[Resensi] Lautan Langit

Judul : Lautan Langit
Penulis : Kurniawan Gunadi
Halaman : 203
Penerbit :  Langitlangit Creative Studio

CdPj2nmUEAAnyw2

“Semoga Allah menyelamatkan orang-orang yang lemah karena jatuh cinta.” (Hal : 6)

Pernah sesekali aku membaca tulisannya dari postingan status seorang teman maya. Itu kali pertama aku mengenal namanya. Sebatas kenal dan hei, aku menyukai gaya menulisnya. Sederhana tapi mengena dalam jiwa. Merasa relate dengan situasi yang terjadi pada diri, segera aku menekan tombol jempol pada postingan tersebut. Sepertinya temanku – yang bahkan aku tak tahu darimana circle pertemanan kami terkait, kawan masa kecil bukan, teman semasa sekolah juga tidak – itu juga menyukai gaya menulis dirinya, terlihat dari cukup seringnya dia mencatut tulisan-tulisan kepunyaannya.

Dari situlah semua bermula.

Tak hanya berhenti di sana, dalam flatform lain aku menemukannya. Tanpa sengaja. Tulisannya kembali mengambil hatiku. Tidak perlu berpikir dua kali aku pun mengikuti official blog miliknya, Kurniawan Gunadi.

Menyelusuri tiap tulisan yang telah dipublikasikannya. Membaca satu persatu, dan sampai pada satu halaman entah dipostingan yang mana, aku baru tahu kalau ternyata dia telah menerbitkan buku. Dua buku. Kemana saja aku selama ini, kenapa baru tau sekarang?

Satu dari dua bukunya lah yang ingin kubicarakan.

Lautan Langit.

Buku keduanya yang kupilih untuk lebih mengenal tulisan Mas Gun (begitu sapaan akrabnya). Katanya orang cerdas adalah orang yang mampu menjelaskan sesuatu secara sederhana. Nah dalam tulisan ini aku merasa begitu. Sederhana, manis sekaligus menyentuh. Meski sebagian besar isi buku ini berputar soal ‘menemukan-yang-namanya-pasangan-hidup’ Mas Gun mengemas itu semua dengan untaian kalimat sederhana namun membekas di hati pembacanya (apa hanya aku saja yang merasa begitu?) dan sama sekali tidak terlihat picisan. Selain itu dalam buku ini juga banyak kisah tentang cinta orang tua terhadap anak-anaknya dengan memberinya pesan-pesan bijaksana yang mampu membuatku mbremes mili dan jadi kangen sama keluarga. Salah satu judul tulisan yang ku maksud adalah “Sebelum Esok” dan “Nasihat Ayah”.

Lautan langit adalah kumpulan cerita yang dibagi dalam tiga part.

Ilustrasi cantik yang ada dalam tiap part menegaskan apa yang biasanya terjadi di pagi, siang dan sore hari. Ya, ketiga part tersebut adalah :

Pagi.

Memandang LANGIT DI KACA JENDELA membawa ingatanku akan NASIHAT AYAH kala itu, di hari SEBELUM ESOK kukemas koper, bahwa sejauh manapun langkah ini membawaku pergi, ingatlah satu hal yang pasti RESTU ORANG TUA harus selalu mengiringi. Agar nantinya perjalanan terlalui dengan ringan.

Jilbab yang baik adalah jilbab yang membuatmu bisa shalat tanpa mukena lagi, kamu bisa melaksanakan shalat dengan pakaian dan jilbabmu itu. Karena pakaian dan jilbabmu sudah memenuhi syarat sebagai pakaian untuk shalat. Menutup aurat. (Nasihat Ayah – Hal : 59)

Siang.

Nak,

Meski SEJUTA PASANG MATA memandangmu dengan tatapan miring, meragukan tampilan fisikmu, yang kata orang, kurang menarik. Kurang sempurna. Ketahuilah PASTI (AKAN) ADA seorang hawa yang menerimamu apa adanya, karena dia telah paham bahwa untuk MENCINTAIMU ADA CARANYA. Dia mengerti bersama kemudahan akan ada kesulitan. Bersama kelebihan BIASANYA selalu ada kekurangan. Dari sanalah dia belajar untuk senantiasa mengucap SYUKUR atas apa yang telah Tuhan gariskan dalam takdir hidupnya. Termasuk untuk menjadi istrimu, kelak.

Hawa itu mengusap bulir air yang membasahi pipinya dengan segera. Dia tak ingin calon suaminya mendapati dia menangis di hari bahagia mereka. Mungkin dia lupa, kalau suaminya tak mampu mengetahui gaun warna apa yang sedang dia kenakan sekarang. Dan bahwa dia telah tanpa izin membuka sepucuk surat yang berisi PESAN IBU KEPADA ANAK LAKI-LAKINYA TENTANG CINTA.

“Ada orang-orang baik yang sengaja dihadirkan dalam hidup kita hanya untuk menguji perasaan kita, bukan untuk menjadi pasangan hidup kita.” (Syukur – Hal : 134)

Sore.

DENGAN CARA KITA SENDIRI, kita dapat MEMPERJUANGKAN mimpi. ORANG-ORANG YANG MENULIS apa yang menjadi mimpinya mungkin lupa bahwa selain daftar panjang tentang apa yang ingin diraih dan bagaimana cara menggapainya, ada satu cara yang tidak boleh dilewatkan, yakni MENJAGA DOA yang disertai usaha keras untuk dapat mewujudkannya.

“Rumah menjadi sesuatu yang paling sering kita tinggal pergi tapi selalu berhasil membuat kita merasa ingin pulang.” (Menjaga Doa – Hal : 177)

Sebagai penutup, jika ingin membaca tulisan ringan yang memiliki makna mendalam, yang syahdu untuk dinikmati dengan segelas teh hangat dan kudapan renyah, tidak usah ragu untuk memasukkan Lautan Langit dalam daftar bacaanmu selanjutnya.

“Perjalanan yang sesungguhnya adalah kepulangan bukan kepergian.”

 

Catatan :

Kata berhuruf kapital adalah judul dari beberapa kumpulan cerita yang paling kusukai dalam buku 203 halaman ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s