[Resensi] Puya Ke Puya

20170921_185036

“Kebudayaan adalah produk manusia, manusia dan kebudayaan itu dinamis sesuai ruang dan waktu, dan relevansi dengan zaman sangat penting sebagai acuan untuk mempertahankan sebuah tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan itu.  (hal : 20)”

Kisah ini dimulai dengan kematian. Kematian Rante Ralla yang merupakan ketua adat di Kampung Kete’. Sebagai Ketua adat yang disegani dan juga salah satu bangsawan, sudah seharusnya Rambu Solo[1] diadakan sebagai cara agar jiwa Rante Ralla menuju Puya[2] dan dapat bertemu dengan Puang Matua[3]. Namun penyelenggaraan Rambu Solo bukan murah. Kendala terbesarnya adalah perkara biaya. Rante Ralla yang hobi berjudi dan menenggak ballo[4] tidak banyak meninggalkan warisan untuk anak dan juga istrinya, selain Rumah Tongkonan dan sedikit tanah yang menjadi warisan turun temurun leluhur mereka.

Allu Ralla adalah putra Rante Ralla yang merupakan mahasiswa (nyaris abadi) yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Berita kematian ayahnya, membawanya meninggalkan Makassar dan menuju Toraja. Sebagai anak sulung – 17 tahun lalu, Rante Ralla mempunyai seorang anak perempuan bernama Maria, yang meninggal saat bayi – mau tidak mau Allu berperan sebagai penerus adat keluarga Ralla, dan dia pun memiliki kewajiban untuk memutuskan apakah jenazah ayahnya akan dikubur dengan proses Rambu Solo ataukah dikebumikan di Makassar, seperti percakapan terakhirnya dengan ayahnya, saat masih hidup.

20170921_202439-1

20170921_203508-1

          Ketika bingung untuk memutuskan pemakaman seperti apa yang harus dipilih oleh Allu, sebuah masalah menghampiri. Kepala desa beserta dua orang lainnya mendatangi Allu untuk meminta persetujuannya agar menjual rumah dan tanah yang ditempati oleh keluarga Allu untuk dibangun akses menuju penambangan  yang berada di kampung itu. Allu bersikeras menolak tawaran tersebut, seiya sekata dengan keinginan Indo (Ibu).

Tapi rupanya, keputusan itu tidak berlangsung selamanya. Cinta yang menjadi sebab. Malena, cinta masa SMA Allu kembali hadir dalam kehidupannya, dan perasaan yang mereka miliki ternyata masih sama seperti waktu lalu. Malena ingin agar Allu segera menikahinya.

Untuk itulah Allu harus membuat keputusan dengan cepat dan tepat, agar dia dapat hidup bersama orang yang dicintainya.

Lalu keputusan seperti apa yang Allu ambil?

Apakah keputusannya itu akan berpengaruh pada keberlangsungan garis keturunan Ralla yang masih berpegang teguh pada adat?

*****

Buku ini memang layak diganjar dengan embel-embel Novel Terbaik 2015 versi TEMPO dan salah satu pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 karena cerita yang diangkat sungguh nyata. Dewasa ini, persoalan adat menjadi bahasan yang tidak terlalu diminati oleh kaum milenial, namun tak dapat ditampik bahwa Indonesia adalah negara yang punya segudang adat yang dimiliki oleh masing-masing etnik. Itu pula lah yang menjadi daya tarik Indonesia, di mata negara lain. Keberagaman budayanya yang harus selalu dijaga. Bukan hanya akan diperhatikan saat negara tetangga mulai ‘mengakui’ itu sebagai budayanya.

Rambu Solo, istilah itu terdengar tidak asing di telinga. Karena sebagai seorang yang mempelajari tentang budaya semasa kuliah, aku pernah membaca tentang itu, namun tak mendalam. Yang masih kuingat, adalah Rambu Solo adalah sebuah kegiataan adat yang di dalamnya terdapat nilai-nilai tanggung jawab, tolong-menolong, serta kekeluargaan antar kerabat. Rambu Solo juga menyiratkan kedudukan status sosial seseorang di masyarakat, apakah dia seorang bangsawan ataukah rakyat jelata. Bagi masyarakat Toraja, kerbau belang bertanduk yang dipersembahkan pada upacara Rambu Solo akan menjadi tunggangan orang yang telah mati menuju Puya. Selain upacara Rambu Solo, buku ini juga menampilkan tentang Passiliran[5] di mana Maria Ralla berada. Seorang akan meninggalkan Passiliran saat dianggap telah mampu berjalan menuju Puya, dan Maria pergi setelah 17 tahun ‘hidup’ di sana, waktunya bersamaan dengan perjalanan Rante Ralla ke Puya.

          Bicara tentang sudut pandang penulisan, Faisal Oddang melakukan hal yang unik dengan memberikan tanda * dan () untuk memberi tahu pembaca siapa yang sedang bercerita. Apakah Rante Ralla, Allu, ataukah Maria? Faisal juga memposisikan dirinya sebagai narator dalam buku ini. Jika lokalitas budaya Toraja yang sangat kental ada dalam buku ini, maka fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan pun turut ada dalam buku 211 halaman. Sebut saja tentang sengketa tanah adat vs pemerintah, tentang kelainan orientasi seksual bahkan tentang kapitalisme asing (dalam hal penambangan) yang seringnya merugikan masyarakat sekitar. Makanya tidak heran, ada beberapa kalimat satir yang sesuai menggambarkan keadaan tersebut.

“…. sedikit pun mereka tidak meminta maaf, dan saya berpikir bahwa pemerintah memang tidak pernah punya stok kata maaf buat rakyatnya…. (hal : 157)”
“… apa sih pentingnya sarjana? Hanya buat memindahkan tali toga? Oh, betapa itu motivasi realistis yang kacangan sekali. (hal : 7)”

          Aku mengalami pergeseran rasa pada karakter tokoh Allu, di awal cerita aku suka dan cukup mengerti tentang keinginannya mempertahankan tanah warisan dan tongkonan, beralih menjadi tidak suka pada karakter Allu menjelang pertengahan cerita ketika kepingan masa lalunya datang dan mengubah Allu menjadi seorang yang egois hingga pada akhirnya aku merasa kasihan dengan Allu yang menjadi (korban) kehilangan logika karena ***** (gak mau spoiler ah hehe). Lain halnya dengan Maria, sedari awal hingga akhir aku menyukai karakternya yang penurut, baik hati dan pandai menyimpan rahasia karena jika rahasia sampai terungkap akan banyak hati yang tersakiti.

          Rante Ralla adalah seorang ketua adat yang sangat menyayangi keluarganya dengan berupaya mempertahankan tradisi dan adat keluarganya. Keluarga Ralla. Meski nyawa yang menjadi taruhannya. Begitupun dengan sosok Indo, seorang Ibu yang memilih diam untuk tidak membuat gaduh keluarganya dengan sebuah rahasia yang hanya diketahui olehnya. Namun agaknya, diamnya seorang perempuan akan berdampak besar saat perempuan itu tak mampu lagi menyimpan semuanya sendirian. Efeknya lebih hebat.

          Pada akhirnya, Puya ke Puya adalah novel layak baca yang sarat akan pengetahuan. Meskipun begitu cara penceritaannya sama sekali tidak membingungkan ataupun membosankan seperti saat membaca buku kuliah. Puya ke Puya berhasil menggabungkan kisah tradisi dengan modernitas, idealisme seorang calon sarjana dan satu dari 10 dosa besar – dendam – atas nama kehormatan keluarga dalam satu paket utuh yang menyenangkan untuk dibaca.

“Kenapa surga diciptakan Tuhan?

Banyak yang menanyakannya semasa hidup. Namun, sungguh orang mati pun tak punya jawaban tepat. Kukira surga diciptakan hanya agar orang-orang mau beragama dan punya Tuhan. (hal : 15)”

Lima kerbau belang sebagai tunggangan menuju Puya.

[1] Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal menuju alam roh. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara selesai dilaksanakan.

[2] Puya adalah dunia arwah atau akhirat.

[3] Puang Matua adalah dewa utama dan penguasa surga yang dipercayai oleh masyarakat Toraja dengan konsep Aluk Todolo

[4] Ballo adalah minuman keras khas Toraja

[5] Passiliran merupakan kuburan bayi dalam sebuah pohon. Dalam kepercayaan masyarakat Toraja yang menganut ajaran Aluk Todolo, bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi susu dianggap masih suci sehingga tidak dikubur di dalam kubur batu. Pohon Tarra yang berdiameter cukup besar dipilih sebagai tempat untuk meletakkan bayi karena konon getah pohon tersebut diumpamakan sebagai pengganti ASI. Dengan ‘menanam’ mayat bayi di batang pohon Tarra, jasad bayi tersebut seperti dikembalikan ke dalam rahim ibunya.

Advertisements

[Resensi] Forgotten Colors

IMG-20170903-WA0008
Untuk seorang sahabat yang telah menghadiahiku buku ini, Terima kasih.

Pria kurus berambut gondrong sebahu dengan warna kulit layaknya bambu itu bernama Arka. Dia mempunyai hobi baru yang berawal dari jatuhnya tahi burung di bangku taman tempat biasa dia menghabiskan waktu. Di Taman Setan. Dengan bantuan pena jarum, pena bulu, pensil, pulpen sampai digital stylus, dia menyulap bangku taman menjadi indah. Sebut saja dia Si Pelukis Bangku Taman. Proses melukis bangku dilakukannya secara sembunyi pada dini hari. Ada kegembiraan dan kepuasaan yang dirasakannya jika dia bisa menyelesaikannya tanpa ketahuan oleh orang lain, terlebih patroli keamanan taman. Namun rupanya, hal itu tidak berlangsung lama.

Pada suatu dini hari, Arka tertangkap oleh Si Lelaki Buaya, orang yang mengaku bagian dari pemerintahan Kota Ini. Orang tersebut mengancam akan memenjarakan Arka dengan tuduhan merusak fasilitas publik karena telah ‘mencemari’ bangku-bangku yang ada di Taman Setan dengan lukisannya, jika Arka menolak bergabung dalam proyek yang akan Kota Ini selenggarakan. Proyek melukis seribu bangku. Awalnya Arka tak menaruh minat, karena pikirnya, ini adalah proyek ambisius dari walikota Kota Ini yang ingin menampilkan ‘kesan berbeda’ saat pelaksanaan Konferensi Piknik Bareng Walikota Seluruh Dunia.

Selama ini saya kesal melihat taman-taman berantakan. Giliran ada tamu penting, taman baru dihias, itu pun mendadak sekali (Hal : 13)

Karena turut disertai ancaman akan bui, Arka pun memberikan penawaran permintaan agar dia bersedia berpartisipasi dalam proyek itu. Arka meminta agar Taman Setan nantinya nyaman untuk diakses oleh kaum difabel, karena menurutnya taman harusnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Melukis seribu bangku diselesaikan Arka dengan tepat waktu, hingga tibalah hari peresmian proyek tersebut. Arka diminta untuk memberi kata sambutan selaku Pelukis Bangku Taman. Namun terjadi sesuatu di sana, Arka tiba-tiba tak sadarkan diri. Tekanan darahnya tinggi dan menurut dokter yang menangani dirinya sesaat setelah dia pingsan, ada ledakan pembuluh darah di dalam otak kiri Arka. Arka menderita penyakit yang serius, di saat usianya masih 28 tahun.

Dan yang membuatku makin terperanjat, ternyata pembuluh darah pecahku itu bernama strok hemoragik. Masa aku sudah kena strok? (Hal : 42)

Setelah siuman dari pingsannya, Arka hanya ditemani oleh Si Perempuan Belang yang juga merupakan kekasihnya, Gelia. Namun semuanya tak sama lagi bagi Arka, strok mengambil kemampuan berbicaranya, strok membuatnya ‘bertemu’ dengan Si Raksasa Berkacamata Tebal yang ditembak mati oleh Raksasa-Raksasa Jahat. Si Perempuan Cadel yang mengajaknya naik ke pohon beringin yang berada di Taman Setan, serta Si Ibu Payudara Satu yang menyelamatkannya saat Arka kembali pingsan di Taman Setan. Baik Gelia, maupun Dokter yang merawatnya Arka didiagnosis mengalami Skizoprenia atau halusinasi. Strok juga lah yang merengut kenangan-kenangan serta kerinduan yang Arka miliki. Pun strok pula lah yang kembali menimbulkan serpihan peristiwa kelam yang berasal dari masa lalu Arka.

Hipokampus

Lantas peristiwa apakah yang terjadi di masa lalu Arka? Berhasilkah Arka kembali ‘normal’ seperti sedia kala? Lalu siapa sebenarnya Raksasa Berkacamata Tebal, Perempuan Cadel dan Ibu Berpayudara Satu? Apakah mereka hanya halusinasi Arka ataukah sosok mereka nyata? Semuanya akan terjawab dengan membaca buku 268 halaman ini.

*****

Aku menandai buku ini sebagai salah satu buku wajib baca saat tahu bahwa Vabyo akan meluncurkan buku baru pasca kesembuhannya dari strok hemoragik. Ya, Vabyo dan Arka menderita penyakit yang sama. Makanya ketika aku membaca buku ini, aku merasa proses penyembuhan yang dialami Arka seperti itu juga proses penyembuhan yang dilakukan oleh Vabyo.

Pantang menyerah adalah salah satu karakter Arka yang tergambar dalam buku ini. Bagaimana Arka berjuang agar dapat kembali ‘hidup normal’ layaknya orang yang tidak pernah terdiagnosis strok. Setali tiga uang, Gelia juga dideskripsikan sebagai seorang perempuan optimis, ceria dan penyemangat nomor satunya Arka. Sementara Si Lelaki Gemuk Merah aka Dokter cenderung kaku dan tidak banyak bicara layaknya kebanyakan dokter yang sering kutemui. Berdasarkan pengalamanku yang bolak-balik ke rumah sakit saat harus menemani ‘para tetua’ berobat adalah ada beberapa dokter yang sedikit sekali memberitahu informasi seputar penyakit – tentang  bagaimana penyakit dapat terjadi, proses pencegahan agar penyakit tidak terjadi, serta proses berapa lama dan bagaimana proses pengobatan akan berlangsung – yang diderita oleh pasien, kecuali aku bersikap ingin tahu dengan bertanya banyak pada si dokter.

Ada pertanyaan yang menggelitik rasa ingin tahuku, mengapa dalam buku ini, alih-alih ditulis lengkap, penulisan nama obat-obatan yang digunakan oleh Arka malah ditulis dengan beberapa tanda bintang diakhirnya? Sebagai orang yang sempat sedikit menyicip pekerjaan dibidang farmasi, sekali baca aku langsung mengenali obat-obatan yang dimaksud. Memang, ada beberapa nama yang pembeliannya diharuskan dengan resep, tapi untuk anti hipertensi yang berbentuk kecil dan konon katanya berefek samping menimbulkan batuk, obat itu masih bisa kok ditebus tanpa resep.

Alur maju yang konsisten sampai pertengahan halaman lalu mulai bergerak mundur ke masa lalu Arka sama sekali tidak menganggu kenikmatan membaca buku ini. Perpindahannya smooth dan membuatku mudah mengerti akan kronologis kejadian yang pernah terjadi di Taman Setan waktu lalu. Selain itu, Forgotten Colors juga memberiku wawasan baru tentang otak dan cara kerjanya yang luar biasa. Tentang tanaman pengganti garam dan gula. Pun mengenai lucid dream.

Saraf

Gelia

Stevia
Lalu teringat sebuah iklan yang juga menggunakan stevia dalam produk terbarunya.

Summer

Tentang penyelesaian atau ending dari novel ini, aku benar-benar tidak menduga akan diarahkan ke ‘topik itu’. Topik yang biasanya digunakan untuk novel-novel bergenre fantasi. Selain itu, aku juga menyadari satu hal yang dapat digarisbawahi dari novel ini yaitu, jangan pernah lupakan sejarah. Sekelam apapun itu. Karena dari sana lah masa sekarang terbentuk. Walau kadang bagi segelintir orang, sejarah dimanipulasi agar dapat meneguhkan kekuasaan yang sedang dimilikinya. Pernah dengar istilah sejarah dibuat oleh penguasa yang sedang berkuasa bukan? Terdengar familiar kah di telinga?

Oia hampir lupa,  ada beberapa kalimat yang ku sukai : quoteable dan bernada satir.

..Karena saat kita jatuh cinta, kita jadi rajin menulis, bukan?.. (Hal : 7)

Kamu tahu kenapa namanya itu ‘rumah sakit’? Karena mereka tidak mengizinkanmu sehat (Hal : 252)

Aku ingin mati dalam perjuangan, bukan pengkhianatan  (Hal : 257)

Satir

Akhirul kalam, Forgotten Colors bukan hanya novel yang bercerita tentang seorang pria yang berjuang melawan strok, tetapi juga tentang peristiwa pedih di masa lalu yang berdampak ‘traumatis’ bagi yang pernah mengalaminya.

Lima butir obat-obatan yang telah berjasa dalam novel ini.

 

 

Pelajaran Kebahagiaan ala Hector

Apakah kebahagiaan hanyalah sebuah reaksi kimia di dalam otak ?

(Hal : 145)

17-08-26-18-21-26-108_deco

Profesinya sebagai psikiater handal yang mengharuskannya mendengar serta membantu para pasien dengan masalah gangguan jiwa, kebahagiaan, tak serta membuat jiwa Hector merasa ‘puas’ akan pengakuan tersebut. Dia merasa belum ‘bahagia’ akan pencapaian yang telah didapatkannya. Belum bahagia akan hidupnya, dan untuk itulah dia memutuskan untuk mencari tahu seperti apa ramuan kebahagiaan itu, agar tidak ada lagi kesedihan atau ketidakpuasan dalam hidup seperti gejala-gejala yang sering pasiennya keluhkan. Untuk itulah Hector melakukan perjalanan. Perjalanan yang akan membawanya bertemu dengan orang-orang yang nantinya membuatnya mengerti apa itu kebahagiaan dan bagaimana cara memperolehnya.

Cina – negara yang terkenal akan kebijaksanaan para filsufnya – adalah yang pertama dikunjungi Hector. Di sana dia bertemu dengan seorang teman lama yang bernama Edouard dan Ying Li, seorang gadis  yang membuatnya menyadari Pelajaran Kebahagiaan no.5 : Terkadang kebahagiaan itu adalah tidak mengetahui keseluruhan yang ada (Hal : 43). Perjalanan dilanjutkan menuju ke negara di mana sering terjadi konflik, penguasa yang korup, intimidasi ras, serta tingkat kejahatan yang tinggi, namun rupanya di sanalah Hector dapat menemukan berbagai pelajaran lainnya tentang kebahagiaan. Seperti misalnya, dia dapat memahami alasan mengapa anak-anak tersenyum, pelajaran yang bisa dia petik saat ketakutan mendekapnya dalam ruang gelap berisi tikus, serta kejadian-kejadian lain yang tak terduga, yang dialaminya selama perjalanan.

Lalu, apakah pada akhirnya Hector menemukan apa yang dicari? Kebahagiaan yang hakiki? Kebahagiaan untuk dirinya sendiri?

******

Memiliki materi yang lebih dan kesehatan yang prima?

Menghabiskan waktu serta dikeliling oleh orang-orang yang disayangi?

Mempunyai kekuasaan untuk dapat berbuat apapun yang disuka?

Diantara ketiga hal di atas, mana kebahagiaan yang paling mendekati versimu sendiri? Setiap orang pasti memiliki standar bahagianya masing-masing. Sulit rasanya untuk membuat aturan baku tentang kebahagiaan. Sebab itulah, dalam novel 263 halaman ini, Hector mencatat ada beberapa pelajaran yang membantu kita untuk dapat mengenali apa-apa saja yang membuat bahagia. Meskipun, seringnya kebahagiaan itu datangnya dari hal-hal sederhana yang tak diduga.

Kalau dalam novel ini, ketika Hector berkesempatan ‘mencicipi’ bagaimana enaknya terbang dengan fasilitas business class. Lain halnya dengan kebahagiaan sederhanaku, yakni, saat seorang penulis kesayangan mengingat wajah dan namaku dengan baik (padahal penggemarnya juga tidak sedikit), bahkan dia mengingat pertemuan pertama kali.

No. 4 : Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan itu berasal dari kemampuan mendapatkan kekuasaan lebih besar atau uang lebih banyak (hal : 39)

No. 5 : Terkadang kebahagiaan itu adalah tidak mengetahui seluruh kenyataan yang ada (hal : 43)

No. 6 : Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan jauh di pegunungan yang indah dan asing (hal : 52)

No. 7 : Memikirkan kebahagiaan sebagai  sebuah tujuan merupakan kekeliruan (hal : 68)

Pelajaran no. 1 : Membuat perbandingan bisa merusak kebahagiaan

(Hal: 29).

Aku sependapat dengan pernyataan itu, dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain adalah satu hal yang mesti dihindari jika mental kita belum siap untuk menerima ‘kekalahan’ bahwa sepertinya hidup orang lain itu lebih indah. Lebih bahagia daripada hidup sehari-hari yang kita jalani. Ibarat rumput tetangga terlihat lebih hijau, dapat berakibat negatif jika malah rasa iri yang muncul. Bukan berarti membuat perbandingan selalu berkonotasi buruk, perbandingan bisa juga memotivasi agar kita bekerja lebih keras dan giat agar dapat menyamai ‘hidup bahagia’ nya orang yang menjadi perbandingan kita.

Kalau aku sih, daripada membanding-bandingkan begitu lebih baik menulisi hal-hal apa saja yang selama ini telah membuatku bahagia. Menulis surat penggemar untuk aktor korea favorit, contohnya. Memenangkan giveaway berhadiah novel yang menjadi incaran atau hal-hal yang mungkin bagi sebahagian orang terlihat remeh malah hal itu yang dapat membuatku bahagia.

Kata kunci yang patut digaris bawahi adalah : RASA SYUKUR.

Serius lho, rasa syukur itu besar pengaruhnya untuk meningkatkan kadar kebahagiaan dalam hidup. Bersyukur pada Tuhan karena selama ini telah dicukupkan apa-apa yang memang dibutuhkan oleh kita. Bersyukur atas usia (yang seringnya masih terbuang sia-sia, hiks), atas kesehatan dan atas limpahan cinta dan kasih sayang tulus dari keluarga serta orang-orang terdekat. Pernah baca quote, tapi lupa entah dari buku apa, yang kira-kira begini bunyinya : “Selama masih bisa tidur nyenyak, punya tubuh dan jiwa yang sehat, serta keluarga dan orang terdekat yang menyayangi, maka kita adalah orang yang bahagia.”

17-08-26-18-40-22-885_deco

Jadi sebenarnya konsep mengenai kebahagiaan itu gak rumit kan? Cuma yah gak akan nolak juga sih kalau dikasih rezeki lebih untuk bisa menjelajahi negeri demi mengagumi ciptaan Ilahi. Mengupgrade rasa syukur yang kadang munculnya kalau pas lagi senangnya aja (sungguh ini mah karena imanku saja yang masih kayak roller coaster).

No. 10 : Kebahagiaan adalah melakukan pekerjaan yang kita senangi (hal : 95)

No. 11 : Kebahagiaan adalah memiliki rumah dan kebun sendiri (hal : 102)

No. 12 : Lebih sulit untuk merasa bahagia di sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang jahat (hal : 102)

17-08-26-18-48-22-843_deco

Sedikit berbeda denganku, Hector dan Profesor menemukan tiga metode mengukur kebahagiaan :

  1. Bertanya pada orang berapa kali dalam sehari atau seminggu mereka memiliki suasana hati yang senang, ceria atau bahagia.
  2. Bertanya pada mereka apakah mereka merasa bahagia dalam berbagai aspek kehidupan mereka.
  3. Merekam eksperasi wajah orang, kemudian mengukurnya dengan cara yang rumit (hal : 192)
No. 17 : Kebahagiaan adalah peduli terhadap kebahagiaan orang-orang yang kita cintai (hal : 159)
No. 18 : Kebahagiaan bisa berarti kebebasan untuk mencintai lebih dari satu wanita pada saat bersamaan (hal : 164)
No. 19 : Matahari dan laut membuat semua orang bahagia (hal : 168)
No. 20 : Kebahagiaan adalah cara pandang terhadap sesuatu (hal : 209)
No. 21 : Persaingan meracuni kebahagiaan (hal : 211)
No. 22 : Wanita lebih peduli untuk membuat orang lain bahagia dibandingkan pria (hal : 213)
No. 23 : Kebahagiaan berarti memastikan bahwa orang-orang yang berada di sekeliling kita bahagia (hal : 213)

So, sudahkah kamu bersyukur hari ini? Sudahkah kamu bahagia hari ini?

Ketika diri telah berdamai dengan sulit, getir serta kelamnya masa lalu lantas berjuang demi masa sekarang dan nanti, itu juga merupakan wujud kebahagiaan. Apresiasi usaha keras diri sendiri.

(Kalo ini mah, quote kebahagiaan ala-ala Indri)

h

[Resensi] The Life-Changing Magic of Tidying Up

20170805_192212

Berbenah yang efektif hanya terdiri atas dua aktivitas esensial : membuang dan menentukan di mana harus menyimpan barang. Di antara keduanya, membuang harus didahulukan (hal : 20)

Bicara tentang berbenah berarti dua hal :

  1. Menyimpan
  2. Membuang

Namun jangan pikir untuk memutuskan apakah suatu benda/barang itu akan disimpan atau dibuang adalah perkara mudah. Kalau itu mudah, sudah tentu takkan ada lagi tumpukan ‘yang sebenarnya tidak dibutuhkan’, tumpukan ‘tak kasat mata yang mungkin tersempil di salah satu pojok rumah’, tumpukan ‘yang nanti akan dipakai/dibaca’ dan jenis-jenis tumpukan lainnya. Jika berbenah adalah perkara mudah, maka rumah ataupun kamar sudah tentu akan senantiasa rapi.

the life – changing magic of tidying up

(seni beres-beres dan metode merapikan ala jepang)

Beres-beres merupakan seni? Yang benar saja. Itu adalah pikiran pertama yang terlintas kala membaca sebuah judul buku dari laris versi new york times.

Buku setebal 206 halaman ini tak hanya berisi tentang cara-cara berbenah yang baik dan benar sesuai KonMari Method, namun juga menampilkan sekelumit kisah dari berbagai klien Marie Kondo – selaku konsultan ahli spesialisasi benah-benah – seputar benda-benda yang ingin mereka bereskan/benahi. Benda yang mungkin bagi sebagian orang tidak patut untuk disimpan, namun karena benda tersebut memiliki nilai sentimentil bagi pemiliknya maka benda itu pun dikategorikan sebagai benda layak simpan.

Selain nilai fisik sebuah barang, ada tiga faktor lain yang menambah nilai harta benda kita : fungsi, informasi dan keterikatan emosional. Orang-orang berat hati membuang barang yang masih bisa mereka pergunakan (nilai fungsional), yang memuat informasi bermanfaat (nilai informatif), dan yang bernilai sentimental (nilai emosional) (hal : 38)

Dalam buku ini dijelaskan bahwa benda yang paling sulit untuk dibuang adalah benda yang memiliki nilai sentimental, oleh karenanya benda-benda yang termasuk dalam kategori ini sebaiknya dikerjakan paling akhir. Dijelaskan pula urutan benah-benah sebaiknya dimulai dari pakaian – buku – kertas – pernak-pernik – dan terakhir adalah (benda yang penuh) kenang-kenangan. Biasanya pula benda yang sulit untuk dibuang adalah benda yang berupa hadiah, meskipun kenyataannya benda hadiah tersebut bukanlah benda yang dibutuhkan, rasa sungkan atau takut dianggap tidak berterima kasih pada si pemberi hadiah adalah alasan klasik mengapa benda tersebut masih disimpan, walaupun tidak memiliki nilai fungsionalnya lagi. Akupun termasuk orang yang berpikiran serupa, bahwa tak elok rasanya jika ‘membuang’ hadiah dari seseorang, namun setelah membaca buku ini, tampaknya aku akan mengubah cara pandangku mengenai hadiah.

Fungsi sejati hadiah adalah untuk diterima. Hadiah bukan ‘benda’, melainkan sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang.” (hal : 100)

Yang perlu kulakukan adalah menerima hadiah tersebut, berterima kasih pada si pemberi karenanya lah aku merasakan kegembiraan. Merasa gembira karena itu berarti si pemberi merelakan materi dan waktunya untuk mengungkapkan perasaannya bahwa dia ‘memperhatikan’ dan ‘peduli’ padaku dengan memberikan hadiah.

Dan akhirnya, buku ini ingin menyampaikan bahwa membuang ataupun menata barang dapat mempengaruhi bahkan mengubah hidup kita. Hidup yang penuh dengan kegembiraan dan kedamaian bersama benda/barang yang memang kita cintai dan butuhkan.

*****

Jika bukan karena ulasan dari seorang penulis perempuan yang kukagumi, aku mungkin tak akan melirik buku ini jika melihatnya secara tak sengaja di toko buku. Karena membaca buku inspirasi jenis ini tidak pernah masuk dalam to be read ku selama ini. Belum lagi, beberapa hari sebelum buku ini akhirnya kubawa pulang, KonMari Method yang merupakan metode benah-benah khas buku ini, banyak dibicarakan dalam media sosial orang-orang yang kuikuti. Rasa penasaran pun memuncak, ‘sebagus apa sih bukunya?’

Satu hal yang kupahami pasca menutup buku ini adalah, penulis memperlakukan benda/barang layaknya makhluk hidup, memiliki jiwa. Andai sepasang kaus kaki yang dilipat secara asal dapat bicara, dia mungkin akan marah karena lipatan asal itu membuatnya menjadi ‘melar’. Baju-baju yang berada ditumpukan paling bawah akan menangis, selain karena jarang dipergunakan si pemilik, dia pun harus menanggung ‘beban’ baju-baju yang di atasnya.

Untuk menyimpan barang, kuncinya adalah memberdirikan alih-alih menidurkannya (hal : 67)

Daripada membuat benda/barang itu ‘tidak bermanfaat’ bagi kita mengapa tidak dibuang atau diberikan pada yang lebih membutuhkan selama kondisi benda/barang tersebut masih bagus. Coba cek lemari masing-masing, apakah baju-baju yang terlipat maupun tergantung di sana akan digunakan semuanya? Jangan bilang, ‘nanti akan dipakai’ yang dapat berarti ‘baju itu akan terlipat/tergantung di sana selamanya’ tanpa digunakan. Aku juga begitu, karena pada dasarnya aku hanya akan menggunakan baju yang kusuka, yang membuatku nyaman – pengecualian untuk beberapa baju yang tidak terlalu nyaman kupakai, namun harus tetap kugunakan karena aku punya alternatif penggantinya.

Esensi utama dari KonMari Method adalah : pertahankan benda/barang yang membuat kita gembira. Yang memiliki nilai sentimental saat tangan ini meraba, menyentuh dan menatanya.

Memutuskan hendak menyimpan apa berdasarkan tergugah tidaknya hati Anda merupakan langkah paling penting dalam proses berbenah (hal : 35)

Bukan berarti setiap benda yang memiliki kenangan harus tetap dipertahankan, karena kalau begitu yah sama saja, proses benah-benah nya tak akan berlangsung dengan baik. Cukup diingat bahwa benda/barang itu pernah berjasa dan berguna untuk kita, namun jika ‘peran’ nya dalam hidup kita telah usai, kita pun harus ikhlas melepasnya. Mem’buang’nya. Tak ubahnya seperti orang-orang yang silih berganti datang dan pergi dalam siklus hidup kita. Ikhlaskan mereka. Ucapkan terima kasih karena pernah ada dan mewarnai lingkaran kehidupan kita.

Namun, keengganan kita untuk membuang barang tertentu sejatinya hanya berakar pada dua penyebab : keterikatan pada masa lalu atau kecemasan akan masa depan (hal : 174)

Salah satu keajaiban berbenah adalah membuat kita percaya diri akan kemampuan kita dalam mengambil keputusan (hal : 171)

Keputusan untuk mempertahankan benda/barang yang menyalurkan energi positif kegembiraan atau menyingkirkan benda/barang tersebut yang mana telah berakhir perannya dalam hidup kita.

Dan yah, baru kali ini aku membaca buku tentang berbenah yang penuh dengan filosofi di dalamnya, diberikan tutorial cara melipat baju agar dapat ditata ‘berdiri’ (aku sampai lihat tutorialnya via youtube, haha), serta bagaimana cara belajar ‘mengikhlaskan’ hadiah yang tentunya punya nilai sentimentil hehe 🙂

oooo
Percobaan pertama KonMari Method ala Indri. Masih belum rapi sih, nanti dicoba lagi 😛

[Resensi] Let’s Fall In Love – Rina Suryakusuma

Judul : Let’s Fall In Love

Penulis : Rina Suryakusuma

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Baca via ScooPremium

Capture+_2017-06-24-18-29-13

“Cara terbaik untuk melewati sesuatu adalah dengan mulai melangkah dan berjalan melaluinya. Bukan dengan membeku ketakutan dan tak berbuat apa-apa”

(Halaman : 137)

Memiliki jabatan sebagai Financial Analyst di sebuah hotel bintang lima tidak membuat Florida Adinegoro (Flo) merasa bangga apalagi nyaman dengan pekerjaannya. Analis cashflow, dasar pembiayaan awal, pembiayaan perbulan serta analisis return on assests terlihat bagai momok yang ‘menakutkan’ baginya. Bergelut dengan angka merupakan salah satu cara untuk membuat ‘ibunya’ melihat padanya, cara lainnya adalah dengan tetap mempertahankan hubungannya dengan Frans Sudrajat, si dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, walaupun Flo tidak bahagia.

Tekanan yang dihadapi oleh Flo sebenarnya berasal dari Ibunya yang selalu memaksakan kehendaknya pada Flo. Baik soal pekerjaan maupun pendamping hidup. Lagi pun ibunya selalu membandingkan Flo dengan Trisia – kakak Flo yang sangat berbeda dengannya. Di mata Ibunya, tak ada sisi baik yang dimiliki oleh Flo termasuk dalam selera berpakaian. Sialnya, Frans (pacar Flo) sependapat dengan ibunya. Dia beranggapan selera berpakaian Flo yang sedikit nyentrik dan unik seperti fondant kue warna-warni dan gadis gipsi.

Dalam pekerjaan, ketidakbahagiaan Flo berdampak pada hasil pekerjaannya yang salah dan berantakan, sehingga membuatnya menerima SP, agar lebih berhati-hati dalam menganalisa serta bersikap profesional dalam bekerja – dengan tidak berselancar di dunia maya lalu mengumpulkan berbagai macam resep masakan dan kue-kue serta tidak melakukan chat di sela-sela jam kerja.

Adalah Jonathan Aswary, General Manager yang pernah diberi kue kopi oleh Flo sekaligus orang yang memberikan surat peringatan kepada Flo karena ketidakbecusannya dalam bekerja. Dia jugalah yang berperan sebagai mentor bagi Flo dalam menghadapi asessment terkait penilaian kinerja Flo yang dilakukan oleh HRD hotel. Meskipun awalnya terkesan galak dan acuh pada Flo, sungguhnya Jo peduli padanya. Tanpa sadar, Jo pun mulai menyukainya.

Lalu apakah Jo akan menyatakan perasaannya pada Flo? Sementara Flo memiliki seorang kekasih? Dan apakah Flo akan melakukan sesuatu yang disukainya – yakni mengaplikasikan resep yang dilihatnya, membuat kue dan menu baru – walau tahu Ibunya tidak menyukainya?

“Menurutku, kamu harus melakukan apa yang membuatmu bahagia, Flo”

(Halaman : 150)

*****

Ini adalah karya pertama Rina Suryakusuma yang ku baca, aku menyukai cara Mbak Rina mendeskripsikan kue-kue buatan Flo. Detail dan jelas, sehingga aku bisa membayangkan bagaimana wujud visual dari kue yang dibawa Flo pada pertemuannya dengan orangtua Frans.

Bicara tentang karakter, Mbak Rina sukses membuatku mengernyit sebal pada karakter Frans yang pengen ditendang. Ironisnya, banyak karakter seperti ini dalam realitas sosial masyarakat kita. Belum lagi dengan penggambaran karakter Ibu yang tidak membuatku simpati sama sekali. Kok yah, ada gitu Ibu yang gak bisa diajak diskusi dan merasa paling tahu apa yang anaknya inginkan. Ibu yang sungguh egois sekali. Untungnya si tokoh utama (Flo) memiliki Bianca (teman sekantor) dan Trisia (kakak) yang berada dipihaknya, kalau tidak sungguh malang nasib Flo.

Karakter kesukaan? Tentu saja Jo, hahaha.

Sepintas aku merasa karakter Jo mirip karakter CEO-CEO dalam drama korea yang belakangan ini kutonton. Sikap jutek dan galak yang ditampilkannya adalah kamuflase agar orang yang disukainya tidak mengetahuinya. Namun dibalik itu, diam-diam memperhatikan dengan sayang, halah :p. Tentang plot, aku tidak menduga alasan mengapa Jo ‘memandang tidak suka’ pada Flo di awal. Ku pikir, itu murni karena ketidakbecusan Flo dalam bekerja. Bukan karena ada sesuatu pada diri Flo yang mengingatkan Jo akan masa lalunya di Surabaya.

Melalui tokoh Flo, novel ini membawa pesan untuk dapat memilih apapun itu – cita maupun cinta – dengan syarat : yang kita pilih nantinya adalah sesuatu yang kita suka. Yang dapat membuat kita bahagia. Karena kalau dengan senang hati mengerjakannya, apapun masalah yang terjadi, kita akan menganggapnya sebagai proses pembelajaran, dan tak enggan untuk segera bangkit memperbaikinya.

“Dengan hati, segala rintangan yang datang menerpa dapat kau terima dengan senyum dan tekad untuk memperbaiki diri.”

“Saat bekerja dengan hati, kau bahagia” (Halaman : 206)

Dan jika ternyata memiliki orangtua seperti Ibunya Flo, yang bisa dilakukan adalah tak pantang menyerah untuk selalu memberi penjelasan serta pengertian mengapa ingin mengambil pilihan tersebut, dan berusaha untuk bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil serta tak lupa berdoa pada Tuhan agar kiranya membuka pintu hati Ibu agar meridhoinya, karena kalau Ibu gak ridho, gawat juga nanti hehehe.

flying-fish-3[6]

 

 

 

[Resensi] Di Tanah Lada – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Aku akan menyebut mereka Salt dan Pepper.

“Lada itu bumbu masak yang bikin perut hangat. Dia temannya garam. Di meja yang ada ladanya, pasti ada garam juga.” (Hal : 88)

lada atau Pepper dan garam atau Salt.

Mereka adalah dua sahabat baik yang bertemu di sebuah warung makan.  Salt, adalah anak berumur 6 tahun yang baru saja pindah ke Rusun Nero. Rusun yang sama yang juga dihuni oleh Pepper.  Meski baru berusia 6 tahun, Salt adalah anak yang pintar berbahasa Indonesia. Berbekal kamus pemberian dari Kakek Kia saat usianya menginjak tahun ketiga, Salt selalu membawa kamus ke manapun dia pergi. Untuk menemukan arti dari kata-kata yang sering diucapkan oleh orang dewasa – yang  tidak dia mengerti.

Kepindahannya ke Rusun Nero adalah karena Papanya. Papa yang dianggapnya hantu, orang jahat dan monster. Papa yang selalu membuat Mamanya menangis. Yang bahkan ingin mengunci dirinya yang sedang tidur di dalam koper. Papanya yang boros dan suka berjudi. Selain Pepper dan Salt, Rusun Nero juga memiliki penghuni baik hati di lantai 4 seperti Kak Suri – yang mengajari Pepper Bahasa Inggris – Mas Alri – yang mengajari Pepper bermain gitar serta Ibu, Bapak pemilik Rusun.

Masalah mulai muncul saat Papanya Pepper mensetrika tangan Pepper, hingga Salt yang saat itu berada di lokasi segera membawa Pepper ke tempat Kak Suri, untuk mencari perlindungan sekaligus pengobatan. Kak Suri membawa Pepper ke rumah sakit dan berencana untuk melaporkan tindakan Papanya Pepper ke polisi. Sementara Salt, tak ingin jauh dari Pepper. Dia merasa bahwa mereka mengalami nasib yang sama. Memiliki Papa yang jahat. Bahwa, semua papa di dunia ini jahat.

“Skeptis, maksudnya kamu berhenti percaya pada terlalu banyak hal. Kamu berhenti percaya kalau di dunia ini ada hal yang baik. Ada Papa yang baik, ada orang yang baik, ada nasib yang baik. Kamu berhenti percaya kalau kamu nggak perlu mati dan bereinkarnasi untuk bisa hidup bahagia.” (Hal : 196)

Salt dan Pepper menjadi anak yang skeptis akibat perlakuan orangtua mereka sendiri. ‘Melarikan diri’ mereka anggap sebagai jalan untuk dapat hidup bahagia. Maka mereka pun mulai melakukan perjalanan yang tanpa disadari dapat mengungkap masa lalu Pepper.

*****

17-05-01-23-33-02-030_photo

Di Tanah Lada

Pantas saja rasanya novel ini menjadi salah satu pemenang dalam sayembara DKJ 2014. Topik yang dipilih Ziggy sebenarnya adalah topik umum yang sering menjadi fenomena di Ibukota. Tentang kehidupan di Rumah Susun. Tentang kebiasaan berjudi pada masyarakat. Tentang KDRT. Tentang pergaulan bebas serta perihal berbahasa Indonesia yang baik, yang makin terpinggirkan dengan penggunaan istilah-istilah asing.

Yang membedakan adalah sudut pandang penceritaannya. Melalui kacamata anak berusia 6 dan 10 tahun Ziggy mencoba melihat bagaimana anak-anak berusaha memahami dunia orang dewasa. Bagaimana efek yang ditimbulkan dari KDRT bagi anak serta tentang bagaimana menyikapi sebuah kesalahan yang terjadi akibat dari pergaulan bebas di masa lalu.

Beberapa sindiran halus yang kutemukan dalam novel berjumlah 244 halaman ini, seperti misalnya :

“Yang lebih penting daripada bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat.” (Hal : 66)

“Aku menangis karena orang dewasa tidak mengerti apa-apa.” (Hal : 92)

Penulis juga sedikit menyentil fenomena pasca perceraian yang kerap di masyarakat perceraian dalam kalimat polos yang diucapkan oleh Pepper saat dia diberi boneka Pinguin oleh Salt.

“Aku dan kamu sama-sama boleh main dengan bonekanya,” jelas Pepper. “Kadang-kadang, bonekanya ikut aku, kadang-kadang ikut kamu.”

“Memangnya bisa begitu?”

“Bisa dong. Kayak punya anak. Anak, kan punya Papa dan Mama. Jadi, mereka bagi-bagi.” (Hal : 108)

Karena POV nya dari seorang anak, maka dialog-dialog khas anak-anak pun tertulis dalam beberapa kalimat yang mengundang senyum simpul saat membacanya.

Capture+_2017-05-01-23-53-21

Masih ada beberapa kalimat-kalimat yang kusukai dari buku ini :

Ada banyak orang yang menunduk ketika seseorang meninggal. Orang-orang tertarik dengan kuku kaki dan lantai marmer ketika itu terjadi (Hal : 5)

“Tidak ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan – sayang atau tidak – kalau kamu tidak mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar.” ( Hal : 8)

 “Budi bahasa baik membentuk manusia bersahaja.” (Hal : 103)

Sedih sekali, tidak ada bintang di Jakarta. Aku bilang, “Kalau begitu, bagaimana caranya permohonan orang Jakarta bisa terkabul.” (Hal : 123)

“Yang menurut kamu bagus, nggak berarti bagus untuk orang lain, tahu?” (Hal : 138)

Aku bilang ke Kakek Kia, sulit sekali menemukan ‘kebenaran’ dalam kamus. Lalu, dia tampak sedikit sedih. Dan, kata Kakek Kia, “Lebih sulit lagi menemukannya di dunia nyata.” (Hal : 210)

Yang sedikit menganggu pikirku kala menyelesaikan novel ini adalah, kok yah Salt dan Pepper itu cerdas untuk anak seumuran mereka. Agaknya setelah semua ‘kekerasan fisik dan mental’ yang mereka terima dari orang-orang terdekatnya yang membuat mereka lebih awal mendewasa, namun tetap tidak kehilangan ciri khas kekanakan mereka – polos, ingin tahu dan blak-blakan. Inginnya sih aku memberi bintang sempurna untuk novel ini, tapi yah endingnya itu membuatku mengurungkannya.

4,5 /  5 bintang untuk persahabatan sehidup semati  Garam dan Lada.

Judul : Di Tanah Lada | Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie | Halaman : 244 | Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Capture+_2017-05-01-23-52-30

[Resensi] Elegi Rinaldo – Bernard Batubara

Judul : Elegi Rinaldo

Penulis : Bernard Batubara

Penerbit : Falcon Publishing

ISBN : 6026051406 (ISBN13: 9786026051400)
Halaman : 204
Series : Blue Valley
aldoo3
Edited by me

Elegi Rinaldo berkisah tentang pemuda kribo yang tak lagi menyukai roti. Dialah Aldo, food fotografer yang hampir memasuki usia kepala tiga – 28 lebih tepatnya – namun tak jua berniat untuk menikah. Baginya menikah itu adalah sesuatu yang konyol dan terikat dalam sebuah pernikahan adalah perbuatan bodoh. Toh, kalau sendirian saja sudah bebas dan bahagia ngapain juga harus menikah. Meskipun begitu, orang-orang terdekat Aldo – Tante Fitri, yang cerewetnya minta ampun dan penyuka Rihanna. Begitupun dengan Mbak Ratih (klien pertama Aldo yang membuatnya merasakan rindu akan kelengkapan sebuah keluarga) – malah  mendoakan agar dirinya segera membina rumah tangga.

“Happy Birthday, ya, Do! Makanya kamu tuh punya istri, biar kalo pulang kerja ada yang nungguin, masakin, nemenin makan.”

“Makasih, ya, Tante.”

Istri. Lagi-lagi istri. (Halaman : 9)

Ternyata bukan hanya Aldo yang menganggap menikah itu konyol, Jenny pun sama. Chef andalan UNO ini punya alasan mengapa dia berpikiran begitu. Alasan yang berasal dari masa lalunya.

Dua orang yang berpikiran sama. Bekerja dalam satu lingkungan dan sering menghabiskan waktu bersama,  mungkinkah ada yang terjadi di antara mereka?

Yep. Tepat.

Aldo yang mulanya merasa enggan berurusan dengan cewek jutek macam Jenny malah mulai menyadari bahwa bersama Jenny dia merasa nyaman. Buktinya dia bisa bercerita tentang kehilangan Ibu dan Rahayu – mantan kekasihnya – yang  menjadi alasan  mengapa Aldo menutup rapat dirinya dan tak ingin lagi memulai sebuah hubungan.

Rasa yang dimiliki Aldo tak sepihak, Jenny pun mulai menganggap Aldo lebih dari seorang rekan kerja. Namun sebagai seorang perempuan, menanti adalah hal yang lumrah bukan? Sayangnya yang dinanti tak menyadarinya sama sekali.

Sampai ketika, seorang dari masa lalu Jenny kembali, Dipa.

Kehadiran Dipa membuat Aldo berpikir ulang, perasaan seperti apakah yang dia miliki untuk Jenny? Siapkah Aldo kembali merasakan kehilangan?

*****

Novel ketiga Bara yang aku baca, setelah Cinta. (baca : Cinta dengan titik), Jika Aku Milikmu dan aku menyukainya. Memang belum sebesar rasa sukaku pada karya Bara yang lain – Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri – namun Elegi Rinaldo dirasa cukup untuk para penikmat cerita romansa, sepertiku.

Kisah yang dihadirkan dalam novel berhalaman 204 ini sungguhnya sederhana. Tentang dua orang yang enggan atau belum mau menikah (membuat sebuah hubungan lagi) karena berbagai alasan. Mungkin karena pernah merasakan kehilangan, pernah dikhianati atau masih belum dapat berdamai dengan penyesalan yang berasal dari masa lalu.

Alasan itulah yang diwakili oleh karakter Aldo dan Jenny.

Bicara tentang karakter Aldo, aku mengerti sikap ragu-ragunya pada Jenny merupakan ketakutannya akan mengalami kehilangan. Aldo agaknya terlalu ‘bodoh’ dan ‘naif’ untuk tidak mengerti segala laku Jenny yang berharap ‘dikejar’ olehnya. Gregetan sendiri pas baca bagian Aldo bukannya mencegah Jenny pergi Dipa, eh malah dianya pergi sama Ines.

“Kamu sok enggak butuh siapa-siapa. Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri. Padahal kamu juga takut kesepian. Kamu takut ditinggalin. Kamu takut kehilangan orang yang kamu sayang.” (Halaman : 177)

Jenny, perempuan yang jarang tampil feminin ini terlihat jutek pada awalnya. Namun siapa sangka di balik sikap jutek dan cueknya, Jenny peduli pada anak-anak. Anak-anak yang kurang beruntung dalam hal pendidikan. Diapun sama seperti Aldo, takut memulai sebuah hubungan karena pernah ditinggalkan oleh orang yang paling dia cintai. Orang yang menjadi cinta pertamanya. Dipa. Orang yang sangat mengenal dirinya.

elegi-rinaldo-quote
Edited by me

Selain Aldo, Jenny dan juga Dipa ada satu karakter yang berperan penting dalam novel ini, dialah Tante Fitri. Dirinya yang cerewet dan selalu peduli pada Aldo menjadi karakter kesukaanku. Adapula Ines, Mbak Ratih, Wicak dan juga Dinda yang menjadi karakter pelengkap.

Alur yang mengalir dalam novel ini membuat pembaca ingin menamatkan buku ini dengan segera. Meskipun klise dan gampang ditebak, Bara menuliskannya dengan smooth. Cukup. Pas. Paling yang menurutku agak tiba-tiba adalah scene ketika Aldo mengantar Jenny pulang ke kost lalu turun hujan. Kayaknya sih itu adegan karena terbawa suasana gitu yah? haha.

Kalau tentang sampul buku, aku tidak menemukan makna yang bersinggungan dengan isi cerita selain alasan ‘karena panda adalah hewan kesukaan Jenny dan juga Rahayu.’ Aku pikir akan ada alasan filosofi lainnya gitu yang lebih mendalam (halah, Ndri, mikirnya kejauhan haha). Kayak misalnya orang Cina percaya bahwa Panda adalah hewan yang menyimbolkan yin dan yang, keseimbangan.

“Iya, kalau reinkarnasi beneran ada, gue pengin di kehidupan berikutnya jadi panda. Hidupnya enak, Cuma guling-guling, tidur, makan, main, enggak kerja dan semua orang suka dia.” (Halaman : 25)

Pada akhirnya, jika kamu butuh bacaan yang ringan dan manis, bolehlah Elegi Rinaldo dimasukkan ke dalam daftar bacaan selanjutnya.

Sederhana bukan berarti tak bermakna.

“Konyol sekali orang-orang itu, yang menukar kebebasan dengan pernikahan dan mengganti hidupnya yang sudah baik-baik saja dengan keruwetan dan bencana” (Halaman : 12)

 

elegi-rinaldo
Zizu, beruangku bersama ‘si panda’

Tiga ketukan di pintu untuk rumah bernomor 16.

 

[Kutipan Kesukaan] – dalam novel The Architecture of Love – Ika Natassa

Mood kembali unggul.
Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa menulis ulang beberapa kutipan yang kusuka dari novel teranyar karya Kak Ika Natassa. Novel The Architecture of Love ini sudah menjadi incaran untuk dibaca sejak Kak Ika mengabarkan akan merilisnya dalam bentuk buku (awalnya TAoL ini adalah cerita bersambung yang menggunakan fitur #PollStory di Twitter, yang dimulai pada malam Tahun Baru 2016 dan kemudian hadir secara berkala di Hari Selasa dan Kamis malam sampai episode terakhirnya itu pada 14 Februari 2016). Aku baru berkesempatan membaca novel ini di bulan terakhir di 2016, itu juga karena kebaikan hati seorang teman – yang merupakan fansnya Kak Ika garis keras – untuk meminjamkan novel miliknya.
Makasih banyak Fit, atas pinjamannya 🙂

img-20161221-01363
Lihatlah betapa banyak pembatas yang kugunakan untuk menandai kutipan kesukaan dalam novel ini.

Hidup ini dijalani dan dinikmati, bukan dipikirkan (halaman : 13)

Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do (halaman : 15)

Ada beberapa pertanyaan yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya, tapi justru kita tidak bisa menjawab (halaman : 19)

Tidak ada orang yang tidak tahu kapan dia pulang jika tidak ada sesuatu yang besar yang membuatnya pergi (halaman : 40)

Pemikiran manusia memang terbiasa untuk memutar ulang kejadian masa lalu di dalam kepala, memainkan beberapa skenario berbeda – “what if” scenarios – yang dapat mengubah kejadian itu, kebiasaan yang dalam psikologi disebut counterfactual thinking (halaman : 41)

Fascination is what keeps a writer going. To be able to write, a writer has to be fascinated about a particular something that becomes the idea for the story (halaman : 42)
Kita memang tidak pernah bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan (halaman : 60)

People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory (halaman : 66)

Semua perempuan selalu jadi gampangan di depan laki-laki yang sudah terlanjur dia sayang (halaman : 164)

Patah hati tidak akan pernah jadi lebih gampang walau sudah dialami berkali-kali. Tidak akan pernah jadi berkurang sakitnya (halaman : 225)

Orang-orang bilang, siapa pun yang kita ingat pertama kali ketika ingin berbagi berita bahagia, bisa jadi sesungguhnya adalah orang yang paling penting dalam hidup kita tanpa kita sadari (halaman : 266)

Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir (halaman : 270)

Diingat oleh seseorang yang disayangi itu juga menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan memiliki alasan untuk pulang (halaman : 288)

Bermain di IRF – part 2 End

Tidak ada kelas penulisan yang bisa membuatmu jadi penulis, kalau kamu tidak menulis.

Aku setuju dengan kalimat di atas, gimana ceritanya mau disebut sebagai seorang penulis, kalau tidak pernah atau jarang menulis?
Bertolak dari sanalah aku dan dua orang teman yang juga memiliki keinginan untuk menulis sebuah buku bersepakat mendaftar di acara workshop yang diadakan oleh Goodreads Indonesia bekerjasama dengan Writing Table, 10 Desember lalu.
Dalam workshop yang digawangi oleh Mbak Hanny dan Mbak Windy ini, para peserta diajak bermain-main dengan kata dengan melakukan beberapa latihan berdasarkan teknik-teknik menulis kreatif. Tanpa aku sadari, dari beberapa teknik latihan yang diterapkan, aku sudah pernah melakukannya. Seperti ketika aku memposisikan diriku sebagai benda mati atau tempat yang bercerita dan saat aku menuliskan tentang membaui kenangan lama serta bagaimana menulis dengan meneruskan yang sudah ada – dalam konteks ini yang dibahas mengenai melanjutkan kalimat pertama.
******
“Coba kamu ceritakan kejadian pagi ini yang kamu alami sehingga bisa sampai di sini, sekarang? Saya beri waktu selama tiga menit. Silahkan!”
Si pembicara, yang pada kesempatan kali ini adalah Mbak Hanny Kusumawati mengawali acara Creative Writing 101 kala itu, dengan menunjuk salah satu peserta untuk bercerita selama tiga menit, dan peserta lainnya menjadi pendengar.
Aku tidak menduga akan kemana Mbak Hanny membawa arah pembicaraan ini sampai ketika tiba saatnya tiga menit yang diberikan telah habis dan pendengar disuruh mengambil kesimpulan atas apa yang telah diceritakan oleh si pencerita tadi. Dalam tiga menit apa yang telah terjadi?

Dalam tiga menit, pikiran kita dapat menuangkan 1000 kata atau lebih.

Alangkah mudahnya pekerjaan menulis jika dalam waktu tiga menit kita dapat menghasilkan 1000 kata atau lebih seperti layaknya ketika kita disuruh bercerita tentang apa yang baru saja dilakukan. Namun nyatanya tidak seperti itu, seorang (calon) penulis seringnya merasa takut akan tulisan pertama yang buruk. Padahal tulisan yang buruk lebih baik daripada tidak ada tulisan sama sekali, sehingga merasa tidak percaya diri karena dia sendiri yang mengkerdilkan tulisannya.

Menulis adalah pekerjaan yang sulit dan lama.

Setali tiga uang dengan yang Mbak Windy jelaskan atas pertanyaan salah satu peserta workshop : “Bagaimana cara mengawetkan ide?”
Kadang, kita telah memiliki sebuah ide yang dirasa brilian untuk tulisan kita berikutnya, namun pada perjalanannya, kita sendiri juga yang meragukan akankah ide ini ‘masih’ brilian seperti ketika pertama kali kita memikirkannya. Sehingga kita pun seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah kita yakini.
Mesin pembunuh paling kejam adalah diri kita sendiri
Bagaimana kita dapat menyakinkan orang lain tentang ide brilian kita, kalau kita sendiripun tidak memberi keyakinan penuh atas ide telah kita usahakan. Aku percaya ide tidak serta merta datang secara tiba-tiba – meski kadang tidak pernah diduga, ide muncul disaat-saat kita tidak memikirkannya – dia perlu dipancing, diusahakan, dicari. Lalu setelah usaha itu, tegakah kita memandang remeh ide tersebut? Setelah kita menemukannya, yang dilakukan selanjutnya adalah komitmen kita untuk mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah karya, buku yang bertuliskan nama kita.
Menulis itu perkara disiplin dan komitmen
Oleh karenanyalah, dalam postingan kali ini aku ingin mengabadikan apa yang telah Mbak Hanny dan Mbak Windy sampaikan dalam workshop berdurasi dua jam tersebut yang berasal dari catatan – catatan yang kurangkum selama proses berlangsungnya workshop :

“MENULIS LEKAS, MENULIS JUJUR”

Ciri menulis lekas adalah dengan tidak berhentinya pena.
Adalah aturan main pertama dalam workshop kali ini. Para peserta diharapakan dapat menulis lekas dengan dibatasi oleh waktu ditiap latihannya. Bisa jadi semenit, dua menit hingga lima menit. Tergantung pada tingkat latihannya.
Mengapa harus menulis lekas?
Masalah yang mungkin sering dihadapi seorang penulis (setidaknya olehku) adalah keinginan untuk segera mengedit apa yang telah ditulis. Itu adalah salah satu pantangan dalam menulis lekas. Menulislah terlebih dahulu apa pun yang terlintas dalam kepala, tak peduli seberapa buruk atau rancu kata-kata yang dihasilkan. Setelah semua tulisan itu selesai, baru beri waktu untuk membacanya ulang, boleh dengan cara dilafalkan keras-keras atau dengan membaca dalam hati. Eksekusi dengan tega kalimat yang tidak efektif.
Editlah sampai kita merasa tulisan kita telah cukup bagus.
((Ini adalah masalah terbesar yang kualami. Aku amat suka mengedit tulisan yang belum selesai, hingga pada akhirnya tulisan itu tidak kunjung selesai karena menurutku ada saja kekurangannya))
Lalu mengapa harus menulis jujur ?
Tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur. Menulis jujur dapat menghindari hal-hal yang klise. Dengan menulis jujur kita bisa menjadi lebih kaya, maksudnya, akan ada banyak sisi lain yang dapat digali dengan kita menulis jujur. Misalnya saja, coba rekonstruksikan pertemuan pertama kamu dengan orang yang sekarang menjadi (sebut saja) kekasih, apakah kisahnya akan sama seperti yang film-film itu tayangkan ; di perpustakaan, tabrakan dalam koridor kampus atau mungkin karena sering bertemu dalam commuter line? Pertemuan-pertemuan seperti itu terdengar klise sekali bukan? Tapi pasti ada sisi lain yang berbeda dari setiap orang yang mencoba menuliskan kisahnya dengan jujur. Sudut pandang yang berbeda dari masing-masing individu, karena pada dasarnya setiap orang itu berbeda.
Bagiku cara terbaik untuk mengaplikasikan menulis lekas, menulis jujur adalah dengan menuliskan sebuah jurnal harian. Istilah sederhananya sih nulis diary. Tulislah kejadian apa saja yang terjadi seharian ini. Dengan menuliskannya selain dapat mengabadikan kenangan, aku percaya menulis juga bisa ‘menyembuhkan’ luka atau penyesalan atas apa-apa yang tidak dapat diungkapkan melalui lisan.
*****
Peraturan telah disepakati, maka latihan pun dimulai :
1. Kenalan Yuk
Peserta diminta untuk berpasang-pasangan, lalu masing-masing peserta diberi sebuah label. Mbak Hanny meminta untuk menyebutkan sebuah benda langit untuk kemudian dituliskan pada label tersebut lalu ditempelkan di punggung pasangannya. Nah, pasangan tersebut menebak nama benda langit apakah yang ada di punggungnya dengan cara membaca tulisan personifikasi dari benda langit tersebut. Dan dalam latihan pertama ini, pasanganku memberiku nama : Matahari.
2. Melintasi Waktu
Katanya, ketika sebuah tulisan buntu, coba mulailah tulis dengan sebuah kalimat, “Saya ingat, ketika…..”
Sembilan tahun.
Apa yang bisa kamu ingat ketika aku menyebutkan frasa itu?
Sekolah dasar? Kartun di Minggu pagi ? Bermain-main? Atau apa?
Itulah yang menjadi latihan kedua. Menuliskan kembali kejadian yang dapat diingat ketika berumur sembilan tahun. Enam puluh detik adalah waktu hitung mundur kami untuk menuliskannya, dan yang kuingat dari umur sembilan tahunku adalah bermain bongkar pasang.
Ah, betapa rindu aku akan masa itu.
Masa yang hanya ada kata bermain di dalamnya.
Masa kanak-kanak.
3. Melihat Ayah, Melihat Ibu
Indera penglihatan adalah indera yang paling sering digunakan penulis dalam cerita. Oleh karenanya, ditahap ini Mbak Hanny meminta kami untuk menuliskan dengan hanya menggunakan unsur indera penglihatan saja dengan subjek Ayah ataupun Ibu. Lagi, satu menit waktu diberikan. Masing-masing kami menuliskan apa yang kami lihat dari Ibu ataupun Ayah.
Aku menuliskan tentang Ibu.
Tentang kebiasaan Ibu menyiapkan sarapan pagi dengan menu yang menjadi kesukaanku. Nasi goreng putih. Lengkap dengan telur mata sapi, timun, tomat dan kerupuk udang.
Entah dengan cara apa aku menuntaskan rindu untuk merasai kembali masakan Ibu.
4. Mendengar Dirimu Berbicara
Cara membuat dialog yang natural adalah dengan mendengar diri kita bicara atau dengan mendengarkan orang lain yang bicara. Pada tahap ini peserta dihadapkan dengan situasi ada seorang teman 1 yang sedang berbicara mengenai teman lainnya (teman 2) yang berkata buruk mengenai diri kita. Lalu para peserta diminta memberikan reaksi atas apa yang dikatakan oleh teman 1. Reaksi itu bisa berupa dialog ataupun narasi.
5. Membaui Kenangan Lama
Aku pikir dengan membaca judulnya saja, kami para peserta akan diajak untuk bermain-main dengan ingatan. Kenangan.
Salah total.
Asumsiku runtuh seketika saat panitia membagikan berbagai jenis jeruk – kasturi, nipis, mandarin, sunkist – kepada peserta untuk digunakan dalam latihan. Ternyata, kami diberi tugas untuk mendeskripkan jeruk yang telah ada di hadapan dengan cara membauinya. Bicara membaui, berarti bicara tentang indera penciuman atau hidung. Cerita apa yang bisa kami cipta dengan aroma dari jeruk tersebut.
“Bau yang barusan memenuhi penciuman, bau yang sama dengan lantai rumah dipagi hari. Ketika Ibu baru saja selesai mengepel lantai dan aku akan bermain di atasnya. Aroma yang menyegarkan dan menyenangkan……”
Ada yang bisa menebak, jeruk jenis apa yang berada di atas mejaku saat itu?
6. Mengecap Perjumpaan Pertama
Di mana pertama kali kamu berjumpa dengan orang yang kamu kasihi?
Berawal dari pertanyaan itu jugalah, latihan ini dimulai. Kupikir kami akn disuruh menuliskan tempat pertama versi masing-masing. Lagi, aku salah. Kami malah diberi sebuah situasi :
Di sebuah gerobak nasi goreng. Saat sedang makan nasi goreng, tiba-tiba seorang yang (pernah atau masih) dikasihi datang. Lalu ceritakan tentang : RASA NASI GORENG YANG SEDANG DI MAKAN.
7. Merasakan Patah Hati (Mari Menggalau Bersama)
Kurasa ini adalah latihan paling mudah. Karena eh karena selama ini aku banyak menulis tentang sesuatu yang bernuasa patah hati. Tentang kehilangan. Dan dalam ‘olahraga jari’ kali ini kami diminta untuk mendeskripsikan reaksi tubuh ketika sedang patah hati atau merasakan kehilangan. Reaksi tubuh tersebut dapat berupa : mata berkaca-kaca, telapak tangan yang berkeringat, degup jantung yang berbeda lebih keras, kaki yang gemetaran dll.
“Hampa.
Kosong dan tidak terasa lagi degupan di dada. Ketika kulihat banyak orang yang berkumpul mengitari ranjang yang telah dipindahkan ke ruang depan. Aku berharap akan ada air yang turun dari mata, layaknya orang yang sedang merasa kehilangan…..”
8. Tempat Itu Bercerita
“Rombongan anak-anak muda dengan ransel dan buku-buku di tangan berebutan menujuku. Entah apa lagi kali ini yang akan mereka bicarakan. Aku sudah bosan mendengar obrolan mereka tentang bagaimana cara mengakomodir masyarakat agar mau ikut serta bersama mereka ke jalanan pada perayaan kemerdekaan bulan depan. Apa mereka pikir masyarakat akan mau dengan mudah melakukannya jika tanpa selipan beberapa lembar ‘kertas’ yang bisa masyarakat gunakan untuk membeli makanan esok hari.”
Kira-kira tempat seperti apa yang menjadi sudut pandangku kali?
9. Meneruskan Yang Sudah Ada
Yang sudah ada di sini maksudnya adalah kalimat pertama dari sebuah cerita. Misalnya :
“Saya percaya bahwa bantaran sungai itu berhantu, …………”
Salah satu alternatif untuk melatih konsistensi menulis bisa dengan menerapkan cara ini. Pilihlah satu kalimat pertama dari buku yang menjadi kesukaan. Tulis ulang. Lalu lanjutkan kalimat kedua dan selanjutnya dengan kalimat sendiri.
10. Bertanya: Bagaimana Jika ?
Hidup adalah serangkaian kejadian sebab – akibat. Tidak ada suatu peristiwapun yang tidak memiliki sebab dan akibat, sekarang adalah bagaimana cara kita memandang suatu peristiwa tersebut agar dapat mengenali sebab dan menyikapi akibat dari peristiwa tersebut dengan bijak. Bertanya, ‘bagaimana jika’ dapat menghadirkan berbagai kemungkinan yang menambah ‘kaya’ naskah kita.
Formula ‘bagaimana jika’ bisa sangat membantu jika kita mengalami kebuntuan dalam menulis. Bagaimana jika tokoh A tidak bertemu dengan tokoh B di busway jurusan Kota? Kenapa harus di busway jurusan Kota, bukannya di Harmoni? Lalu bagaimana jika tokoh B tidak menyimpan tumbler milik tokoh A yang tertinggal?
Selain membantu, ‘bagaimana jika’ juga bisa sangat merepotkan jika penulis pada akhirnya bingung dan mudah terdistraksi dengan berbagai skenario kemungkinan yang dapat terjadi. Karenanya penulis diharap mampu setia pada alur atau plot yang telah dirancangnya dengan memikirkan variasi ‘bagaimana jika’ yang sesuai dengan cerita yang diinginkan.
11. Mula, Ketika, Akhirnya
Dalam setiap cerita kehidupan, maupun cerita dalam sebuah buku akan selalu ada mula, ketika (proses) dan akhirnya. Tahapan itu tidak selamanya berjalan linier, bisa saja yang dianggap orang lain sebagai sebuah akhir, tapi menurut si penulis, cerita itu adalah awal baginya.
12. Mau, Hampir Dapat, Terhalang, Terancam. Akhirnya dapat atau tidak?
Menuliskan sebuah buku tak ubahnya menuliskan miniatur kehidupan nyata. Bedanya sebagai seorang penulis, kita berperan layaknya ‘Tuhan’ atas apa yang ditulis. Apa yang kita ingin sampaikan pada pembaca dengan menghadirkan tokoh A, tema B dsb? Apa yang menjadi keinginan dari tokoh A? Dapatkah dia mencapai keinginan tersebut? Atau apa-apa saja yang menjadi halangan atau ancaman dalam upayanya meraih apa yang menjadi keinginannya?
Pola itulah yang selalu tersedia dalam sebuah buku. Untuk membuat pola itu terasa nyata, dibutuhkanlah outline. Sebuah outline atau kerangka cerita yang selesai seperti telah menyelesaikan cerita itu setengahnya. Lima puluh persennya lagi adalah komitmen dan konsistensi penulis untuk patuh/tidaknya keinginan untuk menyelesaikan tulisannya. Meskipun dalam pengerjaannya tidak sedikit penulis yang malah bergeser dari outline yang telah dibuatnya, sehingga nantinya dapat muncul sebuah plot twist yang ‘menipu’ pembaca. Itu tidaklah mengapa. Biasanya sebuah plot twist pulalah yang membuat pembaca merasa, buku tersebut layak untuk dimiliki, terlepas dari ending yang bahagia, sedih ataupun realistic.
*****
Aku harus berpacu dengan waktu untuk hadir di workshop selanjutnya, yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang. Mengambil tema ‘Make Your Own Book With What You Have And What You Can Do, aku dengan senang hati mengeluarkan segala perlengkapan yang telah dibawa : crayon, spidol, gunting, lem dan dua lembar kertas berisi materi teks dan materi visual yang akan kugunakan untuk membuat bukuku.
Sayangnya semangat yang membara di awal tidak bertahan sampai akhir. Aku malah sangat mengantuk dan bosan di tengah-tengah presentasi. Ditambah lagi diberikan jeda waktu sekitar 10 menit untuk melakukan relaksasi (yoga) dengan memejamkan mata sejenak. Udara dingin yang berasal dari air konditioner, perut yang memaksa untuk segera diisi ibarat kombinasi yang tepat untuk mendukungku tidur meski hanya sekejap. Untungnya sebelum aku benar-benar jatuh tertidur, Mbak Lala meminta kami untuk mulai membuat buku dengan benda-benda yang telah dibawa.
Gunting siap.
Crayon ada.
Materi teks dan visual telah sedia.
Maka dimulailah aku mereka bagaimana akan membentuk bukuku sendiri di atas empat lembar kertas yang telah dibagikan panitia di awal acara.
Kertas pertama ; berisi peta pikiran atau mind mapping atas apa yang ingin kita tuliskan dalam buku kita nanti.
Kertas kedua ; tampilan dari back cover dan front cover buku kita. Kita bebas mengekspresikan seperti apa ingin mendandani tampilan buku kita.
Kertas ketiga dan keempat ; lembar yang menjadi isi dari buku kita. Tempat di mana cerita itu berada.
Menyadari keterbatasanku dalam hal menggambar apalagi melukis, maka aku menyiapkan beberapa gambar yang kuambil dari google untuk mendukung cerita yang ingin kutempelkan di kertas tersebut. Meskipun begitu, aku belum juga menyelesaikan bukuku dengan baik dan tepat waktu. Karenanya aku berencana untuk mengulang kembali membuatnya di rumah. Kali ini dengan lebih serius dan terencana.
Semoga aku segera menyelesaikannya.
Aamiin

Bermain di IRF part 1

Desember ke sepuluh di tahun ini telah kutandai dalam penanggalan sebagai sesuatu yang dinanti. Acara tahunan yang menjembatani para penggiat literatur – penulis, pembaca, penerbit – kembali digelar. Museum Nasional menjadi saksi berkumpulnya para penyuka atau mungkin pencinta buku merayakan acara yang digagas oleh Goodreads Indonesia, bernama, Indonesia Readers Festival (IRF) atau Festival Pembaca Indonesia. Ini kali kedua aku mengikutinya. Berbeda dari tahun lalu, ketika aku berjalan sendirian memutari satu demi satu booth dari berbagai penerbit, di IRF yang sekarang aku bersama dengan dua orang rekan yang sungguh baik hati karena bersedia menjadi fotografer dari tiap moment yang telah kulewati selama acara berlangsung (semoga menjadi ladang amal untuk kalian, karena membuat orang bahagia aka senang akan mendapat pahala bukan?)

Aku menjadi orang yang ingkar.

Selisih 90 menit dari waktu temu yang disepakati membuatku berjalan sendirian menuju tempat penyelenggaraan. Tapi tak mengapa karena kemampuanku membaca petunjuk tempat sudah mengalami kemajuan, tidak lagi ada tersasar seperti tahun lalu. Dua orang teman telah tiba lebih dahulu. Acara belumlah dimulai ketika aku melangkahkan kaki ke dalam ruang berkapasitas 50-60 orang tersebut. Tak sampai lima menit aku duduk, mataku menemukan sosok yang akan menjadi pembicara dalam workshop yang akan kuikuti pagi kala itu. Seorang perempuan yang kukagumi. Setidaknya sejak aku membacai rekam jejaknya dalam dunia kepenulisan yang telah sepuluh tahun lamanya. Perempuan yang biasa disapa dengan “Mbak, W.”

“Udah sana minta tanda tangannya sekarang aja, sebelum ramai.” Temanku memberi saran.

“Nanti ajalah, Mbak W nya masih sibuk liatin laptop. Gak enak, nanti ganggu pulak.” Aku beralasan. Padahal lebih tepatnya aku sungkan dan pemalu 😛 (tapi sungguh jika kalian sudah mengenalku dengan baik, pemalu yang tadi kukatakan bertransformasi menjadi ‘malu-maluin’).

Tak habis akal, temanku malah mengajari bagaimana cara memulai percakapan. “Awali dengan senyum, nanti juga dia bakalan senyum.” Kira-kira begitu petuahnya. Temanku itu belum tahu saja, bahwa ada seorang anak Adam yang ketika aku tersenyum hanya padanya, alih-alih membalas dengan senyum juga, wajah datar tanpa ekspresi malah yang kudapatkan, eh kok jadi curcol kenangan lama ya, maafkan 🙂

Singkat kata, singkat cerita, aku dan dia jatuh cinta. 

Eh bukan, bukan, maksudnya singkat kata, singkat cerita aku dan temanku itu beranjak menuju meja Mbak W dan memintanya untuk membubuhkan autograf di buku Life Traveler kepunyaanku. Buku yang kukirim khusus dari kampung agar dapat ditandatangani langsung oleh penulisnya. Tak lengkap rasanya bila hanya mendapat sebuah tanda tangan tanpa mengabadikannya secara visual dalam wujud potret.

Banyak wawasan baru yang kudapatkan selama mengikuti proses workshop yang bertajuk “Creative Writing 101”. Insya Allah, aku akan menceritakan ‘permainan jari’ apa saja yang dilakukan dalam workshop tersebut di postingan yang selanjutnya. Sekalian bercerita juga tentang workshop lainnya yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang tentang “Make Your Own Book With What You Have and What You Can Do” yang juga aku hadiri.

15443052_10207832482234184_7734129306871638396_o
udah pasang gaya maksimal, eh malah blur huhu 😦

 *****

Sarapan, tidak.

Makan siang, lewat.

Biasanya pada pukul 15.00 aku telah mengonsumsi nasi, minimal sekali. Namun karena padatnya acara yang kuikuti hari itu tidak menyempatkanku untuk keluar gedung mencari warteg terdekat. Alhasil, perutku harus bersyukut karena masih kuberi nutrisi berupa dua potong biskuit berlapis gula, beberapa roll stik cokelat dan sebotol air mineral. Setidaknya dapat sedikit mengganjal rasa lapar yang sedari tadi sudah terasa sembari menunggu rangkaian acara selesai pada pukul 17.00.

Selain kedua workshop yang telah kusebutkan, aku juga turut menjadi penonton yang menyaksikan talkshow dan peluncuran perdana buku karangan dari Adhitya Mulya – Bajak Laut dan Purnama Terakhir.

Jika tahun lalu aku memiliki cukup banyak waktu untuk mengitari dan singgah di tiap booth, kali ini tidak. Mungkin hanya sekitar 15-30 menit alokasi waktu antara :

…. aku berdiri menatap satu persatu tumpukan buku di meja panjang bernama arena : book swap.

…. berpindah ke meja satunya yang berisi buku-buku bersampul cokelat yang telah diberi petunjuk, bernama arena : blind date book.

15400900_10207832575756522_2898579477677576684_n

15369082_10207832530955402_4020707477077182244_o
Hasil blind date books and book swap (^_^)

…. berjalan-jalan dari satu booth ke booth lainnya lalu melihat seorang penulis kesayangan ada di sana.

“Mbak Mo, boleh foto bareng gak?”

“Tunggu…” ada jeda dalam kalimatnya “Indri ya? aku ingat kan, padahal udah setahun lalu.”

Aku kaget. Tidak menduga sama sekali kalau Mbak Mo mengingat namaku. Secara pertemuan pertama kami adalah setahun lalu, dalam IRF juga.

“Sebentar ya, aku mau ngobrol sebentar sama Kang Adit”

15392998_10207832499794623_7861304295648976710_o
Menangkap moment temu dengan Mbak Morra 🙂

*****

IRF 2016 ini juga menjadi kali kedua aku melihatnya. Dia yang kumaksud bukan penulis, melainkan pembaca yang entah mengapa dulu pernah hadir di mimpiku setahun silam. Dia masih sama seperti pertama aku menatapnya, dengan kacamata, kumis tipis dan janggut yang sedikit. Kali ini dia mengenakan jaket abu-abu dengan sepatu kets bertuliskan diadora.

Aku senang melihatnya lagi, meski tanpa ada sensasi kupu-kupu di perutku. Hidup adalah drama. Namun tidak semua kejadian dalam hidup sesuai dengan drama kesukaan kita yang biasa disaksikan dalam layar kaca. Misalnya saja ketika dua orang bersilang jalan, mengapa dalam realitanya waktu tidak berjalan lambat dan pelan hingga pada akhirnya dua orang tersebut dapat mengenali satu sama lain. Coba saja di dalam drama layar kaca, sudah pasti akan ada yang namanya slow motion yang menandakan inilah awal mereka bertemu.

Ya, aku bersilang jalan dengannya.

Pintu keluar yang menjadi latar.Aku berniat kembali ke gedung pasca menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan dia sedang menuju tempat yang baru saja kudatangi.

*****

Rintik hujan yang turun.

Bergesernya waktu makan.

Lelahnya tubuh karena sedari pagi melakukan aktivitas dengan membawa 5 buku dalam tas di selempangan bahu dan 4 sisanya dalam goodie bag.

Lalu ditambah dengan terlambat munculnya bus bernomor AC 34.

Membuatku menutup mata di tengah perjalanan pulang. Padahal biasanya aku bukanlah orang yang mudah tertidur dalam transportasi umum. Mungkin itu terjadi karena akumulasi semuanya, dan semakin lengkap dengan dinginnya suhu ruangan dalam bus tersebut. Aku jatuh tertidur dan kembali tersadar ketika kondektur mengatakan “Islamic, Islamic.”

*****

PS : Terima kasih untuk kedua rekan yang meluangkan waktunya untuk bermain bersamaku di IRF kali ini.

Terima kasih kepada F untuk pinjaman buku kesukaannya.Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi diacara serupa tahun depan.

Aamiin.

15356584_10207832518355087_1214878249229915518_n
ki-ka : Mbak Morra, Mbak Windy, Mbak Lala, Kang Adit