Bermain di IRF – part 2 End

Tidak ada kelas penulisan yang bisa membuatmu jadi penulis, kalau kamu tidak menulis.

Aku setuju dengan kalimat di atas, gimana ceritanya mau disebut sebagai seorang penulis, kalau tidak pernah atau jarang menulis?
Bertolak dari sanalah aku dan dua orang teman yang juga memiliki keinginan untuk menulis sebuah buku bersepakat mendaftar di acara workshop yang diadakan oleh Goodreads Indonesia bekerjasama dengan Writing Table, 10 Desember lalu.
Dalam workshop yang digawangi oleh Mbak Hanny dan Mbak Windy ini, para peserta diajak bermain-main dengan kata dengan melakukan beberapa latihan berdasarkan teknik-teknik menulis kreatif. Tanpa aku sadari, dari beberapa teknik latihan yang diterapkan, aku sudah pernah melakukannya. Seperti ketika aku memposisikan diriku sebagai benda mati atau tempat yang bercerita dan saat aku menuliskan tentang membaui kenangan lama serta bagaimana menulis dengan meneruskan yang sudah ada – dalam konteks ini yang dibahas mengenai melanjutkan kalimat pertama.
******
“Coba kamu ceritakan kejadian pagi ini yang kamu alami sehingga bisa sampai di sini, sekarang? Saya beri waktu selama tiga menit. Silahkan!”
Si pembicara, yang pada kesempatan kali ini adalah Mbak Hanny Kusumawati mengawali acara Creative Writing 101 kala itu, dengan menunjuk salah satu peserta untuk bercerita selama tiga menit, dan peserta lainnya menjadi pendengar.
Aku tidak menduga akan kemana Mbak Hanny membawa arah pembicaraan ini sampai ketika tiba saatnya tiga menit yang diberikan telah habis dan pendengar disuruh mengambil kesimpulan atas apa yang telah diceritakan oleh si pencerita tadi. Dalam tiga menit apa yang telah terjadi?

Dalam tiga menit, pikiran kita dapat menuangkan 1000 kata atau lebih.

Alangkah mudahnya pekerjaan menulis jika dalam waktu tiga menit kita dapat menghasilkan 1000 kata atau lebih seperti layaknya ketika kita disuruh bercerita tentang apa yang baru saja dilakukan. Namun nyatanya tidak seperti itu, seorang (calon) penulis seringnya merasa takut akan tulisan pertama yang buruk. Padahal tulisan yang buruk lebih baik daripada tidak ada tulisan sama sekali, sehingga merasa tidak percaya diri karena dia sendiri yang mengkerdilkan tulisannya.

Menulis adalah pekerjaan yang sulit dan lama.

Setali tiga uang dengan yang Mbak Windy jelaskan atas pertanyaan salah satu peserta workshop : “Bagaimana cara mengawetkan ide?”
Kadang, kita telah memiliki sebuah ide yang dirasa brilian untuk tulisan kita berikutnya, namun pada perjalanannya, kita sendiri juga yang meragukan akankah ide ini ‘masih’ brilian seperti ketika pertama kali kita memikirkannya. Sehingga kita pun seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah kita yakini.
Mesin pembunuh paling kejam adalah diri kita sendiri
Bagaimana kita dapat menyakinkan orang lain tentang ide brilian kita, kalau kita sendiripun tidak memberi keyakinan penuh atas ide telah kita usahakan. Aku percaya ide tidak serta merta datang secara tiba-tiba – meski kadang tidak pernah diduga, ide muncul disaat-saat kita tidak memikirkannya – dia perlu dipancing, diusahakan, dicari. Lalu setelah usaha itu, tegakah kita memandang remeh ide tersebut? Setelah kita menemukannya, yang dilakukan selanjutnya adalah komitmen kita untuk mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah karya, buku yang bertuliskan nama kita.
Menulis itu perkara disiplin dan komitmen
Oleh karenanyalah, dalam postingan kali ini aku ingin mengabadikan apa yang telah Mbak Hanny dan Mbak Windy sampaikan dalam workshop berdurasi dua jam tersebut yang berasal dari catatan – catatan yang kurangkum selama proses berlangsungnya workshop :

“MENULIS LEKAS, MENULIS JUJUR”

Ciri menulis lekas adalah dengan tidak berhentinya pena.
Adalah aturan main pertama dalam workshop kali ini. Para peserta diharapakan dapat menulis lekas dengan dibatasi oleh waktu ditiap latihannya. Bisa jadi semenit, dua menit hingga lima menit. Tergantung pada tingkat latihannya.
Mengapa harus menulis lekas?
Masalah yang mungkin sering dihadapi seorang penulis (setidaknya olehku) adalah keinginan untuk segera mengedit apa yang telah ditulis. Itu adalah salah satu pantangan dalam menulis lekas. Menulislah terlebih dahulu apa pun yang terlintas dalam kepala, tak peduli seberapa buruk atau rancu kata-kata yang dihasilkan. Setelah semua tulisan itu selesai, baru beri waktu untuk membacanya ulang, boleh dengan cara dilafalkan keras-keras atau dengan membaca dalam hati. Eksekusi dengan tega kalimat yang tidak efektif.
Editlah sampai kita merasa tulisan kita telah cukup bagus.
((Ini adalah masalah terbesar yang kualami. Aku amat suka mengedit tulisan yang belum selesai, hingga pada akhirnya tulisan itu tidak kunjung selesai karena menurutku ada saja kekurangannya))
Lalu mengapa harus menulis jujur ?
Tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur. Menulis jujur dapat menghindari hal-hal yang klise. Dengan menulis jujur kita bisa menjadi lebih kaya, maksudnya, akan ada banyak sisi lain yang dapat digali dengan kita menulis jujur. Misalnya saja, coba rekonstruksikan pertemuan pertama kamu dengan orang yang sekarang menjadi (sebut saja) kekasih, apakah kisahnya akan sama seperti yang film-film itu tayangkan ; di perpustakaan, tabrakan dalam koridor kampus atau mungkin karena sering bertemu dalam commuter line? Pertemuan-pertemuan seperti itu terdengar klise sekali bukan? Tapi pasti ada sisi lain yang berbeda dari setiap orang yang mencoba menuliskan kisahnya dengan jujur. Sudut pandang yang berbeda dari masing-masing individu, karena pada dasarnya setiap orang itu berbeda.
Bagiku cara terbaik untuk mengaplikasikan menulis lekas, menulis jujur adalah dengan menuliskan sebuah jurnal harian. Istilah sederhananya sih nulis diary. Tulislah kejadian apa saja yang terjadi seharian ini. Dengan menuliskannya selain dapat mengabadikan kenangan, aku percaya menulis juga bisa ‘menyembuhkan’ luka atau penyesalan atas apa-apa yang tidak dapat diungkapkan melalui lisan.
*****
Peraturan telah disepakati, maka latihan pun dimulai :
1. Kenalan Yuk
Peserta diminta untuk berpasang-pasangan, lalu masing-masing peserta diberi sebuah label. Mbak Hanny meminta untuk menyebutkan sebuah benda langit untuk kemudian dituliskan pada label tersebut lalu ditempelkan di punggung pasangannya. Nah, pasangan tersebut menebak nama benda langit apakah yang ada di punggungnya dengan cara membaca tulisan personifikasi dari benda langit tersebut. Dan dalam latihan pertama ini, pasanganku memberiku nama : Matahari.
2. Melintasi Waktu
Katanya, ketika sebuah tulisan buntu, coba mulailah tulis dengan sebuah kalimat, “Saya ingat, ketika…..”
Sembilan tahun.
Apa yang bisa kamu ingat ketika aku menyebutkan frasa itu?
Sekolah dasar? Kartun di Minggu pagi ? Bermain-main? Atau apa?
Itulah yang menjadi latihan kedua. Menuliskan kembali kejadian yang dapat diingat ketika berumur sembilan tahun. Enam puluh detik adalah waktu hitung mundur kami untuk menuliskannya, dan yang kuingat dari umur sembilan tahunku adalah bermain bongkar pasang.
Ah, betapa rindu aku akan masa itu.
Masa yang hanya ada kata bermain di dalamnya.
Masa kanak-kanak.
3. Melihat Ayah, Melihat Ibu
Indera penglihatan adalah indera yang paling sering digunakan penulis dalam cerita. Oleh karenanya, ditahap ini Mbak Hanny meminta kami untuk menuliskan dengan hanya menggunakan unsur indera penglihatan saja dengan subjek Ayah ataupun Ibu. Lagi, satu menit waktu diberikan. Masing-masing kami menuliskan apa yang kami lihat dari Ibu ataupun Ayah.
Aku menuliskan tentang Ibu.
Tentang kebiasaan Ibu menyiapkan sarapan pagi dengan menu yang menjadi kesukaanku. Nasi goreng putih. Lengkap dengan telur mata sapi, timun, tomat dan kerupuk udang.
Entah dengan cara apa aku menuntaskan rindu untuk merasai kembali masakan Ibu.
4. Mendengar Dirimu Berbicara
Cara membuat dialog yang natural adalah dengan mendengar diri kita bicara atau dengan mendengarkan orang lain yang bicara. Pada tahap ini peserta dihadapkan dengan situasi ada seorang teman 1 yang sedang berbicara mengenai teman lainnya (teman 2) yang berkata buruk mengenai diri kita. Lalu para peserta diminta memberikan reaksi atas apa yang dikatakan oleh teman 1. Reaksi itu bisa berupa dialog ataupun narasi.
5. Membaui Kenangan Lama
Aku pikir dengan membaca judulnya saja, kami para peserta akan diajak untuk bermain-main dengan ingatan. Kenangan.
Salah total.
Asumsiku runtuh seketika saat panitia membagikan berbagai jenis jeruk – kasturi, nipis, mandarin, sunkist – kepada peserta untuk digunakan dalam latihan. Ternyata, kami diberi tugas untuk mendeskripkan jeruk yang telah ada di hadapan dengan cara membauinya. Bicara membaui, berarti bicara tentang indera penciuman atau hidung. Cerita apa yang bisa kami cipta dengan aroma dari jeruk tersebut.
“Bau yang barusan memenuhi penciuman, bau yang sama dengan lantai rumah dipagi hari. Ketika Ibu baru saja selesai mengepel lantai dan aku akan bermain di atasnya. Aroma yang menyegarkan dan menyenangkan……”
Ada yang bisa menebak, jeruk jenis apa yang berada di atas mejaku saat itu?
6. Mengecap Perjumpaan Pertama
Di mana pertama kali kamu berjumpa dengan orang yang kamu kasihi?
Berawal dari pertanyaan itu jugalah, latihan ini dimulai. Kupikir kami akn disuruh menuliskan tempat pertama versi masing-masing. Lagi, aku salah. Kami malah diberi sebuah situasi :
Di sebuah gerobak nasi goreng. Saat sedang makan nasi goreng, tiba-tiba seorang yang (pernah atau masih) dikasihi datang. Lalu ceritakan tentang : RASA NASI GORENG YANG SEDANG DI MAKAN.
7. Merasakan Patah Hati (Mari Menggalau Bersama)
Kurasa ini adalah latihan paling mudah. Karena eh karena selama ini aku banyak menulis tentang sesuatu yang bernuasa patah hati. Tentang kehilangan. Dan dalam ‘olahraga jari’ kali ini kami diminta untuk mendeskripsikan reaksi tubuh ketika sedang patah hati atau merasakan kehilangan. Reaksi tubuh tersebut dapat berupa : mata berkaca-kaca, telapak tangan yang berkeringat, degup jantung yang berbeda lebih keras, kaki yang gemetaran dll.
“Hampa.
Kosong dan tidak terasa lagi degupan di dada. Ketika kulihat banyak orang yang berkumpul mengitari ranjang yang telah dipindahkan ke ruang depan. Aku berharap akan ada air yang turun dari mata, layaknya orang yang sedang merasa kehilangan…..”
8. Tempat Itu Bercerita
“Rombongan anak-anak muda dengan ransel dan buku-buku di tangan berebutan menujuku. Entah apa lagi kali ini yang akan mereka bicarakan. Aku sudah bosan mendengar obrolan mereka tentang bagaimana cara mengakomodir masyarakat agar mau ikut serta bersama mereka ke jalanan pada perayaan kemerdekaan bulan depan. Apa mereka pikir masyarakat akan mau dengan mudah melakukannya jika tanpa selipan beberapa lembar ‘kertas’ yang bisa masyarakat gunakan untuk membeli makanan esok hari.”
Kira-kira tempat seperti apa yang menjadi sudut pandangku kali?
9. Meneruskan Yang Sudah Ada
Yang sudah ada di sini maksudnya adalah kalimat pertama dari sebuah cerita. Misalnya :
“Saya percaya bahwa bantaran sungai itu berhantu, …………”
Salah satu alternatif untuk melatih konsistensi menulis bisa dengan menerapkan cara ini. Pilihlah satu kalimat pertama dari buku yang menjadi kesukaan. Tulis ulang. Lalu lanjutkan kalimat kedua dan selanjutnya dengan kalimat sendiri.
10. Bertanya: Bagaimana Jika ?
Hidup adalah serangkaian kejadian sebab – akibat. Tidak ada suatu peristiwapun yang tidak memiliki sebab dan akibat, sekarang adalah bagaimana cara kita memandang suatu peristiwa tersebut agar dapat mengenali sebab dan menyikapi akibat dari peristiwa tersebut dengan bijak. Bertanya, ‘bagaimana jika’ dapat menghadirkan berbagai kemungkinan yang menambah ‘kaya’ naskah kita.
Formula ‘bagaimana jika’ bisa sangat membantu jika kita mengalami kebuntuan dalam menulis. Bagaimana jika tokoh A tidak bertemu dengan tokoh B di busway jurusan Kota? Kenapa harus di busway jurusan Kota, bukannya di Harmoni? Lalu bagaimana jika tokoh B tidak menyimpan tumbler milik tokoh A yang tertinggal?
Selain membantu, ‘bagaimana jika’ juga bisa sangat merepotkan jika penulis pada akhirnya bingung dan mudah terdistraksi dengan berbagai skenario kemungkinan yang dapat terjadi. Karenanya penulis diharap mampu setia pada alur atau plot yang telah dirancangnya dengan memikirkan variasi ‘bagaimana jika’ yang sesuai dengan cerita yang diinginkan.
11. Mula, Ketika, Akhirnya
Dalam setiap cerita kehidupan, maupun cerita dalam sebuah buku akan selalu ada mula, ketika (proses) dan akhirnya. Tahapan itu tidak selamanya berjalan linier, bisa saja yang dianggap orang lain sebagai sebuah akhir, tapi menurut si penulis, cerita itu adalah awal baginya.
12. Mau, Hampir Dapat, Terhalang, Terancam. Akhirnya dapat atau tidak?
Menuliskan sebuah buku tak ubahnya menuliskan miniatur kehidupan nyata. Bedanya sebagai seorang penulis, kita berperan layaknya ‘Tuhan’ atas apa yang ditulis. Apa yang kita ingin sampaikan pada pembaca dengan menghadirkan tokoh A, tema B dsb? Apa yang menjadi keinginan dari tokoh A? Dapatkah dia mencapai keinginan tersebut? Atau apa-apa saja yang menjadi halangan atau ancaman dalam upayanya meraih apa yang menjadi keinginannya?
Pola itulah yang selalu tersedia dalam sebuah buku. Untuk membuat pola itu terasa nyata, dibutuhkanlah outline. Sebuah outline atau kerangka cerita yang selesai seperti telah menyelesaikan cerita itu setengahnya. Lima puluh persennya lagi adalah komitmen dan konsistensi penulis untuk patuh/tidaknya keinginan untuk menyelesaikan tulisannya. Meskipun dalam pengerjaannya tidak sedikit penulis yang malah bergeser dari outline yang telah dibuatnya, sehingga nantinya dapat muncul sebuah plot twist yang ‘menipu’ pembaca. Itu tidaklah mengapa. Biasanya sebuah plot twist pulalah yang membuat pembaca merasa, buku tersebut layak untuk dimiliki, terlepas dari ending yang bahagia, sedih ataupun realistic.
*****
Aku harus berpacu dengan waktu untuk hadir di workshop selanjutnya, yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang. Mengambil tema ‘Make Your Own Book With What You Have And What You Can Do, aku dengan senang hati mengeluarkan segala perlengkapan yang telah dibawa : crayon, spidol, gunting, lem dan dua lembar kertas berisi materi teks dan materi visual yang akan kugunakan untuk membuat bukuku.
Sayangnya semangat yang membara di awal tidak bertahan sampai akhir. Aku malah sangat mengantuk dan bosan di tengah-tengah presentasi. Ditambah lagi diberikan jeda waktu sekitar 10 menit untuk melakukan relaksasi (yoga) dengan memejamkan mata sejenak. Udara dingin yang berasal dari air konditioner, perut yang memaksa untuk segera diisi ibarat kombinasi yang tepat untuk mendukungku tidur meski hanya sekejap. Untungnya sebelum aku benar-benar jatuh tertidur, Mbak Lala meminta kami untuk mulai membuat buku dengan benda-benda yang telah dibawa.
Gunting siap.
Crayon ada.
Materi teks dan visual telah sedia.
Maka dimulailah aku mereka bagaimana akan membentuk bukuku sendiri di atas empat lembar kertas yang telah dibagikan panitia di awal acara.
Kertas pertama ; berisi peta pikiran atau mind mapping atas apa yang ingin kita tuliskan dalam buku kita nanti.
Kertas kedua ; tampilan dari back cover dan front cover buku kita. Kita bebas mengekspresikan seperti apa ingin mendandani tampilan buku kita.
Kertas ketiga dan keempat ; lembar yang menjadi isi dari buku kita. Tempat di mana cerita itu berada.
Menyadari keterbatasanku dalam hal menggambar apalagi melukis, maka aku menyiapkan beberapa gambar yang kuambil dari google untuk mendukung cerita yang ingin kutempelkan di kertas tersebut. Meskipun begitu, aku belum juga menyelesaikan bukuku dengan baik dan tepat waktu. Karenanya aku berencana untuk mengulang kembali membuatnya di rumah. Kali ini dengan lebih serius dan terencana.
Semoga aku segera menyelesaikannya.
Aamiin
Advertisements

Bermain di IRF part 1

Desember ke sepuluh di tahun ini telah kutandai dalam penanggalan sebagai sesuatu yang dinanti. Acara tahunan yang menjembatani para penggiat literatur – penulis, pembaca, penerbit – kembali digelar. Museum Nasional menjadi saksi berkumpulnya para penyuka atau mungkin pencinta buku merayakan acara yang digagas oleh Goodreads Indonesia, bernama, Indonesia Readers Festival (IRF) atau Festival Pembaca Indonesia. Ini kali kedua aku mengikutinya. Berbeda dari tahun lalu, ketika aku berjalan sendirian memutari satu demi satu booth dari berbagai penerbit, di IRF yang sekarang aku bersama dengan dua orang rekan yang sungguh baik hati karena bersedia menjadi fotografer dari tiap moment yang telah kulewati selama acara berlangsung (semoga menjadi ladang amal untuk kalian, karena membuat orang bahagia aka senang akan mendapat pahala bukan?)

Aku menjadi orang yang ingkar.

Selisih 90 menit dari waktu temu yang disepakati membuatku berjalan sendirian menuju tempat penyelenggaraan. Tapi tak mengapa karena kemampuanku membaca petunjuk tempat sudah mengalami kemajuan, tidak lagi ada tersasar seperti tahun lalu. Dua orang teman telah tiba lebih dahulu. Acara belumlah dimulai ketika aku melangkahkan kaki ke dalam ruang berkapasitas 50-60 orang tersebut. Tak sampai lima menit aku duduk, mataku menemukan sosok yang akan menjadi pembicara dalam workshop yang akan kuikuti pagi kala itu. Seorang perempuan yang kukagumi. Setidaknya sejak aku membacai rekam jejaknya dalam dunia kepenulisan yang telah sepuluh tahun lamanya. Perempuan yang biasa disapa dengan “Mbak, W.”

“Udah sana minta tanda tangannya sekarang aja, sebelum ramai.” Temanku memberi saran.

“Nanti ajalah, Mbak W nya masih sibuk liatin laptop. Gak enak, nanti ganggu pulak.” Aku beralasan. Padahal lebih tepatnya aku sungkan dan pemalu 😛 (tapi sungguh jika kalian sudah mengenalku dengan baik, pemalu yang tadi kukatakan bertransformasi menjadi ‘malu-maluin’).

Tak habis akal, temanku malah mengajari bagaimana cara memulai percakapan. “Awali dengan senyum, nanti juga dia bakalan senyum.” Kira-kira begitu petuahnya. Temanku itu belum tahu saja, bahwa ada seorang anak Adam yang ketika aku tersenyum hanya padanya, alih-alih membalas dengan senyum juga, wajah datar tanpa ekspresi malah yang kudapatkan, eh kok jadi curcol kenangan lama ya, maafkan 🙂

Singkat kata, singkat cerita, aku dan dia jatuh cinta. 

Eh bukan, bukan, maksudnya singkat kata, singkat cerita aku dan temanku itu beranjak menuju meja Mbak W dan memintanya untuk membubuhkan autograf di buku Life Traveler kepunyaanku. Buku yang kukirim khusus dari kampung agar dapat ditandatangani langsung oleh penulisnya. Tak lengkap rasanya bila hanya mendapat sebuah tanda tangan tanpa mengabadikannya secara visual dalam wujud potret.

Banyak wawasan baru yang kudapatkan selama mengikuti proses workshop yang bertajuk “Creative Writing 101”. Insya Allah, aku akan menceritakan ‘permainan jari’ apa saja yang dilakukan dalam workshop tersebut di postingan yang selanjutnya. Sekalian bercerita juga tentang workshop lainnya yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang tentang “Make Your Own Book With What You Have and What You Can Do” yang juga aku hadiri.

15443052_10207832482234184_7734129306871638396_o
udah pasang gaya maksimal, eh malah blur huhu 😦

 *****

Sarapan, tidak.

Makan siang, lewat.

Biasanya pada pukul 15.00 aku telah mengonsumsi nasi, minimal sekali. Namun karena padatnya acara yang kuikuti hari itu tidak menyempatkanku untuk keluar gedung mencari warteg terdekat. Alhasil, perutku harus bersyukut karena masih kuberi nutrisi berupa dua potong biskuit berlapis gula, beberapa roll stik cokelat dan sebotol air mineral. Setidaknya dapat sedikit mengganjal rasa lapar yang sedari tadi sudah terasa sembari menunggu rangkaian acara selesai pada pukul 17.00.

Selain kedua workshop yang telah kusebutkan, aku juga turut menjadi penonton yang menyaksikan talkshow dan peluncuran perdana buku karangan dari Adhitya Mulya – Bajak Laut dan Purnama Terakhir.

Jika tahun lalu aku memiliki cukup banyak waktu untuk mengitari dan singgah di tiap booth, kali ini tidak. Mungkin hanya sekitar 15-30 menit alokasi waktu antara :

…. aku berdiri menatap satu persatu tumpukan buku di meja panjang bernama arena : book swap.

…. berpindah ke meja satunya yang berisi buku-buku bersampul cokelat yang telah diberi petunjuk, bernama arena : blind date book.

15400900_10207832575756522_2898579477677576684_n

15369082_10207832530955402_4020707477077182244_o
Hasil blind date books and book swap (^_^)

…. berjalan-jalan dari satu booth ke booth lainnya lalu melihat seorang penulis kesayangan ada di sana.

“Mbak Mo, boleh foto bareng gak?”

“Tunggu…” ada jeda dalam kalimatnya “Indri ya? aku ingat kan, padahal udah setahun lalu.”

Aku kaget. Tidak menduga sama sekali kalau Mbak Mo mengingat namaku. Secara pertemuan pertama kami adalah setahun lalu, dalam IRF juga.

“Sebentar ya, aku mau ngobrol sebentar sama Kang Adit”

15392998_10207832499794623_7861304295648976710_o
Menangkap moment temu dengan Mbak Morra 🙂

*****

IRF 2016 ini juga menjadi kali kedua aku melihatnya. Dia yang kumaksud bukan penulis, melainkan pembaca yang entah mengapa dulu pernah hadir di mimpiku setahun silam. Dia masih sama seperti pertama aku menatapnya, dengan kacamata, kumis tipis dan janggut yang sedikit. Kali ini dia mengenakan jaket abu-abu dengan sepatu kets bertuliskan diadora.

Aku senang melihatnya lagi, meski tanpa ada sensasi kupu-kupu di perutku. Hidup adalah drama. Namun tidak semua kejadian dalam hidup sesuai dengan drama kesukaan kita yang biasa disaksikan dalam layar kaca. Misalnya saja ketika dua orang bersilang jalan, mengapa dalam realitanya waktu tidak berjalan lambat dan pelan hingga pada akhirnya dua orang tersebut dapat mengenali satu sama lain. Coba saja di dalam drama layar kaca, sudah pasti akan ada yang namanya slow motion yang menandakan inilah awal mereka bertemu.

Ya, aku bersilang jalan dengannya.

Pintu keluar yang menjadi latar.Aku berniat kembali ke gedung pasca menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan dia sedang menuju tempat yang baru saja kudatangi.

*****

Rintik hujan yang turun.

Bergesernya waktu makan.

Lelahnya tubuh karena sedari pagi melakukan aktivitas dengan membawa 5 buku dalam tas di selempangan bahu dan 4 sisanya dalam goodie bag.

Lalu ditambah dengan terlambat munculnya bus bernomor AC 34.

Membuatku menutup mata di tengah perjalanan pulang. Padahal biasanya aku bukanlah orang yang mudah tertidur dalam transportasi umum. Mungkin itu terjadi karena akumulasi semuanya, dan semakin lengkap dengan dinginnya suhu ruangan dalam bus tersebut. Aku jatuh tertidur dan kembali tersadar ketika kondektur mengatakan “Islamic, Islamic.”

*****

PS : Terima kasih untuk kedua rekan yang meluangkan waktunya untuk bermain bersamaku di IRF kali ini.

Terima kasih kepada F untuk pinjaman buku kesukaannya.Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi diacara serupa tahun depan.

Aamiin.

15356584_10207832518355087_1214878249229915518_n
ki-ka : Mbak Morra, Mbak Windy, Mbak Lala, Kang Adit

[Resensi] Apa Pun Selain Hujan

Judul            : Apa Pun Selain Hujan

Penulis        : Orizuka

Penerbit      : GagasMedia

Terbit           : April 2016

Halaman      : 288

image

“Aku mohon, Kay,” kata Wira, tak tahan lagi melihat Kayla yang sudah kuyup.  “Apa pun selain hujan.” (halaman : 217)

Hujan adalah ‘musuh’ bagi seorang Wirawan Gunadi.

Setidaknya sejak hari itu, ketika hujan turun deras kala Wira bertanding taekwondo dengan sahabatnya, Faiz Hasan dalam Jakarta Cup Open Tournament 2013. Pada akhir pertandingan, Wira berhasil menang dengan mendaratkan tendangan berputar ke arah kepala yang mengenai rahang atas Faiz. Namun kemenangan itu tidak lagi berarti, karena bersamaan dengan itu Wira telah kehilangan sahabatnya. Sekaligus cinta dan juga cita-citanya.

Tak ingin terus terbayang oleh masa lalu, Wira memutuskan pergi meninggalkan Jakarta untuk berkuliah di Malang dan tinggal bersama neneknya. Tidak mudah bagi Wira untuk melanjutkan hidupnya pasca kejadian itu. Bayangan masa lalunya kerap menghantui apabila hujan turun. Ingatan akan Faiz, Nadine dan juga taekwondo.

Sampai pada suatu hari, Wira tidak dapat melarikan diri lagi dari masa lalunya ketika dia berusaha membantu seorang perempuan – Kayla – yang diganggu preman. Tanpa sadar, dia kembali menggunakan kemampuan taekwondonya untuk menghajar preman itu. Kayla yang ternyata seorang taekwondoin pun segera menyadarinya, namun Wira menyangkalnya. Tak percaya begitu saja, Kayla mengajak Wira menemaninya ke UKM dengan alasan melihat kucing yang mereka selamatkan ‘bersama’.  Di sana Kayla sengaja menyerang Wira untuk membuktikan dugaannya.

Kayla sangat menyayangkan kenapa Wira tidak ingin kembali menekuni taekwondo, karena sepertinya Wira telah mahir dalam olahraga itu. Penasaran membuat Kayla mencari tahu apa terjadi pada hidup Wira di masa lalu. Tanpa dia sadari hal itu jualah yang akan membawa kembali luka dan bayangan masa lalu Wira.

Lalu apa yang akan terjadi pada Wira?

Mampukah Wira bangkit dari kenangan buruk masa lalunya lantas melanjutkan kembali hidupnya?

“Nggak apa-apa Wira. Selama kamu tahu letak kesalahanmu dan bersedia memperbaiki diri, nggak apa-apa.” (halaman : 56)

*****

Ini adalah buku kesekian dari Orizuka yang pernah aku baca. Kalau biasanya Orizuka menulis masa muda yang cerah ceria dan riang gembira, kali ini sedikit berbeda. Nuansa hujan yang sendu kelabu tergambar jelas dalam kisah Wira.

Hujan. Kenangan.

Kenangan. Hujan.

Kenangan dan hujan tampaknya dua hal yang sulit dipisahkan. Entah sudah berapa banyak buku yang mengaitkan keduanya. Hujan seakan punya magis untuk memerangkap setiap kenangan yang ingin diingat ataupun yang tidak sengaja teringat. Aku pun punya kenangan akan hujan, syukurlah bukan kenangan buruk layaknya kenangan milik Wira.

Bagiku hujan selalu membawa ingatan masa kecil yang membahagiakan. Berlarian menembus hujan dengan teman sebaya, meski pada akhirnya harus siap sedia menerima omelan dari Ibu. Hujan juga mengingatkanku bahwa akan selalu ada sinar cerah mentari setelahnya.

Sunshine after the rain.

Seperti kisah dalam novel ini, hujan menjadi masa lalu Wira yang kelam, dan aku menyukai saat Wira mencoba untuk bangkit menghadapi masa lalunya. Dan tidak boleh ketinggalan kehadiran Sarang juga berarti bagi proses bangkitnya Wira dari masa lalu.

“Ada studi yang bilang kalau hewan peliharaan bisa mengurangi stress dan memperbaiki mood. Dengan membelai bulunya atau memperhatikan mereka bermain kita bisa terhibur.” (halaman : 86)

Dalam novel ini, aku malah jatuh hati pada karakter teman-teman satu jurusan Wira yang hangat, akrab walau kadang absurd. Pasti senang rasanya jika punya teman-teman seperti Junaedi, Dion, Ramdhan, dll. Mereka tidak menjauhi Wira meskipun Wira jelas-jelas tidak membuka diri pada mereka. Untuk karakter Wira maupun Kayla, Orizuka membuatnya dengan baik. Wira yang tidak agresif, penyendiri, dan takut pada hantu terlihat serasi bila dipasangkan dengan karakter Kayla yang blak-blakan dan agresif.

Bicara tentang latar, Orizuka sukses membuatku ingin berkunjung ke Batu Night Spectacular dan menyaksikan festival lampion. Pasti indah. Dari segi konflik, sedari awal telah dapat diduga bahwa masa lalu yang menjadi sebab. Orizuka mengemasnya dengan sangat baik, bagaimana akhirnya Wira dapat mengatasi masa lalunya itu dengan bantuan peran keluarga, teman-teman dan yang paling utama adalah dirinya sendiri.

“Saya tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kamu, tetapi kamu sekarang ada di sini. Kamu sekarang ada di sini. Kamu tidak bisa mundur. Kamu hanya bisa berjuang.” (Halaman : 222)

Memaafkan diri sendiri adalah salah satu cara untuk terus dapat melanjutkan hidup.

Setidaknya itulah pesan yang kupahami dari buku 288 halaman ini. Sekelam apa pun masa lalu yang pernah terjadi, percayalah akan selalu ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran untuk melangkah lebih baik ke depan.

….. semua orang pernah berbuat kesalahan. Kalian juga harus belajar memaafkan diri kalian sendiri.” (Halaman 268)

Terakhir, aku memberikan empat medali emas untuk kisah ini.

[Resensi] Kita & Rindu yang Tak Terjawab

Judul : Kita & Rindu yang Tak Terjawab (Seri Indonesiana #3)
Penulis : Dian Purnomo
Penerbit : GagasMedia
Halaman : 279

“Ada perempuan-perempuan yang menikah muda karena terpaksa, diharuskan oleh adatnya atau karena hal lain dan mereka tidak berakhir dengan bahagia. Perkawinan sama sekali bukan solusi, Mam” (p. 62)

Naiza Rosauli Situmorang, dihadapkan pada pilihan untuk mengikuti anjuran Papa dan Mama Batak – untuk menikah dengan Sidney Sinaga – ataukah menanti orang yang dia cinta – tetangga yang sedang menyelesaikan beasiswa S2 nya di Belanda, Tantra. Anjuran untuk menikah itu bukan tanpa sebab, kondisi Papa Batak yang sedang sakit membuatnya ingin melihat Naiza menikah lalu memiliki anak dengan orang BATAK. Ya, Papa Batak bermimpi punya menantu Batak. Dan semua itu ada pada diri Sidney Sinaga.

“Kalau kawin sama non-Batak, itu seperti kau kawinkan berlian sama imitasi dari kaca. Bukan batu kaca yang naik derajatnya, tapi berlian yang turun” (p. 110)

Sidney Sinaga : lelaki Batak berusia awal tiga puluhan, punya pekerjaan mapan dan sedikit tampan. Mulanya dia enggan ikut campur dengan upaya ‘perjodohan’ ini namun pada akhirnya dia seolah pasrah dengan apa yang diinginkan orangtuanya. Orangtua Sidney pun bercita-cita punya menantu Batak. Naiza sendiri tak kuasa untuk menolak keinginan orangtuanya, namun dilain pihak dia tidak mudah mengesampingkan perasaannya untuk Tantra, teman masa kecilnya yang selalu menjadi tempat pelampiasan emosinya. Dia bingung apakah harus menerima ‘perjodohan’ itu sementara dia tidak mencintai Sidney, dia pun tidak yakin Sidney juga mencintainya – karena selama mereka bersama, Sidney tidak pernah menatap mata Naiza. Seolah-olah ada sesuatu yang Sidney sembunyikan. Ataukah Naiza harus berkorban mengubur perasaannya pada Tantra yang beretnis Jawa.

*****

Setelah sukses dengan seri STPC – setiap tempat punya cerita – GagasMedia merilis seri terbaru mereka, yaitu Indonesiana. Seri Indonesiana ini di luar ekspektasiku. Kupikir dalam seri ini – yang menjadi latarnya adalah Sumatera Utara – berarti lokasi ceritanya di sana. Ternyata aku salah, yang dimaksud dengan cerita yang berasal dari Sumatera Utara adalah adat budaya yang sangat kental yang ada di Sumatera Utara. Dalam novel ini adalah budaya Batak.

Orang Batak pada umumnya sangat berharap menikah dengan sesama Batak.
Terdengar rasis ya? Tapi memang itulah yang terjadi.
Lahir dan besar di Medan, fenomena seperti itu kerap kulihat pada teman-temanku yang sebagian besar beretnis Batak. Mereka boleh berpacaran dengan etnis mana saja yang disuka, tapi jika berbicara mengenai pernikahan, maka mereka sebisa mungkin menjalin hubungan dengan sesama etnis.

Awalnya aku menduga akan ada salah satu kota di Sumatera Utara yang setidaknya berperan banyak sebagai latar, namun menjelang halaman-halaman menuju akhir barulah kota tersebut muncul, kota Sitorang Nabolon (yang aku sendiri pun tidak tahu itu di daerah Samosir di sebelah mananya. Ah nilai geografiku :p).

Dalam novel ini ada nama Tantra yang sepertinya menjadi tokoh utama pria, tetapi aku merasa intensitas kemunculannya kurang banyak dibandingkan Sidney. Lagi pun aku kurang dapat merasakan ‘chemistry’ antara Tantra dan Naiza, meski penulis telah menjelaskan di bab-bab awal bahwa hubungan Tantra dan Naiza ‘dekat’. Aku malah menyukai tokoh Tama – kakak Tantra – yang digambarkan sebagai orang yang sibuk dengan telepon genggam, sekaligus bijak. Sayang, Tama hanya cameo yang numpang lewat. Selain Tama aku juga suka dengan Mama Batak, apa ya, karakternya itu ‘batak kali lah pokoknya’ hehe 😛

Terkait masalah penulisan, aku menemukan beberapa typo.

Kudenganr (p. 15) – kudengar
Perjalananku.nJauh (p.57) – perjalananku jauh
Menajtuhkan (p.61) – menjatuhkan
Lau (p. 89) – lalu
Menyudarinya (p.152) – menyadarinya
Pomsel (p. 177) – pons
el

Novel ini memberi gambaran bagaimana budaya masyarakat Batak di perkotaan. Meskipun mereka telah hidup di kota sejak lama, Mama dan Papa Batak tetap memegang teguh adat budaya mereka. Lain halnya dengan Naiza maupun Sidney, yang telah mengalami percampuran budaya selama berada di kota, apalagi dengan pekerjaan Sidney yang mengharuskannya ke luar negeri membuatnya tidak menganggap penting suatu adat.

“Menikah itu bukan tentang ingin atau tidak ingin, niat atau nggak niat. Di dalam keluarga Batak, kita ini rata-rata menikah karena kewajiban meneruskan keturunan, meneruskan marga, menjaga adat. Padahal, sama sekali tidak kulihat urgensinya di mataku untuk meneruskan sebuah marga. Kenapa harus diteruskan? Apa untungnya buat umat manusia kalau Sinaga bertahan sampai seribu lapis anak pinak berikutnya?” (p. 88)

Ada beberapa kalimat yang menjadi favoritku dalam novel ini :

“Bagaimana bisa tahu kalau dia jodoh kita? Tuhan saja merahasiakannya, kok. Jodoh itu proses seumur hidup. Nggak ada berhentinya. Itu yang benar. Siapa bilang orang yang sudah menikah itu pasti jodoh? Bagaimana kalau mereka bercerai? Apa itu berarti tulang rusuknya yang hilang itu bercabang?” (p. 90)

“Pernikahan seperti sebuah tarian berpasangan. Siapa pun yang menjadi pasanganmu, kalian harus memastikan bahwa satu sama lain bisa mengimbangi tarian pasangannya. You might step on each other foot, but you can choose to get mad or laugh and start all over again. There’s no such things as win or lose in a marriage.” (p. 154)

“Karena mencintai itu tidak pernah berdiri sendiri. Ada pengorbanan di sana. Mencintai adalah kata kerja yang harus kita lakukan setiap hari.” (p. 168)

[Resensi] Sabtu Bersama Bapak

Lengkap.

Satu kata buat novel Adhitya Mulya yang bersampul biru dengan sebuah CD bergambar keluarga sederhana bersahaja yang terdiri dari Bapak, Mamah, dan dua anak laki-lakinya.
Sabtu Bersama Bapak.


Novel yang gue selesaikan dalam sekali hadap. Empat jam saja. Sebelas malam hingga dua dini hari. Perasaan puas didapat setelah sampai pada halaman terakhir novel tersebut. Setelah sebelumnya sukses dibuat ketawa ditengah malam hingga merenung sebentar memikirkan pesan yang disampaikan oleh tokoh Bapak dalam sebuah video yang ditujukan untuk kedua anak lelakinya.
Satya dan Cakra.
Meski tidak dapat duduk dan bermain di samping kedua anaknya, Bapak telah menyiapkan sebuah video untuk mereka menjelang kepergian sang Bapak untuk selamanya karena kanker. Video itulah yang menjadi media untuk Bapak ‘seolah hadir’ dalam mengawasi tumbuh kembang anak-anaknya. Video berisi cerita dan ajaran yang belum sempat Bapak sampaikan pada anak-anaknya.

Satya – anak tertua dari pasangan Gunawan Garnida dan Itje – kini telah menginjak usia 33 tahun, berumahtangga dan memiliki 3 orang anak laki-laki. Sebagai seorang Bapak yang harus bekerja jauh dari rumah, dia jarang memberi perhatian pada keluarganya. Sampai pada suatu ketika terjadi pertengkaran dengan istrinya, hingga sang istri mengirim sebuah email yang berisi unek-unek tentang kehidupan keluarga mereka. Satya tercengang lantas berpikir, seburuk itukah selama ini dia menjadi seorang Bapak bagi keluarganya?

Cakra – usia 30 tahun, punya rumah sendiri, seorang Deputy of Director (DD) dalam divisi micro finance, suka lagu melow dan warna merah namun sayang dia jombloh. Kejombloan Saka (nama kecil Cakra) yang telah lama ini mendapat perhatian khusus dari teman-teman satu divisinya yang menyebabkan gue tengah malam ketawa-ketiwi.
Ini nih satu part yang gue suka :

From : Cakra Garnida
To : +all ID sales micro finance POD
Subject : Stop it!
Dear all,
Terima kasih atas waktu dan usaha kalian habiskan mencari saya jodoh. Memang saya akui, saya rada kering beberapa tahun terakhir ini. Pun demikian, saya ingin mengingatkan bahwa ada jauh yang lebih penting dari nasib saya seperti contohnya, achieve target 2016. Memang sudah growing 13% dari tahun lalu, tapi masih 95% dari target tahun ini. Jadi mohon konsentrasi ke sana. Atau mencoba menjawab soal matematika di bawah.
Jika kalian bertanya selama tiga tahun, kapan saya punya pacar, maka coba hitung berapa penurunan gaji kalian tahun depan.
Mari kita renungkan.
CG 

Balasan muncul kemudian.

From : Ivan Marpaung
To : +all ID sales micro finance POD
Subject : Re: Stop it!
Lae, ada soal lain.
Seorang jomblo berumur 30 tahun. Menyatakan cinta 3 kali. Ditolaknya 5 kali. Sudah menjomblo 13 tahun, berapa tekanan batin yang disimpan di hati si Jomblo?
Marpaung 

Masih banyak part-part yang buat gue senyam-senyum gak jelas. Apalagi dengan kehadiran Ayu, yang ditaksir Cakra, namun Ayu tidak memberikan lampu hijau padanya karena menurutnya Cakra agak sedikit ‘aneh’. Belum lagi Mamanya Cakra (Itje) yang mulai khawatir kenapa anak bungsunya tidak kunjung menikah, sehingga acara ‘mak comblang’ pun menjadi alternatif mencari jodoh. Cakra dijodohkan dengan Retna, anak temen Mamanya.

Mama, perempuan kuat yang tidak ingin menyusahkan kedua anaknya. Yang memiliki keinginan menyaksikan si bungsu menikah. Dan yang diam-diam menyimpan rahasia dari anak-anaknya.

Bapak, sosok orangtua cerdas yang mengajarkan anak-anaknya tentang bagaimana caranya menghadapi hidup. Baik sebagai anak, dan orangtua nantinya. Menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap tahap usia kembang anak-anaknya. Memberi pemahaman bahwa semoga anak-anaknya dapat menjadi orang-orang yang berguna bagi orang lain.

4.5 buat novel ini.
1. Untuk kovernya yang simpel tapi keren.
2. Untuk kisah kasih Ayu-Cakra-Retna yang lucu+sweet.
3. Untuk pelajaran-pelajaran berharga yang Bapak ceritakan lewat video.
4. Terakhir, untuk Mama, Satya-Rissa-Ryan-Miku-Dani yang mengajarkan tentang suka-dukanya hidup berumah tangga.

Eh hampir lupa, 0.5 untuk peran brilian Ivan Marpaung, Bambang Pram, Wati Maemunah serta Firman. Merdeka ^^/
Nah karena gue menganut sistem pembulatan ke atas, jadi gue genapkan 5 bintang untuk novel ini. Bravo. Bravo.

Ps :
Meski gue agak sedikit agak kecewa, kenapa diakhr-akhir cerita gak ada lagi kemunculan anak buah Saka yang ‘perhatian’. Kan pengen baca respon-respon mereka mendengar si Bos akhirnya punya pacar juga. Hahaha. Tapi tetep gak mengurangi 5 bintang yang udah gue berikan.

Ah ya, dan dari banyak pelajaran yang bertebaran dalam novel ini, gue paling suka tuh part :

Mendiang Bapak telah mengajarkan kepada anak-anaknya dalam sebuah posting, bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan.

Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

[Resensi] Made Of Stars

Apa jadinya jika harapan selalu memberi kecewa? Berharap menjadi sesuatu yang menakutkan. Itulah yang dialami oleh Aubrey Voerman (Bree) yang tak lagi mau berharap dalam hidupnya. Karena berharap akan membuatnya kecewa dan kehilangan semangat hidup. Sesuatu di masa lalunya menjadi penyebab. Sampai suatu ketika Bree memohon pada bintang jatuh yang melintas di langit Roma dan tak pernah menyangka bahwa Bree akan bertemu dengannya. Anael.

Anael adalah Protector bagi Bree, malaikat yang melindunginya sejak lahir. Anael tahu persis apa yang membuat Bree menjadi dingin dan antipati terhadap hidup karena dia selalu bersama Bree. Bree merupakan anak lindungannya yang istimewa, karena Bree dapat merasakan kehadiran Anael di dalam setiap mimpinya meski Anael sering berganti-ganti wujud. Anael menikmati interaksi mereka dalam tidurnya Bree, sebelum Anael mengetahui bahwa ada sesuatu yang ditambahkan dalam buku takdir milik Bree, yang membuatnya khawatir akan keselamatan Bree hingga membuat Anael memutuskan untuk turun ke bumi dan melindungi Bree dengan caranya sendiri. Dengan meminjam tubuh Milo Cassini – yang telah meninggal – yang merupakan saudara tiri Zach, kekasih Bree.

Hubungan Bree dan Zach sudah tidak lagi layaknya sepasang kekasih, mereka masih bersama hanya karena sebatas status. Tidak lebih. Kadang Zach masih menjemput Bree untuk pergi ke sekolah bersama, seperti pada hari itu. Zach ingin menjemput Bree sebelum menerima telepon dari ayahnya untuk terlebih dahulu mengantarkan pakaian untuk diberikan pada Milo di rumah sakit. Dari situlah awal pertemuan Bree dengan Anael.

*****

3 dari 5 bintang.

1 bintang aku berikan karena dengan membaca novel ini aku memiliki perbendaharaan kosa kata baru. Yep, ada beberapa kosa kata yang baru pertama kali aku baca, yang bisa menambah koleksi kosa kata milikku.

*merendengi : Lucrezia hampir pingsan, tetapi dia segera menguasai diri dan merendengi langkah panjang Zach menuju mobil (halaman : 7)

**didaraskan : ….. dibarengi doa yang didaraskan dalam suara rendah (halaman : 8).

***tergeragap : Bree tergeragap ketika mengetahui di mana dirinya (halaman : 16).

****sureal : Semuanya terasa sureal sekarang, setelah dia merasakan hal-hal yang lebih bisa dirasakan (halaman : 25).

*****berkesiur ; Angin berkesiur pelan di antara mereka (halaman : 40).

2 bintang untuk filosofi awan mendung yang aku suka.

“Matahari sedang berjuang untuk mengirim sinarnya ke sini. Itulah indahnya mendung, kau dapat melihat perjuangan matahari untuk terus bersinar di atas bumi. Kalau sedang cerah, matahari tidak mendapat kesulitan apa-apa untuk bersinar. Itu tidak mengesankan buatku. Sinar yang jatuh ke bumi bukan sinar yang dia dapat dari perjuangan. Itu sinar yang biasa aja. Sinar matahari di waktu mendung berbeda. Itu adalah sinar yang harus dia kaluarkan dengan susah payah. Walaupun lemah, sinarnya lebih indah karena mengandung perjuangan matahari.”

“Seperti hidup. Sekecil apa pun hal yang kita lakukan, kalau kita harus mengeluarkannya dengan usaha keras – itu akan jauh lebih berarti dari hal besar yang bisa kita lakukan dengan mudah. Keindahannya terletak di balik usahanya” (Halaman : 41).

Bintang ke 3 kuberikan untuk ide cerita yang meski terlihat klise (malaikat yang jatuh cinta dengan manusia. Tiba-tiba teringat film City Of Angels) namun dibalut dengan deskripsi yang detail dan manis – ketika Milo memberikan Bree bunga dandelion yang gundul pada Bree. Konon katanya, jika berhasil menerbangkan serbuk bunga dandelion dalam satu tiupan, maka harapan kita akan terkabul. Dan Milo memberikan bunga dandelion yang gundul pada Bree dengan harapan, agar hari yang Bree jalani menyenangkan.

Ah ya, untuk sebuah novel pertama dari Hana Krisviana, Made of Stars itu keren.

[Resensi] Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa

Berulang kali aku meletakkan novel bersampul biru dengan hiasan bunga ditiap sudutnya ke dalam rak yang dimulai dari abjad P. Bimbang memutuskan untuk membawanya pulang atau tidak. Kubaca lagi sinopsis yang tertera di belakang cover novel tersebut. Tidak terlalu menarik, pikirku. Membalik cepat halaman dan mengintip beberapa halaman penghabisan dari novel tersebut, masih juga tidak menarik, batinku. Namun entah mengapa akhirnya aku membawanya juga. Novel berjudul “Kastil Es dan Air Mancur Yang Berdansa” itu ke meja peminjaman.

*****

Florence L’etoile tak pernah menyangka ‘pelariannya’ dari kencan buta yang diatur oleh orangtuanya – Monsieur dan Madame Leroy – akan  membawanya bertemu dengan pemuda baik hati yang memberinya sebuah tas mahal Chanel – yang diduganya hanya tas murahan karena tidak dibungkus dengan kertas yang terlihat mahal – dalam perjalanan menuju Honfleur. Vinter Vernalae, nama pemuda itu. Seorang yang kesepian, muram dan lupa bagaimana caranya tertawa.

 “Selama ini, tidak ada yang bisa membuatnya tertawa. Dia sudah lupa cara tertawa. Tapi, kau membuatnya tertawa.”

“Karena aku sangat konyol.”

“Aku sudah hidup cukup lama dan tahu bedanya tawa ejekan dan tawa yang tulus, Mademoiselle. Aku sudah berpengalaman dengan ejekan hampir sepanjang umurku.”

Itulah yang dikatakan Zima, seorang konduktor yang dikenal misterius, eksentrik yang sok Vivaldi dan gosipnya menyimpan mayat di ruangan di bawah taman bunganya. Karena Zima lah Florence dan Vinter memiliki keterikatan satu sama lain, bisa dikatakan begitu. Vinter merupakan teman Zima yang selalu memberinya ide tentang seniman mana saja yang bisa dipanggil untuk melakukan pertunjukan di rumahnya. Namun hari itu, seniman yang harusnya mengisi pertunjukan di rumah Zima membatalkan pada saat-saat terakhir, Vinter yang tidak enak hati mengabarkan berita itu memilih untuk memberitahunya langsung ke Honfleur dan disitulah dia bertemu dengan Florence. Dalam kereta api. Florence yang akibat ‘pelariannya’ itu harus merelakan tasnya yang biasanya hanya bertahan tiga bulan menghuni tong sampah karena sudah tidak lagi layak di gunakan, mendapat tas dari seorang pemuda baik hati, Vinter. Merasa tidak enak diberi tas secara cuma-cuma oleh Vinter, Florence berniat membantunya dengan tampil menggantikan seniman yang tidak dapat hadir tersebut. Melukis, membaca puisi, bermain drama, dan bermain piano juga biola. Dari sana semua bermula. And the story begins….

Interaksi yang terjalin antara Vinter dan Florence, membuat Florence menyadari bahwa sikap muram, sedih dan kesepian yang Vinter rasakan berawal dari masa lalu. Masa lalu yang membuat Vinter menjadi seorang yang ‘self-harmer’ – sebutan bagi orang yang suka menyakiti dirinya sendiri, biasanya dengan melukai kulitnya. Kadang dilakukan oleh orang yang tidak bahagia dengan hidupnya dan mengalami depresi berat – dan penyendiri. Dan Florence ingin membantunya, karena Florence tahu Vinter membutuhkannya. Karena Florence tahu, dialah yang mampu membuat Vinter kembali tertawa akibat ulahnya ditengah pementasan puisi Edgar Allan Poe, The Raven (Le Corbeau) yang meninggalkan panggung karena mendengar dering ponselnya yang berada di bangku penonton.

“Dia membutuhkan seseorang untuk membuat dirinya cerah. Dan tegar. Dan aku merasa bisa melakukannya. Walaupun aku sendiri juga sangat rapuh. Tetapi tidak lebih gelap dibandingkan dirinya.”

Bukan berarti masa lalu Florence bahagia, dia pernah begitu sangat mencintai, bahkan cenderung mendekati bodoh karena Jean Michel. Orang yang pernah menjadi pacarnya, yang kemudian meninggalkannya begitu saja dengan teman satu kampusnya dengan alasan aku bukanlah orang yang dia inginkan. Itu membuat Florence sedih, dan karena itulah Maman dan Papa nya serta Celine – sahabatnya – begitu melindunginya jika berkenaan dengan seorang pemuda. Hingga akhirnya Maman dan Papanya mengatur rencana sebuah  kencan buta untuknya. Florence tak ingin menyakiti hati orangtuanya dengan membatalkan kencan tersebut, namun dia juga tidak mudah mengabaikan perasaan hangat yang pelan-pelan muncul di hatinya ketika bersama Vinter. Lalu apakah yang akan di lakukannya ??

*****

Novel keempat Prisca Primasari yang berhasil kuselesaikan setelah Beautiful Mistake, Paris : Aline, Evergreen. Dan aku paling menyukai yang ini. Semua tokoh dalam novel ini memberi peranan penting untuk keutuhan serta sistematika cerita. Mulai dari Florence, Vinter, Zami, tiga tokoh utama menurutku, diikuti Celine – sahabat Florence, Annelies – pemilik grup drama Le Theatre de Rocher, Maman dan Papa Florence. Tokoh favoritku awalnya adalah Celine, aku ingin punya sahabat seperti Celine yang rela menyeretku pulang ke rumah ketika aku melarikan diri dan membantuku berdamai dengan masa lalu dengan cara berolahraga. Namun semakin mendekati akhir, aku juga menyukai karakter Maman dan Papa Florence yang mencarikan jodoh untuk Florence. Bukan, aku bukannya ingin dicarikan jodoh juga oleh kedua orangtuaku, lho. Aku suka bagaimana cara mereka menemukan pemuda yang mereka rasa akan cocok untuk putrinya.

“Aku semakin yakin dia adalah orang yang tepat untukmu, ketika aku sadar bahwa aku tidak hanya memikirkan kebahagiaanmu. Tapi juga kebahagiaannya.

Saat aku membicarakan dirimu, dia tidak bertanya, “Apakah dia cantik? Bagaimana wajahnya? Bagaimana perangainya?”

Tetapi, yang dia tanyakan adalah, “Apa yang disukainya? Apa yang membuatnya bahagia? Aku sangat berharap aku bisa memberikan sesuatu untuknya…”

(Ucapan Papa Florence ketika menjelasakan mengapa menyuruhnya melakukan kencan buta)

Selain itu, tentu saja aku berhasil menemukan beberapa quote yang kurasa cukup keren untuk di posting pada wall facebook atau menghias timeline kicauan pribadiku.

Orang lain tidak melihatmu seperti kau melihat dirimu sendiri.

Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan dan menyayangi dirimu sendiri.

Dan jika disuruh memberi bintang dari skala 1 sampai 5. Maka aku dengan senang hati akan memberinya angka 5…

Sekian. Terimakasih 🙂