[Resensi] Di Tanah Lada – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Aku akan menyebut mereka Salt dan Pepper.

“Lada itu bumbu masak yang bikin perut hangat. Dia temannya garam. Di meja yang ada ladanya, pasti ada garam juga.” (Hal : 88)

lada atau Pepper dan garam atau Salt.

Mereka adalah dua sahabat baik yang bertemu di sebuah warung makan.  Salt, adalah anak berumur 6 tahun yang baru saja pindah ke Rusun Nero. Rusun yang sama yang juga dihuni oleh Pepper.  Meski baru berusia 6 tahun, Salt adalah anak yang pintar berbahasa Indonesia. Berbekal kamus pemberian dari Kakek Kia saat usianya menginjak tahun ketiga, Salt selalu membawa kamus ke manapun dia pergi. Untuk menemukan arti dari kata-kata yang sering diucapkan oleh orang dewasa – yang  tidak dia mengerti.

Kepindahannya ke Rusun Nero adalah karena Papanya. Papa yang dianggapnya hantu, orang jahat dan monster. Papa yang selalu membuat Mamanya menangis. Yang bahkan ingin mengunci dirinya yang sedang tidur di dalam koper. Papanya yang boros dan suka berjudi. Selain Pepper dan Salt, Rusun Nero juga memiliki penghuni baik hati di lantai 4 seperti Kak Suri – yang mengajari Pepper Bahasa Inggris – Mas Alri – yang mengajari Pepper bermain gitar serta Ibu, Bapak pemilik Rusun.

Masalah mulai muncul saat Papanya Pepper mensetrika tangan Pepper, hingga Salt yang saat itu berada di lokasi segera membawa Pepper ke tempat Kak Suri, untuk mencari perlindungan sekaligus pengobatan. Kak Suri membawa Pepper ke rumah sakit dan berencana untuk melaporkan tindakan Papanya Pepper ke polisi. Sementara Salt, tak ingin jauh dari Pepper. Dia merasa bahwa mereka mengalami nasib yang sama. Memiliki Papa yang jahat. Bahwa, semua papa di dunia ini jahat.

“Skeptis, maksudnya kamu berhenti percaya pada terlalu banyak hal. Kamu berhenti percaya kalau di dunia ini ada hal yang baik. Ada Papa yang baik, ada orang yang baik, ada nasib yang baik. Kamu berhenti percaya kalau kamu nggak perlu mati dan bereinkarnasi untuk bisa hidup bahagia.” (Hal : 196)

Salt dan Pepper menjadi anak yang skeptis akibat perlakuan orangtua mereka sendiri. ‘Melarikan diri’ mereka anggap sebagai jalan untuk dapat hidup bahagia. Maka mereka pun mulai melakukan perjalanan yang tanpa disadari dapat mengungkap masa lalu Pepper.

*****

17-05-01-23-33-02-030_photo

Di Tanah Lada

Pantas saja rasanya novel ini menjadi salah satu pemenang dalam sayembara DKJ 2014. Topik yang dipilih Ziggy sebenarnya adalah topik umum yang sering menjadi fenomena di Ibukota. Tentang kehidupan di Rumah Susun. Tentang kebiasaan berjudi pada masyarakat. Tentang KDRT. Tentang pergaulan bebas serta perihal berbahasa Indonesia yang baik, yang makin terpinggirkan dengan penggunaan istilah-istilah asing.

Yang membedakan adalah sudut pandang penceritaannya. Melalui kacamata anak berusia 6 dan 10 tahun Ziggy mencoba melihat bagaimana anak-anak berusaha memahami dunia orang dewasa. Bagaimana efek yang ditimbulkan dari KDRT bagi anak serta tentang bagaimana menyikapi sebuah kesalahan yang terjadi akibat dari pergaulan bebas di masa lalu.

Beberapa sindiran halus yang kutemukan dalam novel berjumlah 244 halaman ini, seperti misalnya :

“Yang lebih penting daripada bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat.” (Hal : 66)

“Aku menangis karena orang dewasa tidak mengerti apa-apa.” (Hal : 92)

Penulis juga sedikit menyentil fenomena pasca perceraian yang kerap di masyarakat perceraian dalam kalimat polos yang diucapkan oleh Pepper saat dia diberi boneka Pinguin oleh Salt.

“Aku dan kamu sama-sama boleh main dengan bonekanya,” jelas Pepper. “Kadang-kadang, bonekanya ikut aku, kadang-kadang ikut kamu.”

“Memangnya bisa begitu?”

“Bisa dong. Kayak punya anak. Anak, kan punya Papa dan Mama. Jadi, mereka bagi-bagi.” (Hal : 108)

Karena POV nya dari seorang anak, maka dialog-dialog khas anak-anak pun tertulis dalam beberapa kalimat yang mengundang senyum simpul saat membacanya.

Capture+_2017-05-01-23-53-21

Masih ada beberapa kalimat-kalimat yang kusukai dari buku ini :

Ada banyak orang yang menunduk ketika seseorang meninggal. Orang-orang tertarik dengan kuku kaki dan lantai marmer ketika itu terjadi (Hal : 5)

“Tidak ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan – sayang atau tidak – kalau kamu tidak mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar.” ( Hal : 8)

 “Budi bahasa baik membentuk manusia bersahaja.” (Hal : 103)

Sedih sekali, tidak ada bintang di Jakarta. Aku bilang, “Kalau begitu, bagaimana caranya permohonan orang Jakarta bisa terkabul.” (Hal : 123)

“Yang menurut kamu bagus, nggak berarti bagus untuk orang lain, tahu?” (Hal : 138)

Aku bilang ke Kakek Kia, sulit sekali menemukan ‘kebenaran’ dalam kamus. Lalu, dia tampak sedikit sedih. Dan, kata Kakek Kia, “Lebih sulit lagi menemukannya di dunia nyata.” (Hal : 210)

Yang sedikit menganggu pikirku kala menyelesaikan novel ini adalah, kok yah Salt dan Pepper itu cerdas untuk anak seumuran mereka. Agaknya setelah semua ‘kekerasan fisik dan mental’ yang mereka terima dari orang-orang terdekatnya yang membuat mereka lebih awal mendewasa, namun tetap tidak kehilangan ciri khas kekanakan mereka – polos, ingin tahu dan blak-blakan. Inginnya sih aku memberi bintang sempurna untuk novel ini, tapi yah endingnya itu membuatku mengurungkannya.

4,5 /  5 bintang untuk persahabatan sehidup semati  Garam dan Lada.

Judul : Di Tanah Lada | Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie | Halaman : 244 | Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Capture+_2017-05-01-23-52-30

Advertisements

[Resensi] Purple Eyes

Judul : Purple Eyes
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Inari
Terbit : April 2016
Halaman : 144 halaman

img-20160917-01292

“Senang menulis surat, menggunakan segel dari lilin cari berwarna merah, tidak tahu apa-apa soal ‘Harry Potter’. Gadis ini sebenarnya berasal dari zaman apa?” (Hal : 71)

Adalah Solveig, gadis misterius dan aneh yang tiba-tiba hadir dan mengusik hidup Ivarr Amundsen. Solveig yang mengaku berasal dari Inggris datang bersama bosnya Halstein untuk memesan boneka troll mungil pada Ivarr. Awalnya Ivarr menganggap kehadiran Solveig seperti gadis-gadis kebanyakan yang terpikat akan pesonanya, memintanya untuk menemaninya ke kafe, ke pesta atau berbelanja. Namun nyatanya Solveig malah meminta Ivarr pergi menemaninya ke tempat-tempat yang mengingatkan Ivarr pada adiknya, Nikolai – yang meninggal karena dibunuh dengan keji.

Meski telah mengunjungi tempat-tempat tersebut, Ivarr tak juga merasakan emosi apa-apa di sana. Kehampaan, kehilangan ataupun kesedihan. Ibarat patung lilin, kemampuan merasanya seakan mati, bahkan ketika Nikolai meninggal, Ivarr tak menangis. Ada yang tidak benar dalam diri Ivarr, sehingga Solveig berusaha untuk menghidupan kembali emosi dalam diri Ivarr – tentu saja itu karena perintah Halstein – sang dewa kematian yang sengaja turun ke bumi bersama asistennya – Solveig, untuk mencari pembunuh berantai yang telah dengan keji mengambil lever para korbannya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan Ivarr?

Mengapa dia tidak merasakan emosi apa-apa terkait kematian adiknya?

Lalu mengapa Halstein dan Solveig mendatanginya?

*****

Cukup enam puluh menit waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan Purple Eyes. Bahasa sederhana dengan alur yang mengalir tidak membuatku sulit memahami novel ini, meski latar Norwegia dengan segala makhluk mistis yang diceritakan, baru kali pertama ini kuketahui.

Lagi, novel ini sungguh khasnya Mbak Prisca, dingin dan sedikit kelam. Meski bernuansa suram, novel ini juga memiliki pesan tersirat dan sisi hangat di dalamnya. Seperti misalnya, selalu ada alasan di balik setiap sikap atau tindakan seseorang, contohnya Ivarr yang lebih memilih tidak merasakan daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi. Bahkan ketika dihadapkan pada pilihan untuk membenci seseorang yang memang ‘pantas’ untuk dibenci.

“Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih” (Hal : 117)

Membaca novel ini membuatku teringat pada salah satu drama korea yang pernah ku tonton. Tentang seorang perempuan yang nyaris mati dan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa. Ada kesamaan di dalamnya, seperti adanya pilihan bagi orang-orang yang ‘nyaris’ mati untuk memutuskan ingin melanjutkan hidup atau menyerah saja dan berjalan menuju gerbang kematian.

Aku tahu ini semacam mitos atau mungkin pula dongeng, karena sejatinya kematian adalah hak prerogatif si Pemilik Kehidupan. Namun bukan berarti Allah tidak mengabulkan permohonan hambanya yang masih ingin hidup bukan? Kurasa karena itulah ada ucapan ‘Semoga panjang umur’ pada tiap perayaan ulang tahun.

Harapan, mungkin salah satu dari alasan mengapa kita sebagai manusia masih ingin terus hidup.

Akhirnya, tiga sayap Hades ku pinjam untuk Purple Eyes

P.S :

Entah mengapa aku menyukai Hades/Halstein, yah bukan karena tampangnya yang cukup cantik untuk seorang dewa kematian atau tingkahnya yang kadang sewenang-wenang, tapi kurasa ada ‘sesuatu’ dalam karakternya yang layak disukai (oh oke, ini memang subjektif sekali) haha 😀

[Resensi] Apa Pun Selain Hujan

Judul            : Apa Pun Selain Hujan

Penulis        : Orizuka

Penerbit      : GagasMedia

Terbit           : April 2016

Halaman      : 288

image

“Aku mohon, Kay,” kata Wira, tak tahan lagi melihat Kayla yang sudah kuyup.  “Apa pun selain hujan.” (halaman : 217)

Hujan adalah ‘musuh’ bagi seorang Wirawan Gunadi.

Setidaknya sejak hari itu, ketika hujan turun deras kala Wira bertanding taekwondo dengan sahabatnya, Faiz Hasan dalam Jakarta Cup Open Tournament 2013. Pada akhir pertandingan, Wira berhasil menang dengan mendaratkan tendangan berputar ke arah kepala yang mengenai rahang atas Faiz. Namun kemenangan itu tidak lagi berarti, karena bersamaan dengan itu Wira telah kehilangan sahabatnya. Sekaligus cinta dan juga cita-citanya.

Tak ingin terus terbayang oleh masa lalu, Wira memutuskan pergi meninggalkan Jakarta untuk berkuliah di Malang dan tinggal bersama neneknya. Tidak mudah bagi Wira untuk melanjutkan hidupnya pasca kejadian itu. Bayangan masa lalunya kerap menghantui apabila hujan turun. Ingatan akan Faiz, Nadine dan juga taekwondo.

Sampai pada suatu hari, Wira tidak dapat melarikan diri lagi dari masa lalunya ketika dia berusaha membantu seorang perempuan – Kayla – yang diganggu preman. Tanpa sadar, dia kembali menggunakan kemampuan taekwondonya untuk menghajar preman itu. Kayla yang ternyata seorang taekwondoin pun segera menyadarinya, namun Wira menyangkalnya. Tak percaya begitu saja, Kayla mengajak Wira menemaninya ke UKM dengan alasan melihat kucing yang mereka selamatkan ‘bersama’.  Di sana Kayla sengaja menyerang Wira untuk membuktikan dugaannya.

Kayla sangat menyayangkan kenapa Wira tidak ingin kembali menekuni taekwondo, karena sepertinya Wira telah mahir dalam olahraga itu. Penasaran membuat Kayla mencari tahu apa terjadi pada hidup Wira di masa lalu. Tanpa dia sadari hal itu jualah yang akan membawa kembali luka dan bayangan masa lalu Wira.

Lalu apa yang akan terjadi pada Wira?

Mampukah Wira bangkit dari kenangan buruk masa lalunya lantas melanjutkan kembali hidupnya?

“Nggak apa-apa Wira. Selama kamu tahu letak kesalahanmu dan bersedia memperbaiki diri, nggak apa-apa.” (halaman : 56)

*****

Ini adalah buku kesekian dari Orizuka yang pernah aku baca. Kalau biasanya Orizuka menulis masa muda yang cerah ceria dan riang gembira, kali ini sedikit berbeda. Nuansa hujan yang sendu kelabu tergambar jelas dalam kisah Wira.

Hujan. Kenangan.

Kenangan. Hujan.

Kenangan dan hujan tampaknya dua hal yang sulit dipisahkan. Entah sudah berapa banyak buku yang mengaitkan keduanya. Hujan seakan punya magis untuk memerangkap setiap kenangan yang ingin diingat ataupun yang tidak sengaja teringat. Aku pun punya kenangan akan hujan, syukurlah bukan kenangan buruk layaknya kenangan milik Wira.

Bagiku hujan selalu membawa ingatan masa kecil yang membahagiakan. Berlarian menembus hujan dengan teman sebaya, meski pada akhirnya harus siap sedia menerima omelan dari Ibu. Hujan juga mengingatkanku bahwa akan selalu ada sinar cerah mentari setelahnya.

Sunshine after the rain.

Seperti kisah dalam novel ini, hujan menjadi masa lalu Wira yang kelam, dan aku menyukai saat Wira mencoba untuk bangkit menghadapi masa lalunya. Dan tidak boleh ketinggalan kehadiran Sarang juga berarti bagi proses bangkitnya Wira dari masa lalu.

“Ada studi yang bilang kalau hewan peliharaan bisa mengurangi stress dan memperbaiki mood. Dengan membelai bulunya atau memperhatikan mereka bermain kita bisa terhibur.” (halaman : 86)

Dalam novel ini, aku malah jatuh hati pada karakter teman-teman satu jurusan Wira yang hangat, akrab walau kadang absurd. Pasti senang rasanya jika punya teman-teman seperti Junaedi, Dion, Ramdhan, dll. Mereka tidak menjauhi Wira meskipun Wira jelas-jelas tidak membuka diri pada mereka. Untuk karakter Wira maupun Kayla, Orizuka membuatnya dengan baik. Wira yang tidak agresif, penyendiri, dan takut pada hantu terlihat serasi bila dipasangkan dengan karakter Kayla yang blak-blakan dan agresif.

Bicara tentang latar, Orizuka sukses membuatku ingin berkunjung ke Batu Night Spectacular dan menyaksikan festival lampion. Pasti indah. Dari segi konflik, sedari awal telah dapat diduga bahwa masa lalu yang menjadi sebab. Orizuka mengemasnya dengan sangat baik, bagaimana akhirnya Wira dapat mengatasi masa lalunya itu dengan bantuan peran keluarga, teman-teman dan yang paling utama adalah dirinya sendiri.

“Saya tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kamu, tetapi kamu sekarang ada di sini. Kamu sekarang ada di sini. Kamu tidak bisa mundur. Kamu hanya bisa berjuang.” (Halaman : 222)

Memaafkan diri sendiri adalah salah satu cara untuk terus dapat melanjutkan hidup.

Setidaknya itulah pesan yang kupahami dari buku 288 halaman ini. Sekelam apa pun masa lalu yang pernah terjadi, percayalah akan selalu ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran untuk melangkah lebih baik ke depan.

….. semua orang pernah berbuat kesalahan. Kalian juga harus belajar memaafkan diri kalian sendiri.” (Halaman 268)

Terakhir, aku memberikan empat medali emas untuk kisah ini.

[Resensi] Penjual Kenangan

Judul            : Penjual Kenangan

Penulis        : Widyawati Oktavia

Penerbit      : Bukune

Halaman      : 209

IMG-20160510-01189

Kau berbahagialah. Jangan menengok kembali kenangan kau-aku itu. Itu bukan lagi tentang kita. Itu hanyalah tentang kau-aku. Kau bisa melihat perbedaannya, bukan? (Halaman : 58)

 Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata kenangan?

Fragmen masa kecil yang berlarian dengan teman sebaya sambil menerbangkan layang? Mengejarnya bersama ketika dikejauhan kamu melihat layangan itu putus benang lalu terbang. Lalu kamu dan teman berusaha menjadi yang pertama yang menemukannya. Atau ingatan samar dongeng tentang peri dan kunang-kunang yang Ibu bacakan menjelang kamu tidur? atau ketika beranjak dewasa, kenangan seringnya soal berakhirnya sebuah hubungan dengan seseorang yang kamu kasihi.

Setali tiga uang, itu jualah yang terangkum dalam buku ini. Kenapa aku menyebutnya buku bukannya novel (meski kadang dibeberapa tulisanku penggunaan novel maupun buku memiliki makna yang sama) seperti yang tertera pada cover belakangnya adalah karena menurutku ini memang bukanlah sebuah novel. Menurut sedikit ilmu yang kumiliki novel adalah sebuah karya tulis fiksi yang di dalamnya terdiri atas satu cerita yang tunggal. Sedangkan menurut KBBI, novel memiliki arti sebagai karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Sementara yang kutemukan dalam buku ini bukanlah seperti definisi di atas.

Buku ini lebih menyerupai sebuah novelet yang dicampur dengan beberapa cerita pendek. Cerita-cerita pendek yang adapun sebelumnya pernah diterbitkan di koran lokal maupun nasional. Ada juga satu atau dua cerita pendek yang baru.

Berikut adalah repih kenangan dalam buku ini :

  • Carano

“Kau, carilah keluarga yang mau makan sirih,” ujar Amak menggodaku. “Biar segera Amak bawakan carano* ke rumahnya.” (halaman : 16)

Novelet 58 halaman ini bercerita tentang perempuan yang sudah bertemu laki-laki yang keluarganya ingin dia bawakan carano. Namun ternyata takdir berkata lain, laki-laki itu mengkhianatinya hanya karena perkara jarak di antara mereka. Perempuan itu kecewa. Sangat dalam. Hingga pada suatu ketika, takdir mempertemukan mereka kembali, laki-laki itu meminta maaf dan berharap kenangan mereka bersama dapat terulang.

Sudah terlalu banyak hati yang meluka, karena sesuatu yang mereka sebut cinta. (Halaman : 52)

*Carano adalah syarat untuk meminang sesuai adat etnis di tanah Minangkabau. Dalam Carano biasanya berisi sirih lengkap dengan kapur, gambir, pinang dan juga tembakau.

  • Dalam Harap Bintang Pagi

Kisah tentang Peri yang menginginkan punya sayap agar dapat terbang dan melihat apa yang ada di balik pelangi. Apakah sesuai dengan yang diceritakan oleh Si Petualang, yang diam-diam dicintainya?

  • Percakapan Nomor-Nomor

Cerita pendek yang awalnya tidak kuduga berkisah tentang apa. Sampai disatu bagian di mana sang tokoh utamanya menemukan dirinya tidak mengerti mengapa orang-orang yang dikenalnya – yang berada satu lingkungan dengannya – berbicara dengan menggunakan nomor-nomor. Angka-angka.

Cerdas dan realistis, dua kata itu untuk pantas untuk menggambarkan isi dari cerpen ini. Ide ceritanya sederhana dan sesuai realitas pada sebagian besar masyarakat kita pada masa lalu – kalau sekarang aku kurang tahu, apakah masih ada masyarakat yang melakukan ‘percakapan nomor-nomor’.

  • Kunang-Kunang

Satu kata. Absurd.

  • Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela

Ada sempilan dongeng dalam cerpen ini. Tentang bidadari yang tidak dapat kembali ke kayangan karena selendangnya hilang. Sejujurnya aku kurang mengerti makna dari cerita ini, mengapa perempuan tua itu sungguh yakin dia tidak dapat mati. Namun aku menyukai anak laki-laki dari perempuan tua itu, yang sangat sayang pada Ibunya.

  • Penjual Kenangan

Entah mengapa aku merasa suram membaca bagian ini. Kesan kesedihan yang teramat dalam kental menghiasi lembar demi lembar cerpen yang juga menjadi judul buku ini. Berkisah tentang seorang gadis dewasa yang duduk sendirian di bangku taman dengan sekeranjang kenangan yang ingin dia jual untuk memperoleh sedikit harapan.

“Harapan. Kau hanya perlu tinggalkan sedikit harapan untukku, lalu kau akan dapatkan kenangan indah ini.” (halaman : 134)

  • Tengara Langit

Lagi, Mbak Iwied mampu menangkap realitas sosial yang sering terjadi pada masyarakat kita ke dalam barisan kata yang enak untuk dinikmati. Realitas tentang kartu duit yang seringnya malah membawa petaka bagi si penerima.

  • Menjelma Hujan

Seringnya seseorang yang kita anggap memberikan kenyamanan, – sahabat – itu pulalah yang akhirnya menorehkan sakit di hati. Sahabat yang dicintai dengan diam, mencederai hati begitu dalam. Sampai suatu ketika seseorang datang, menawarkan sebuah kenyamanan yang baru. Nyaman yang dirasa mampu menyembuhkan luka. Pelipur lara. Namun pada akhirnya itu sia-sia. Ilusi semata.

Ah, hati mengapa masih saja ada harapan yang lepas dan bersembunyi? (Halaman : 161)

  •  Nelangsa

Seharusnya aku lebih teliti dalam membaca pertanda. Petunjuk yang Mbak Iwied tebar dalam cerpen ini sungguh rapi. Mestinya aku sudah menduga dari panggilan teman-teman Nela di awal paragraf. Lalu pujian gurunya di halaman berikutnya. Cerpen ini keren sekaligus mengharukan.

  • Tembang Cahaya

Kurang ngerti maksud dari cerpen ini, hehe 😀

  • Bawa Musim Kembali, Nak

“Setiap malam, doa selalu kukirimkan pada bocah-bocahku. Semoga sampai ke tempat mereka. Di seberang laut sana. Kukirim selalu, anakku. Pada kau yang mengadu nasib. Sudahkah kau menang? Ataukah kau kalah?” (halaman : 201)

Rasanya ingin terbang ke Medan setelah membaca cerita ini.

Pulang.

Sebagai penutup sebelum kuakhiri tulisan ini, jika kamu mencari bacaan ringan namun sarat makna dengan untaian kalimat yang rapi, metafora indah serta ada sedikit unsur dongeng besertanya, buku ini pantas kamu coba.

Mungkin kamu juga akan sepertiku, merasa tertipu dengan alur cerita di salah satu cerpennya, dan juga mengharu biru di bagian yang selanjutnya.

Buku ini lengkap.

Untuk kamu yang (mungkin) juga penikmat kenangan.

Seperti jendela yang menyetia, kenangan ini pun tak pernah lelah. Akan selalu ada sela untukmu dan harapan yang kau bawa.

Pasangan Kencan

a

Cinta itu sabar. Ia akan selalu belajar dari sebuah kesalahan. Bukan malah mencari kesalahan. Ia akan belajar memaafkan dan menerima. (halaman : 59)

Cerita bermula dengan bagaimana Kia dan Bas adalah dua orang teman yang sangat dekat. Di mana ada Kia, maka akan ditemukan pula Bas di sisinya. Mereka akrab. Saling menguatkan dan mendukung satu sama lain. Bukan berarti tidak ada intrik di antara mereka, namun pada akhirnya mereka akan berbaikan lagi dan lagi. Kembali menikmati senja dari atas atap bersama.

Konflik mulai terasa ketika hidup memasuki fase selanjutnya. Kuliah. Bas dan Kia yang terpisah jarak semakin jarang berkomunikasi. Menatap senja dari atas atap sembari menikmati secangkir cokelat panas ditemani dengan orang yang dicinta adalah rutinitas yang sering dirindukan oleh Kia ketika dia harus pergi ke Gunung Kidul untuk KKN. Dan Bas, sahabat sejak kecil Kia, yang juga menjadi cintanya, pergi ke negeri seberang demi membuat orang tuanya bangga. Beruntungnya Kia, selama KKN dia ditemani oleh teman yang selalu membuatnya nyaman, Hisyam. Orang yang ada di sisinya pasca kepergian Bas. Hisyam pula yang setia menemaninya menikmati cokelat panas di akhir hari.

Akankah Kia masih menyimpan perasaan yang sama untuk Bas yang telah lama tidak berjumpa dengannya, meskipun Hisyam senantiasa ada di sampingnya ? Akankah tujuh belas tahun kebersamaan Kia – Bas harus berakhir demi meraih masa depan ?

Emang kalau ngeluh gitu, skripsinya bisa cepet selesai? (halaman : 261)

*****

Zonk.

Bukan. Bukan zonk mengenai cerita dalam novel ini. Bukan. Sama sekali bukan.

Begitu kubuka sampul pembungkusnya, aku sudah punya dugaan tentang cerita apa yang disuguhkan dalam novel ini. Jadi aku tidak menaruh ekspektasi apa-apa ketika membacanya.

Yang aku maksud zonk adalah, ‘tebakanku mengenai apa yang menjadi pasangan kencanku’. Aku punya dugaan bahwa prioritas pertamaku yang akan menjadi pasanganku, karena eh karena si ‘pemilik’nya mengirim pesan kepadaku. Ternyata aku salah, yang berjodoh denganku bukanlah pilihanku yang pertama, melainkan pilihanku yang kedua.

Berbicara tentang pilihan pertamaku, aku punya dugaan buku apa itu sebenarnya. ALLY. Apakah ada unsur kata itu dalam judul buku yang menjadi pilihan pertamaku? (tanya Putri Natalia :P)

Kaget ketika pasangan kencanku ternyata bukan buku yang telah kuduga, haha. Jadinya gak bisa membuktikan apakah analisisku sudah sehebat Heiji ataukah masih setingkat Kogoro 😀 hehe.

Walau tebakanku salah, aku cukup senang ketika menemukan selembar kertas yang diapit bookmark yang berasal dari si pengirim. Menerima sebuah surat dari teman bertukar buku yang selama ini hanya kuikuti dalam linimasa.

P_ambangsari, terima kasih telah menuliskan ‘surat pengantar’ itu 🙂

Fifah dan Putri Natalia, terima kasih telah menyelenggarakan event kece bertajuk Blind Date With A Book. Semoga tahun depan masih akan ada event serupa atau malah event yang jauh lebih kece lagi dan aku dengan senang hati akan berpartisipasi meramaikannya.

PS :

Ah iyaa, sekalian ingin memberi tahu identitas asli dari buku yang ku ikutsertakan dalam Blind Date kemarin :

my-favorite-good-bye
Penulis adalah orang-orang kesepian yang sulit dimengerti | Diterbitkan di dua negara | Tokoh utamanya pria
51rQ38oOgXL._SX348_BO1,204,203,200_
Kumpulan cerpen | Penulis perempuan yang pernah memenangkan Khastulistiwa Literary Award | Anjing | Manusia yang hidup abadi
26869062
Remaja | Aceh | Sebuah Janji | Kertas

Bagi yang menebak Tere Liye untuk buku yang ketiga, kalian salah total saudara-saudara huahaha 😛

 

Cheers,

Indri

Blind Date with A Book

BLIND DATE WITHBOOK(3)

Assalamualaikum, dan selamat pagi..

Lagi, mood menguasai diri hingga akhirnya blog ini antara ada dan tiada. Padahal niatnya sedari awal membuat blog yang khusus berkenaan dengan buku eh malah jarang diisi. Ditambah lagi dengan reading slump yang belakangan ini melanda, makin jadilah ini blog penuh keheningan. Demi menyiasati itu semua maka aku membuat keputusan untuk mengikuti event kece yang digawangi oleh Afifah dan Putri. Event yang diberi nama Blind Date with a Book. Di mana nanti tiap-tiap orang yang menjadi peserta event akan ‘memberikan’ bukunya kepada peserta lain. Namun masing-masing peserta tidak tahu wujud real buku seperti apa yang akan mereka terima. Mereka hanya akan diberi kode – kode yang akan membantu untuk memilih buku mana yang diinginkan. Nah sebagai salah satu dari peserta, maka aku juga berkewajiban menebar petunjuk tentang buku apa yang ingin kuberi pada peserta lain.

Buku-buku ini memiliki arti tersendiri bagiku. Satu diantaranya hadiah dari penerbit mayor, karena alhamdulillah aku memenangkan kompetisi menulis surat. Dua lainnya, kumiliki ketika untuk pertama kalinya aku hadir dalam event pembaca di Jakarta. So udah siap menebak kode-kode dariku?

Here it is :

  1. Penulis adalah orang-orang kesepian yang sulit dimengerti | Diterbitkan di dua negara | Tokoh utamanya pria.

  2. Kumpulan cerpen | Penulis perempuan yang pernah memenangkan Khatulistiwa Literary Award | Anjing | Manusia yang hidup abadi

  3. Remaja | Aceh | Sebuah Janji | Kertas

Sudahkah punya dugaan buku apa yang kumaksud? Tidak terlalu sulit kan petunjuknya? 🙂

Ah iyaa, sebagai catatan saja :

Jangan berekspektasi tinggi terhadap buku-buku ini. Aku tidak tahu genre seperti apa yang kamu sukai, jadi pesanku jika nantinya buku tersebut berjodoh denganmu, sayangi dia sebagaimana aku (pernah) menyayanginya.  Pesanku cukup mudah bukan?

Semoga buku-buku ini dapat bermanfaat untuk kamu.

Cheers,

Indri..

[Resensi] Love Theft #2

<< sebelumnya – resensi Love Theft #1, di sini >>

Judul : Love Theft #2
Penulis : Prisca Primasari
Halaman : 242
Penerbit : Selfpublished

 

IMG-20160301-01066
Frea Rinata Series

Belum selesai.

Pasca pesta dansa yang harusnya menjadi akhir dari masalah kalung Coco ternyata tidaklah sesuai harapan. Semua menjadi semakin rumit. Coco masih tidak mau merelakan begitu saja kalung pemberian ibunya yang hilang dicuri oleh Liquor. Setali tiga uang dengannya, Liquor pun tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak mengembalikan kalung itu pada pemiliknya. Frea yang bingung dengan situasi itu coba menghubungi Night berkali-kali, namun tak ada tanggapan. Khawatir adalah yang Frea rasakan selanjutnya, hingga membawanya pergi ke apartemen Night – dengan ditemani Liquor – untuk memastikan bahwa Night baik-baik saja. Namun bukan Night yang mereka temui di depan pintu apartemen Night, melainkan Coco Kartikaningtias.

Apa yang Coco lakukan di sana ?

Bagaimana Coco tahu mengenai Night ?

“Ada yang salah dengan gadis itu,” ujarnya, memajukan mobil sedikit saat kemacetan mulai terurai. “Saya baru merasakannya waktu berdansa dengannya. Saya tidak tahu apa, tapi saya merasakannya.” (Liquor –  Hal : 18)

Dan mengapa Coco masih bersikeras untuk mengambil kembali kalung pemberian almarhum Ibunya. Sementara dia bisa memperoleh kalung yang sama dengan kekayaan yang dia miliki ? Benarkah kalung itu hanya semata kenangan dari ibunya ? Atau apakah mungkin kalung itu bukan sekadar barang sentimentil ?

Bukan saja tentang Coco dan kalungnya, namun dalam 242 halaman ini juga akan menguak masa lalu Liquor dan Night. Alasan mengapa mereka memilih menjadi pencuri. Masa lalu yang coba mereka lupakan, kembali menguar, berharap menemukan penyelesaian. Juga tentang Frea yang akhirnya tak lagi mengingkari perasaannya bahwa dia sangat mencintai Liquor. Selain itu juga, akan muncul beberapa tokoh baru yang berperan penting mengungkap kerumitan masalah yang dihadapi.

*****

Sequel Love Theft ini ku miliki dengan cuma-cuma karena kebaikan dua orang. Arigatou.

Lima sore, sepulang kerja, hingga delapan malam, aku telah mengetahui semua jawaban dari teka-teki dan masa lalu – alasan mereka (Night – Liquor) menjadi kriminalis, serta nama asli mereka. Dengan sekali duduk dan aku cukup puas. Jika ada beberapa hal yang perlu ditambahi, kurasa part akhir kemunculan Coco dibuat lebih dramatis atau sadis juga boleh, bukan cuma sekadar ‘dibego-begoin’ doank hehe :D.

Novel ini mengingatkanku bahwa cara terbaik untuk melupakan kelamnya masa lalu adalah dengan belajar menerimanya. Menerima bahwa hal-hal buruk di masa lalu itu pernah ada dalam siklus hidup, hanya saja seberapa jauh masa lalu itu berpengaruh pada masa sekarang dan masa depan tergantung dari cara menyikapi pada masing-masing orang.

Dan untuk Liquor yang sedang berjuang melupakan masa lalu, sini – sini aku puk puk plus peluk #eh #plakk ^^V

Terakhir, aku ingin mengutip beberapa quote yang ku suka :

“Ada tipe lelaki yang bisa kau kagumi, tapi tidak akan pernah bisa kau miliki.” (Hal : 71)                  

“Neraka ada tujuh lapis,” ujar Night. “Dan penghuni lapisan ketujuh tidak akan pernah bisa naik ke surga.”

“Sementara penghuni lapisan pertama sampai keenam masih punya kesempatan.” Liquor melanjutkan. (Hal : 156)

 

Kurasa pipiku tentu juga akan memanas jika dirinya menanyakan hal yang sama seperti ini, hehehe :

IMG-20160309-01071
(Maafkan kualitas gambar yang kurang baik. Lebih jago difoto daripada memfoto :P)

[Resensi] Daylight

Judul : Daylight | Penulis : Robin Wijaya

| Halaman : 296 | Penerbit : Elex Media Komputindo

Setiap orang selalu punya motivasi yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu (Halaman : 232)

Itulah yang dilakukan oleh Gabriel Hanggia, pemilik The Cushy Cafe, ketika sebuah pesan masuk ke dalam surel miliknya. Pesan yang memberitahu bahwa ia lolos seleksi awal sebuah kompetisi memasak yang selama ini menjadi impiannya. Berangkat ke Jakarta dan menjalani serangkaian seleksi agar dapat masuk 20 besar dalam Star Chef sudah terbayang di depan mata hingga sebuah telepon membuatnya bimbang.

Mengejar impiannya atau mengambil kembali perannya sebagai ayah dari Kate (putri dari pernikahannya dulu) pasca meninggalnya mantan isterinya bersama suaminya yang baru akibat kecelakaan mobil. Awalnya Gabriel bingung memilih diantara pilihan yang ada, namun Amanda (kekasihnya) menawarkan bantuan untuk menjaga Kate secara bergantian bersama Angga dan Tari (staf The Cushy Cafe) jika Gabriel bersedia mengikuti proses seleksi di Jakarta.

Kompetisi yang dihadapi oleh Gabriel tidaklah mudah. Semua berkeinginan menjadi pemenang meski dengan cara-cara yang tidak sportif. Strategi diperlukan untuk memetakan kekuatan dan kelemahan lawan. Gabriel berkoalisi dengan Petra – yang suka memasak karena didikan sang kakek – untuk berusaha mencapai babak Final. Keinginan itu mungkin akan terwujud jika saja Gabriel tidak mendengar kabar bahwa telah terjadi sesuatu pada Kate.

Lalu apakah Gabriel akan terus melanjutkan perjuangannya mengejar mimpinya untuk menjadi pemenang dalam Star Chef ? ataukah Gabriel lebih memilih pulang ke Bandung demi putri kecilnya ?

*****

Tulisan kesekian dari Kak Robin yang berhasil diselesaikan. Awalnya mengira novel ini akan ada sedekit keterkaitan dengan Nightfall, tapi ternyata tidak sama sekali. Natalie kukira akan memiliki porsi lebih di sini, namun lagi-lagi aku salah. Natalie memang disebutkan di awal cerita, memasuki pertengahan hingga akhir Natalie benar-benar menghilang.

Kak Robin menulis dengan rapi, hampir tidak ada typo. Penggambaran akan suasana kompetisi memasaknya keren. Aku dapat wawasan baru tentang bagaimana cara memasak (kalau aku sih menganut paham, yang penting masakannya matang :P) dan bahwa garnis pun berperan penting dalam penilaian sebuah kompetisi memasak. Riset yang dilakukan Kak Robin detail. Sayang alurnya terasa lambat dan bertele-tele ketika masa kompetisi tersebut. Aku sudah menduga ada yang tidak beres ketika Amanda seakan menyembunyikan sesuatu dari Gabriel tentang Kate. Dari sana, alur mulai cepat dan Gabriel harus memilih untuk melanjutkan mimpinya ataukah bersama keluarganya.

Kalau dua orang yang terikat merasa tak punya satu topik pun untuk dibicarakan, kurasa mereka perlu memugar hubungan itu kembali (Halaman : 169).

Chemistry yang terjalin antara Gabriel dan Amanda tidak cukup kuat untuk kurasakan. Aku malah lebih suka interaksi antara Gabriel, Petra, Aly dan teman-temannya selama masa karantina. Untuk karakter Kate, aku menyukainya. Gadis kecil yang manis, cerdas dan penyuka kelinci.

IMG-20160110-01010

Jadi jika ditanya ‘pin bintang warna’ apa yang akan kuberikan untuk novel Kak Robin yang khusus kubeli dengan mengikuti PO (Kak, bonus card Indri manaaa? *tetep ditanya* :P) aku akan menjawab : Perak !!!

Penuhi dulu isi hatimu sebelum kau memenuhi isi hati orang lain. Teko yang kosong tak akan pernah mampu mengisi cangkir-cangkir (Hal: 2)

bukan review Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

51rQ38oOgXL._SX348_BO1,204,203,200_

Alasan utamaku membawa pulang buku ini dari arena bookswap di IRF 2015 kemaren adalah ingin melihat bagaimana contoh cerpen yang berhasil masuk ke berbagai media nasional. Nama Linda Christanty yang menjadi penulis mengusik rasa ingin tahuku tentang seperti apa isi kumpulan cerpen di dalamnya. Sebelumnya gak pernah baca karya Mbak Linda (tapi udah sering dengar namanya), namun setelah membaca kumcer ini aku semakin yakin bahwa untuk dapat menembus media nasional yang menjadi incaran, cerpen yang ditulis haruslah memiliki kekhasan dalam penulisan serta memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial budaya yang terjadi di sekitar.

Ada sepuluh cerita dalam buku yang memiliki 129 halaman ini, yakni :

Ketika Makan Kepiting | Zakaria | Karunia dari Laut | Sihir Musim Dingin | Jack dan Bidadari | Perpisahan | Kisah Cinta | Pertemuan Atlantik | Seekor Anjing Mati di Bala Murghab | Catatan tentang Luta; Manusia yang Hidup Abadi

dan yang membekas (baca : yang paling dipahami jalan ceritanya) adalah tiga cerpen berikut :

Zakaria => suka dengan twist yang hadir di akhir cerita.

Kisah Cinta => tentang ‘bunuh diri’ yang terjadi di sebuah rumah.

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab => pantas cerpen ini dipilih untuk menjadi judul dari kumcer. Cerpennya keren, mengambil latar di Afghanistan yang bermula dari seorang serdadu menembak mati seekor anjing tidak berdosa. Lewat kepiawaian Mbak Linda merangkai kalimat dengan bahasa yang sederhana, aku dapat ikut merasakan ‘kehilangan’ yang juga dirasakan Aref.

At least, buku kumcer ini (bukan) bacaan ringan yang dapat membuat kita sedikit berpikir, kira-kira ketika sedang menulis cerpen ini Mbak Linda sedang memberi perhatian pada isu-isu sosial budaya yang mana lagi ya.

[Resensi] Love Theft #1

Judul : Love Theft #1
Penulis : Prisca Primasari
Halaman : 192
Penerbit : Self Published

lovetheft1

“Manusia itu cuma memedulikan harta, rupa, dan kekuasaan. Kalau kamu bisa memiliki satu saja, kamu akan selamat di dunia. Kalau tidak, bersiaplah ditendang jauh-jauh.” (Hal : 127)

Frea Rinata adalah gadis yang kurang beruntung di kampus. Meski sudah sering berupaya untuk dapat tampil di sebuah resital namun tetap saja dia gagal. Dosen-dosen menganggap permainan biolanya sering tidak mematuhi kaidah musik klasik. Frea senang berimprovisasi sendiri, dan tipe seperti itu bukanlah kesukaan para dosen. Kegagalan yang dialami membuatnya lelah sehingga dia mengajukan cuti kuliah.

Kehidupannya berubah menjadi menarik ketika dia bergabung dengan anak buah pamannya (Vito) – yang memiliki sindikat bernama Arthropods – yang dipanggil Liquor dan Night. Sindikat ini ‘mempekerjakan’ orang sebagai pencuri. Pencuri yang tidak biasa. Layaknya Robinhood, sindikat ini hanya mencuri dari para konglomerat kelas atas yang tidak akan merasa kehilangan jika sebuah porsche atau berlian mereka raib. Hasil curian itu kemudian akan disumbangkan untuk orang-orang yang kurang mampu melalui lembaga-lembaga amal. Night, Liquor dan Tarantula adalah tiga pencuri yang diceritakan dalam novel ini. Night dengan kupu-kupunya. Liquor bersama ngengatnya, dan tarantula yang tak lepas dari laba-labanya. Kemunculan Tarantula memiliki porsi yang sedikit, berbeda dengan Night dan Liquor yang menjadi fokus cerita, dengan Frea tentu saja.

“Karena dosa yang dilakukan berkali-kali tidak akan terasa seperti dosa lagi.” (Hal : 125)”

Semenjak Frea cuti kuliah dan bergabung dalam sindikat ini, Night malah memutuskan untuk mengundurkan diri dan kembali ke negeri asalnya, Jepang. Sebelum kepergiannya, Night mengalihkan tugas terakhirnya kepada Liquor yaitu mencuri sebuah kalung Tiffany & Co milik Coco Kartikaningtias (putri dari pengusaha batu bara). Tanpa pernah mereka sangka dari sanalah kerumitan bermula, karena Coco tidak dengan mudah melupakan kalungnya begitu saja. Padahal gadis seperti Coco biasanya tidak pernah ambil pusing dengan kehilangan yang dialaminya. Coco memasang banyak sekali iklan, reklame dan menyiarkan berita kehilangannya pada Entertaiment Club. Publikasi besar-besaran. Dan inilah yang dihindari oleh Arthropods.
Untuk meredam itu semua Liquor terpaksa mengakui pada Coco kalau dia adalah pencurinya dan meminta Coco untuk merelakan kalung itu. Namun Coco bersikeras itu adalah kalung yang sangat berarti baginya dan dia bersedia memberikan apa saja asal kalung itu kembali padanya. Ada apa dengan kalung itu, mengapa kalung itu sangat berarti bagi Coco? Lalu bagaimana cara Liquor, Night serta Frea menghadapi itu semua? Serta sampai kapan Frea harus menyangkal rasa cintanya pada Liquor?

*****

Sebelum novel ini resmi dirilis, aku sudah jatuh cinta pada side story yang Mbak Prisca tuliskan dalam tumblr miliknya. Berawal dari sana lah aku memutuskan jika suatu hari novel ini diterbitkan, aku memasukkannya ke dalam daftar yang wajib dimiliki. Cerita antara Frea, Liquor dan Night ini masih khas Mbak Prisca, manis dan membekas. Nuansa manga bercampur misteri serta romance yang gak menye-menye menjadi satu paket lengkap yang mengemas isi novel secara keseluruhan.

Ada beberapa part yang aku suka dalam novel ini, seperti ketika Night memberikan jam saku pada Frea, karena menurutnya Frea adalah orang yang suka menunggu. Saat Night menjelaskan alasannya tentang peri kupu-kupu. (Lho kenapa part Night semua yah? padahal kan aku charmingnya sama Liquor. Soalnya gak etis kalau aku charming pada Night yang telah beristri, udah gitu dia sayang banget lagi sama istrinya hohoho :p).

Sikap Liquor yang sok (misterius) itu mengingatkanku pada seorang yang juga bertanggal lahir sama, namun berbeda golongan darah dengan Liquor. His blood type are B.

Overall, suka banget sama Love Theft #1 ini dan mesti bersabar untuk tahu gimana perkembangan hubungan Frea – Liquor – Night serta alasan yang menjelaskan mengapa Liquor dan Night bersedia menjadi ‘pencuri’.

“Liquor dan Night sama. Jadi kriminalis cuma gara-gara wanita.” (Hal : 61)

Lima sayap kupu-kupu untuk novel ini.