit. Lalu setelahnya, gue dapat menikmati film itu secara utuh. Malah pake acara crying pulak, haha (biarin cengeng :P). Moment itu terjadi dalam scene kakek penerbang dilarikan ke rumah sakit, dan gadis kecil itu menerobos hujan lebat demi ingin ikut menemani. Ah, hujan selalu punya sisi melankolis.

Trus scene pangeran kecil di gurun, sehabis bertemu ular.
Pangeran kecil melangkah pelan lalu……..
Scene lain yang bikin gue merembes mili ketika pangeran kecil (yang belum kembali mengecil) pulang ke asteroid untuk melihat mawarnya. Mawar yang perlahan layu lalu menghasilkan sinar kemerahan yang indah. (Gue juga heran sama diri sendiri, masa adegan begini aja gue udah nyaris mewek. Hadeh :p)

4

Paling favorit adalah ketika pangeran kecil bertemu rubah, sahabat baiknya.

Kita berisiko menangis sedikit jika kita membiarkan diri dijinakkan.

Pada akhirnya The Little Prince mengajarkan bahwa orang dewasa cenderung membuat hidup menjadi kaku, monoton, dipenuhi angka-angka dan terlalu serius. Sesekali hidup perlu dijalani dengan cara pikir khas anak-anak serta yang penting adalah hubungan antar manusia dan hal-hal yang hanya bisa dilihat dengan hati.

5