[Resensi] Let’s Fall In Love – Rina Suryakusuma

Judul : Let’s Fall In Love

Penulis : Rina Suryakusuma

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Baca via ScooPremium

Capture+_2017-06-24-18-29-13

“Cara terbaik untuk melewati sesuatu adalah dengan mulai melangkah dan berjalan melaluinya. Bukan dengan membeku ketakutan dan tak berbuat apa-apa”

(Halaman : 137)

Memiliki jabatan sebagai Financial Analyst di sebuah hotel bintang lima tidak membuat Florida Adinegoro (Flo) merasa bangga apalagi nyaman dengan pekerjaannya. Analis cashflow, dasar pembiayaan awal, pembiayaan perbulan serta analisis return on assests terlihat bagai momok yang ‘menakutkan’ baginya. Bergelut dengan angka merupakan salah satu cara untuk membuat ‘ibunya’ melihat padanya, cara lainnya adalah dengan tetap mempertahankan hubungannya dengan Frans Sudrajat, si dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, walaupun Flo tidak bahagia.

Tekanan yang dihadapi oleh Flo sebenarnya berasal dari Ibunya yang selalu memaksakan kehendaknya pada Flo. Baik soal pekerjaan maupun pendamping hidup. Lagi pun ibunya selalu membandingkan Flo dengan Trisia – kakak Flo yang sangat berbeda dengannya. Di mata Ibunya, tak ada sisi baik yang dimiliki oleh Flo termasuk dalam selera berpakaian. Sialnya, Frans (pacar Flo) sependapat dengan ibunya. Dia beranggapan selera berpakaian Flo yang sedikit nyentrik dan unik seperti fondant kue warna-warni dan gadis gipsi.

Dalam pekerjaan, ketidakbahagiaan Flo berdampak pada hasil pekerjaannya yang salah dan berantakan, sehingga membuatnya menerima SP, agar lebih berhati-hati dalam menganalisa serta bersikap profesional dalam bekerja – dengan tidak berselancar di dunia maya lalu mengumpulkan berbagai macam resep masakan dan kue-kue serta tidak melakukan chat di sela-sela jam kerja.

Adalah Jonathan Aswary, General Manager yang pernah diberi kue kopi oleh Flo sekaligus orang yang memberikan surat peringatan kepada Flo karena ketidakbecusannya dalam bekerja. Dia jugalah yang berperan sebagai mentor bagi Flo dalam menghadapi asessment terkait penilaian kinerja Flo yang dilakukan oleh HRD hotel. Meskipun awalnya terkesan galak dan acuh pada Flo, sungguhnya Jo peduli padanya. Tanpa sadar, Jo pun mulai menyukainya.

Lalu apakah Jo akan menyatakan perasaannya pada Flo? Sementara Flo memiliki seorang kekasih? Dan apakah Flo akan melakukan sesuatu yang disukainya – yakni mengaplikasikan resep yang dilihatnya, membuat kue dan menu baru – walau tahu Ibunya tidak menyukainya?

“Menurutku, kamu harus melakukan apa yang membuatmu bahagia, Flo”

(Halaman : 150)

*****

Ini adalah karya pertama Rina Suryakusuma yang ku baca, aku menyukai cara Mbak Rina mendeskripsikan kue-kue buatan Flo. Detail dan jelas, sehingga aku bisa membayangkan bagaimana wujud visual dari kue yang dibawa Flo pada pertemuannya dengan orangtua Frans.

Bicara tentang karakter, Mbak Rina sukses membuatku mengernyit sebal pada karakter Frans yang pengen ditendang. Ironisnya, banyak karakter seperti ini dalam realitas sosial masyarakat kita. Belum lagi dengan penggambaran karakter Ibu yang tidak membuatku simpati sama sekali. Kok yah, ada gitu Ibu yang gak bisa diajak diskusi dan merasa paling tahu apa yang anaknya inginkan. Ibu yang sungguh egois sekali. Untungnya si tokoh utama (Flo) memiliki Bianca (teman sekantor) dan Trisia (kakak) yang berada dipihaknya, kalau tidak sungguh malang nasib Flo.

Karakter kesukaan? Tentu saja Jo, hahaha.

Sepintas aku merasa karakter Jo mirip karakter CEO-CEO dalam drama korea yang belakangan ini kutonton. Sikap jutek dan galak yang ditampilkannya adalah kamuflase agar orang yang disukainya tidak mengetahuinya. Namun dibalik itu, diam-diam memperhatikan dengan sayang, halah :p. Tentang plot, aku tidak menduga alasan mengapa Jo ‘memandang tidak suka’ pada Flo di awal. Ku pikir, itu murni karena ketidakbecusan Flo dalam bekerja. Bukan karena ada sesuatu pada diri Flo yang mengingatkan Jo akan masa lalunya di Surabaya.

Melalui tokoh Flo, novel ini membawa pesan untuk dapat memilih apapun itu – cita maupun cinta – dengan syarat : yang kita pilih nantinya adalah sesuatu yang kita suka. Yang dapat membuat kita bahagia. Karena kalau dengan senang hati mengerjakannya, apapun masalah yang terjadi, kita akan menganggapnya sebagai proses pembelajaran, dan tak enggan untuk segera bangkit memperbaikinya.

“Dengan hati, segala rintangan yang datang menerpa dapat kau terima dengan senyum dan tekad untuk memperbaiki diri.”

“Saat bekerja dengan hati, kau bahagia” (Halaman : 206)

Dan jika ternyata memiliki orangtua seperti Ibunya Flo, yang bisa dilakukan adalah tak pantang menyerah untuk selalu memberi penjelasan serta pengertian mengapa ingin mengambil pilihan tersebut, dan berusaha untuk bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil serta tak lupa berdoa pada Tuhan agar kiranya membuka pintu hati Ibu agar meridhoinya, karena kalau Ibu gak ridho, gawat juga nanti hehehe.

flying-fish-3[6]

 

 

 

[Resensi] Di Tanah Lada – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Aku akan menyebut mereka Salt dan Pepper.

“Lada itu bumbu masak yang bikin perut hangat. Dia temannya garam. Di meja yang ada ladanya, pasti ada garam juga.” (Hal : 88)

lada atau Pepper dan garam atau Salt.

Mereka adalah dua sahabat baik yang bertemu di sebuah warung makan.  Salt, adalah anak berumur 6 tahun yang baru saja pindah ke Rusun Nero. Rusun yang sama yang juga dihuni oleh Pepper.  Meski baru berusia 6 tahun, Salt adalah anak yang pintar berbahasa Indonesia. Berbekal kamus pemberian dari Kakek Kia saat usianya menginjak tahun ketiga, Salt selalu membawa kamus ke manapun dia pergi. Untuk menemukan arti dari kata-kata yang sering diucapkan oleh orang dewasa – yang  tidak dia mengerti.

Kepindahannya ke Rusun Nero adalah karena Papanya. Papa yang dianggapnya hantu, orang jahat dan monster. Papa yang selalu membuat Mamanya menangis. Yang bahkan ingin mengunci dirinya yang sedang tidur di dalam koper. Papanya yang boros dan suka berjudi. Selain Pepper dan Salt, Rusun Nero juga memiliki penghuni baik hati di lantai 4 seperti Kak Suri – yang mengajari Pepper Bahasa Inggris – Mas Alri – yang mengajari Pepper bermain gitar serta Ibu, Bapak pemilik Rusun.

Masalah mulai muncul saat Papanya Pepper mensetrika tangan Pepper, hingga Salt yang saat itu berada di lokasi segera membawa Pepper ke tempat Kak Suri, untuk mencari perlindungan sekaligus pengobatan. Kak Suri membawa Pepper ke rumah sakit dan berencana untuk melaporkan tindakan Papanya Pepper ke polisi. Sementara Salt, tak ingin jauh dari Pepper. Dia merasa bahwa mereka mengalami nasib yang sama. Memiliki Papa yang jahat. Bahwa, semua papa di dunia ini jahat.

“Skeptis, maksudnya kamu berhenti percaya pada terlalu banyak hal. Kamu berhenti percaya kalau di dunia ini ada hal yang baik. Ada Papa yang baik, ada orang yang baik, ada nasib yang baik. Kamu berhenti percaya kalau kamu nggak perlu mati dan bereinkarnasi untuk bisa hidup bahagia.” (Hal : 196)

Salt dan Pepper menjadi anak yang skeptis akibat perlakuan orangtua mereka sendiri. ‘Melarikan diri’ mereka anggap sebagai jalan untuk dapat hidup bahagia. Maka mereka pun mulai melakukan perjalanan yang tanpa disadari dapat mengungkap masa lalu Pepper.

*****

17-05-01-23-33-02-030_photo

Di Tanah Lada

Pantas saja rasanya novel ini menjadi salah satu pemenang dalam sayembara DKJ 2014. Topik yang dipilih Ziggy sebenarnya adalah topik umum yang sering menjadi fenomena di Ibukota. Tentang kehidupan di Rumah Susun. Tentang kebiasaan berjudi pada masyarakat. Tentang KDRT. Tentang pergaulan bebas serta perihal berbahasa Indonesia yang baik, yang makin terpinggirkan dengan penggunaan istilah-istilah asing.

Yang membedakan adalah sudut pandang penceritaannya. Melalui kacamata anak berusia 6 dan 10 tahun Ziggy mencoba melihat bagaimana anak-anak berusaha memahami dunia orang dewasa. Bagaimana efek yang ditimbulkan dari KDRT bagi anak serta tentang bagaimana menyikapi sebuah kesalahan yang terjadi akibat dari pergaulan bebas di masa lalu.

Beberapa sindiran halus yang kutemukan dalam novel berjumlah 244 halaman ini, seperti misalnya :

“Yang lebih penting daripada bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat.” (Hal : 66)

“Aku menangis karena orang dewasa tidak mengerti apa-apa.” (Hal : 92)

Penulis juga sedikit menyentil fenomena pasca perceraian yang kerap di masyarakat perceraian dalam kalimat polos yang diucapkan oleh Pepper saat dia diberi boneka Pinguin oleh Salt.

“Aku dan kamu sama-sama boleh main dengan bonekanya,” jelas Pepper. “Kadang-kadang, bonekanya ikut aku, kadang-kadang ikut kamu.”

“Memangnya bisa begitu?”

“Bisa dong. Kayak punya anak. Anak, kan punya Papa dan Mama. Jadi, mereka bagi-bagi.” (Hal : 108)

Karena POV nya dari seorang anak, maka dialog-dialog khas anak-anak pun tertulis dalam beberapa kalimat yang mengundang senyum simpul saat membacanya.

Capture+_2017-05-01-23-53-21

Masih ada beberapa kalimat-kalimat yang kusukai dari buku ini :

Ada banyak orang yang menunduk ketika seseorang meninggal. Orang-orang tertarik dengan kuku kaki dan lantai marmer ketika itu terjadi (Hal : 5)

“Tidak ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan – sayang atau tidak – kalau kamu tidak mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar.” ( Hal : 8)

 “Budi bahasa baik membentuk manusia bersahaja.” (Hal : 103)

Sedih sekali, tidak ada bintang di Jakarta. Aku bilang, “Kalau begitu, bagaimana caranya permohonan orang Jakarta bisa terkabul.” (Hal : 123)

“Yang menurut kamu bagus, nggak berarti bagus untuk orang lain, tahu?” (Hal : 138)

Aku bilang ke Kakek Kia, sulit sekali menemukan ‘kebenaran’ dalam kamus. Lalu, dia tampak sedikit sedih. Dan, kata Kakek Kia, “Lebih sulit lagi menemukannya di dunia nyata.” (Hal : 210)

Yang sedikit menganggu pikirku kala menyelesaikan novel ini adalah, kok yah Salt dan Pepper itu cerdas untuk anak seumuran mereka. Agaknya setelah semua ‘kekerasan fisik dan mental’ yang mereka terima dari orang-orang terdekatnya yang membuat mereka lebih awal mendewasa, namun tetap tidak kehilangan ciri khas kekanakan mereka – polos, ingin tahu dan blak-blakan. Inginnya sih aku memberi bintang sempurna untuk novel ini, tapi yah endingnya itu membuatku mengurungkannya.

4,5 /  5 bintang untuk persahabatan sehidup semati  Garam dan Lada.

Judul : Di Tanah Lada | Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie | Halaman : 244 | Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Capture+_2017-05-01-23-52-30

[Resensi] Elegi Rinaldo – Bernard Batubara

Judul : Elegi Rinaldo

Penulis : Bernard Batubara

Penerbit : Falcon Publishing

ISBN : 6026051406 (ISBN13: 9786026051400)
Halaman : 204
Series : Blue Valley
aldoo3
Edited by me

Elegi Rinaldo berkisah tentang pemuda kribo yang tak lagi menyukai roti. Dialah Aldo, food fotografer yang hampir memasuki usia kepala tiga – 28 lebih tepatnya – namun tak jua berniat untuk menikah. Baginya menikah itu adalah sesuatu yang konyol dan terikat dalam sebuah pernikahan adalah perbuatan bodoh. Toh, kalau sendirian saja sudah bebas dan bahagia ngapain juga harus menikah. Meskipun begitu, orang-orang terdekat Aldo – Tante Fitri, yang cerewetnya minta ampun dan penyuka Rihanna. Begitupun dengan Mbak Ratih (klien pertama Aldo yang membuatnya merasakan rindu akan kelengkapan sebuah keluarga) – malah  mendoakan agar dirinya segera membina rumah tangga.

“Happy Birthday, ya, Do! Makanya kamu tuh punya istri, biar kalo pulang kerja ada yang nungguin, masakin, nemenin makan.”

“Makasih, ya, Tante.”

Istri. Lagi-lagi istri. (Halaman : 9)

Ternyata bukan hanya Aldo yang menganggap menikah itu konyol, Jenny pun sama. Chef andalan UNO ini punya alasan mengapa dia berpikiran begitu. Alasan yang berasal dari masa lalunya.

Dua orang yang berpikiran sama. Bekerja dalam satu lingkungan dan sering menghabiskan waktu bersama,  mungkinkah ada yang terjadi di antara mereka?

Yep. Tepat.

Aldo yang mulanya merasa enggan berurusan dengan cewek jutek macam Jenny malah mulai menyadari bahwa bersama Jenny dia merasa nyaman. Buktinya dia bisa bercerita tentang kehilangan Ibu dan Rahayu – mantan kekasihnya – yang  menjadi alasan  mengapa Aldo menutup rapat dirinya dan tak ingin lagi memulai sebuah hubungan.

Rasa yang dimiliki Aldo tak sepihak, Jenny pun mulai menganggap Aldo lebih dari seorang rekan kerja. Namun sebagai seorang perempuan, menanti adalah hal yang lumrah bukan? Sayangnya yang dinanti tak menyadarinya sama sekali.

Sampai ketika, seorang dari masa lalu Jenny kembali, Dipa.

Kehadiran Dipa membuat Aldo berpikir ulang, perasaan seperti apakah yang dia miliki untuk Jenny? Siapkah Aldo kembali merasakan kehilangan?

*****

Novel ketiga Bara yang aku baca, setelah Cinta. (baca : Cinta dengan titik), Jika Aku Milikmu dan aku menyukainya. Memang belum sebesar rasa sukaku pada karya Bara yang lain – Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri – namun Elegi Rinaldo dirasa cukup untuk para penikmat cerita romansa, sepertiku.

Kisah yang dihadirkan dalam novel berhalaman 204 ini sungguhnya sederhana. Tentang dua orang yang enggan atau belum mau menikah (membuat sebuah hubungan lagi) karena berbagai alasan. Mungkin karena pernah merasakan kehilangan, pernah dikhianati atau masih belum dapat berdamai dengan penyesalan yang berasal dari masa lalu.

Alasan itulah yang diwakili oleh karakter Aldo dan Jenny.

Bicara tentang karakter Aldo, aku mengerti sikap ragu-ragunya pada Jenny merupakan ketakutannya akan mengalami kehilangan. Aldo agaknya terlalu ‘bodoh’ dan ‘naif’ untuk tidak mengerti segala laku Jenny yang berharap ‘dikejar’ olehnya. Gregetan sendiri pas baca bagian Aldo bukannya mencegah Jenny pergi Dipa, eh malah dianya pergi sama Ines.

“Kamu sok enggak butuh siapa-siapa. Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri. Padahal kamu juga takut kesepian. Kamu takut ditinggalin. Kamu takut kehilangan orang yang kamu sayang.” (Halaman : 177)

Jenny, perempuan yang jarang tampil feminin ini terlihat jutek pada awalnya. Namun siapa sangka di balik sikap jutek dan cueknya, Jenny peduli pada anak-anak. Anak-anak yang kurang beruntung dalam hal pendidikan. Diapun sama seperti Aldo, takut memulai sebuah hubungan karena pernah ditinggalkan oleh orang yang paling dia cintai. Orang yang menjadi cinta pertamanya. Dipa. Orang yang sangat mengenal dirinya.

elegi-rinaldo-quote
Edited by me

Selain Aldo, Jenny dan juga Dipa ada satu karakter yang berperan penting dalam novel ini, dialah Tante Fitri. Dirinya yang cerewet dan selalu peduli pada Aldo menjadi karakter kesukaanku. Adapula Ines, Mbak Ratih, Wicak dan juga Dinda yang menjadi karakter pelengkap.

Alur yang mengalir dalam novel ini membuat pembaca ingin menamatkan buku ini dengan segera. Meskipun klise dan gampang ditebak, Bara menuliskannya dengan smooth. Cukup. Pas. Paling yang menurutku agak tiba-tiba adalah scene ketika Aldo mengantar Jenny pulang ke kost lalu turun hujan. Kayaknya sih itu adegan karena terbawa suasana gitu yah? haha.

Kalau tentang sampul buku, aku tidak menemukan makna yang bersinggungan dengan isi cerita selain alasan ‘karena panda adalah hewan kesukaan Jenny dan juga Rahayu.’ Aku pikir akan ada alasan filosofi lainnya gitu yang lebih mendalam (halah, Ndri, mikirnya kejauhan haha). Kayak misalnya orang Cina percaya bahwa Panda adalah hewan yang menyimbolkan yin dan yang, keseimbangan.

“Iya, kalau reinkarnasi beneran ada, gue pengin di kehidupan berikutnya jadi panda. Hidupnya enak, Cuma guling-guling, tidur, makan, main, enggak kerja dan semua orang suka dia.” (Halaman : 25)

Pada akhirnya, jika kamu butuh bacaan yang ringan dan manis, bolehlah Elegi Rinaldo dimasukkan ke dalam daftar bacaan selanjutnya.

Sederhana bukan berarti tak bermakna.

“Konyol sekali orang-orang itu, yang menukar kebebasan dengan pernikahan dan mengganti hidupnya yang sudah baik-baik saja dengan keruwetan dan bencana” (Halaman : 12)

 

elegi-rinaldo
Zizu, beruangku bersama ‘si panda’

Tiga ketukan di pintu untuk rumah bernomor 16.

 

[Kutipan Kesukaan] – dalam novel The Architecture of Love – Ika Natassa

Mood kembali unggul.
Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa menulis ulang beberapa kutipan yang kusuka dari novel teranyar karya Kak Ika Natassa. Novel The Architecture of Love ini sudah menjadi incaran untuk dibaca sejak Kak Ika mengabarkan akan merilisnya dalam bentuk buku (awalnya TAoL ini adalah cerita bersambung yang menggunakan fitur #PollStory di Twitter, yang dimulai pada malam Tahun Baru 2016 dan kemudian hadir secara berkala di Hari Selasa dan Kamis malam sampai episode terakhirnya itu pada 14 Februari 2016). Aku baru berkesempatan membaca novel ini di bulan terakhir di 2016, itu juga karena kebaikan hati seorang teman – yang merupakan fansnya Kak Ika garis keras – untuk meminjamkan novel miliknya.
Makasih banyak Fit, atas pinjamannya 🙂

img-20161221-01363
Lihatlah betapa banyak pembatas yang kugunakan untuk menandai kutipan kesukaan dalam novel ini.

Hidup ini dijalani dan dinikmati, bukan dipikirkan (halaman : 13)

Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do (halaman : 15)

Ada beberapa pertanyaan yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya, tapi justru kita tidak bisa menjawab (halaman : 19)

Tidak ada orang yang tidak tahu kapan dia pulang jika tidak ada sesuatu yang besar yang membuatnya pergi (halaman : 40)

Pemikiran manusia memang terbiasa untuk memutar ulang kejadian masa lalu di dalam kepala, memainkan beberapa skenario berbeda – “what if” scenarios – yang dapat mengubah kejadian itu, kebiasaan yang dalam psikologi disebut counterfactual thinking (halaman : 41)

Fascination is what keeps a writer going. To be able to write, a writer has to be fascinated about a particular something that becomes the idea for the story (halaman : 42)
Kita memang tidak pernah bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan (halaman : 60)

People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory (halaman : 66)

Semua perempuan selalu jadi gampangan di depan laki-laki yang sudah terlanjur dia sayang (halaman : 164)

Patah hati tidak akan pernah jadi lebih gampang walau sudah dialami berkali-kali. Tidak akan pernah jadi berkurang sakitnya (halaman : 225)

Orang-orang bilang, siapa pun yang kita ingat pertama kali ketika ingin berbagi berita bahagia, bisa jadi sesungguhnya adalah orang yang paling penting dalam hidup kita tanpa kita sadari (halaman : 266)

Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir (halaman : 270)

Diingat oleh seseorang yang disayangi itu juga menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan memiliki alasan untuk pulang (halaman : 288)

Bermain di IRF – part 2 End

Tidak ada kelas penulisan yang bisa membuatmu jadi penulis, kalau kamu tidak menulis.

Aku setuju dengan kalimat di atas, gimana ceritanya mau disebut sebagai seorang penulis, kalau tidak pernah atau jarang menulis?
Bertolak dari sanalah aku dan dua orang teman yang juga memiliki keinginan untuk menulis sebuah buku bersepakat mendaftar di acara workshop yang diadakan oleh Goodreads Indonesia bekerjasama dengan Writing Table, 10 Desember lalu.
Dalam workshop yang digawangi oleh Mbak Hanny dan Mbak Windy ini, para peserta diajak bermain-main dengan kata dengan melakukan beberapa latihan berdasarkan teknik-teknik menulis kreatif. Tanpa aku sadari, dari beberapa teknik latihan yang diterapkan, aku sudah pernah melakukannya. Seperti ketika aku memposisikan diriku sebagai benda mati atau tempat yang bercerita dan saat aku menuliskan tentang membaui kenangan lama serta bagaimana menulis dengan meneruskan yang sudah ada – dalam konteks ini yang dibahas mengenai melanjutkan kalimat pertama.
******
“Coba kamu ceritakan kejadian pagi ini yang kamu alami sehingga bisa sampai di sini, sekarang? Saya beri waktu selama tiga menit. Silahkan!”
Si pembicara, yang pada kesempatan kali ini adalah Mbak Hanny Kusumawati mengawali acara Creative Writing 101 kala itu, dengan menunjuk salah satu peserta untuk bercerita selama tiga menit, dan peserta lainnya menjadi pendengar.
Aku tidak menduga akan kemana Mbak Hanny membawa arah pembicaraan ini sampai ketika tiba saatnya tiga menit yang diberikan telah habis dan pendengar disuruh mengambil kesimpulan atas apa yang telah diceritakan oleh si pencerita tadi. Dalam tiga menit apa yang telah terjadi?

Dalam tiga menit, pikiran kita dapat menuangkan 1000 kata atau lebih.

Alangkah mudahnya pekerjaan menulis jika dalam waktu tiga menit kita dapat menghasilkan 1000 kata atau lebih seperti layaknya ketika kita disuruh bercerita tentang apa yang baru saja dilakukan. Namun nyatanya tidak seperti itu, seorang (calon) penulis seringnya merasa takut akan tulisan pertama yang buruk. Padahal tulisan yang buruk lebih baik daripada tidak ada tulisan sama sekali, sehingga merasa tidak percaya diri karena dia sendiri yang mengkerdilkan tulisannya.

Menulis adalah pekerjaan yang sulit dan lama.

Setali tiga uang dengan yang Mbak Windy jelaskan atas pertanyaan salah satu peserta workshop : “Bagaimana cara mengawetkan ide?”
Kadang, kita telah memiliki sebuah ide yang dirasa brilian untuk tulisan kita berikutnya, namun pada perjalanannya, kita sendiri juga yang meragukan akankah ide ini ‘masih’ brilian seperti ketika pertama kali kita memikirkannya. Sehingga kita pun seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah kita yakini.
Mesin pembunuh paling kejam adalah diri kita sendiri
Bagaimana kita dapat menyakinkan orang lain tentang ide brilian kita, kalau kita sendiripun tidak memberi keyakinan penuh atas ide telah kita usahakan. Aku percaya ide tidak serta merta datang secara tiba-tiba – meski kadang tidak pernah diduga, ide muncul disaat-saat kita tidak memikirkannya – dia perlu dipancing, diusahakan, dicari. Lalu setelah usaha itu, tegakah kita memandang remeh ide tersebut? Setelah kita menemukannya, yang dilakukan selanjutnya adalah komitmen kita untuk mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah karya, buku yang bertuliskan nama kita.
Menulis itu perkara disiplin dan komitmen
Oleh karenanyalah, dalam postingan kali ini aku ingin mengabadikan apa yang telah Mbak Hanny dan Mbak Windy sampaikan dalam workshop berdurasi dua jam tersebut yang berasal dari catatan – catatan yang kurangkum selama proses berlangsungnya workshop :

“MENULIS LEKAS, MENULIS JUJUR”

Ciri menulis lekas adalah dengan tidak berhentinya pena.
Adalah aturan main pertama dalam workshop kali ini. Para peserta diharapakan dapat menulis lekas dengan dibatasi oleh waktu ditiap latihannya. Bisa jadi semenit, dua menit hingga lima menit. Tergantung pada tingkat latihannya.
Mengapa harus menulis lekas?
Masalah yang mungkin sering dihadapi seorang penulis (setidaknya olehku) adalah keinginan untuk segera mengedit apa yang telah ditulis. Itu adalah salah satu pantangan dalam menulis lekas. Menulislah terlebih dahulu apa pun yang terlintas dalam kepala, tak peduli seberapa buruk atau rancu kata-kata yang dihasilkan. Setelah semua tulisan itu selesai, baru beri waktu untuk membacanya ulang, boleh dengan cara dilafalkan keras-keras atau dengan membaca dalam hati. Eksekusi dengan tega kalimat yang tidak efektif.
Editlah sampai kita merasa tulisan kita telah cukup bagus.
((Ini adalah masalah terbesar yang kualami. Aku amat suka mengedit tulisan yang belum selesai, hingga pada akhirnya tulisan itu tidak kunjung selesai karena menurutku ada saja kekurangannya))
Lalu mengapa harus menulis jujur ?
Tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur. Menulis jujur dapat menghindari hal-hal yang klise. Dengan menulis jujur kita bisa menjadi lebih kaya, maksudnya, akan ada banyak sisi lain yang dapat digali dengan kita menulis jujur. Misalnya saja, coba rekonstruksikan pertemuan pertama kamu dengan orang yang sekarang menjadi (sebut saja) kekasih, apakah kisahnya akan sama seperti yang film-film itu tayangkan ; di perpustakaan, tabrakan dalam koridor kampus atau mungkin karena sering bertemu dalam commuter line? Pertemuan-pertemuan seperti itu terdengar klise sekali bukan? Tapi pasti ada sisi lain yang berbeda dari setiap orang yang mencoba menuliskan kisahnya dengan jujur. Sudut pandang yang berbeda dari masing-masing individu, karena pada dasarnya setiap orang itu berbeda.
Bagiku cara terbaik untuk mengaplikasikan menulis lekas, menulis jujur adalah dengan menuliskan sebuah jurnal harian. Istilah sederhananya sih nulis diary. Tulislah kejadian apa saja yang terjadi seharian ini. Dengan menuliskannya selain dapat mengabadikan kenangan, aku percaya menulis juga bisa ‘menyembuhkan’ luka atau penyesalan atas apa-apa yang tidak dapat diungkapkan melalui lisan.
*****
Peraturan telah disepakati, maka latihan pun dimulai :
1. Kenalan Yuk
Peserta diminta untuk berpasang-pasangan, lalu masing-masing peserta diberi sebuah label. Mbak Hanny meminta untuk menyebutkan sebuah benda langit untuk kemudian dituliskan pada label tersebut lalu ditempelkan di punggung pasangannya. Nah, pasangan tersebut menebak nama benda langit apakah yang ada di punggungnya dengan cara membaca tulisan personifikasi dari benda langit tersebut. Dan dalam latihan pertama ini, pasanganku memberiku nama : Matahari.
2. Melintasi Waktu
Katanya, ketika sebuah tulisan buntu, coba mulailah tulis dengan sebuah kalimat, “Saya ingat, ketika…..”
Sembilan tahun.
Apa yang bisa kamu ingat ketika aku menyebutkan frasa itu?
Sekolah dasar? Kartun di Minggu pagi ? Bermain-main? Atau apa?
Itulah yang menjadi latihan kedua. Menuliskan kembali kejadian yang dapat diingat ketika berumur sembilan tahun. Enam puluh detik adalah waktu hitung mundur kami untuk menuliskannya, dan yang kuingat dari umur sembilan tahunku adalah bermain bongkar pasang.
Ah, betapa rindu aku akan masa itu.
Masa yang hanya ada kata bermain di dalamnya.
Masa kanak-kanak.
3. Melihat Ayah, Melihat Ibu
Indera penglihatan adalah indera yang paling sering digunakan penulis dalam cerita. Oleh karenanya, ditahap ini Mbak Hanny meminta kami untuk menuliskan dengan hanya menggunakan unsur indera penglihatan saja dengan subjek Ayah ataupun Ibu. Lagi, satu menit waktu diberikan. Masing-masing kami menuliskan apa yang kami lihat dari Ibu ataupun Ayah.
Aku menuliskan tentang Ibu.
Tentang kebiasaan Ibu menyiapkan sarapan pagi dengan menu yang menjadi kesukaanku. Nasi goreng putih. Lengkap dengan telur mata sapi, timun, tomat dan kerupuk udang.
Entah dengan cara apa aku menuntaskan rindu untuk merasai kembali masakan Ibu.
4. Mendengar Dirimu Berbicara
Cara membuat dialog yang natural adalah dengan mendengar diri kita bicara atau dengan mendengarkan orang lain yang bicara. Pada tahap ini peserta dihadapkan dengan situasi ada seorang teman 1 yang sedang berbicara mengenai teman lainnya (teman 2) yang berkata buruk mengenai diri kita. Lalu para peserta diminta memberikan reaksi atas apa yang dikatakan oleh teman 1. Reaksi itu bisa berupa dialog ataupun narasi.
5. Membaui Kenangan Lama
Aku pikir dengan membaca judulnya saja, kami para peserta akan diajak untuk bermain-main dengan ingatan. Kenangan.
Salah total.
Asumsiku runtuh seketika saat panitia membagikan berbagai jenis jeruk – kasturi, nipis, mandarin, sunkist – kepada peserta untuk digunakan dalam latihan. Ternyata, kami diberi tugas untuk mendeskripkan jeruk yang telah ada di hadapan dengan cara membauinya. Bicara membaui, berarti bicara tentang indera penciuman atau hidung. Cerita apa yang bisa kami cipta dengan aroma dari jeruk tersebut.
“Bau yang barusan memenuhi penciuman, bau yang sama dengan lantai rumah dipagi hari. Ketika Ibu baru saja selesai mengepel lantai dan aku akan bermain di atasnya. Aroma yang menyegarkan dan menyenangkan……”
Ada yang bisa menebak, jeruk jenis apa yang berada di atas mejaku saat itu?
6. Mengecap Perjumpaan Pertama
Di mana pertama kali kamu berjumpa dengan orang yang kamu kasihi?
Berawal dari pertanyaan itu jugalah, latihan ini dimulai. Kupikir kami akn disuruh menuliskan tempat pertama versi masing-masing. Lagi, aku salah. Kami malah diberi sebuah situasi :
Di sebuah gerobak nasi goreng. Saat sedang makan nasi goreng, tiba-tiba seorang yang (pernah atau masih) dikasihi datang. Lalu ceritakan tentang : RASA NASI GORENG YANG SEDANG DI MAKAN.
7. Merasakan Patah Hati (Mari Menggalau Bersama)
Kurasa ini adalah latihan paling mudah. Karena eh karena selama ini aku banyak menulis tentang sesuatu yang bernuasa patah hati. Tentang kehilangan. Dan dalam ‘olahraga jari’ kali ini kami diminta untuk mendeskripsikan reaksi tubuh ketika sedang patah hati atau merasakan kehilangan. Reaksi tubuh tersebut dapat berupa : mata berkaca-kaca, telapak tangan yang berkeringat, degup jantung yang berbeda lebih keras, kaki yang gemetaran dll.
“Hampa.
Kosong dan tidak terasa lagi degupan di dada. Ketika kulihat banyak orang yang berkumpul mengitari ranjang yang telah dipindahkan ke ruang depan. Aku berharap akan ada air yang turun dari mata, layaknya orang yang sedang merasa kehilangan…..”
8. Tempat Itu Bercerita
“Rombongan anak-anak muda dengan ransel dan buku-buku di tangan berebutan menujuku. Entah apa lagi kali ini yang akan mereka bicarakan. Aku sudah bosan mendengar obrolan mereka tentang bagaimana cara mengakomodir masyarakat agar mau ikut serta bersama mereka ke jalanan pada perayaan kemerdekaan bulan depan. Apa mereka pikir masyarakat akan mau dengan mudah melakukannya jika tanpa selipan beberapa lembar ‘kertas’ yang bisa masyarakat gunakan untuk membeli makanan esok hari.”
Kira-kira tempat seperti apa yang menjadi sudut pandangku kali?
9. Meneruskan Yang Sudah Ada
Yang sudah ada di sini maksudnya adalah kalimat pertama dari sebuah cerita. Misalnya :
“Saya percaya bahwa bantaran sungai itu berhantu, …………”
Salah satu alternatif untuk melatih konsistensi menulis bisa dengan menerapkan cara ini. Pilihlah satu kalimat pertama dari buku yang menjadi kesukaan. Tulis ulang. Lalu lanjutkan kalimat kedua dan selanjutnya dengan kalimat sendiri.
10. Bertanya: Bagaimana Jika ?
Hidup adalah serangkaian kejadian sebab – akibat. Tidak ada suatu peristiwapun yang tidak memiliki sebab dan akibat, sekarang adalah bagaimana cara kita memandang suatu peristiwa tersebut agar dapat mengenali sebab dan menyikapi akibat dari peristiwa tersebut dengan bijak. Bertanya, ‘bagaimana jika’ dapat menghadirkan berbagai kemungkinan yang menambah ‘kaya’ naskah kita.
Formula ‘bagaimana jika’ bisa sangat membantu jika kita mengalami kebuntuan dalam menulis. Bagaimana jika tokoh A tidak bertemu dengan tokoh B di busway jurusan Kota? Kenapa harus di busway jurusan Kota, bukannya di Harmoni? Lalu bagaimana jika tokoh B tidak menyimpan tumbler milik tokoh A yang tertinggal?
Selain membantu, ‘bagaimana jika’ juga bisa sangat merepotkan jika penulis pada akhirnya bingung dan mudah terdistraksi dengan berbagai skenario kemungkinan yang dapat terjadi. Karenanya penulis diharap mampu setia pada alur atau plot yang telah dirancangnya dengan memikirkan variasi ‘bagaimana jika’ yang sesuai dengan cerita yang diinginkan.
11. Mula, Ketika, Akhirnya
Dalam setiap cerita kehidupan, maupun cerita dalam sebuah buku akan selalu ada mula, ketika (proses) dan akhirnya. Tahapan itu tidak selamanya berjalan linier, bisa saja yang dianggap orang lain sebagai sebuah akhir, tapi menurut si penulis, cerita itu adalah awal baginya.
12. Mau, Hampir Dapat, Terhalang, Terancam. Akhirnya dapat atau tidak?
Menuliskan sebuah buku tak ubahnya menuliskan miniatur kehidupan nyata. Bedanya sebagai seorang penulis, kita berperan layaknya ‘Tuhan’ atas apa yang ditulis. Apa yang kita ingin sampaikan pada pembaca dengan menghadirkan tokoh A, tema B dsb? Apa yang menjadi keinginan dari tokoh A? Dapatkah dia mencapai keinginan tersebut? Atau apa-apa saja yang menjadi halangan atau ancaman dalam upayanya meraih apa yang menjadi keinginannya?
Pola itulah yang selalu tersedia dalam sebuah buku. Untuk membuat pola itu terasa nyata, dibutuhkanlah outline. Sebuah outline atau kerangka cerita yang selesai seperti telah menyelesaikan cerita itu setengahnya. Lima puluh persennya lagi adalah komitmen dan konsistensi penulis untuk patuh/tidaknya keinginan untuk menyelesaikan tulisannya. Meskipun dalam pengerjaannya tidak sedikit penulis yang malah bergeser dari outline yang telah dibuatnya, sehingga nantinya dapat muncul sebuah plot twist yang ‘menipu’ pembaca. Itu tidaklah mengapa. Biasanya sebuah plot twist pulalah yang membuat pembaca merasa, buku tersebut layak untuk dimiliki, terlepas dari ending yang bahagia, sedih ataupun realistic.
*****
Aku harus berpacu dengan waktu untuk hadir di workshop selanjutnya, yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang. Mengambil tema ‘Make Your Own Book With What You Have And What You Can Do, aku dengan senang hati mengeluarkan segala perlengkapan yang telah dibawa : crayon, spidol, gunting, lem dan dua lembar kertas berisi materi teks dan materi visual yang akan kugunakan untuk membuat bukuku.
Sayangnya semangat yang membara di awal tidak bertahan sampai akhir. Aku malah sangat mengantuk dan bosan di tengah-tengah presentasi. Ditambah lagi diberikan jeda waktu sekitar 10 menit untuk melakukan relaksasi (yoga) dengan memejamkan mata sejenak. Udara dingin yang berasal dari air konditioner, perut yang memaksa untuk segera diisi ibarat kombinasi yang tepat untuk mendukungku tidur meski hanya sekejap. Untungnya sebelum aku benar-benar jatuh tertidur, Mbak Lala meminta kami untuk mulai membuat buku dengan benda-benda yang telah dibawa.
Gunting siap.
Crayon ada.
Materi teks dan visual telah sedia.
Maka dimulailah aku mereka bagaimana akan membentuk bukuku sendiri di atas empat lembar kertas yang telah dibagikan panitia di awal acara.
Kertas pertama ; berisi peta pikiran atau mind mapping atas apa yang ingin kita tuliskan dalam buku kita nanti.
Kertas kedua ; tampilan dari back cover dan front cover buku kita. Kita bebas mengekspresikan seperti apa ingin mendandani tampilan buku kita.
Kertas ketiga dan keempat ; lembar yang menjadi isi dari buku kita. Tempat di mana cerita itu berada.
Menyadari keterbatasanku dalam hal menggambar apalagi melukis, maka aku menyiapkan beberapa gambar yang kuambil dari google untuk mendukung cerita yang ingin kutempelkan di kertas tersebut. Meskipun begitu, aku belum juga menyelesaikan bukuku dengan baik dan tepat waktu. Karenanya aku berencana untuk mengulang kembali membuatnya di rumah. Kali ini dengan lebih serius dan terencana.
Semoga aku segera menyelesaikannya.
Aamiin

Bermain di IRF part 1

Desember ke sepuluh di tahun ini telah kutandai dalam penanggalan sebagai sesuatu yang dinanti. Acara tahunan yang menjembatani para penggiat literatur – penulis, pembaca, penerbit – kembali digelar. Museum Nasional menjadi saksi berkumpulnya para penyuka atau mungkin pencinta buku merayakan acara yang digagas oleh Goodreads Indonesia, bernama, Indonesia Readers Festival (IRF) atau Festival Pembaca Indonesia. Ini kali kedua aku mengikutinya. Berbeda dari tahun lalu, ketika aku berjalan sendirian memutari satu demi satu booth dari berbagai penerbit, di IRF yang sekarang aku bersama dengan dua orang rekan yang sungguh baik hati karena bersedia menjadi fotografer dari tiap moment yang telah kulewati selama acara berlangsung (semoga menjadi ladang amal untuk kalian, karena membuat orang bahagia aka senang akan mendapat pahala bukan?)

Aku menjadi orang yang ingkar.

Selisih 90 menit dari waktu temu yang disepakati membuatku berjalan sendirian menuju tempat penyelenggaraan. Tapi tak mengapa karena kemampuanku membaca petunjuk tempat sudah mengalami kemajuan, tidak lagi ada tersasar seperti tahun lalu. Dua orang teman telah tiba lebih dahulu. Acara belumlah dimulai ketika aku melangkahkan kaki ke dalam ruang berkapasitas 50-60 orang tersebut. Tak sampai lima menit aku duduk, mataku menemukan sosok yang akan menjadi pembicara dalam workshop yang akan kuikuti pagi kala itu. Seorang perempuan yang kukagumi. Setidaknya sejak aku membacai rekam jejaknya dalam dunia kepenulisan yang telah sepuluh tahun lamanya. Perempuan yang biasa disapa dengan “Mbak, W.”

“Udah sana minta tanda tangannya sekarang aja, sebelum ramai.” Temanku memberi saran.

“Nanti ajalah, Mbak W nya masih sibuk liatin laptop. Gak enak, nanti ganggu pulak.” Aku beralasan. Padahal lebih tepatnya aku sungkan dan pemalu 😛 (tapi sungguh jika kalian sudah mengenalku dengan baik, pemalu yang tadi kukatakan bertransformasi menjadi ‘malu-maluin’).

Tak habis akal, temanku malah mengajari bagaimana cara memulai percakapan. “Awali dengan senyum, nanti juga dia bakalan senyum.” Kira-kira begitu petuahnya. Temanku itu belum tahu saja, bahwa ada seorang anak Adam yang ketika aku tersenyum hanya padanya, alih-alih membalas dengan senyum juga, wajah datar tanpa ekspresi malah yang kudapatkan, eh kok jadi curcol kenangan lama ya, maafkan 🙂

Singkat kata, singkat cerita, aku dan dia jatuh cinta. 

Eh bukan, bukan, maksudnya singkat kata, singkat cerita aku dan temanku itu beranjak menuju meja Mbak W dan memintanya untuk membubuhkan autograf di buku Life Traveler kepunyaanku. Buku yang kukirim khusus dari kampung agar dapat ditandatangani langsung oleh penulisnya. Tak lengkap rasanya bila hanya mendapat sebuah tanda tangan tanpa mengabadikannya secara visual dalam wujud potret.

Banyak wawasan baru yang kudapatkan selama mengikuti proses workshop yang bertajuk “Creative Writing 101”. Insya Allah, aku akan menceritakan ‘permainan jari’ apa saja yang dilakukan dalam workshop tersebut di postingan yang selanjutnya. Sekalian bercerita juga tentang workshop lainnya yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang tentang “Make Your Own Book With What You Have and What You Can Do” yang juga aku hadiri.

15443052_10207832482234184_7734129306871638396_o
udah pasang gaya maksimal, eh malah blur huhu 😦

 *****

Sarapan, tidak.

Makan siang, lewat.

Biasanya pada pukul 15.00 aku telah mengonsumsi nasi, minimal sekali. Namun karena padatnya acara yang kuikuti hari itu tidak menyempatkanku untuk keluar gedung mencari warteg terdekat. Alhasil, perutku harus bersyukut karena masih kuberi nutrisi berupa dua potong biskuit berlapis gula, beberapa roll stik cokelat dan sebotol air mineral. Setidaknya dapat sedikit mengganjal rasa lapar yang sedari tadi sudah terasa sembari menunggu rangkaian acara selesai pada pukul 17.00.

Selain kedua workshop yang telah kusebutkan, aku juga turut menjadi penonton yang menyaksikan talkshow dan peluncuran perdana buku karangan dari Adhitya Mulya – Bajak Laut dan Purnama Terakhir.

Jika tahun lalu aku memiliki cukup banyak waktu untuk mengitari dan singgah di tiap booth, kali ini tidak. Mungkin hanya sekitar 15-30 menit alokasi waktu antara :

…. aku berdiri menatap satu persatu tumpukan buku di meja panjang bernama arena : book swap.

…. berpindah ke meja satunya yang berisi buku-buku bersampul cokelat yang telah diberi petunjuk, bernama arena : blind date book.

15400900_10207832575756522_2898579477677576684_n

15369082_10207832530955402_4020707477077182244_o
Hasil blind date books and book swap (^_^)

…. berjalan-jalan dari satu booth ke booth lainnya lalu melihat seorang penulis kesayangan ada di sana.

“Mbak Mo, boleh foto bareng gak?”

“Tunggu…” ada jeda dalam kalimatnya “Indri ya? aku ingat kan, padahal udah setahun lalu.”

Aku kaget. Tidak menduga sama sekali kalau Mbak Mo mengingat namaku. Secara pertemuan pertama kami adalah setahun lalu, dalam IRF juga.

“Sebentar ya, aku mau ngobrol sebentar sama Kang Adit”

15392998_10207832499794623_7861304295648976710_o
Menangkap moment temu dengan Mbak Morra 🙂

*****

IRF 2016 ini juga menjadi kali kedua aku melihatnya. Dia yang kumaksud bukan penulis, melainkan pembaca yang entah mengapa dulu pernah hadir di mimpiku setahun silam. Dia masih sama seperti pertama aku menatapnya, dengan kacamata, kumis tipis dan janggut yang sedikit. Kali ini dia mengenakan jaket abu-abu dengan sepatu kets bertuliskan diadora.

Aku senang melihatnya lagi, meski tanpa ada sensasi kupu-kupu di perutku. Hidup adalah drama. Namun tidak semua kejadian dalam hidup sesuai dengan drama kesukaan kita yang biasa disaksikan dalam layar kaca. Misalnya saja ketika dua orang bersilang jalan, mengapa dalam realitanya waktu tidak berjalan lambat dan pelan hingga pada akhirnya dua orang tersebut dapat mengenali satu sama lain. Coba saja di dalam drama layar kaca, sudah pasti akan ada yang namanya slow motion yang menandakan inilah awal mereka bertemu.

Ya, aku bersilang jalan dengannya.

Pintu keluar yang menjadi latar.Aku berniat kembali ke gedung pasca menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan dia sedang menuju tempat yang baru saja kudatangi.

*****

Rintik hujan yang turun.

Bergesernya waktu makan.

Lelahnya tubuh karena sedari pagi melakukan aktivitas dengan membawa 5 buku dalam tas di selempangan bahu dan 4 sisanya dalam goodie bag.

Lalu ditambah dengan terlambat munculnya bus bernomor AC 34.

Membuatku menutup mata di tengah perjalanan pulang. Padahal biasanya aku bukanlah orang yang mudah tertidur dalam transportasi umum. Mungkin itu terjadi karena akumulasi semuanya, dan semakin lengkap dengan dinginnya suhu ruangan dalam bus tersebut. Aku jatuh tertidur dan kembali tersadar ketika kondektur mengatakan “Islamic, Islamic.”

*****

PS : Terima kasih untuk kedua rekan yang meluangkan waktunya untuk bermain bersamaku di IRF kali ini.

Terima kasih kepada F untuk pinjaman buku kesukaannya.Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi diacara serupa tahun depan.

Aamiin.

15356584_10207832518355087_1214878249229915518_n
ki-ka : Mbak Morra, Mbak Windy, Mbak Lala, Kang Adit

[bukan review] Detective Conan 89

detektif-conan-89

“Sinar matahari menyebabkan udara di dalam kantong menghangat hingga mengembang lalu melayang karena kepadatan udara di luar kantong lebih rendah daripada di dalam. Kantong berwarna hitam akan memudahkan untuk mengumpulkan panas matahari, sedangkan bentuk silinder untuk memudahkan menghangatkan udara di dalam kantong sampai ke pusatnya.”

Mungkin saja dulu hal semacam ini pernah dipelajari dalam pelajaran sains, namun sesungguhnya aku tidak mengingatnya sama sekali #plak #maafkanakuibubapakguru. Terima kasih Tuan Aoyama Gosho telah menambah lagi wawasanku dengan adanya kasus ‘ufo’.

Ditambah lagi dengan penjelasan Conan mengenai kesan pertama dari sebuah benda yang tertangkap oleh mata, yang dipengaruhi baik ukuran maupun warna yang ada di sekitarnya.

“Kesan yang terlihat mata itu dipengaruhi oleh ukuran benda di sekitarnya. Makanya jadi terlihat berukuran sama. Jika warna di sekelilingnya hitam, maka warna yang di kelilingnya akan terlihat lebih terang dari sesungguhnya.”

Selalu ada sisi positif dan negatif dalam segala hal, termasuk tentang penampilan fisik seseorang. Jika orang yang kita sukai memiliki wajah yang rupawan plus body proporsional, pastinya kita akan bangga mengenalkannya pada semua orang. Buruknya, banyak orang lain yang juga menyadarinya lalu akan mencoba mendekatinya juga. Saingan pun semakin banyak. Itulah yang dirasakan oleh penggemar Kazunobu Chiba yang berupaya membuat Chiba menguruskan berat badannya, tapi berakhir dengan mengirimi cokelat yang banyak untuk Chiba.

Bukan hanya itu saja, aku pun dibuat mupeng dengan isi surat yang diberikan oleh Master Shukichi Haneda pada Yumi.

Kapankah aku bisa menerima surat seperti itu dari orang yang aku cintai?

Kapan?

Kapan?

Oh Tuhan, Kapankah?

..

..

..

..

Sudah. Cukup. Dramanya.

4 balon matahari untuk Detektif Conan volume 89.

[Resensi] Purple Eyes

Judul : Purple Eyes
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Inari
Terbit : April 2016
Halaman : 144 halaman

img-20160917-01292

“Senang menulis surat, menggunakan segel dari lilin cari berwarna merah, tidak tahu apa-apa soal ‘Harry Potter’. Gadis ini sebenarnya berasal dari zaman apa?” (Hal : 71)

Adalah Solveig, gadis misterius dan aneh yang tiba-tiba hadir dan mengusik hidup Ivarr Amundsen. Solveig yang mengaku berasal dari Inggris datang bersama bosnya Halstein untuk memesan boneka troll mungil pada Ivarr. Awalnya Ivarr menganggap kehadiran Solveig seperti gadis-gadis kebanyakan yang terpikat akan pesonanya, memintanya untuk menemaninya ke kafe, ke pesta atau berbelanja. Namun nyatanya Solveig malah meminta Ivarr pergi menemaninya ke tempat-tempat yang mengingatkan Ivarr pada adiknya, Nikolai – yang meninggal karena dibunuh dengan keji.

Meski telah mengunjungi tempat-tempat tersebut, Ivarr tak juga merasakan emosi apa-apa di sana. Kehampaan, kehilangan ataupun kesedihan. Ibarat patung lilin, kemampuan merasanya seakan mati, bahkan ketika Nikolai meninggal, Ivarr tak menangis. Ada yang tidak benar dalam diri Ivarr, sehingga Solveig berusaha untuk menghidupan kembali emosi dalam diri Ivarr – tentu saja itu karena perintah Halstein – sang dewa kematian yang sengaja turun ke bumi bersama asistennya – Solveig, untuk mencari pembunuh berantai yang telah dengan keji mengambil lever para korbannya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan Ivarr?

Mengapa dia tidak merasakan emosi apa-apa terkait kematian adiknya?

Lalu mengapa Halstein dan Solveig mendatanginya?

*****

Cukup enam puluh menit waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan Purple Eyes. Bahasa sederhana dengan alur yang mengalir tidak membuatku sulit memahami novel ini, meski latar Norwegia dengan segala makhluk mistis yang diceritakan, baru kali pertama ini kuketahui.

Lagi, novel ini sungguh khasnya Mbak Prisca, dingin dan sedikit kelam. Meski bernuansa suram, novel ini juga memiliki pesan tersirat dan sisi hangat di dalamnya. Seperti misalnya, selalu ada alasan di balik setiap sikap atau tindakan seseorang, contohnya Ivarr yang lebih memilih tidak merasakan daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi. Bahkan ketika dihadapkan pada pilihan untuk membenci seseorang yang memang ‘pantas’ untuk dibenci.

“Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih” (Hal : 117)

Membaca novel ini membuatku teringat pada salah satu drama korea yang pernah ku tonton. Tentang seorang perempuan yang nyaris mati dan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa. Ada kesamaan di dalamnya, seperti adanya pilihan bagi orang-orang yang ‘nyaris’ mati untuk memutuskan ingin melanjutkan hidup atau menyerah saja dan berjalan menuju gerbang kematian.

Aku tahu ini semacam mitos atau mungkin pula dongeng, karena sejatinya kematian adalah hak prerogatif si Pemilik Kehidupan. Namun bukan berarti Allah tidak mengabulkan permohonan hambanya yang masih ingin hidup bukan? Kurasa karena itulah ada ucapan ‘Semoga panjang umur’ pada tiap perayaan ulang tahun.

Harapan, mungkin salah satu dari alasan mengapa kita sebagai manusia masih ingin terus hidup.

Akhirnya, tiga sayap Hades ku pinjam untuk Purple Eyes

P.S :

Entah mengapa aku menyukai Hades/Halstein, yah bukan karena tampangnya yang cukup cantik untuk seorang dewa kematian atau tingkahnya yang kadang sewenang-wenang, tapi kurasa ada ‘sesuatu’ dalam karakternya yang layak disukai (oh oke, ini memang subjektif sekali) haha 😀

[Semacam] Review – Pulang

pulang-5691e8292a7a61520fb229e4

Pulang pada hakikat kehidupan.

Pulang, memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan (hal : 219)

Hanya karena libur teramat panjang dan aku tidak ingin mati gaya, maka selain nama besar tere liye sebagai pengarang – aku pernah membaca beberapa bukunya dan tidak masalah dengan cara berceritanya – dan judul yang sesuai dengan kejadian yang ketika itu ku lalui, maka aku membawa serta buku ini bersama daftar buku pinjaman lainnya.

PULANG

Ya, ketika itu aku sedang pulang. Ke kota di mana aku dilahirkan.

Buku ini pun ku bawa pulang.

Romansa, keluarga, dan kepergian menuju masa depan (merantau) adalah beberapa bagian yang berkelindan dalam buku ini, pikirku pada awalnya. Namun ternyata tebakan ku sedikit meleset. Sama sekali tidak ada nuansa romansa antara laki-laki dan perempuan dalam buku ini, tapi tidak berarti aku kecewa akan keseluruhan isi buku.  Meski aku merasa tertipu dengan asumsiku sendiri, aku tidak lantas dapat meletakkannya begitu saja. Banyak wawasan baru yang aku ketahui setelah membacanya, tentang shadow economy – dulu sekali pernah dengar tentang bagaimana para pengusaha-pengusaha kaya menjalankan bisnisnya dan keterlibatan mereka dalam ‘dunia gelap’ soal perputaran uang – tentang cara menjadi seorang ninja dan samurai sejati serta filosofi pistol dari seorang Salonga.

Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing (hal : 101).

Semua orang di dunia hitam mengenal kakekmu, Bujang. Dia adalah jagal ternama hingga pulau seberang. Julukannya ‘Si Mata Merah’ karena matanya selalu terlihat merah. Bisikkan nama kakekmu di perempatan jalan, satu kota akan bergegas masuk ke dalam rumah, meringkuk terkencing-kencing. Sebutkan nama kakekmu di balai bambu, satu kota akan bergegas pulang, memadamkan lampu (hal : 144).

 

Pulang berhasil menyentuh sisi melankolisku tanpa balutan cinta-cintaan ‘keju’ yang biasanya ada dalam novel romance.

Buku ini menyajikan lebih dari itu.

Perkara pilihan hidup yang seringnya tidak adil dan sulit untuk dipilih, lalu dilain hari akan menyesali mengapa waktu tidak dapat diputar ulang.

Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan (hal : 262)

Hidup ini sebenarnya perjalanan panjang, yang setiap harinya disaksikan oleh matahari (hal : 336)

Tentang keberserahan diri pada apa-apa yang telah menjadi rencanaNya. Yakinilah  bahwa apa yang telah ditulis olehNya adalah skenario terbaik yang memang hanya mampu dilalui oleh kita sebagai pemeran utamanya.

Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egosime. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja (hal : 219)

“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran” (hal : 340)

Tentang cinta pada keluarga – meski tanpa ada kesamaan ikatan darah. Tentang kesetiaan, pengorbanan dan kesabaran.

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain (hal : 188).

Bersabarlah, maka gunung-gunung akan luruh dengan sendirinya, lautan akan kering. Biarkan waktu menghabisi semuanya (hal : 288)

Serta tentang sejauh apa pun langkah kaki ini menapak, sekelam apa pun jalan yang pernah di tempuh, Sang Pemilik kehidupan senantiasa menanti kita untuk kembali pulang kepadanya.

Karena cinta yang paling hakiki adalah cinta Sang Pencipta pada hambanya.

“Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan. Segelap apa pun hitamnya jalan yang ku tempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang (hal : 400)

Dan pada akhirnya, nilai sempurna – lima – untuk suara panggilan pulang yang berasal dari Tuhan.

 

[Resensi] Apa Pun Selain Hujan

Judul            : Apa Pun Selain Hujan

Penulis        : Orizuka

Penerbit      : GagasMedia

Terbit           : April 2016

Halaman      : 288

image

“Aku mohon, Kay,” kata Wira, tak tahan lagi melihat Kayla yang sudah kuyup.  “Apa pun selain hujan.” (halaman : 217)

Hujan adalah ‘musuh’ bagi seorang Wirawan Gunadi.

Setidaknya sejak hari itu, ketika hujan turun deras kala Wira bertanding taekwondo dengan sahabatnya, Faiz Hasan dalam Jakarta Cup Open Tournament 2013. Pada akhir pertandingan, Wira berhasil menang dengan mendaratkan tendangan berputar ke arah kepala yang mengenai rahang atas Faiz. Namun kemenangan itu tidak lagi berarti, karena bersamaan dengan itu Wira telah kehilangan sahabatnya. Sekaligus cinta dan juga cita-citanya.

Tak ingin terus terbayang oleh masa lalu, Wira memutuskan pergi meninggalkan Jakarta untuk berkuliah di Malang dan tinggal bersama neneknya. Tidak mudah bagi Wira untuk melanjutkan hidupnya pasca kejadian itu. Bayangan masa lalunya kerap menghantui apabila hujan turun. Ingatan akan Faiz, Nadine dan juga taekwondo.

Sampai pada suatu hari, Wira tidak dapat melarikan diri lagi dari masa lalunya ketika dia berusaha membantu seorang perempuan – Kayla – yang diganggu preman. Tanpa sadar, dia kembali menggunakan kemampuan taekwondonya untuk menghajar preman itu. Kayla yang ternyata seorang taekwondoin pun segera menyadarinya, namun Wira menyangkalnya. Tak percaya begitu saja, Kayla mengajak Wira menemaninya ke UKM dengan alasan melihat kucing yang mereka selamatkan ‘bersama’.  Di sana Kayla sengaja menyerang Wira untuk membuktikan dugaannya.

Kayla sangat menyayangkan kenapa Wira tidak ingin kembali menekuni taekwondo, karena sepertinya Wira telah mahir dalam olahraga itu. Penasaran membuat Kayla mencari tahu apa terjadi pada hidup Wira di masa lalu. Tanpa dia sadari hal itu jualah yang akan membawa kembali luka dan bayangan masa lalu Wira.

Lalu apa yang akan terjadi pada Wira?

Mampukah Wira bangkit dari kenangan buruk masa lalunya lantas melanjutkan kembali hidupnya?

“Nggak apa-apa Wira. Selama kamu tahu letak kesalahanmu dan bersedia memperbaiki diri, nggak apa-apa.” (halaman : 56)

*****

Ini adalah buku kesekian dari Orizuka yang pernah aku baca. Kalau biasanya Orizuka menulis masa muda yang cerah ceria dan riang gembira, kali ini sedikit berbeda. Nuansa hujan yang sendu kelabu tergambar jelas dalam kisah Wira.

Hujan. Kenangan.

Kenangan. Hujan.

Kenangan dan hujan tampaknya dua hal yang sulit dipisahkan. Entah sudah berapa banyak buku yang mengaitkan keduanya. Hujan seakan punya magis untuk memerangkap setiap kenangan yang ingin diingat ataupun yang tidak sengaja teringat. Aku pun punya kenangan akan hujan, syukurlah bukan kenangan buruk layaknya kenangan milik Wira.

Bagiku hujan selalu membawa ingatan masa kecil yang membahagiakan. Berlarian menembus hujan dengan teman sebaya, meski pada akhirnya harus siap sedia menerima omelan dari Ibu. Hujan juga mengingatkanku bahwa akan selalu ada sinar cerah mentari setelahnya.

Sunshine after the rain.

Seperti kisah dalam novel ini, hujan menjadi masa lalu Wira yang kelam, dan aku menyukai saat Wira mencoba untuk bangkit menghadapi masa lalunya. Dan tidak boleh ketinggalan kehadiran Sarang juga berarti bagi proses bangkitnya Wira dari masa lalu.

“Ada studi yang bilang kalau hewan peliharaan bisa mengurangi stress dan memperbaiki mood. Dengan membelai bulunya atau memperhatikan mereka bermain kita bisa terhibur.” (halaman : 86)

Dalam novel ini, aku malah jatuh hati pada karakter teman-teman satu jurusan Wira yang hangat, akrab walau kadang absurd. Pasti senang rasanya jika punya teman-teman seperti Junaedi, Dion, Ramdhan, dll. Mereka tidak menjauhi Wira meskipun Wira jelas-jelas tidak membuka diri pada mereka. Untuk karakter Wira maupun Kayla, Orizuka membuatnya dengan baik. Wira yang tidak agresif, penyendiri, dan takut pada hantu terlihat serasi bila dipasangkan dengan karakter Kayla yang blak-blakan dan agresif.

Bicara tentang latar, Orizuka sukses membuatku ingin berkunjung ke Batu Night Spectacular dan menyaksikan festival lampion. Pasti indah. Dari segi konflik, sedari awal telah dapat diduga bahwa masa lalu yang menjadi sebab. Orizuka mengemasnya dengan sangat baik, bagaimana akhirnya Wira dapat mengatasi masa lalunya itu dengan bantuan peran keluarga, teman-teman dan yang paling utama adalah dirinya sendiri.

“Saya tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kamu, tetapi kamu sekarang ada di sini. Kamu sekarang ada di sini. Kamu tidak bisa mundur. Kamu hanya bisa berjuang.” (Halaman : 222)

Memaafkan diri sendiri adalah salah satu cara untuk terus dapat melanjutkan hidup.

Setidaknya itulah pesan yang kupahami dari buku 288 halaman ini. Sekelam apa pun masa lalu yang pernah terjadi, percayalah akan selalu ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran untuk melangkah lebih baik ke depan.

….. semua orang pernah berbuat kesalahan. Kalian juga harus belajar memaafkan diri kalian sendiri.” (Halaman 268)

Terakhir, aku memberikan empat medali emas untuk kisah ini.