[Resensi] Puya Ke Puya

20170921_185036

“Kebudayaan adalah produk manusia, manusia dan kebudayaan itu dinamis sesuai ruang dan waktu, dan relevansi dengan zaman sangat penting sebagai acuan untuk mempertahankan sebuah tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan itu.  (hal : 20)”

Kisah ini dimulai dengan kematian. Kematian Rante Ralla yang merupakan ketua adat di Kampung Kete’. Sebagai Ketua adat yang disegani dan juga salah satu bangsawan, sudah seharusnya Rambu Solo[1] diadakan sebagai cara agar jiwa Rante Ralla menuju Puya[2] dan dapat bertemu dengan Puang Matua[3]. Namun penyelenggaraan Rambu Solo bukan murah. Kendala terbesarnya adalah perkara biaya. Rante Ralla yang hobi berjudi dan menenggak ballo[4] tidak banyak meninggalkan warisan untuk anak dan juga istrinya, selain Rumah Tongkonan dan sedikit tanah yang menjadi warisan turun temurun leluhur mereka.

Allu Ralla adalah putra Rante Ralla yang merupakan mahasiswa (nyaris abadi) yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Berita kematian ayahnya, membawanya meninggalkan Makassar dan menuju Toraja. Sebagai anak sulung – 17 tahun lalu, Rante Ralla mempunyai seorang anak perempuan bernama Maria, yang meninggal saat bayi – mau tidak mau Allu berperan sebagai penerus adat keluarga Ralla, dan dia pun memiliki kewajiban untuk memutuskan apakah jenazah ayahnya akan dikubur dengan proses Rambu Solo ataukah dikebumikan di Makassar, seperti percakapan terakhirnya dengan ayahnya, saat masih hidup.

20170921_202439-1

20170921_203508-1

          Ketika bingung untuk memutuskan pemakaman seperti apa yang harus dipilih oleh Allu, sebuah masalah menghampiri. Kepala desa beserta dua orang lainnya mendatangi Allu untuk meminta persetujuannya agar menjual rumah dan tanah yang ditempati oleh keluarga Allu untuk dibangun akses menuju penambangan  yang berada di kampung itu. Allu bersikeras menolak tawaran tersebut, seiya sekata dengan keinginan Indo (Ibu).

Tapi rupanya, keputusan itu tidak berlangsung selamanya. Cinta yang menjadi sebab. Malena, cinta masa SMA Allu kembali hadir dalam kehidupannya, dan perasaan yang mereka miliki ternyata masih sama seperti waktu lalu. Malena ingin agar Allu segera menikahinya.

Untuk itulah Allu harus membuat keputusan dengan cepat dan tepat, agar dia dapat hidup bersama orang yang dicintainya.

Lalu keputusan seperti apa yang Allu ambil?

Apakah keputusannya itu akan berpengaruh pada keberlangsungan garis keturunan Ralla yang masih berpegang teguh pada adat?

*****

Buku ini memang layak diganjar dengan embel-embel Novel Terbaik 2015 versi TEMPO dan salah satu pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 karena cerita yang diangkat sungguh nyata. Dewasa ini, persoalan adat menjadi bahasan yang tidak terlalu diminati oleh kaum milenial, namun tak dapat ditampik bahwa Indonesia adalah negara yang punya segudang adat yang dimiliki oleh masing-masing etnik. Itu pula lah yang menjadi daya tarik Indonesia, di mata negara lain. Keberagaman budayanya yang harus selalu dijaga. Bukan hanya akan diperhatikan saat negara tetangga mulai ‘mengakui’ itu sebagai budayanya.

Rambu Solo, istilah itu terdengar tidak asing di telinga. Karena sebagai seorang yang mempelajari tentang budaya semasa kuliah, aku pernah membaca tentang itu, namun tak mendalam. Yang masih kuingat, adalah Rambu Solo adalah sebuah kegiataan adat yang di dalamnya terdapat nilai-nilai tanggung jawab, tolong-menolong, serta kekeluargaan antar kerabat. Rambu Solo juga menyiratkan kedudukan status sosial seseorang di masyarakat, apakah dia seorang bangsawan ataukah rakyat jelata. Bagi masyarakat Toraja, kerbau belang bertanduk yang dipersembahkan pada upacara Rambu Solo akan menjadi tunggangan orang yang telah mati menuju Puya. Selain upacara Rambu Solo, buku ini juga menampilkan tentang Passiliran[5] di mana Maria Ralla berada. Seorang akan meninggalkan Passiliran saat dianggap telah mampu berjalan menuju Puya, dan Maria pergi setelah 17 tahun ‘hidup’ di sana, waktunya bersamaan dengan perjalanan Rante Ralla ke Puya.

          Bicara tentang sudut pandang penulisan, Faisal Oddang melakukan hal yang unik dengan memberikan tanda * dan () untuk memberi tahu pembaca siapa yang sedang bercerita. Apakah Rante Ralla, Allu, ataukah Maria? Faisal juga memposisikan dirinya sebagai narator dalam buku ini. Jika lokalitas budaya Toraja yang sangat kental ada dalam buku ini, maka fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan pun turut ada dalam buku 211 halaman. Sebut saja tentang sengketa tanah adat vs pemerintah, tentang kelainan orientasi seksual bahkan tentang kapitalisme asing (dalam hal penambangan) yang seringnya merugikan masyarakat sekitar. Makanya tidak heran, ada beberapa kalimat satir yang sesuai menggambarkan keadaan tersebut.

“…. sedikit pun mereka tidak meminta maaf, dan saya berpikir bahwa pemerintah memang tidak pernah punya stok kata maaf buat rakyatnya…. (hal : 157)”
“… apa sih pentingnya sarjana? Hanya buat memindahkan tali toga? Oh, betapa itu motivasi realistis yang kacangan sekali. (hal : 7)”

          Aku mengalami pergeseran rasa pada karakter tokoh Allu, di awal cerita aku suka dan cukup mengerti tentang keinginannya mempertahankan tanah warisan dan tongkonan, beralih menjadi tidak suka pada karakter Allu menjelang pertengahan cerita ketika kepingan masa lalunya datang dan mengubah Allu menjadi seorang yang egois hingga pada akhirnya aku merasa kasihan dengan Allu yang menjadi (korban) kehilangan logika karena ***** (gak mau spoiler ah hehe). Lain halnya dengan Maria, sedari awal hingga akhir aku menyukai karakternya yang penurut, baik hati dan pandai menyimpan rahasia karena jika rahasia sampai terungkap akan banyak hati yang tersakiti.

          Rante Ralla adalah seorang ketua adat yang sangat menyayangi keluarganya dengan berupaya mempertahankan tradisi dan adat keluarganya. Keluarga Ralla. Meski nyawa yang menjadi taruhannya. Begitupun dengan sosok Indo, seorang Ibu yang memilih diam untuk tidak membuat gaduh keluarganya dengan sebuah rahasia yang hanya diketahui olehnya. Namun agaknya, diamnya seorang perempuan akan berdampak besar saat perempuan itu tak mampu lagi menyimpan semuanya sendirian. Efeknya lebih hebat.

          Pada akhirnya, Puya ke Puya adalah novel layak baca yang sarat akan pengetahuan. Meskipun begitu cara penceritaannya sama sekali tidak membingungkan ataupun membosankan seperti saat membaca buku kuliah. Puya ke Puya berhasil menggabungkan kisah tradisi dengan modernitas, idealisme seorang calon sarjana dan satu dari 10 dosa besar – dendam – atas nama kehormatan keluarga dalam satu paket utuh yang menyenangkan untuk dibaca.

“Kenapa surga diciptakan Tuhan?

Banyak yang menanyakannya semasa hidup. Namun, sungguh orang mati pun tak punya jawaban tepat. Kukira surga diciptakan hanya agar orang-orang mau beragama dan punya Tuhan. (hal : 15)”

Lima kerbau belang sebagai tunggangan menuju Puya.

[1] Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal menuju alam roh. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara selesai dilaksanakan.

[2] Puya adalah dunia arwah atau akhirat.

[3] Puang Matua adalah dewa utama dan penguasa surga yang dipercayai oleh masyarakat Toraja dengan konsep Aluk Todolo

[4] Ballo adalah minuman keras khas Toraja

[5] Passiliran merupakan kuburan bayi dalam sebuah pohon. Dalam kepercayaan masyarakat Toraja yang menganut ajaran Aluk Todolo, bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi susu dianggap masih suci sehingga tidak dikubur di dalam kubur batu. Pohon Tarra yang berdiameter cukup besar dipilih sebagai tempat untuk meletakkan bayi karena konon getah pohon tersebut diumpamakan sebagai pengganti ASI. Dengan ‘menanam’ mayat bayi di batang pohon Tarra, jasad bayi tersebut seperti dikembalikan ke dalam rahim ibunya.

Advertisements

[Resensi] Forgotten Colors

IMG-20170903-WA0008
Untuk seorang sahabat yang telah menghadiahiku buku ini, Terima kasih.

Pria kurus berambut gondrong sebahu dengan warna kulit layaknya bambu itu bernama Arka. Dia mempunyai hobi baru yang berawal dari jatuhnya tahi burung di bangku taman tempat biasa dia menghabiskan waktu. Di Taman Setan. Dengan bantuan pena jarum, pena bulu, pensil, pulpen sampai digital stylus, dia menyulap bangku taman menjadi indah. Sebut saja dia Si Pelukis Bangku Taman. Proses melukis bangku dilakukannya secara sembunyi pada dini hari. Ada kegembiraan dan kepuasaan yang dirasakannya jika dia bisa menyelesaikannya tanpa ketahuan oleh orang lain, terlebih patroli keamanan taman. Namun rupanya, hal itu tidak berlangsung lama.

Pada suatu dini hari, Arka tertangkap oleh Si Lelaki Buaya, orang yang mengaku bagian dari pemerintahan Kota Ini. Orang tersebut mengancam akan memenjarakan Arka dengan tuduhan merusak fasilitas publik karena telah ‘mencemari’ bangku-bangku yang ada di Taman Setan dengan lukisannya, jika Arka menolak bergabung dalam proyek yang akan Kota Ini selenggarakan. Proyek melukis seribu bangku. Awalnya Arka tak menaruh minat, karena pikirnya, ini adalah proyek ambisius dari walikota Kota Ini yang ingin menampilkan ‘kesan berbeda’ saat pelaksanaan Konferensi Piknik Bareng Walikota Seluruh Dunia.

Selama ini saya kesal melihat taman-taman berantakan. Giliran ada tamu penting, taman baru dihias, itu pun mendadak sekali (Hal : 13)

Karena turut disertai ancaman akan bui, Arka pun memberikan penawaran permintaan agar dia bersedia berpartisipasi dalam proyek itu. Arka meminta agar Taman Setan nantinya nyaman untuk diakses oleh kaum difabel, karena menurutnya taman harusnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Melukis seribu bangku diselesaikan Arka dengan tepat waktu, hingga tibalah hari peresmian proyek tersebut. Arka diminta untuk memberi kata sambutan selaku Pelukis Bangku Taman. Namun terjadi sesuatu di sana, Arka tiba-tiba tak sadarkan diri. Tekanan darahnya tinggi dan menurut dokter yang menangani dirinya sesaat setelah dia pingsan, ada ledakan pembuluh darah di dalam otak kiri Arka. Arka menderita penyakit yang serius, di saat usianya masih 28 tahun.

Dan yang membuatku makin terperanjat, ternyata pembuluh darah pecahku itu bernama strok hemoragik. Masa aku sudah kena strok? (Hal : 42)

Setelah siuman dari pingsannya, Arka hanya ditemani oleh Si Perempuan Belang yang juga merupakan kekasihnya, Gelia. Namun semuanya tak sama lagi bagi Arka, strok mengambil kemampuan berbicaranya, strok membuatnya ‘bertemu’ dengan Si Raksasa Berkacamata Tebal yang ditembak mati oleh Raksasa-Raksasa Jahat. Si Perempuan Cadel yang mengajaknya naik ke pohon beringin yang berada di Taman Setan, serta Si Ibu Payudara Satu yang menyelamatkannya saat Arka kembali pingsan di Taman Setan. Baik Gelia, maupun Dokter yang merawatnya Arka didiagnosis mengalami Skizoprenia atau halusinasi. Strok juga lah yang merengut kenangan-kenangan serta kerinduan yang Arka miliki. Pun strok pula lah yang kembali menimbulkan serpihan peristiwa kelam yang berasal dari masa lalu Arka.

Hipokampus

Lantas peristiwa apakah yang terjadi di masa lalu Arka? Berhasilkah Arka kembali ‘normal’ seperti sedia kala? Lalu siapa sebenarnya Raksasa Berkacamata Tebal, Perempuan Cadel dan Ibu Berpayudara Satu? Apakah mereka hanya halusinasi Arka ataukah sosok mereka nyata? Semuanya akan terjawab dengan membaca buku 268 halaman ini.

*****

Aku menandai buku ini sebagai salah satu buku wajib baca saat tahu bahwa Vabyo akan meluncurkan buku baru pasca kesembuhannya dari strok hemoragik. Ya, Vabyo dan Arka menderita penyakit yang sama. Makanya ketika aku membaca buku ini, aku merasa proses penyembuhan yang dialami Arka seperti itu juga proses penyembuhan yang dilakukan oleh Vabyo.

Pantang menyerah adalah salah satu karakter Arka yang tergambar dalam buku ini. Bagaimana Arka berjuang agar dapat kembali ‘hidup normal’ layaknya orang yang tidak pernah terdiagnosis strok. Setali tiga uang, Gelia juga dideskripsikan sebagai seorang perempuan optimis, ceria dan penyemangat nomor satunya Arka. Sementara Si Lelaki Gemuk Merah aka Dokter cenderung kaku dan tidak banyak bicara layaknya kebanyakan dokter yang sering kutemui. Berdasarkan pengalamanku yang bolak-balik ke rumah sakit saat harus menemani ‘para tetua’ berobat adalah ada beberapa dokter yang sedikit sekali memberitahu informasi seputar penyakit – tentang  bagaimana penyakit dapat terjadi, proses pencegahan agar penyakit tidak terjadi, serta proses berapa lama dan bagaimana proses pengobatan akan berlangsung – yang diderita oleh pasien, kecuali aku bersikap ingin tahu dengan bertanya banyak pada si dokter.

Ada pertanyaan yang menggelitik rasa ingin tahuku, mengapa dalam buku ini, alih-alih ditulis lengkap, penulisan nama obat-obatan yang digunakan oleh Arka malah ditulis dengan beberapa tanda bintang diakhirnya? Sebagai orang yang sempat sedikit menyicip pekerjaan dibidang farmasi, sekali baca aku langsung mengenali obat-obatan yang dimaksud. Memang, ada beberapa nama yang pembeliannya diharuskan dengan resep, tapi untuk anti hipertensi yang berbentuk kecil dan konon katanya berefek samping menimbulkan batuk, obat itu masih bisa kok ditebus tanpa resep.

Alur maju yang konsisten sampai pertengahan halaman lalu mulai bergerak mundur ke masa lalu Arka sama sekali tidak menganggu kenikmatan membaca buku ini. Perpindahannya smooth dan membuatku mudah mengerti akan kronologis kejadian yang pernah terjadi di Taman Setan waktu lalu. Selain itu, Forgotten Colors juga memberiku wawasan baru tentang otak dan cara kerjanya yang luar biasa. Tentang tanaman pengganti garam dan gula. Pun mengenai lucid dream.

Saraf

Gelia

Stevia
Lalu teringat sebuah iklan yang juga menggunakan stevia dalam produk terbarunya.

Summer

Tentang penyelesaian atau ending dari novel ini, aku benar-benar tidak menduga akan diarahkan ke ‘topik itu’. Topik yang biasanya digunakan untuk novel-novel bergenre fantasi. Selain itu, aku juga menyadari satu hal yang dapat digarisbawahi dari novel ini yaitu, jangan pernah lupakan sejarah. Sekelam apapun itu. Karena dari sana lah masa sekarang terbentuk. Walau kadang bagi segelintir orang, sejarah dimanipulasi agar dapat meneguhkan kekuasaan yang sedang dimilikinya. Pernah dengar istilah sejarah dibuat oleh penguasa yang sedang berkuasa bukan? Terdengar familiar kah di telinga?

Oia hampir lupa,  ada beberapa kalimat yang ku sukai : quoteable dan bernada satir.

..Karena saat kita jatuh cinta, kita jadi rajin menulis, bukan?.. (Hal : 7)

Kamu tahu kenapa namanya itu ‘rumah sakit’? Karena mereka tidak mengizinkanmu sehat (Hal : 252)

Aku ingin mati dalam perjuangan, bukan pengkhianatan  (Hal : 257)

Satir

Akhirul kalam, Forgotten Colors bukan hanya novel yang bercerita tentang seorang pria yang berjuang melawan strok, tetapi juga tentang peristiwa pedih di masa lalu yang berdampak ‘traumatis’ bagi yang pernah mengalaminya.

Lima butir obat-obatan yang telah berjasa dalam novel ini.

 

 

Pelajaran Kebahagiaan ala Hector

Apakah kebahagiaan hanyalah sebuah reaksi kimia di dalam otak ?

(Hal : 145)

17-08-26-18-21-26-108_deco

Profesinya sebagai psikiater handal yang mengharuskannya mendengar serta membantu para pasien dengan masalah gangguan jiwa, kebahagiaan, tak serta membuat jiwa Hector merasa ‘puas’ akan pengakuan tersebut. Dia merasa belum ‘bahagia’ akan pencapaian yang telah didapatkannya. Belum bahagia akan hidupnya, dan untuk itulah dia memutuskan untuk mencari tahu seperti apa ramuan kebahagiaan itu, agar tidak ada lagi kesedihan atau ketidakpuasan dalam hidup seperti gejala-gejala yang sering pasiennya keluhkan. Untuk itulah Hector melakukan perjalanan. Perjalanan yang akan membawanya bertemu dengan orang-orang yang nantinya membuatnya mengerti apa itu kebahagiaan dan bagaimana cara memperolehnya.

Cina – negara yang terkenal akan kebijaksanaan para filsufnya – adalah yang pertama dikunjungi Hector. Di sana dia bertemu dengan seorang teman lama yang bernama Edouard dan Ying Li, seorang gadis  yang membuatnya menyadari Pelajaran Kebahagiaan no.5 : Terkadang kebahagiaan itu adalah tidak mengetahui keseluruhan yang ada (Hal : 43). Perjalanan dilanjutkan menuju ke negara di mana sering terjadi konflik, penguasa yang korup, intimidasi ras, serta tingkat kejahatan yang tinggi, namun rupanya di sanalah Hector dapat menemukan berbagai pelajaran lainnya tentang kebahagiaan. Seperti misalnya, dia dapat memahami alasan mengapa anak-anak tersenyum, pelajaran yang bisa dia petik saat ketakutan mendekapnya dalam ruang gelap berisi tikus, serta kejadian-kejadian lain yang tak terduga, yang dialaminya selama perjalanan.

Lalu, apakah pada akhirnya Hector menemukan apa yang dicari? Kebahagiaan yang hakiki? Kebahagiaan untuk dirinya sendiri?

******

Memiliki materi yang lebih dan kesehatan yang prima?

Menghabiskan waktu serta dikeliling oleh orang-orang yang disayangi?

Mempunyai kekuasaan untuk dapat berbuat apapun yang disuka?

Diantara ketiga hal di atas, mana kebahagiaan yang paling mendekati versimu sendiri? Setiap orang pasti memiliki standar bahagianya masing-masing. Sulit rasanya untuk membuat aturan baku tentang kebahagiaan. Sebab itulah, dalam novel 263 halaman ini, Hector mencatat ada beberapa pelajaran yang membantu kita untuk dapat mengenali apa-apa saja yang membuat bahagia. Meskipun, seringnya kebahagiaan itu datangnya dari hal-hal sederhana yang tak diduga.

Kalau dalam novel ini, ketika Hector berkesempatan ‘mencicipi’ bagaimana enaknya terbang dengan fasilitas business class. Lain halnya dengan kebahagiaan sederhanaku, yakni, saat seorang penulis kesayangan mengingat wajah dan namaku dengan baik (padahal penggemarnya juga tidak sedikit), bahkan dia mengingat pertemuan pertama kali.

No. 4 : Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan itu berasal dari kemampuan mendapatkan kekuasaan lebih besar atau uang lebih banyak (hal : 39)

No. 5 : Terkadang kebahagiaan itu adalah tidak mengetahui seluruh kenyataan yang ada (hal : 43)

No. 6 : Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan jauh di pegunungan yang indah dan asing (hal : 52)

No. 7 : Memikirkan kebahagiaan sebagai  sebuah tujuan merupakan kekeliruan (hal : 68)

Pelajaran no. 1 : Membuat perbandingan bisa merusak kebahagiaan

(Hal: 29).

Aku sependapat dengan pernyataan itu, dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain adalah satu hal yang mesti dihindari jika mental kita belum siap untuk menerima ‘kekalahan’ bahwa sepertinya hidup orang lain itu lebih indah. Lebih bahagia daripada hidup sehari-hari yang kita jalani. Ibarat rumput tetangga terlihat lebih hijau, dapat berakibat negatif jika malah rasa iri yang muncul. Bukan berarti membuat perbandingan selalu berkonotasi buruk, perbandingan bisa juga memotivasi agar kita bekerja lebih keras dan giat agar dapat menyamai ‘hidup bahagia’ nya orang yang menjadi perbandingan kita.

Kalau aku sih, daripada membanding-bandingkan begitu lebih baik menulisi hal-hal apa saja yang selama ini telah membuatku bahagia. Menulis surat penggemar untuk aktor korea favorit, contohnya. Memenangkan giveaway berhadiah novel yang menjadi incaran atau hal-hal yang mungkin bagi sebahagian orang terlihat remeh malah hal itu yang dapat membuatku bahagia.

Kata kunci yang patut digaris bawahi adalah : RASA SYUKUR.

Serius lho, rasa syukur itu besar pengaruhnya untuk meningkatkan kadar kebahagiaan dalam hidup. Bersyukur pada Tuhan karena selama ini telah dicukupkan apa-apa yang memang dibutuhkan oleh kita. Bersyukur atas usia (yang seringnya masih terbuang sia-sia, hiks), atas kesehatan dan atas limpahan cinta dan kasih sayang tulus dari keluarga serta orang-orang terdekat. Pernah baca quote, tapi lupa entah dari buku apa, yang kira-kira begini bunyinya : “Selama masih bisa tidur nyenyak, punya tubuh dan jiwa yang sehat, serta keluarga dan orang terdekat yang menyayangi, maka kita adalah orang yang bahagia.”

17-08-26-18-40-22-885_deco

Jadi sebenarnya konsep mengenai kebahagiaan itu gak rumit kan? Cuma yah gak akan nolak juga sih kalau dikasih rezeki lebih untuk bisa menjelajahi negeri demi mengagumi ciptaan Ilahi. Mengupgrade rasa syukur yang kadang munculnya kalau pas lagi senangnya aja (sungguh ini mah karena imanku saja yang masih kayak roller coaster).

No. 10 : Kebahagiaan adalah melakukan pekerjaan yang kita senangi (hal : 95)

No. 11 : Kebahagiaan adalah memiliki rumah dan kebun sendiri (hal : 102)

No. 12 : Lebih sulit untuk merasa bahagia di sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang jahat (hal : 102)

17-08-26-18-48-22-843_deco

Sedikit berbeda denganku, Hector dan Profesor menemukan tiga metode mengukur kebahagiaan :

  1. Bertanya pada orang berapa kali dalam sehari atau seminggu mereka memiliki suasana hati yang senang, ceria atau bahagia.
  2. Bertanya pada mereka apakah mereka merasa bahagia dalam berbagai aspek kehidupan mereka.
  3. Merekam eksperasi wajah orang, kemudian mengukurnya dengan cara yang rumit (hal : 192)
No. 17 : Kebahagiaan adalah peduli terhadap kebahagiaan orang-orang yang kita cintai (hal : 159)
No. 18 : Kebahagiaan bisa berarti kebebasan untuk mencintai lebih dari satu wanita pada saat bersamaan (hal : 164)
No. 19 : Matahari dan laut membuat semua orang bahagia (hal : 168)
No. 20 : Kebahagiaan adalah cara pandang terhadap sesuatu (hal : 209)
No. 21 : Persaingan meracuni kebahagiaan (hal : 211)
No. 22 : Wanita lebih peduli untuk membuat orang lain bahagia dibandingkan pria (hal : 213)
No. 23 : Kebahagiaan berarti memastikan bahwa orang-orang yang berada di sekeliling kita bahagia (hal : 213)

So, sudahkah kamu bersyukur hari ini? Sudahkah kamu bahagia hari ini?

Ketika diri telah berdamai dengan sulit, getir serta kelamnya masa lalu lantas berjuang demi masa sekarang dan nanti, itu juga merupakan wujud kebahagiaan. Apresiasi usaha keras diri sendiri.

(Kalo ini mah, quote kebahagiaan ala-ala Indri)

h

[Resensi] The Life-Changing Magic of Tidying Up

20170805_192212

Berbenah yang efektif hanya terdiri atas dua aktivitas esensial : membuang dan menentukan di mana harus menyimpan barang. Di antara keduanya, membuang harus didahulukan (hal : 20)

Bicara tentang berbenah berarti dua hal :

  1. Menyimpan
  2. Membuang

Namun jangan pikir untuk memutuskan apakah suatu benda/barang itu akan disimpan atau dibuang adalah perkara mudah. Kalau itu mudah, sudah tentu takkan ada lagi tumpukan ‘yang sebenarnya tidak dibutuhkan’, tumpukan ‘tak kasat mata yang mungkin tersempil di salah satu pojok rumah’, tumpukan ‘yang nanti akan dipakai/dibaca’ dan jenis-jenis tumpukan lainnya. Jika berbenah adalah perkara mudah, maka rumah ataupun kamar sudah tentu akan senantiasa rapi.

the life – changing magic of tidying up

(seni beres-beres dan metode merapikan ala jepang)

Beres-beres merupakan seni? Yang benar saja. Itu adalah pikiran pertama yang terlintas kala membaca sebuah judul buku dari laris versi new york times.

Buku setebal 206 halaman ini tak hanya berisi tentang cara-cara berbenah yang baik dan benar sesuai KonMari Method, namun juga menampilkan sekelumit kisah dari berbagai klien Marie Kondo – selaku konsultan ahli spesialisasi benah-benah – seputar benda-benda yang ingin mereka bereskan/benahi. Benda yang mungkin bagi sebagian orang tidak patut untuk disimpan, namun karena benda tersebut memiliki nilai sentimentil bagi pemiliknya maka benda itu pun dikategorikan sebagai benda layak simpan.

Selain nilai fisik sebuah barang, ada tiga faktor lain yang menambah nilai harta benda kita : fungsi, informasi dan keterikatan emosional. Orang-orang berat hati membuang barang yang masih bisa mereka pergunakan (nilai fungsional), yang memuat informasi bermanfaat (nilai informatif), dan yang bernilai sentimental (nilai emosional) (hal : 38)

Dalam buku ini dijelaskan bahwa benda yang paling sulit untuk dibuang adalah benda yang memiliki nilai sentimental, oleh karenanya benda-benda yang termasuk dalam kategori ini sebaiknya dikerjakan paling akhir. Dijelaskan pula urutan benah-benah sebaiknya dimulai dari pakaian – buku – kertas – pernak-pernik – dan terakhir adalah (benda yang penuh) kenang-kenangan. Biasanya pula benda yang sulit untuk dibuang adalah benda yang berupa hadiah, meskipun kenyataannya benda hadiah tersebut bukanlah benda yang dibutuhkan, rasa sungkan atau takut dianggap tidak berterima kasih pada si pemberi hadiah adalah alasan klasik mengapa benda tersebut masih disimpan, walaupun tidak memiliki nilai fungsionalnya lagi. Akupun termasuk orang yang berpikiran serupa, bahwa tak elok rasanya jika ‘membuang’ hadiah dari seseorang, namun setelah membaca buku ini, tampaknya aku akan mengubah cara pandangku mengenai hadiah.

Fungsi sejati hadiah adalah untuk diterima. Hadiah bukan ‘benda’, melainkan sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang.” (hal : 100)

Yang perlu kulakukan adalah menerima hadiah tersebut, berterima kasih pada si pemberi karenanya lah aku merasakan kegembiraan. Merasa gembira karena itu berarti si pemberi merelakan materi dan waktunya untuk mengungkapkan perasaannya bahwa dia ‘memperhatikan’ dan ‘peduli’ padaku dengan memberikan hadiah.

Dan akhirnya, buku ini ingin menyampaikan bahwa membuang ataupun menata barang dapat mempengaruhi bahkan mengubah hidup kita. Hidup yang penuh dengan kegembiraan dan kedamaian bersama benda/barang yang memang kita cintai dan butuhkan.

*****

Jika bukan karena ulasan dari seorang penulis perempuan yang kukagumi, aku mungkin tak akan melirik buku ini jika melihatnya secara tak sengaja di toko buku. Karena membaca buku inspirasi jenis ini tidak pernah masuk dalam to be read ku selama ini. Belum lagi, beberapa hari sebelum buku ini akhirnya kubawa pulang, KonMari Method yang merupakan metode benah-benah khas buku ini, banyak dibicarakan dalam media sosial orang-orang yang kuikuti. Rasa penasaran pun memuncak, ‘sebagus apa sih bukunya?’

Satu hal yang kupahami pasca menutup buku ini adalah, penulis memperlakukan benda/barang layaknya makhluk hidup, memiliki jiwa. Andai sepasang kaus kaki yang dilipat secara asal dapat bicara, dia mungkin akan marah karena lipatan asal itu membuatnya menjadi ‘melar’. Baju-baju yang berada ditumpukan paling bawah akan menangis, selain karena jarang dipergunakan si pemilik, dia pun harus menanggung ‘beban’ baju-baju yang di atasnya.

Untuk menyimpan barang, kuncinya adalah memberdirikan alih-alih menidurkannya (hal : 67)

Daripada membuat benda/barang itu ‘tidak bermanfaat’ bagi kita mengapa tidak dibuang atau diberikan pada yang lebih membutuhkan selama kondisi benda/barang tersebut masih bagus. Coba cek lemari masing-masing, apakah baju-baju yang terlipat maupun tergantung di sana akan digunakan semuanya? Jangan bilang, ‘nanti akan dipakai’ yang dapat berarti ‘baju itu akan terlipat/tergantung di sana selamanya’ tanpa digunakan. Aku juga begitu, karena pada dasarnya aku hanya akan menggunakan baju yang kusuka, yang membuatku nyaman – pengecualian untuk beberapa baju yang tidak terlalu nyaman kupakai, namun harus tetap kugunakan karena aku punya alternatif penggantinya.

Esensi utama dari KonMari Method adalah : pertahankan benda/barang yang membuat kita gembira. Yang memiliki nilai sentimental saat tangan ini meraba, menyentuh dan menatanya.

Memutuskan hendak menyimpan apa berdasarkan tergugah tidaknya hati Anda merupakan langkah paling penting dalam proses berbenah (hal : 35)

Bukan berarti setiap benda yang memiliki kenangan harus tetap dipertahankan, karena kalau begitu yah sama saja, proses benah-benah nya tak akan berlangsung dengan baik. Cukup diingat bahwa benda/barang itu pernah berjasa dan berguna untuk kita, namun jika ‘peran’ nya dalam hidup kita telah usai, kita pun harus ikhlas melepasnya. Mem’buang’nya. Tak ubahnya seperti orang-orang yang silih berganti datang dan pergi dalam siklus hidup kita. Ikhlaskan mereka. Ucapkan terima kasih karena pernah ada dan mewarnai lingkaran kehidupan kita.

Namun, keengganan kita untuk membuang barang tertentu sejatinya hanya berakar pada dua penyebab : keterikatan pada masa lalu atau kecemasan akan masa depan (hal : 174)

Salah satu keajaiban berbenah adalah membuat kita percaya diri akan kemampuan kita dalam mengambil keputusan (hal : 171)

Keputusan untuk mempertahankan benda/barang yang menyalurkan energi positif kegembiraan atau menyingkirkan benda/barang tersebut yang mana telah berakhir perannya dalam hidup kita.

Dan yah, baru kali ini aku membaca buku tentang berbenah yang penuh dengan filosofi di dalamnya, diberikan tutorial cara melipat baju agar dapat ditata ‘berdiri’ (aku sampai lihat tutorialnya via youtube, haha), serta bagaimana cara belajar ‘mengikhlaskan’ hadiah yang tentunya punya nilai sentimentil hehe 🙂

oooo
Percobaan pertama KonMari Method ala Indri. Masih belum rapi sih, nanti dicoba lagi 😛

[Resensi] Let’s Fall In Love – Rina Suryakusuma

Judul : Let’s Fall In Love

Penulis : Rina Suryakusuma

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Baca via ScooPremium

Capture+_2017-06-24-18-29-13

“Cara terbaik untuk melewati sesuatu adalah dengan mulai melangkah dan berjalan melaluinya. Bukan dengan membeku ketakutan dan tak berbuat apa-apa”

(Halaman : 137)

Memiliki jabatan sebagai Financial Analyst di sebuah hotel bintang lima tidak membuat Florida Adinegoro (Flo) merasa bangga apalagi nyaman dengan pekerjaannya. Analis cashflow, dasar pembiayaan awal, pembiayaan perbulan serta analisis return on assests terlihat bagai momok yang ‘menakutkan’ baginya. Bergelut dengan angka merupakan salah satu cara untuk membuat ‘ibunya’ melihat padanya, cara lainnya adalah dengan tetap mempertahankan hubungannya dengan Frans Sudrajat, si dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, walaupun Flo tidak bahagia.

Tekanan yang dihadapi oleh Flo sebenarnya berasal dari Ibunya yang selalu memaksakan kehendaknya pada Flo. Baik soal pekerjaan maupun pendamping hidup. Lagi pun ibunya selalu membandingkan Flo dengan Trisia – kakak Flo yang sangat berbeda dengannya. Di mata Ibunya, tak ada sisi baik yang dimiliki oleh Flo termasuk dalam selera berpakaian. Sialnya, Frans (pacar Flo) sependapat dengan ibunya. Dia beranggapan selera berpakaian Flo yang sedikit nyentrik dan unik seperti fondant kue warna-warni dan gadis gipsi.

Dalam pekerjaan, ketidakbahagiaan Flo berdampak pada hasil pekerjaannya yang salah dan berantakan, sehingga membuatnya menerima SP, agar lebih berhati-hati dalam menganalisa serta bersikap profesional dalam bekerja – dengan tidak berselancar di dunia maya lalu mengumpulkan berbagai macam resep masakan dan kue-kue serta tidak melakukan chat di sela-sela jam kerja.

Adalah Jonathan Aswary, General Manager yang pernah diberi kue kopi oleh Flo sekaligus orang yang memberikan surat peringatan kepada Flo karena ketidakbecusannya dalam bekerja. Dia jugalah yang berperan sebagai mentor bagi Flo dalam menghadapi asessment terkait penilaian kinerja Flo yang dilakukan oleh HRD hotel. Meskipun awalnya terkesan galak dan acuh pada Flo, sungguhnya Jo peduli padanya. Tanpa sadar, Jo pun mulai menyukainya.

Lalu apakah Jo akan menyatakan perasaannya pada Flo? Sementara Flo memiliki seorang kekasih? Dan apakah Flo akan melakukan sesuatu yang disukainya – yakni mengaplikasikan resep yang dilihatnya, membuat kue dan menu baru – walau tahu Ibunya tidak menyukainya?

“Menurutku, kamu harus melakukan apa yang membuatmu bahagia, Flo”

(Halaman : 150)

*****

Ini adalah karya pertama Rina Suryakusuma yang ku baca, aku menyukai cara Mbak Rina mendeskripsikan kue-kue buatan Flo. Detail dan jelas, sehingga aku bisa membayangkan bagaimana wujud visual dari kue yang dibawa Flo pada pertemuannya dengan orangtua Frans.

Bicara tentang karakter, Mbak Rina sukses membuatku mengernyit sebal pada karakter Frans yang pengen ditendang. Ironisnya, banyak karakter seperti ini dalam realitas sosial masyarakat kita. Belum lagi dengan penggambaran karakter Ibu yang tidak membuatku simpati sama sekali. Kok yah, ada gitu Ibu yang gak bisa diajak diskusi dan merasa paling tahu apa yang anaknya inginkan. Ibu yang sungguh egois sekali. Untungnya si tokoh utama (Flo) memiliki Bianca (teman sekantor) dan Trisia (kakak) yang berada dipihaknya, kalau tidak sungguh malang nasib Flo.

Karakter kesukaan? Tentu saja Jo, hahaha.

Sepintas aku merasa karakter Jo mirip karakter CEO-CEO dalam drama korea yang belakangan ini kutonton. Sikap jutek dan galak yang ditampilkannya adalah kamuflase agar orang yang disukainya tidak mengetahuinya. Namun dibalik itu, diam-diam memperhatikan dengan sayang, halah :p. Tentang plot, aku tidak menduga alasan mengapa Jo ‘memandang tidak suka’ pada Flo di awal. Ku pikir, itu murni karena ketidakbecusan Flo dalam bekerja. Bukan karena ada sesuatu pada diri Flo yang mengingatkan Jo akan masa lalunya di Surabaya.

Melalui tokoh Flo, novel ini membawa pesan untuk dapat memilih apapun itu – cita maupun cinta – dengan syarat : yang kita pilih nantinya adalah sesuatu yang kita suka. Yang dapat membuat kita bahagia. Karena kalau dengan senang hati mengerjakannya, apapun masalah yang terjadi, kita akan menganggapnya sebagai proses pembelajaran, dan tak enggan untuk segera bangkit memperbaikinya.

“Dengan hati, segala rintangan yang datang menerpa dapat kau terima dengan senyum dan tekad untuk memperbaiki diri.”

“Saat bekerja dengan hati, kau bahagia” (Halaman : 206)

Dan jika ternyata memiliki orangtua seperti Ibunya Flo, yang bisa dilakukan adalah tak pantang menyerah untuk selalu memberi penjelasan serta pengertian mengapa ingin mengambil pilihan tersebut, dan berusaha untuk bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil serta tak lupa berdoa pada Tuhan agar kiranya membuka pintu hati Ibu agar meridhoinya, karena kalau Ibu gak ridho, gawat juga nanti hehehe.

flying-fish-3[6]

 

 

 

[Resensi] Di Tanah Lada – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Aku akan menyebut mereka Salt dan Pepper.

“Lada itu bumbu masak yang bikin perut hangat. Dia temannya garam. Di meja yang ada ladanya, pasti ada garam juga.” (Hal : 88)

lada atau Pepper dan garam atau Salt.

Mereka adalah dua sahabat baik yang bertemu di sebuah warung makan.  Salt, adalah anak berumur 6 tahun yang baru saja pindah ke Rusun Nero. Rusun yang sama yang juga dihuni oleh Pepper.  Meski baru berusia 6 tahun, Salt adalah anak yang pintar berbahasa Indonesia. Berbekal kamus pemberian dari Kakek Kia saat usianya menginjak tahun ketiga, Salt selalu membawa kamus ke manapun dia pergi. Untuk menemukan arti dari kata-kata yang sering diucapkan oleh orang dewasa – yang  tidak dia mengerti.

Kepindahannya ke Rusun Nero adalah karena Papanya. Papa yang dianggapnya hantu, orang jahat dan monster. Papa yang selalu membuat Mamanya menangis. Yang bahkan ingin mengunci dirinya yang sedang tidur di dalam koper. Papanya yang boros dan suka berjudi. Selain Pepper dan Salt, Rusun Nero juga memiliki penghuni baik hati di lantai 4 seperti Kak Suri – yang mengajari Pepper Bahasa Inggris – Mas Alri – yang mengajari Pepper bermain gitar serta Ibu, Bapak pemilik Rusun.

Masalah mulai muncul saat Papanya Pepper mensetrika tangan Pepper, hingga Salt yang saat itu berada di lokasi segera membawa Pepper ke tempat Kak Suri, untuk mencari perlindungan sekaligus pengobatan. Kak Suri membawa Pepper ke rumah sakit dan berencana untuk melaporkan tindakan Papanya Pepper ke polisi. Sementara Salt, tak ingin jauh dari Pepper. Dia merasa bahwa mereka mengalami nasib yang sama. Memiliki Papa yang jahat. Bahwa, semua papa di dunia ini jahat.

“Skeptis, maksudnya kamu berhenti percaya pada terlalu banyak hal. Kamu berhenti percaya kalau di dunia ini ada hal yang baik. Ada Papa yang baik, ada orang yang baik, ada nasib yang baik. Kamu berhenti percaya kalau kamu nggak perlu mati dan bereinkarnasi untuk bisa hidup bahagia.” (Hal : 196)

Salt dan Pepper menjadi anak yang skeptis akibat perlakuan orangtua mereka sendiri. ‘Melarikan diri’ mereka anggap sebagai jalan untuk dapat hidup bahagia. Maka mereka pun mulai melakukan perjalanan yang tanpa disadari dapat mengungkap masa lalu Pepper.

*****

17-05-01-23-33-02-030_photo

Di Tanah Lada

Pantas saja rasanya novel ini menjadi salah satu pemenang dalam sayembara DKJ 2014. Topik yang dipilih Ziggy sebenarnya adalah topik umum yang sering menjadi fenomena di Ibukota. Tentang kehidupan di Rumah Susun. Tentang kebiasaan berjudi pada masyarakat. Tentang KDRT. Tentang pergaulan bebas serta perihal berbahasa Indonesia yang baik, yang makin terpinggirkan dengan penggunaan istilah-istilah asing.

Yang membedakan adalah sudut pandang penceritaannya. Melalui kacamata anak berusia 6 dan 10 tahun Ziggy mencoba melihat bagaimana anak-anak berusaha memahami dunia orang dewasa. Bagaimana efek yang ditimbulkan dari KDRT bagi anak serta tentang bagaimana menyikapi sebuah kesalahan yang terjadi akibat dari pergaulan bebas di masa lalu.

Beberapa sindiran halus yang kutemukan dalam novel berjumlah 244 halaman ini, seperti misalnya :

“Yang lebih penting daripada bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat.” (Hal : 66)

“Aku menangis karena orang dewasa tidak mengerti apa-apa.” (Hal : 92)

Penulis juga sedikit menyentil fenomena pasca perceraian yang kerap di masyarakat perceraian dalam kalimat polos yang diucapkan oleh Pepper saat dia diberi boneka Pinguin oleh Salt.

“Aku dan kamu sama-sama boleh main dengan bonekanya,” jelas Pepper. “Kadang-kadang, bonekanya ikut aku, kadang-kadang ikut kamu.”

“Memangnya bisa begitu?”

“Bisa dong. Kayak punya anak. Anak, kan punya Papa dan Mama. Jadi, mereka bagi-bagi.” (Hal : 108)

Karena POV nya dari seorang anak, maka dialog-dialog khas anak-anak pun tertulis dalam beberapa kalimat yang mengundang senyum simpul saat membacanya.

Capture+_2017-05-01-23-53-21

Masih ada beberapa kalimat-kalimat yang kusukai dari buku ini :

Ada banyak orang yang menunduk ketika seseorang meninggal. Orang-orang tertarik dengan kuku kaki dan lantai marmer ketika itu terjadi (Hal : 5)

“Tidak ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan – sayang atau tidak – kalau kamu tidak mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar.” ( Hal : 8)

 “Budi bahasa baik membentuk manusia bersahaja.” (Hal : 103)

Sedih sekali, tidak ada bintang di Jakarta. Aku bilang, “Kalau begitu, bagaimana caranya permohonan orang Jakarta bisa terkabul.” (Hal : 123)

“Yang menurut kamu bagus, nggak berarti bagus untuk orang lain, tahu?” (Hal : 138)

Aku bilang ke Kakek Kia, sulit sekali menemukan ‘kebenaran’ dalam kamus. Lalu, dia tampak sedikit sedih. Dan, kata Kakek Kia, “Lebih sulit lagi menemukannya di dunia nyata.” (Hal : 210)

Yang sedikit menganggu pikirku kala menyelesaikan novel ini adalah, kok yah Salt dan Pepper itu cerdas untuk anak seumuran mereka. Agaknya setelah semua ‘kekerasan fisik dan mental’ yang mereka terima dari orang-orang terdekatnya yang membuat mereka lebih awal mendewasa, namun tetap tidak kehilangan ciri khas kekanakan mereka – polos, ingin tahu dan blak-blakan. Inginnya sih aku memberi bintang sempurna untuk novel ini, tapi yah endingnya itu membuatku mengurungkannya.

4,5 /  5 bintang untuk persahabatan sehidup semati  Garam dan Lada.

Judul : Di Tanah Lada | Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie | Halaman : 244 | Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Capture+_2017-05-01-23-52-30

Bermain di IRF part 1

Desember ke sepuluh di tahun ini telah kutandai dalam penanggalan sebagai sesuatu yang dinanti. Acara tahunan yang menjembatani para penggiat literatur – penulis, pembaca, penerbit – kembali digelar. Museum Nasional menjadi saksi berkumpulnya para penyuka atau mungkin pencinta buku merayakan acara yang digagas oleh Goodreads Indonesia, bernama, Indonesia Readers Festival (IRF) atau Festival Pembaca Indonesia. Ini kali kedua aku mengikutinya. Berbeda dari tahun lalu, ketika aku berjalan sendirian memutari satu demi satu booth dari berbagai penerbit, di IRF yang sekarang aku bersama dengan dua orang rekan yang sungguh baik hati karena bersedia menjadi fotografer dari tiap moment yang telah kulewati selama acara berlangsung (semoga menjadi ladang amal untuk kalian, karena membuat orang bahagia aka senang akan mendapat pahala bukan?)

Aku menjadi orang yang ingkar.

Selisih 90 menit dari waktu temu yang disepakati membuatku berjalan sendirian menuju tempat penyelenggaraan. Tapi tak mengapa karena kemampuanku membaca petunjuk tempat sudah mengalami kemajuan, tidak lagi ada tersasar seperti tahun lalu. Dua orang teman telah tiba lebih dahulu. Acara belumlah dimulai ketika aku melangkahkan kaki ke dalam ruang berkapasitas 50-60 orang tersebut. Tak sampai lima menit aku duduk, mataku menemukan sosok yang akan menjadi pembicara dalam workshop yang akan kuikuti pagi kala itu. Seorang perempuan yang kukagumi. Setidaknya sejak aku membacai rekam jejaknya dalam dunia kepenulisan yang telah sepuluh tahun lamanya. Perempuan yang biasa disapa dengan “Mbak, W.”

“Udah sana minta tanda tangannya sekarang aja, sebelum ramai.” Temanku memberi saran.

“Nanti ajalah, Mbak W nya masih sibuk liatin laptop. Gak enak, nanti ganggu pulak.” Aku beralasan. Padahal lebih tepatnya aku sungkan dan pemalu 😛 (tapi sungguh jika kalian sudah mengenalku dengan baik, pemalu yang tadi kukatakan bertransformasi menjadi ‘malu-maluin’).

Tak habis akal, temanku malah mengajari bagaimana cara memulai percakapan. “Awali dengan senyum, nanti juga dia bakalan senyum.” Kira-kira begitu petuahnya. Temanku itu belum tahu saja, bahwa ada seorang anak Adam yang ketika aku tersenyum hanya padanya, alih-alih membalas dengan senyum juga, wajah datar tanpa ekspresi malah yang kudapatkan, eh kok jadi curcol kenangan lama ya, maafkan 🙂

Singkat kata, singkat cerita, aku dan dia jatuh cinta. 

Eh bukan, bukan, maksudnya singkat kata, singkat cerita aku dan temanku itu beranjak menuju meja Mbak W dan memintanya untuk membubuhkan autograf di buku Life Traveler kepunyaanku. Buku yang kukirim khusus dari kampung agar dapat ditandatangani langsung oleh penulisnya. Tak lengkap rasanya bila hanya mendapat sebuah tanda tangan tanpa mengabadikannya secara visual dalam wujud potret.

Banyak wawasan baru yang kudapatkan selama mengikuti proses workshop yang bertajuk “Creative Writing 101”. Insya Allah, aku akan menceritakan ‘permainan jari’ apa saja yang dilakukan dalam workshop tersebut di postingan yang selanjutnya. Sekalian bercerita juga tentang workshop lainnya yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang tentang “Make Your Own Book With What You Have and What You Can Do” yang juga aku hadiri.

15443052_10207832482234184_7734129306871638396_o
udah pasang gaya maksimal, eh malah blur huhu 😦

 *****

Sarapan, tidak.

Makan siang, lewat.

Biasanya pada pukul 15.00 aku telah mengonsumsi nasi, minimal sekali. Namun karena padatnya acara yang kuikuti hari itu tidak menyempatkanku untuk keluar gedung mencari warteg terdekat. Alhasil, perutku harus bersyukut karena masih kuberi nutrisi berupa dua potong biskuit berlapis gula, beberapa roll stik cokelat dan sebotol air mineral. Setidaknya dapat sedikit mengganjal rasa lapar yang sedari tadi sudah terasa sembari menunggu rangkaian acara selesai pada pukul 17.00.

Selain kedua workshop yang telah kusebutkan, aku juga turut menjadi penonton yang menyaksikan talkshow dan peluncuran perdana buku karangan dari Adhitya Mulya – Bajak Laut dan Purnama Terakhir.

Jika tahun lalu aku memiliki cukup banyak waktu untuk mengitari dan singgah di tiap booth, kali ini tidak. Mungkin hanya sekitar 15-30 menit alokasi waktu antara :

…. aku berdiri menatap satu persatu tumpukan buku di meja panjang bernama arena : book swap.

…. berpindah ke meja satunya yang berisi buku-buku bersampul cokelat yang telah diberi petunjuk, bernama arena : blind date book.

15400900_10207832575756522_2898579477677576684_n

15369082_10207832530955402_4020707477077182244_o
Hasil blind date books and book swap (^_^)

…. berjalan-jalan dari satu booth ke booth lainnya lalu melihat seorang penulis kesayangan ada di sana.

“Mbak Mo, boleh foto bareng gak?”

“Tunggu…” ada jeda dalam kalimatnya “Indri ya? aku ingat kan, padahal udah setahun lalu.”

Aku kaget. Tidak menduga sama sekali kalau Mbak Mo mengingat namaku. Secara pertemuan pertama kami adalah setahun lalu, dalam IRF juga.

“Sebentar ya, aku mau ngobrol sebentar sama Kang Adit”

15392998_10207832499794623_7861304295648976710_o
Menangkap moment temu dengan Mbak Morra 🙂

*****

IRF 2016 ini juga menjadi kali kedua aku melihatnya. Dia yang kumaksud bukan penulis, melainkan pembaca yang entah mengapa dulu pernah hadir di mimpiku setahun silam. Dia masih sama seperti pertama aku menatapnya, dengan kacamata, kumis tipis dan janggut yang sedikit. Kali ini dia mengenakan jaket abu-abu dengan sepatu kets bertuliskan diadora.

Aku senang melihatnya lagi, meski tanpa ada sensasi kupu-kupu di perutku. Hidup adalah drama. Namun tidak semua kejadian dalam hidup sesuai dengan drama kesukaan kita yang biasa disaksikan dalam layar kaca. Misalnya saja ketika dua orang bersilang jalan, mengapa dalam realitanya waktu tidak berjalan lambat dan pelan hingga pada akhirnya dua orang tersebut dapat mengenali satu sama lain. Coba saja di dalam drama layar kaca, sudah pasti akan ada yang namanya slow motion yang menandakan inilah awal mereka bertemu.

Ya, aku bersilang jalan dengannya.

Pintu keluar yang menjadi latar.Aku berniat kembali ke gedung pasca menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan dia sedang menuju tempat yang baru saja kudatangi.

*****

Rintik hujan yang turun.

Bergesernya waktu makan.

Lelahnya tubuh karena sedari pagi melakukan aktivitas dengan membawa 5 buku dalam tas di selempangan bahu dan 4 sisanya dalam goodie bag.

Lalu ditambah dengan terlambat munculnya bus bernomor AC 34.

Membuatku menutup mata di tengah perjalanan pulang. Padahal biasanya aku bukanlah orang yang mudah tertidur dalam transportasi umum. Mungkin itu terjadi karena akumulasi semuanya, dan semakin lengkap dengan dinginnya suhu ruangan dalam bus tersebut. Aku jatuh tertidur dan kembali tersadar ketika kondektur mengatakan “Islamic, Islamic.”

*****

PS : Terima kasih untuk kedua rekan yang meluangkan waktunya untuk bermain bersamaku di IRF kali ini.

Terima kasih kepada F untuk pinjaman buku kesukaannya.Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi diacara serupa tahun depan.

Aamiin.

15356584_10207832518355087_1214878249229915518_n
ki-ka : Mbak Morra, Mbak Windy, Mbak Lala, Kang Adit

[Semacam] Review – Pulang

pulang-5691e8292a7a61520fb229e4

Pulang pada hakikat kehidupan.

Pulang, memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan (hal : 219)

Hanya karena libur teramat panjang dan aku tidak ingin mati gaya, maka selain nama besar tere liye sebagai pengarang – aku pernah membaca beberapa bukunya dan tidak masalah dengan cara berceritanya – dan judul yang sesuai dengan kejadian yang ketika itu ku lalui, maka aku membawa serta buku ini bersama daftar buku pinjaman lainnya.

PULANG

Ya, ketika itu aku sedang pulang. Ke kota di mana aku dilahirkan.

Buku ini pun ku bawa pulang.

Romansa, keluarga, dan kepergian menuju masa depan (merantau) adalah beberapa bagian yang berkelindan dalam buku ini, pikirku pada awalnya. Namun ternyata tebakan ku sedikit meleset. Sama sekali tidak ada nuansa romansa antara laki-laki dan perempuan dalam buku ini, tapi tidak berarti aku kecewa akan keseluruhan isi buku.  Meski aku merasa tertipu dengan asumsiku sendiri, aku tidak lantas dapat meletakkannya begitu saja. Banyak wawasan baru yang aku ketahui setelah membacanya, tentang shadow economy – dulu sekali pernah dengar tentang bagaimana para pengusaha-pengusaha kaya menjalankan bisnisnya dan keterlibatan mereka dalam ‘dunia gelap’ soal perputaran uang – tentang cara menjadi seorang ninja dan samurai sejati serta filosofi pistol dari seorang Salonga.

Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing (hal : 101).

Semua orang di dunia hitam mengenal kakekmu, Bujang. Dia adalah jagal ternama hingga pulau seberang. Julukannya ‘Si Mata Merah’ karena matanya selalu terlihat merah. Bisikkan nama kakekmu di perempatan jalan, satu kota akan bergegas masuk ke dalam rumah, meringkuk terkencing-kencing. Sebutkan nama kakekmu di balai bambu, satu kota akan bergegas pulang, memadamkan lampu (hal : 144).

 

Pulang berhasil menyentuh sisi melankolisku tanpa balutan cinta-cintaan ‘keju’ yang biasanya ada dalam novel romance.

Buku ini menyajikan lebih dari itu.

Perkara pilihan hidup yang seringnya tidak adil dan sulit untuk dipilih, lalu dilain hari akan menyesali mengapa waktu tidak dapat diputar ulang.

Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan (hal : 262)

Hidup ini sebenarnya perjalanan panjang, yang setiap harinya disaksikan oleh matahari (hal : 336)

Tentang keberserahan diri pada apa-apa yang telah menjadi rencanaNya. Yakinilah  bahwa apa yang telah ditulis olehNya adalah skenario terbaik yang memang hanya mampu dilalui oleh kita sebagai pemeran utamanya.

Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egosime. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja (hal : 219)

“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran” (hal : 340)

Tentang cinta pada keluarga – meski tanpa ada kesamaan ikatan darah. Tentang kesetiaan, pengorbanan dan kesabaran.

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain (hal : 188).

Bersabarlah, maka gunung-gunung akan luruh dengan sendirinya, lautan akan kering. Biarkan waktu menghabisi semuanya (hal : 288)

Serta tentang sejauh apa pun langkah kaki ini menapak, sekelam apa pun jalan yang pernah di tempuh, Sang Pemilik kehidupan senantiasa menanti kita untuk kembali pulang kepadanya.

Karena cinta yang paling hakiki adalah cinta Sang Pencipta pada hambanya.

“Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan. Segelap apa pun hitamnya jalan yang ku tempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang (hal : 400)

Dan pada akhirnya, nilai sempurna – lima – untuk suara panggilan pulang yang berasal dari Tuhan.

 

Pasangan Kencan

a

Cinta itu sabar. Ia akan selalu belajar dari sebuah kesalahan. Bukan malah mencari kesalahan. Ia akan belajar memaafkan dan menerima. (halaman : 59)

Cerita bermula dengan bagaimana Kia dan Bas adalah dua orang teman yang sangat dekat. Di mana ada Kia, maka akan ditemukan pula Bas di sisinya. Mereka akrab. Saling menguatkan dan mendukung satu sama lain. Bukan berarti tidak ada intrik di antara mereka, namun pada akhirnya mereka akan berbaikan lagi dan lagi. Kembali menikmati senja dari atas atap bersama.

Konflik mulai terasa ketika hidup memasuki fase selanjutnya. Kuliah. Bas dan Kia yang terpisah jarak semakin jarang berkomunikasi. Menatap senja dari atas atap sembari menikmati secangkir cokelat panas ditemani dengan orang yang dicinta adalah rutinitas yang sering dirindukan oleh Kia ketika dia harus pergi ke Gunung Kidul untuk KKN. Dan Bas, sahabat sejak kecil Kia, yang juga menjadi cintanya, pergi ke negeri seberang demi membuat orang tuanya bangga. Beruntungnya Kia, selama KKN dia ditemani oleh teman yang selalu membuatnya nyaman, Hisyam. Orang yang ada di sisinya pasca kepergian Bas. Hisyam pula yang setia menemaninya menikmati cokelat panas di akhir hari.

Akankah Kia masih menyimpan perasaan yang sama untuk Bas yang telah lama tidak berjumpa dengannya, meskipun Hisyam senantiasa ada di sampingnya ? Akankah tujuh belas tahun kebersamaan Kia – Bas harus berakhir demi meraih masa depan ?

Emang kalau ngeluh gitu, skripsinya bisa cepet selesai? (halaman : 261)

*****

Zonk.

Bukan. Bukan zonk mengenai cerita dalam novel ini. Bukan. Sama sekali bukan.

Begitu kubuka sampul pembungkusnya, aku sudah punya dugaan tentang cerita apa yang disuguhkan dalam novel ini. Jadi aku tidak menaruh ekspektasi apa-apa ketika membacanya.

Yang aku maksud zonk adalah, ‘tebakanku mengenai apa yang menjadi pasangan kencanku’. Aku punya dugaan bahwa prioritas pertamaku yang akan menjadi pasanganku, karena eh karena si ‘pemilik’nya mengirim pesan kepadaku. Ternyata aku salah, yang berjodoh denganku bukanlah pilihanku yang pertama, melainkan pilihanku yang kedua.

Berbicara tentang pilihan pertamaku, aku punya dugaan buku apa itu sebenarnya. ALLY. Apakah ada unsur kata itu dalam judul buku yang menjadi pilihan pertamaku? (tanya Putri Natalia :P)

Kaget ketika pasangan kencanku ternyata bukan buku yang telah kuduga, haha. Jadinya gak bisa membuktikan apakah analisisku sudah sehebat Heiji ataukah masih setingkat Kogoro 😀 hehe.

Walau tebakanku salah, aku cukup senang ketika menemukan selembar kertas yang diapit bookmark yang berasal dari si pengirim. Menerima sebuah surat dari teman bertukar buku yang selama ini hanya kuikuti dalam linimasa.

P_ambangsari, terima kasih telah menuliskan ‘surat pengantar’ itu 🙂

Fifah dan Putri Natalia, terima kasih telah menyelenggarakan event kece bertajuk Blind Date With A Book. Semoga tahun depan masih akan ada event serupa atau malah event yang jauh lebih kece lagi dan aku dengan senang hati akan berpartisipasi meramaikannya.

PS :

Ah iyaa, sekalian ingin memberi tahu identitas asli dari buku yang ku ikutsertakan dalam Blind Date kemarin :

my-favorite-good-bye
Penulis adalah orang-orang kesepian yang sulit dimengerti | Diterbitkan di dua negara | Tokoh utamanya pria
51rQ38oOgXL._SX348_BO1,204,203,200_
Kumpulan cerpen | Penulis perempuan yang pernah memenangkan Khastulistiwa Literary Award | Anjing | Manusia yang hidup abadi
26869062
Remaja | Aceh | Sebuah Janji | Kertas

Bagi yang menebak Tere Liye untuk buku yang ketiga, kalian salah total saudara-saudara huahaha 😛

 

Cheers,

Indri

Blind Date with A Book

BLIND DATE WITHBOOK(3)

Assalamualaikum, dan selamat pagi..

Lagi, mood menguasai diri hingga akhirnya blog ini antara ada dan tiada. Padahal niatnya sedari awal membuat blog yang khusus berkenaan dengan buku eh malah jarang diisi. Ditambah lagi dengan reading slump yang belakangan ini melanda, makin jadilah ini blog penuh keheningan. Demi menyiasati itu semua maka aku membuat keputusan untuk mengikuti event kece yang digawangi oleh Afifah dan Putri. Event yang diberi nama Blind Date with a Book. Di mana nanti tiap-tiap orang yang menjadi peserta event akan ‘memberikan’ bukunya kepada peserta lain. Namun masing-masing peserta tidak tahu wujud real buku seperti apa yang akan mereka terima. Mereka hanya akan diberi kode – kode yang akan membantu untuk memilih buku mana yang diinginkan. Nah sebagai salah satu dari peserta, maka aku juga berkewajiban menebar petunjuk tentang buku apa yang ingin kuberi pada peserta lain.

Buku-buku ini memiliki arti tersendiri bagiku. Satu diantaranya hadiah dari penerbit mayor, karena alhamdulillah aku memenangkan kompetisi menulis surat. Dua lainnya, kumiliki ketika untuk pertama kalinya aku hadir dalam event pembaca di Jakarta. So udah siap menebak kode-kode dariku?

Here it is :

  1. Penulis adalah orang-orang kesepian yang sulit dimengerti | Diterbitkan di dua negara | Tokoh utamanya pria.

  2. Kumpulan cerpen | Penulis perempuan yang pernah memenangkan Khatulistiwa Literary Award | Anjing | Manusia yang hidup abadi

  3. Remaja | Aceh | Sebuah Janji | Kertas

Sudahkah punya dugaan buku apa yang kumaksud? Tidak terlalu sulit kan petunjuknya? 🙂

Ah iyaa, sebagai catatan saja :

Jangan berekspektasi tinggi terhadap buku-buku ini. Aku tidak tahu genre seperti apa yang kamu sukai, jadi pesanku jika nantinya buku tersebut berjodoh denganmu, sayangi dia sebagaimana aku (pernah) menyayanginya.  Pesanku cukup mudah bukan?

Semoga buku-buku ini dapat bermanfaat untuk kamu.

Cheers,

Indri..