[Semacam] Review – Pulang

pulang-5691e8292a7a61520fb229e4

Pulang pada hakikat kehidupan.

Pulang, memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan (hal : 219)

Hanya karena libur teramat panjang dan aku tidak ingin mati gaya, maka selain nama besar tere liye sebagai pengarang – aku pernah membaca beberapa bukunya dan tidak masalah dengan cara berceritanya – dan judul yang sesuai dengan kejadian yang ketika itu ku lalui, maka aku membawa serta buku ini bersama daftar buku pinjaman lainnya.

PULANG

Ya, ketika itu aku sedang pulang. Ke kota di mana aku dilahirkan.

Buku ini pun ku bawa pulang.

Romansa, keluarga, dan kepergian menuju masa depan (merantau) adalah beberapa bagian yang berkelindan dalam buku ini, pikirku pada awalnya. Namun ternyata tebakan ku sedikit meleset. Sama sekali tidak ada nuansa romansa antara laki-laki dan perempuan dalam buku ini, tapi tidak berarti aku kecewa akan keseluruhan isi buku.  Meski aku merasa tertipu dengan asumsiku sendiri, aku tidak lantas dapat meletakkannya begitu saja. Banyak wawasan baru yang aku ketahui setelah membacanya, tentang shadow economy – dulu sekali pernah dengar tentang bagaimana para pengusaha-pengusaha kaya menjalankan bisnisnya dan keterlibatan mereka dalam ‘dunia gelap’ soal perputaran uang – tentang cara menjadi seorang ninja dan samurai sejati serta filosofi pistol dari seorang Salonga.

Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing (hal : 101).

Semua orang di dunia hitam mengenal kakekmu, Bujang. Dia adalah jagal ternama hingga pulau seberang. Julukannya ‘Si Mata Merah’ karena matanya selalu terlihat merah. Bisikkan nama kakekmu di perempatan jalan, satu kota akan bergegas masuk ke dalam rumah, meringkuk terkencing-kencing. Sebutkan nama kakekmu di balai bambu, satu kota akan bergegas pulang, memadamkan lampu (hal : 144).

 

Pulang berhasil menyentuh sisi melankolisku tanpa balutan cinta-cintaan ‘keju’ yang biasanya ada dalam novel romance.

Buku ini menyajikan lebih dari itu.

Perkara pilihan hidup yang seringnya tidak adil dan sulit untuk dipilih, lalu dilain hari akan menyesali mengapa waktu tidak dapat diputar ulang.

Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan (hal : 262)

Hidup ini sebenarnya perjalanan panjang, yang setiap harinya disaksikan oleh matahari (hal : 336)

Tentang keberserahan diri pada apa-apa yang telah menjadi rencanaNya. Yakinilah  bahwa apa yang telah ditulis olehNya adalah skenario terbaik yang memang hanya mampu dilalui oleh kita sebagai pemeran utamanya.

Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egosime. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja (hal : 219)

“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran” (hal : 340)

Tentang cinta pada keluarga – meski tanpa ada kesamaan ikatan darah. Tentang kesetiaan, pengorbanan dan kesabaran.

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain (hal : 188).

Bersabarlah, maka gunung-gunung akan luruh dengan sendirinya, lautan akan kering. Biarkan waktu menghabisi semuanya (hal : 288)

Serta tentang sejauh apa pun langkah kaki ini menapak, sekelam apa pun jalan yang pernah di tempuh, Sang Pemilik kehidupan senantiasa menanti kita untuk kembali pulang kepadanya.

Karena cinta yang paling hakiki adalah cinta Sang Pencipta pada hambanya.

“Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan. Segelap apa pun hitamnya jalan yang ku tempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang (hal : 400)

Dan pada akhirnya, nilai sempurna – lima – untuk suara panggilan pulang yang berasal dari Tuhan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s