Bermain di IRF – part 2 End

Tidak ada kelas penulisan yang bisa membuatmu jadi penulis, kalau kamu tidak menulis.

Aku setuju dengan kalimat di atas, gimana ceritanya mau disebut sebagai seorang penulis, kalau tidak pernah atau jarang menulis?
Bertolak dari sanalah aku dan dua orang teman yang juga memiliki keinginan untuk menulis sebuah buku bersepakat mendaftar di acara workshop yang diadakan oleh Goodreads Indonesia bekerjasama dengan Writing Table, 10 Desember lalu.
Dalam workshop yang digawangi oleh Mbak Hanny dan Mbak Windy ini, para peserta diajak bermain-main dengan kata dengan melakukan beberapa latihan berdasarkan teknik-teknik menulis kreatif. Tanpa aku sadari, dari beberapa teknik latihan yang diterapkan, aku sudah pernah melakukannya. Seperti ketika aku memposisikan diriku sebagai benda mati atau tempat yang bercerita dan saat aku menuliskan tentang membaui kenangan lama serta bagaimana menulis dengan meneruskan yang sudah ada – dalam konteks ini yang dibahas mengenai melanjutkan kalimat pertama.
******
“Coba kamu ceritakan kejadian pagi ini yang kamu alami sehingga bisa sampai di sini, sekarang? Saya beri waktu selama tiga menit. Silahkan!”
Si pembicara, yang pada kesempatan kali ini adalah Mbak Hanny Kusumawati mengawali acara Creative Writing 101 kala itu, dengan menunjuk salah satu peserta untuk bercerita selama tiga menit, dan peserta lainnya menjadi pendengar.
Aku tidak menduga akan kemana Mbak Hanny membawa arah pembicaraan ini sampai ketika tiba saatnya tiga menit yang diberikan telah habis dan pendengar disuruh mengambil kesimpulan atas apa yang telah diceritakan oleh si pencerita tadi. Dalam tiga menit apa yang telah terjadi?

Dalam tiga menit, pikiran kita dapat menuangkan 1000 kata atau lebih.

Alangkah mudahnya pekerjaan menulis jika dalam waktu tiga menit kita dapat menghasilkan 1000 kata atau lebih seperti layaknya ketika kita disuruh bercerita tentang apa yang baru saja dilakukan. Namun nyatanya tidak seperti itu, seorang (calon) penulis seringnya merasa takut akan tulisan pertama yang buruk. Padahal tulisan yang buruk lebih baik daripada tidak ada tulisan sama sekali, sehingga merasa tidak percaya diri karena dia sendiri yang mengkerdilkan tulisannya.

Menulis adalah pekerjaan yang sulit dan lama.

Setali tiga uang dengan yang Mbak Windy jelaskan atas pertanyaan salah satu peserta workshop : “Bagaimana cara mengawetkan ide?”
Kadang, kita telah memiliki sebuah ide yang dirasa brilian untuk tulisan kita berikutnya, namun pada perjalanannya, kita sendiri juga yang meragukan akankah ide ini ‘masih’ brilian seperti ketika pertama kali kita memikirkannya. Sehingga kita pun seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah kita yakini.
Mesin pembunuh paling kejam adalah diri kita sendiri
Bagaimana kita dapat menyakinkan orang lain tentang ide brilian kita, kalau kita sendiripun tidak memberi keyakinan penuh atas ide telah kita usahakan. Aku percaya ide tidak serta merta datang secara tiba-tiba – meski kadang tidak pernah diduga, ide muncul disaat-saat kita tidak memikirkannya – dia perlu dipancing, diusahakan, dicari. Lalu setelah usaha itu, tegakah kita memandang remeh ide tersebut? Setelah kita menemukannya, yang dilakukan selanjutnya adalah komitmen kita untuk mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah karya, buku yang bertuliskan nama kita.
Menulis itu perkara disiplin dan komitmen
Oleh karenanyalah, dalam postingan kali ini aku ingin mengabadikan apa yang telah Mbak Hanny dan Mbak Windy sampaikan dalam workshop berdurasi dua jam tersebut yang berasal dari catatan – catatan yang kurangkum selama proses berlangsungnya workshop :

“MENULIS LEKAS, MENULIS JUJUR”

Ciri menulis lekas adalah dengan tidak berhentinya pena.
Adalah aturan main pertama dalam workshop kali ini. Para peserta diharapakan dapat menulis lekas dengan dibatasi oleh waktu ditiap latihannya. Bisa jadi semenit, dua menit hingga lima menit. Tergantung pada tingkat latihannya.
Mengapa harus menulis lekas?
Masalah yang mungkin sering dihadapi seorang penulis (setidaknya olehku) adalah keinginan untuk segera mengedit apa yang telah ditulis. Itu adalah salah satu pantangan dalam menulis lekas. Menulislah terlebih dahulu apa pun yang terlintas dalam kepala, tak peduli seberapa buruk atau rancu kata-kata yang dihasilkan. Setelah semua tulisan itu selesai, baru beri waktu untuk membacanya ulang, boleh dengan cara dilafalkan keras-keras atau dengan membaca dalam hati. Eksekusi dengan tega kalimat yang tidak efektif.
Editlah sampai kita merasa tulisan kita telah cukup bagus.
((Ini adalah masalah terbesar yang kualami. Aku amat suka mengedit tulisan yang belum selesai, hingga pada akhirnya tulisan itu tidak kunjung selesai karena menurutku ada saja kekurangannya))
Lalu mengapa harus menulis jujur ?
Tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur. Menulis jujur dapat menghindari hal-hal yang klise. Dengan menulis jujur kita bisa menjadi lebih kaya, maksudnya, akan ada banyak sisi lain yang dapat digali dengan kita menulis jujur. Misalnya saja, coba rekonstruksikan pertemuan pertama kamu dengan orang yang sekarang menjadi (sebut saja) kekasih, apakah kisahnya akan sama seperti yang film-film itu tayangkan ; di perpustakaan, tabrakan dalam koridor kampus atau mungkin karena sering bertemu dalam commuter line? Pertemuan-pertemuan seperti itu terdengar klise sekali bukan? Tapi pasti ada sisi lain yang berbeda dari setiap orang yang mencoba menuliskan kisahnya dengan jujur. Sudut pandang yang berbeda dari masing-masing individu, karena pada dasarnya setiap orang itu berbeda.
Bagiku cara terbaik untuk mengaplikasikan menulis lekas, menulis jujur adalah dengan menuliskan sebuah jurnal harian. Istilah sederhananya sih nulis diary. Tulislah kejadian apa saja yang terjadi seharian ini. Dengan menuliskannya selain dapat mengabadikan kenangan, aku percaya menulis juga bisa ‘menyembuhkan’ luka atau penyesalan atas apa-apa yang tidak dapat diungkapkan melalui lisan.
*****
Peraturan telah disepakati, maka latihan pun dimulai :
1. Kenalan Yuk
Peserta diminta untuk berpasang-pasangan, lalu masing-masing peserta diberi sebuah label. Mbak Hanny meminta untuk menyebutkan sebuah benda langit untuk kemudian dituliskan pada label tersebut lalu ditempelkan di punggung pasangannya. Nah, pasangan tersebut menebak nama benda langit apakah yang ada di punggungnya dengan cara membaca tulisan personifikasi dari benda langit tersebut. Dan dalam latihan pertama ini, pasanganku memberiku nama : Matahari.
2. Melintasi Waktu
Katanya, ketika sebuah tulisan buntu, coba mulailah tulis dengan sebuah kalimat, “Saya ingat, ketika…..”
Sembilan tahun.
Apa yang bisa kamu ingat ketika aku menyebutkan frasa itu?
Sekolah dasar? Kartun di Minggu pagi ? Bermain-main? Atau apa?
Itulah yang menjadi latihan kedua. Menuliskan kembali kejadian yang dapat diingat ketika berumur sembilan tahun. Enam puluh detik adalah waktu hitung mundur kami untuk menuliskannya, dan yang kuingat dari umur sembilan tahunku adalah bermain bongkar pasang.
Ah, betapa rindu aku akan masa itu.
Masa yang hanya ada kata bermain di dalamnya.
Masa kanak-kanak.
3. Melihat Ayah, Melihat Ibu
Indera penglihatan adalah indera yang paling sering digunakan penulis dalam cerita. Oleh karenanya, ditahap ini Mbak Hanny meminta kami untuk menuliskan dengan hanya menggunakan unsur indera penglihatan saja dengan subjek Ayah ataupun Ibu. Lagi, satu menit waktu diberikan. Masing-masing kami menuliskan apa yang kami lihat dari Ibu ataupun Ayah.
Aku menuliskan tentang Ibu.
Tentang kebiasaan Ibu menyiapkan sarapan pagi dengan menu yang menjadi kesukaanku. Nasi goreng putih. Lengkap dengan telur mata sapi, timun, tomat dan kerupuk udang.
Entah dengan cara apa aku menuntaskan rindu untuk merasai kembali masakan Ibu.
4. Mendengar Dirimu Berbicara
Cara membuat dialog yang natural adalah dengan mendengar diri kita bicara atau dengan mendengarkan orang lain yang bicara. Pada tahap ini peserta dihadapkan dengan situasi ada seorang teman 1 yang sedang berbicara mengenai teman lainnya (teman 2) yang berkata buruk mengenai diri kita. Lalu para peserta diminta memberikan reaksi atas apa yang dikatakan oleh teman 1. Reaksi itu bisa berupa dialog ataupun narasi.
5. Membaui Kenangan Lama
Aku pikir dengan membaca judulnya saja, kami para peserta akan diajak untuk bermain-main dengan ingatan. Kenangan.
Salah total.
Asumsiku runtuh seketika saat panitia membagikan berbagai jenis jeruk – kasturi, nipis, mandarin, sunkist – kepada peserta untuk digunakan dalam latihan. Ternyata, kami diberi tugas untuk mendeskripkan jeruk yang telah ada di hadapan dengan cara membauinya. Bicara membaui, berarti bicara tentang indera penciuman atau hidung. Cerita apa yang bisa kami cipta dengan aroma dari jeruk tersebut.
“Bau yang barusan memenuhi penciuman, bau yang sama dengan lantai rumah dipagi hari. Ketika Ibu baru saja selesai mengepel lantai dan aku akan bermain di atasnya. Aroma yang menyegarkan dan menyenangkan……”
Ada yang bisa menebak, jeruk jenis apa yang berada di atas mejaku saat itu?
6. Mengecap Perjumpaan Pertama
Di mana pertama kali kamu berjumpa dengan orang yang kamu kasihi?
Berawal dari pertanyaan itu jugalah, latihan ini dimulai. Kupikir kami akn disuruh menuliskan tempat pertama versi masing-masing. Lagi, aku salah. Kami malah diberi sebuah situasi :
Di sebuah gerobak nasi goreng. Saat sedang makan nasi goreng, tiba-tiba seorang yang (pernah atau masih) dikasihi datang. Lalu ceritakan tentang : RASA NASI GORENG YANG SEDANG DI MAKAN.
7. Merasakan Patah Hati (Mari Menggalau Bersama)
Kurasa ini adalah latihan paling mudah. Karena eh karena selama ini aku banyak menulis tentang sesuatu yang bernuasa patah hati. Tentang kehilangan. Dan dalam ‘olahraga jari’ kali ini kami diminta untuk mendeskripsikan reaksi tubuh ketika sedang patah hati atau merasakan kehilangan. Reaksi tubuh tersebut dapat berupa : mata berkaca-kaca, telapak tangan yang berkeringat, degup jantung yang berbeda lebih keras, kaki yang gemetaran dll.
“Hampa.
Kosong dan tidak terasa lagi degupan di dada. Ketika kulihat banyak orang yang berkumpul mengitari ranjang yang telah dipindahkan ke ruang depan. Aku berharap akan ada air yang turun dari mata, layaknya orang yang sedang merasa kehilangan…..”
8. Tempat Itu Bercerita
“Rombongan anak-anak muda dengan ransel dan buku-buku di tangan berebutan menujuku. Entah apa lagi kali ini yang akan mereka bicarakan. Aku sudah bosan mendengar obrolan mereka tentang bagaimana cara mengakomodir masyarakat agar mau ikut serta bersama mereka ke jalanan pada perayaan kemerdekaan bulan depan. Apa mereka pikir masyarakat akan mau dengan mudah melakukannya jika tanpa selipan beberapa lembar ‘kertas’ yang bisa masyarakat gunakan untuk membeli makanan esok hari.”
Kira-kira tempat seperti apa yang menjadi sudut pandangku kali?
9. Meneruskan Yang Sudah Ada
Yang sudah ada di sini maksudnya adalah kalimat pertama dari sebuah cerita. Misalnya :
“Saya percaya bahwa bantaran sungai itu berhantu, …………”
Salah satu alternatif untuk melatih konsistensi menulis bisa dengan menerapkan cara ini. Pilihlah satu kalimat pertama dari buku yang menjadi kesukaan. Tulis ulang. Lalu lanjutkan kalimat kedua dan selanjutnya dengan kalimat sendiri.
10. Bertanya: Bagaimana Jika ?
Hidup adalah serangkaian kejadian sebab – akibat. Tidak ada suatu peristiwapun yang tidak memiliki sebab dan akibat, sekarang adalah bagaimana cara kita memandang suatu peristiwa tersebut agar dapat mengenali sebab dan menyikapi akibat dari peristiwa tersebut dengan bijak. Bertanya, ‘bagaimana jika’ dapat menghadirkan berbagai kemungkinan yang menambah ‘kaya’ naskah kita.
Formula ‘bagaimana jika’ bisa sangat membantu jika kita mengalami kebuntuan dalam menulis. Bagaimana jika tokoh A tidak bertemu dengan tokoh B di busway jurusan Kota? Kenapa harus di busway jurusan Kota, bukannya di Harmoni? Lalu bagaimana jika tokoh B tidak menyimpan tumbler milik tokoh A yang tertinggal?
Selain membantu, ‘bagaimana jika’ juga bisa sangat merepotkan jika penulis pada akhirnya bingung dan mudah terdistraksi dengan berbagai skenario kemungkinan yang dapat terjadi. Karenanya penulis diharap mampu setia pada alur atau plot yang telah dirancangnya dengan memikirkan variasi ‘bagaimana jika’ yang sesuai dengan cerita yang diinginkan.
11. Mula, Ketika, Akhirnya
Dalam setiap cerita kehidupan, maupun cerita dalam sebuah buku akan selalu ada mula, ketika (proses) dan akhirnya. Tahapan itu tidak selamanya berjalan linier, bisa saja yang dianggap orang lain sebagai sebuah akhir, tapi menurut si penulis, cerita itu adalah awal baginya.
12. Mau, Hampir Dapat, Terhalang, Terancam. Akhirnya dapat atau tidak?
Menuliskan sebuah buku tak ubahnya menuliskan miniatur kehidupan nyata. Bedanya sebagai seorang penulis, kita berperan layaknya ‘Tuhan’ atas apa yang ditulis. Apa yang kita ingin sampaikan pada pembaca dengan menghadirkan tokoh A, tema B dsb? Apa yang menjadi keinginan dari tokoh A? Dapatkah dia mencapai keinginan tersebut? Atau apa-apa saja yang menjadi halangan atau ancaman dalam upayanya meraih apa yang menjadi keinginannya?
Pola itulah yang selalu tersedia dalam sebuah buku. Untuk membuat pola itu terasa nyata, dibutuhkanlah outline. Sebuah outline atau kerangka cerita yang selesai seperti telah menyelesaikan cerita itu setengahnya. Lima puluh persennya lagi adalah komitmen dan konsistensi penulis untuk patuh/tidaknya keinginan untuk menyelesaikan tulisannya. Meskipun dalam pengerjaannya tidak sedikit penulis yang malah bergeser dari outline yang telah dibuatnya, sehingga nantinya dapat muncul sebuah plot twist yang ‘menipu’ pembaca. Itu tidaklah mengapa. Biasanya sebuah plot twist pulalah yang membuat pembaca merasa, buku tersebut layak untuk dimiliki, terlepas dari ending yang bahagia, sedih ataupun realistic.
*****
Aku harus berpacu dengan waktu untuk hadir di workshop selanjutnya, yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang. Mengambil tema ‘Make Your Own Book With What You Have And What You Can Do, aku dengan senang hati mengeluarkan segala perlengkapan yang telah dibawa : crayon, spidol, gunting, lem dan dua lembar kertas berisi materi teks dan materi visual yang akan kugunakan untuk membuat bukuku.
Sayangnya semangat yang membara di awal tidak bertahan sampai akhir. Aku malah sangat mengantuk dan bosan di tengah-tengah presentasi. Ditambah lagi diberikan jeda waktu sekitar 10 menit untuk melakukan relaksasi (yoga) dengan memejamkan mata sejenak. Udara dingin yang berasal dari air konditioner, perut yang memaksa untuk segera diisi ibarat kombinasi yang tepat untuk mendukungku tidur meski hanya sekejap. Untungnya sebelum aku benar-benar jatuh tertidur, Mbak Lala meminta kami untuk mulai membuat buku dengan benda-benda yang telah dibawa.
Gunting siap.
Crayon ada.
Materi teks dan visual telah sedia.
Maka dimulailah aku mereka bagaimana akan membentuk bukuku sendiri di atas empat lembar kertas yang telah dibagikan panitia di awal acara.
Kertas pertama ; berisi peta pikiran atau mind mapping atas apa yang ingin kita tuliskan dalam buku kita nanti.
Kertas kedua ; tampilan dari back cover dan front cover buku kita. Kita bebas mengekspresikan seperti apa ingin mendandani tampilan buku kita.
Kertas ketiga dan keempat ; lembar yang menjadi isi dari buku kita. Tempat di mana cerita itu berada.
Menyadari keterbatasanku dalam hal menggambar apalagi melukis, maka aku menyiapkan beberapa gambar yang kuambil dari google untuk mendukung cerita yang ingin kutempelkan di kertas tersebut. Meskipun begitu, aku belum juga menyelesaikan bukuku dengan baik dan tepat waktu. Karenanya aku berencana untuk mengulang kembali membuatnya di rumah. Kali ini dengan lebih serius dan terencana.
Semoga aku segera menyelesaikannya.
Aamiin

Bermain di IRF part 1

Desember ke sepuluh di tahun ini telah kutandai dalam penanggalan sebagai sesuatu yang dinanti. Acara tahunan yang menjembatani para penggiat literatur – penulis, pembaca, penerbit – kembali digelar. Museum Nasional menjadi saksi berkumpulnya para penyuka atau mungkin pencinta buku merayakan acara yang digagas oleh Goodreads Indonesia, bernama, Indonesia Readers Festival (IRF) atau Festival Pembaca Indonesia. Ini kali kedua aku mengikutinya. Berbeda dari tahun lalu, ketika aku berjalan sendirian memutari satu demi satu booth dari berbagai penerbit, di IRF yang sekarang aku bersama dengan dua orang rekan yang sungguh baik hati karena bersedia menjadi fotografer dari tiap moment yang telah kulewati selama acara berlangsung (semoga menjadi ladang amal untuk kalian, karena membuat orang bahagia aka senang akan mendapat pahala bukan?)

Aku menjadi orang yang ingkar.

Selisih 90 menit dari waktu temu yang disepakati membuatku berjalan sendirian menuju tempat penyelenggaraan. Tapi tak mengapa karena kemampuanku membaca petunjuk tempat sudah mengalami kemajuan, tidak lagi ada tersasar seperti tahun lalu. Dua orang teman telah tiba lebih dahulu. Acara belumlah dimulai ketika aku melangkahkan kaki ke dalam ruang berkapasitas 50-60 orang tersebut. Tak sampai lima menit aku duduk, mataku menemukan sosok yang akan menjadi pembicara dalam workshop yang akan kuikuti pagi kala itu. Seorang perempuan yang kukagumi. Setidaknya sejak aku membacai rekam jejaknya dalam dunia kepenulisan yang telah sepuluh tahun lamanya. Perempuan yang biasa disapa dengan “Mbak, W.”

“Udah sana minta tanda tangannya sekarang aja, sebelum ramai.” Temanku memberi saran.

“Nanti ajalah, Mbak W nya masih sibuk liatin laptop. Gak enak, nanti ganggu pulak.” Aku beralasan. Padahal lebih tepatnya aku sungkan dan pemalu 😛 (tapi sungguh jika kalian sudah mengenalku dengan baik, pemalu yang tadi kukatakan bertransformasi menjadi ‘malu-maluin’).

Tak habis akal, temanku malah mengajari bagaimana cara memulai percakapan. “Awali dengan senyum, nanti juga dia bakalan senyum.” Kira-kira begitu petuahnya. Temanku itu belum tahu saja, bahwa ada seorang anak Adam yang ketika aku tersenyum hanya padanya, alih-alih membalas dengan senyum juga, wajah datar tanpa ekspresi malah yang kudapatkan, eh kok jadi curcol kenangan lama ya, maafkan 🙂

Singkat kata, singkat cerita, aku dan dia jatuh cinta. 

Eh bukan, bukan, maksudnya singkat kata, singkat cerita aku dan temanku itu beranjak menuju meja Mbak W dan memintanya untuk membubuhkan autograf di buku Life Traveler kepunyaanku. Buku yang kukirim khusus dari kampung agar dapat ditandatangani langsung oleh penulisnya. Tak lengkap rasanya bila hanya mendapat sebuah tanda tangan tanpa mengabadikannya secara visual dalam wujud potret.

Banyak wawasan baru yang kudapatkan selama mengikuti proses workshop yang bertajuk “Creative Writing 101”. Insya Allah, aku akan menceritakan ‘permainan jari’ apa saja yang dilakukan dalam workshop tersebut di postingan yang selanjutnya. Sekalian bercerita juga tentang workshop lainnya yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang tentang “Make Your Own Book With What You Have and What You Can Do” yang juga aku hadiri.

15443052_10207832482234184_7734129306871638396_o
udah pasang gaya maksimal, eh malah blur huhu 😦

 *****

Sarapan, tidak.

Makan siang, lewat.

Biasanya pada pukul 15.00 aku telah mengonsumsi nasi, minimal sekali. Namun karena padatnya acara yang kuikuti hari itu tidak menyempatkanku untuk keluar gedung mencari warteg terdekat. Alhasil, perutku harus bersyukut karena masih kuberi nutrisi berupa dua potong biskuit berlapis gula, beberapa roll stik cokelat dan sebotol air mineral. Setidaknya dapat sedikit mengganjal rasa lapar yang sedari tadi sudah terasa sembari menunggu rangkaian acara selesai pada pukul 17.00.

Selain kedua workshop yang telah kusebutkan, aku juga turut menjadi penonton yang menyaksikan talkshow dan peluncuran perdana buku karangan dari Adhitya Mulya – Bajak Laut dan Purnama Terakhir.

Jika tahun lalu aku memiliki cukup banyak waktu untuk mengitari dan singgah di tiap booth, kali ini tidak. Mungkin hanya sekitar 15-30 menit alokasi waktu antara :

…. aku berdiri menatap satu persatu tumpukan buku di meja panjang bernama arena : book swap.

…. berpindah ke meja satunya yang berisi buku-buku bersampul cokelat yang telah diberi petunjuk, bernama arena : blind date book.

15400900_10207832575756522_2898579477677576684_n

15369082_10207832530955402_4020707477077182244_o
Hasil blind date books and book swap (^_^)

…. berjalan-jalan dari satu booth ke booth lainnya lalu melihat seorang penulis kesayangan ada di sana.

“Mbak Mo, boleh foto bareng gak?”

“Tunggu…” ada jeda dalam kalimatnya “Indri ya? aku ingat kan, padahal udah setahun lalu.”

Aku kaget. Tidak menduga sama sekali kalau Mbak Mo mengingat namaku. Secara pertemuan pertama kami adalah setahun lalu, dalam IRF juga.

“Sebentar ya, aku mau ngobrol sebentar sama Kang Adit”

15392998_10207832499794623_7861304295648976710_o
Menangkap moment temu dengan Mbak Morra 🙂

*****

IRF 2016 ini juga menjadi kali kedua aku melihatnya. Dia yang kumaksud bukan penulis, melainkan pembaca yang entah mengapa dulu pernah hadir di mimpiku setahun silam. Dia masih sama seperti pertama aku menatapnya, dengan kacamata, kumis tipis dan janggut yang sedikit. Kali ini dia mengenakan jaket abu-abu dengan sepatu kets bertuliskan diadora.

Aku senang melihatnya lagi, meski tanpa ada sensasi kupu-kupu di perutku. Hidup adalah drama. Namun tidak semua kejadian dalam hidup sesuai dengan drama kesukaan kita yang biasa disaksikan dalam layar kaca. Misalnya saja ketika dua orang bersilang jalan, mengapa dalam realitanya waktu tidak berjalan lambat dan pelan hingga pada akhirnya dua orang tersebut dapat mengenali satu sama lain. Coba saja di dalam drama layar kaca, sudah pasti akan ada yang namanya slow motion yang menandakan inilah awal mereka bertemu.

Ya, aku bersilang jalan dengannya.

Pintu keluar yang menjadi latar.Aku berniat kembali ke gedung pasca menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan dia sedang menuju tempat yang baru saja kudatangi.

*****

Rintik hujan yang turun.

Bergesernya waktu makan.

Lelahnya tubuh karena sedari pagi melakukan aktivitas dengan membawa 5 buku dalam tas di selempangan bahu dan 4 sisanya dalam goodie bag.

Lalu ditambah dengan terlambat munculnya bus bernomor AC 34.

Membuatku menutup mata di tengah perjalanan pulang. Padahal biasanya aku bukanlah orang yang mudah tertidur dalam transportasi umum. Mungkin itu terjadi karena akumulasi semuanya, dan semakin lengkap dengan dinginnya suhu ruangan dalam bus tersebut. Aku jatuh tertidur dan kembali tersadar ketika kondektur mengatakan “Islamic, Islamic.”

*****

PS : Terima kasih untuk kedua rekan yang meluangkan waktunya untuk bermain bersamaku di IRF kali ini.

Terima kasih kepada F untuk pinjaman buku kesukaannya.Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi diacara serupa tahun depan.

Aamiin.

15356584_10207832518355087_1214878249229915518_n
ki-ka : Mbak Morra, Mbak Windy, Mbak Lala, Kang Adit