[Resensi] Di Tanah Lada – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Aku akan menyebut mereka Salt dan Pepper.

“Lada itu bumbu masak yang bikin perut hangat. Dia temannya garam. Di meja yang ada ladanya, pasti ada garam juga.” (Hal : 88)

lada atau Pepper dan garam atau Salt.

Mereka adalah dua sahabat baik yang bertemu di sebuah warung makan.  Salt, adalah anak berumur 6 tahun yang baru saja pindah ke Rusun Nero. Rusun yang sama yang juga dihuni oleh Pepper.  Meski baru berusia 6 tahun, Salt adalah anak yang pintar berbahasa Indonesia. Berbekal kamus pemberian dari Kakek Kia saat usianya menginjak tahun ketiga, Salt selalu membawa kamus ke manapun dia pergi. Untuk menemukan arti dari kata-kata yang sering diucapkan oleh orang dewasa – yang  tidak dia mengerti.

Kepindahannya ke Rusun Nero adalah karena Papanya. Papa yang dianggapnya hantu, orang jahat dan monster. Papa yang selalu membuat Mamanya menangis. Yang bahkan ingin mengunci dirinya yang sedang tidur di dalam koper. Papanya yang boros dan suka berjudi. Selain Pepper dan Salt, Rusun Nero juga memiliki penghuni baik hati di lantai 4 seperti Kak Suri – yang mengajari Pepper Bahasa Inggris – Mas Alri – yang mengajari Pepper bermain gitar serta Ibu, Bapak pemilik Rusun.

Masalah mulai muncul saat Papanya Pepper mensetrika tangan Pepper, hingga Salt yang saat itu berada di lokasi segera membawa Pepper ke tempat Kak Suri, untuk mencari perlindungan sekaligus pengobatan. Kak Suri membawa Pepper ke rumah sakit dan berencana untuk melaporkan tindakan Papanya Pepper ke polisi. Sementara Salt, tak ingin jauh dari Pepper. Dia merasa bahwa mereka mengalami nasib yang sama. Memiliki Papa yang jahat. Bahwa, semua papa di dunia ini jahat.

“Skeptis, maksudnya kamu berhenti percaya pada terlalu banyak hal. Kamu berhenti percaya kalau di dunia ini ada hal yang baik. Ada Papa yang baik, ada orang yang baik, ada nasib yang baik. Kamu berhenti percaya kalau kamu nggak perlu mati dan bereinkarnasi untuk bisa hidup bahagia.” (Hal : 196)

Salt dan Pepper menjadi anak yang skeptis akibat perlakuan orangtua mereka sendiri. ‘Melarikan diri’ mereka anggap sebagai jalan untuk dapat hidup bahagia. Maka mereka pun mulai melakukan perjalanan yang tanpa disadari dapat mengungkap masa lalu Pepper.

*****

17-05-01-23-33-02-030_photo

Di Tanah Lada

Pantas saja rasanya novel ini menjadi salah satu pemenang dalam sayembara DKJ 2014. Topik yang dipilih Ziggy sebenarnya adalah topik umum yang sering menjadi fenomena di Ibukota. Tentang kehidupan di Rumah Susun. Tentang kebiasaan berjudi pada masyarakat. Tentang KDRT. Tentang pergaulan bebas serta perihal berbahasa Indonesia yang baik, yang makin terpinggirkan dengan penggunaan istilah-istilah asing.

Yang membedakan adalah sudut pandang penceritaannya. Melalui kacamata anak berusia 6 dan 10 tahun Ziggy mencoba melihat bagaimana anak-anak berusaha memahami dunia orang dewasa. Bagaimana efek yang ditimbulkan dari KDRT bagi anak serta tentang bagaimana menyikapi sebuah kesalahan yang terjadi akibat dari pergaulan bebas di masa lalu.

Beberapa sindiran halus yang kutemukan dalam novel berjumlah 244 halaman ini, seperti misalnya :

“Yang lebih penting daripada bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat.” (Hal : 66)

“Aku menangis karena orang dewasa tidak mengerti apa-apa.” (Hal : 92)

Penulis juga sedikit menyentil fenomena pasca perceraian yang kerap di masyarakat perceraian dalam kalimat polos yang diucapkan oleh Pepper saat dia diberi boneka Pinguin oleh Salt.

“Aku dan kamu sama-sama boleh main dengan bonekanya,” jelas Pepper. “Kadang-kadang, bonekanya ikut aku, kadang-kadang ikut kamu.”

“Memangnya bisa begitu?”

“Bisa dong. Kayak punya anak. Anak, kan punya Papa dan Mama. Jadi, mereka bagi-bagi.” (Hal : 108)

Karena POV nya dari seorang anak, maka dialog-dialog khas anak-anak pun tertulis dalam beberapa kalimat yang mengundang senyum simpul saat membacanya.

Capture+_2017-05-01-23-53-21

Masih ada beberapa kalimat-kalimat yang kusukai dari buku ini :

Ada banyak orang yang menunduk ketika seseorang meninggal. Orang-orang tertarik dengan kuku kaki dan lantai marmer ketika itu terjadi (Hal : 5)

“Tidak ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan – sayang atau tidak – kalau kamu tidak mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar.” ( Hal : 8)

 “Budi bahasa baik membentuk manusia bersahaja.” (Hal : 103)

Sedih sekali, tidak ada bintang di Jakarta. Aku bilang, “Kalau begitu, bagaimana caranya permohonan orang Jakarta bisa terkabul.” (Hal : 123)

“Yang menurut kamu bagus, nggak berarti bagus untuk orang lain, tahu?” (Hal : 138)

Aku bilang ke Kakek Kia, sulit sekali menemukan ‘kebenaran’ dalam kamus. Lalu, dia tampak sedikit sedih. Dan, kata Kakek Kia, “Lebih sulit lagi menemukannya di dunia nyata.” (Hal : 210)

Yang sedikit menganggu pikirku kala menyelesaikan novel ini adalah, kok yah Salt dan Pepper itu cerdas untuk anak seumuran mereka. Agaknya setelah semua ‘kekerasan fisik dan mental’ yang mereka terima dari orang-orang terdekatnya yang membuat mereka lebih awal mendewasa, namun tetap tidak kehilangan ciri khas kekanakan mereka – polos, ingin tahu dan blak-blakan. Inginnya sih aku memberi bintang sempurna untuk novel ini, tapi yah endingnya itu membuatku mengurungkannya.

4,5 /  5 bintang untuk persahabatan sehidup semati  Garam dan Lada.

Judul : Di Tanah Lada | Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie | Halaman : 244 | Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Capture+_2017-05-01-23-52-30

[Kutipan Kesukaan] – dalam novel The Architecture of Love – Ika Natassa

Mood kembali unggul.
Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa menulis ulang beberapa kutipan yang kusuka dari novel teranyar karya Kak Ika Natassa. Novel The Architecture of Love ini sudah menjadi incaran untuk dibaca sejak Kak Ika mengabarkan akan merilisnya dalam bentuk buku (awalnya TAoL ini adalah cerita bersambung yang menggunakan fitur #PollStory di Twitter, yang dimulai pada malam Tahun Baru 2016 dan kemudian hadir secara berkala di Hari Selasa dan Kamis malam sampai episode terakhirnya itu pada 14 Februari 2016). Aku baru berkesempatan membaca novel ini di bulan terakhir di 2016, itu juga karena kebaikan hati seorang teman – yang merupakan fansnya Kak Ika garis keras – untuk meminjamkan novel miliknya.
Makasih banyak Fit, atas pinjamannya 🙂

img-20161221-01363
Lihatlah betapa banyak pembatas yang kugunakan untuk menandai kutipan kesukaan dalam novel ini.

Hidup ini dijalani dan dinikmati, bukan dipikirkan (halaman : 13)

Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do (halaman : 15)

Ada beberapa pertanyaan yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya, tapi justru kita tidak bisa menjawab (halaman : 19)

Tidak ada orang yang tidak tahu kapan dia pulang jika tidak ada sesuatu yang besar yang membuatnya pergi (halaman : 40)

Pemikiran manusia memang terbiasa untuk memutar ulang kejadian masa lalu di dalam kepala, memainkan beberapa skenario berbeda – “what if” scenarios – yang dapat mengubah kejadian itu, kebiasaan yang dalam psikologi disebut counterfactual thinking (halaman : 41)

Fascination is what keeps a writer going. To be able to write, a writer has to be fascinated about a particular something that becomes the idea for the story (halaman : 42)
Kita memang tidak pernah bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan (halaman : 60)

People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory (halaman : 66)

Semua perempuan selalu jadi gampangan di depan laki-laki yang sudah terlanjur dia sayang (halaman : 164)

Patah hati tidak akan pernah jadi lebih gampang walau sudah dialami berkali-kali. Tidak akan pernah jadi berkurang sakitnya (halaman : 225)

Orang-orang bilang, siapa pun yang kita ingat pertama kali ketika ingin berbagi berita bahagia, bisa jadi sesungguhnya adalah orang yang paling penting dalam hidup kita tanpa kita sadari (halaman : 266)

Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir (halaman : 270)

Diingat oleh seseorang yang disayangi itu juga menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan memiliki alasan untuk pulang (halaman : 288)

Bermain di IRF – part 2 End

Tidak ada kelas penulisan yang bisa membuatmu jadi penulis, kalau kamu tidak menulis.

Aku setuju dengan kalimat di atas, gimana ceritanya mau disebut sebagai seorang penulis, kalau tidak pernah atau jarang menulis?
Bertolak dari sanalah aku dan dua orang teman yang juga memiliki keinginan untuk menulis sebuah buku bersepakat mendaftar di acara workshop yang diadakan oleh Goodreads Indonesia bekerjasama dengan Writing Table, 10 Desember lalu.
Dalam workshop yang digawangi oleh Mbak Hanny dan Mbak Windy ini, para peserta diajak bermain-main dengan kata dengan melakukan beberapa latihan berdasarkan teknik-teknik menulis kreatif. Tanpa aku sadari, dari beberapa teknik latihan yang diterapkan, aku sudah pernah melakukannya. Seperti ketika aku memposisikan diriku sebagai benda mati atau tempat yang bercerita dan saat aku menuliskan tentang membaui kenangan lama serta bagaimana menulis dengan meneruskan yang sudah ada – dalam konteks ini yang dibahas mengenai melanjutkan kalimat pertama.
******
“Coba kamu ceritakan kejadian pagi ini yang kamu alami sehingga bisa sampai di sini, sekarang? Saya beri waktu selama tiga menit. Silahkan!”
Si pembicara, yang pada kesempatan kali ini adalah Mbak Hanny Kusumawati mengawali acara Creative Writing 101 kala itu, dengan menunjuk salah satu peserta untuk bercerita selama tiga menit, dan peserta lainnya menjadi pendengar.
Aku tidak menduga akan kemana Mbak Hanny membawa arah pembicaraan ini sampai ketika tiba saatnya tiga menit yang diberikan telah habis dan pendengar disuruh mengambil kesimpulan atas apa yang telah diceritakan oleh si pencerita tadi. Dalam tiga menit apa yang telah terjadi?

Dalam tiga menit, pikiran kita dapat menuangkan 1000 kata atau lebih.

Alangkah mudahnya pekerjaan menulis jika dalam waktu tiga menit kita dapat menghasilkan 1000 kata atau lebih seperti layaknya ketika kita disuruh bercerita tentang apa yang baru saja dilakukan. Namun nyatanya tidak seperti itu, seorang (calon) penulis seringnya merasa takut akan tulisan pertama yang buruk. Padahal tulisan yang buruk lebih baik daripada tidak ada tulisan sama sekali, sehingga merasa tidak percaya diri karena dia sendiri yang mengkerdilkan tulisannya.

Menulis adalah pekerjaan yang sulit dan lama.

Setali tiga uang dengan yang Mbak Windy jelaskan atas pertanyaan salah satu peserta workshop : “Bagaimana cara mengawetkan ide?”
Kadang, kita telah memiliki sebuah ide yang dirasa brilian untuk tulisan kita berikutnya, namun pada perjalanannya, kita sendiri juga yang meragukan akankah ide ini ‘masih’ brilian seperti ketika pertama kali kita memikirkannya. Sehingga kita pun seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah kita yakini.
Mesin pembunuh paling kejam adalah diri kita sendiri
Bagaimana kita dapat menyakinkan orang lain tentang ide brilian kita, kalau kita sendiripun tidak memberi keyakinan penuh atas ide telah kita usahakan. Aku percaya ide tidak serta merta datang secara tiba-tiba – meski kadang tidak pernah diduga, ide muncul disaat-saat kita tidak memikirkannya – dia perlu dipancing, diusahakan, dicari. Lalu setelah usaha itu, tegakah kita memandang remeh ide tersebut? Setelah kita menemukannya, yang dilakukan selanjutnya adalah komitmen kita untuk mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah karya, buku yang bertuliskan nama kita.
Menulis itu perkara disiplin dan komitmen
Oleh karenanyalah, dalam postingan kali ini aku ingin mengabadikan apa yang telah Mbak Hanny dan Mbak Windy sampaikan dalam workshop berdurasi dua jam tersebut yang berasal dari catatan – catatan yang kurangkum selama proses berlangsungnya workshop :

“MENULIS LEKAS, MENULIS JUJUR”

Ciri menulis lekas adalah dengan tidak berhentinya pena.
Adalah aturan main pertama dalam workshop kali ini. Para peserta diharapakan dapat menulis lekas dengan dibatasi oleh waktu ditiap latihannya. Bisa jadi semenit, dua menit hingga lima menit. Tergantung pada tingkat latihannya.
Mengapa harus menulis lekas?
Masalah yang mungkin sering dihadapi seorang penulis (setidaknya olehku) adalah keinginan untuk segera mengedit apa yang telah ditulis. Itu adalah salah satu pantangan dalam menulis lekas. Menulislah terlebih dahulu apa pun yang terlintas dalam kepala, tak peduli seberapa buruk atau rancu kata-kata yang dihasilkan. Setelah semua tulisan itu selesai, baru beri waktu untuk membacanya ulang, boleh dengan cara dilafalkan keras-keras atau dengan membaca dalam hati. Eksekusi dengan tega kalimat yang tidak efektif.
Editlah sampai kita merasa tulisan kita telah cukup bagus.
((Ini adalah masalah terbesar yang kualami. Aku amat suka mengedit tulisan yang belum selesai, hingga pada akhirnya tulisan itu tidak kunjung selesai karena menurutku ada saja kekurangannya))
Lalu mengapa harus menulis jujur ?
Tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur. Menulis jujur dapat menghindari hal-hal yang klise. Dengan menulis jujur kita bisa menjadi lebih kaya, maksudnya, akan ada banyak sisi lain yang dapat digali dengan kita menulis jujur. Misalnya saja, coba rekonstruksikan pertemuan pertama kamu dengan orang yang sekarang menjadi (sebut saja) kekasih, apakah kisahnya akan sama seperti yang film-film itu tayangkan ; di perpustakaan, tabrakan dalam koridor kampus atau mungkin karena sering bertemu dalam commuter line? Pertemuan-pertemuan seperti itu terdengar klise sekali bukan? Tapi pasti ada sisi lain yang berbeda dari setiap orang yang mencoba menuliskan kisahnya dengan jujur. Sudut pandang yang berbeda dari masing-masing individu, karena pada dasarnya setiap orang itu berbeda.
Bagiku cara terbaik untuk mengaplikasikan menulis lekas, menulis jujur adalah dengan menuliskan sebuah jurnal harian. Istilah sederhananya sih nulis diary. Tulislah kejadian apa saja yang terjadi seharian ini. Dengan menuliskannya selain dapat mengabadikan kenangan, aku percaya menulis juga bisa ‘menyembuhkan’ luka atau penyesalan atas apa-apa yang tidak dapat diungkapkan melalui lisan.
*****
Peraturan telah disepakati, maka latihan pun dimulai :
1. Kenalan Yuk
Peserta diminta untuk berpasang-pasangan, lalu masing-masing peserta diberi sebuah label. Mbak Hanny meminta untuk menyebutkan sebuah benda langit untuk kemudian dituliskan pada label tersebut lalu ditempelkan di punggung pasangannya. Nah, pasangan tersebut menebak nama benda langit apakah yang ada di punggungnya dengan cara membaca tulisan personifikasi dari benda langit tersebut. Dan dalam latihan pertama ini, pasanganku memberiku nama : Matahari.
2. Melintasi Waktu
Katanya, ketika sebuah tulisan buntu, coba mulailah tulis dengan sebuah kalimat, “Saya ingat, ketika…..”
Sembilan tahun.
Apa yang bisa kamu ingat ketika aku menyebutkan frasa itu?
Sekolah dasar? Kartun di Minggu pagi ? Bermain-main? Atau apa?
Itulah yang menjadi latihan kedua. Menuliskan kembali kejadian yang dapat diingat ketika berumur sembilan tahun. Enam puluh detik adalah waktu hitung mundur kami untuk menuliskannya, dan yang kuingat dari umur sembilan tahunku adalah bermain bongkar pasang.
Ah, betapa rindu aku akan masa itu.
Masa yang hanya ada kata bermain di dalamnya.
Masa kanak-kanak.
3. Melihat Ayah, Melihat Ibu
Indera penglihatan adalah indera yang paling sering digunakan penulis dalam cerita. Oleh karenanya, ditahap ini Mbak Hanny meminta kami untuk menuliskan dengan hanya menggunakan unsur indera penglihatan saja dengan subjek Ayah ataupun Ibu. Lagi, satu menit waktu diberikan. Masing-masing kami menuliskan apa yang kami lihat dari Ibu ataupun Ayah.
Aku menuliskan tentang Ibu.
Tentang kebiasaan Ibu menyiapkan sarapan pagi dengan menu yang menjadi kesukaanku. Nasi goreng putih. Lengkap dengan telur mata sapi, timun, tomat dan kerupuk udang.
Entah dengan cara apa aku menuntaskan rindu untuk merasai kembali masakan Ibu.
4. Mendengar Dirimu Berbicara
Cara membuat dialog yang natural adalah dengan mendengar diri kita bicara atau dengan mendengarkan orang lain yang bicara. Pada tahap ini peserta dihadapkan dengan situasi ada seorang teman 1 yang sedang berbicara mengenai teman lainnya (teman 2) yang berkata buruk mengenai diri kita. Lalu para peserta diminta memberikan reaksi atas apa yang dikatakan oleh teman 1. Reaksi itu bisa berupa dialog ataupun narasi.
5. Membaui Kenangan Lama
Aku pikir dengan membaca judulnya saja, kami para peserta akan diajak untuk bermain-main dengan ingatan. Kenangan.
Salah total.
Asumsiku runtuh seketika saat panitia membagikan berbagai jenis jeruk – kasturi, nipis, mandarin, sunkist – kepada peserta untuk digunakan dalam latihan. Ternyata, kami diberi tugas untuk mendeskripkan jeruk yang telah ada di hadapan dengan cara membauinya. Bicara membaui, berarti bicara tentang indera penciuman atau hidung. Cerita apa yang bisa kami cipta dengan aroma dari jeruk tersebut.
“Bau yang barusan memenuhi penciuman, bau yang sama dengan lantai rumah dipagi hari. Ketika Ibu baru saja selesai mengepel lantai dan aku akan bermain di atasnya. Aroma yang menyegarkan dan menyenangkan……”
Ada yang bisa menebak, jeruk jenis apa yang berada di atas mejaku saat itu?
6. Mengecap Perjumpaan Pertama
Di mana pertama kali kamu berjumpa dengan orang yang kamu kasihi?
Berawal dari pertanyaan itu jugalah, latihan ini dimulai. Kupikir kami akn disuruh menuliskan tempat pertama versi masing-masing. Lagi, aku salah. Kami malah diberi sebuah situasi :
Di sebuah gerobak nasi goreng. Saat sedang makan nasi goreng, tiba-tiba seorang yang (pernah atau masih) dikasihi datang. Lalu ceritakan tentang : RASA NASI GORENG YANG SEDANG DI MAKAN.
7. Merasakan Patah Hati (Mari Menggalau Bersama)
Kurasa ini adalah latihan paling mudah. Karena eh karena selama ini aku banyak menulis tentang sesuatu yang bernuasa patah hati. Tentang kehilangan. Dan dalam ‘olahraga jari’ kali ini kami diminta untuk mendeskripsikan reaksi tubuh ketika sedang patah hati atau merasakan kehilangan. Reaksi tubuh tersebut dapat berupa : mata berkaca-kaca, telapak tangan yang berkeringat, degup jantung yang berbeda lebih keras, kaki yang gemetaran dll.
“Hampa.
Kosong dan tidak terasa lagi degupan di dada. Ketika kulihat banyak orang yang berkumpul mengitari ranjang yang telah dipindahkan ke ruang depan. Aku berharap akan ada air yang turun dari mata, layaknya orang yang sedang merasa kehilangan…..”
8. Tempat Itu Bercerita
“Rombongan anak-anak muda dengan ransel dan buku-buku di tangan berebutan menujuku. Entah apa lagi kali ini yang akan mereka bicarakan. Aku sudah bosan mendengar obrolan mereka tentang bagaimana cara mengakomodir masyarakat agar mau ikut serta bersama mereka ke jalanan pada perayaan kemerdekaan bulan depan. Apa mereka pikir masyarakat akan mau dengan mudah melakukannya jika tanpa selipan beberapa lembar ‘kertas’ yang bisa masyarakat gunakan untuk membeli makanan esok hari.”
Kira-kira tempat seperti apa yang menjadi sudut pandangku kali?
9. Meneruskan Yang Sudah Ada
Yang sudah ada di sini maksudnya adalah kalimat pertama dari sebuah cerita. Misalnya :
“Saya percaya bahwa bantaran sungai itu berhantu, …………”
Salah satu alternatif untuk melatih konsistensi menulis bisa dengan menerapkan cara ini. Pilihlah satu kalimat pertama dari buku yang menjadi kesukaan. Tulis ulang. Lalu lanjutkan kalimat kedua dan selanjutnya dengan kalimat sendiri.
10. Bertanya: Bagaimana Jika ?
Hidup adalah serangkaian kejadian sebab – akibat. Tidak ada suatu peristiwapun yang tidak memiliki sebab dan akibat, sekarang adalah bagaimana cara kita memandang suatu peristiwa tersebut agar dapat mengenali sebab dan menyikapi akibat dari peristiwa tersebut dengan bijak. Bertanya, ‘bagaimana jika’ dapat menghadirkan berbagai kemungkinan yang menambah ‘kaya’ naskah kita.
Formula ‘bagaimana jika’ bisa sangat membantu jika kita mengalami kebuntuan dalam menulis. Bagaimana jika tokoh A tidak bertemu dengan tokoh B di busway jurusan Kota? Kenapa harus di busway jurusan Kota, bukannya di Harmoni? Lalu bagaimana jika tokoh B tidak menyimpan tumbler milik tokoh A yang tertinggal?
Selain membantu, ‘bagaimana jika’ juga bisa sangat merepotkan jika penulis pada akhirnya bingung dan mudah terdistraksi dengan berbagai skenario kemungkinan yang dapat terjadi. Karenanya penulis diharap mampu setia pada alur atau plot yang telah dirancangnya dengan memikirkan variasi ‘bagaimana jika’ yang sesuai dengan cerita yang diinginkan.
11. Mula, Ketika, Akhirnya
Dalam setiap cerita kehidupan, maupun cerita dalam sebuah buku akan selalu ada mula, ketika (proses) dan akhirnya. Tahapan itu tidak selamanya berjalan linier, bisa saja yang dianggap orang lain sebagai sebuah akhir, tapi menurut si penulis, cerita itu adalah awal baginya.
12. Mau, Hampir Dapat, Terhalang, Terancam. Akhirnya dapat atau tidak?
Menuliskan sebuah buku tak ubahnya menuliskan miniatur kehidupan nyata. Bedanya sebagai seorang penulis, kita berperan layaknya ‘Tuhan’ atas apa yang ditulis. Apa yang kita ingin sampaikan pada pembaca dengan menghadirkan tokoh A, tema B dsb? Apa yang menjadi keinginan dari tokoh A? Dapatkah dia mencapai keinginan tersebut? Atau apa-apa saja yang menjadi halangan atau ancaman dalam upayanya meraih apa yang menjadi keinginannya?
Pola itulah yang selalu tersedia dalam sebuah buku. Untuk membuat pola itu terasa nyata, dibutuhkanlah outline. Sebuah outline atau kerangka cerita yang selesai seperti telah menyelesaikan cerita itu setengahnya. Lima puluh persennya lagi adalah komitmen dan konsistensi penulis untuk patuh/tidaknya keinginan untuk menyelesaikan tulisannya. Meskipun dalam pengerjaannya tidak sedikit penulis yang malah bergeser dari outline yang telah dibuatnya, sehingga nantinya dapat muncul sebuah plot twist yang ‘menipu’ pembaca. Itu tidaklah mengapa. Biasanya sebuah plot twist pulalah yang membuat pembaca merasa, buku tersebut layak untuk dimiliki, terlepas dari ending yang bahagia, sedih ataupun realistic.
*****
Aku harus berpacu dengan waktu untuk hadir di workshop selanjutnya, yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang. Mengambil tema ‘Make Your Own Book With What You Have And What You Can Do, aku dengan senang hati mengeluarkan segala perlengkapan yang telah dibawa : crayon, spidol, gunting, lem dan dua lembar kertas berisi materi teks dan materi visual yang akan kugunakan untuk membuat bukuku.
Sayangnya semangat yang membara di awal tidak bertahan sampai akhir. Aku malah sangat mengantuk dan bosan di tengah-tengah presentasi. Ditambah lagi diberikan jeda waktu sekitar 10 menit untuk melakukan relaksasi (yoga) dengan memejamkan mata sejenak. Udara dingin yang berasal dari air konditioner, perut yang memaksa untuk segera diisi ibarat kombinasi yang tepat untuk mendukungku tidur meski hanya sekejap. Untungnya sebelum aku benar-benar jatuh tertidur, Mbak Lala meminta kami untuk mulai membuat buku dengan benda-benda yang telah dibawa.
Gunting siap.
Crayon ada.
Materi teks dan visual telah sedia.
Maka dimulailah aku mereka bagaimana akan membentuk bukuku sendiri di atas empat lembar kertas yang telah dibagikan panitia di awal acara.
Kertas pertama ; berisi peta pikiran atau mind mapping atas apa yang ingin kita tuliskan dalam buku kita nanti.
Kertas kedua ; tampilan dari back cover dan front cover buku kita. Kita bebas mengekspresikan seperti apa ingin mendandani tampilan buku kita.
Kertas ketiga dan keempat ; lembar yang menjadi isi dari buku kita. Tempat di mana cerita itu berada.
Menyadari keterbatasanku dalam hal menggambar apalagi melukis, maka aku menyiapkan beberapa gambar yang kuambil dari google untuk mendukung cerita yang ingin kutempelkan di kertas tersebut. Meskipun begitu, aku belum juga menyelesaikan bukuku dengan baik dan tepat waktu. Karenanya aku berencana untuk mengulang kembali membuatnya di rumah. Kali ini dengan lebih serius dan terencana.
Semoga aku segera menyelesaikannya.
Aamiin

bukan review Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

51rQ38oOgXL._SX348_BO1,204,203,200_

Alasan utamaku membawa pulang buku ini dari arena bookswap di IRF 2015 kemaren adalah ingin melihat bagaimana contoh cerpen yang berhasil masuk ke berbagai media nasional. Nama Linda Christanty yang menjadi penulis mengusik rasa ingin tahuku tentang seperti apa isi kumpulan cerpen di dalamnya. Sebelumnya gak pernah baca karya Mbak Linda (tapi udah sering dengar namanya), namun setelah membaca kumcer ini aku semakin yakin bahwa untuk dapat menembus media nasional yang menjadi incaran, cerpen yang ditulis haruslah memiliki kekhasan dalam penulisan serta memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial budaya yang terjadi di sekitar.

Ada sepuluh cerita dalam buku yang memiliki 129 halaman ini, yakni :

Ketika Makan Kepiting | Zakaria | Karunia dari Laut | Sihir Musim Dingin | Jack dan Bidadari | Perpisahan | Kisah Cinta | Pertemuan Atlantik | Seekor Anjing Mati di Bala Murghab | Catatan tentang Luta; Manusia yang Hidup Abadi

dan yang membekas (baca : yang paling dipahami jalan ceritanya) adalah tiga cerpen berikut :

Zakaria => suka dengan twist yang hadir di akhir cerita.

Kisah Cinta => tentang ‘bunuh diri’ yang terjadi di sebuah rumah.

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab => pantas cerpen ini dipilih untuk menjadi judul dari kumcer. Cerpennya keren, mengambil latar di Afghanistan yang bermula dari seorang serdadu menembak mati seekor anjing tidak berdosa. Lewat kepiawaian Mbak Linda merangkai kalimat dengan bahasa yang sederhana, aku dapat ikut merasakan ‘kehilangan’ yang juga dirasakan Aref.

At least, buku kumcer ini (bukan) bacaan ringan yang dapat membuat kita sedikit berpikir, kira-kira ketika sedang menulis cerpen ini Mbak Linda sedang memberi perhatian pada isu-isu sosial budaya yang mana lagi ya.

[Resensi] Autumn Once More

Lima bintang untuk Autumn Once More.

Sebagai pembukaan gue mau said thanks to my bro yang udah ikhlas nyisihin uangnya untuk dikasih sama gue. Dan gue pake buat beli nih novel. Haha.

Tau nih novel dari Kak Ika yang rajin banget promoin novel ini dari twitternya, dan sebagai salah satu followernya yang rajin mantengin tl nya, taulah gue tentang nih novel yang ternyata adalah kumpulan cerpen dari para penulis kebanggan GPU aka Gramedia Pustaka Utama. Sebut saja, Ilana Tan, Ika Natassa dan AliaAzalea beserta para editor GPU yang ‘dipaksa’ untuk menulis sebuah karya cerita pendek. Alasan utama pengen beli kumpulan cerpen metropop ini sebenarnya adalah akibat rasa penasaran – lihat rasa penasaran gue akan sesuatu begitu besar – sama sosok Ale yang bakal digadang-gadang jadi objek delusinya para perempuan selain Harris Risjad dan Beno Wicaksono, tentu saja (dua tokoh utama dari novel Kak Ika sebelumnya Antologi Rasa dan Divortiare-Twivortiare, yang mampu membuat para perempuan berdecak kagum, ngiri, mimpi, dan berharap sosok Harris dan Beno adalah nyata. Dan rela-relain stalkingin twitternya Harris dan biniknya Beno – see, yang di suka si Beno nya, yang diintipin tweet istrinya. Maklum, Beno gak pake twitter).

Nah balik lagi ke kumpulan cerpen ini, ada tiga belas cerita pendek dari tiga belas ‘penulis’ yang mengisi 229 halaman novel ini. Temanya masih tentang cinta – yang merupakan tema yang tidak akan pernah habis dan basi untuk dibahas di alam semesta ini – dari masing-masing sudut pandang penulis. Ada kisah cinta tentang seorang anak perempuan pada mamanya. Cerita tentang pertemuan seorang Tanya dengan Ale dalam penerbangan ke Sydney yang sayang ceritanya mesti di potong karena ini bakal dibuatin novel sama Kak Ika nya yg janjinya rilis 2015. Hiks. Masih lama. Mesti sabar menanti Ale. Lalu ada kisah tentang seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang dijodohkan oleh Eyangnya, di hari dia mengetahui bahwa sahabat yang dijatuh cintainya juga menyukainya. Masih banyak cerita lain yang kalo gue sebutin satu-satu nanti jatuhnya jadi spoiler pulak. Btw, dari tiga belas cerita itu, ada dua cerita lagi yang gue suka banget, selain Critical Eleven nya Kak Ika tentunya.

  1. Perkara Bulu Mata, yang ditulis oleh Nina Addison.

Cerita tentang empat orang anak muda yang bersahabat sejak SMA, Vira, Lilian, Jojo dan Albert. Kisah dibuka dengan Vira yang curhat sama ketiga sahabatnya tentang masalah gebetannya, Tom. Alur yang cepat dan ringan membuat gue ‘ngeh’ mau kemana cerita ini dibawa. Dan benar saja, ujung-ujungnya berakhir dengan rasa suka sama sahabat sendiri, karena sekian lama bersama baru menyadari kalo, hei,, sahabat gue ternyata punya bulu mata panjang dan lebatnya.

‘Nggak heran, cuma dia yang bisa bikin orang curhat hanya dengan memberikan perhatian lewat matanya’ (Vira).

Yah ini hanya perkara bulu mata.

  1. Senja Yang Sempurna, karya Rosi L. Simamora.

Nama Rosi L. Simamora gak asing lagi di kuping gue, karena rajin merhatiin editor dari tiap buku yang gue baca, maka gue langsung ‘ting’ gitu tau kalo Mbak Rosi ini adalah salah satu editornya GPU yang juga mengeditori (bahasa apa deh gue ini) novel favorit gue LHHP dan LCHP nya Karla M. Nashar. CMIIW. Kalo gak salah inget, dia juga pernah jadi editornya salah satu novelnya Kak Ika (kalo gak salah nih yaa. Maklum ingatan udah lemah). Awal baca cerpennya Mbak Rosi, beneran bete dan ngebuat ngantuk. Abisnya isinya puitis semua, deskripsinya keren memang, cuma gue kadang gak suka aja kalo deskripsinya keindahan dalam tatabahasanya karena gue kadang jadi susah nangkep maksudnya (ini subjektif sekali memang, dan ini murni masalah otak gue aja kok. Upsss). Namun entah karena pengaruh ngantuk, lama-lama gue ngerti juga maksud cerpen ini, dan lagi-lagi karena subjektifitas, gue ngerasa nih cerpen ada mirip-miripnya sama kisah gue. Hahaha. Kepedean banget kan.

Tentang seorang perempuan selama lima tahun yang dengan sabar berusaha menyingkirkan tembok-tembok awan tebal dan menyeruakkan sinar-sinar matahari sekarat yang paling lembut dan paling tidak menyilaukan ke balik awan di langit. Namun langit itu tidak pernah mau mengakuinya, terlalu takut jujur akan perasaannya. Ya, perempuan itu adalah matahari sekarat pencinta senja, dan pemuda yang dicintainya adalah langit dengan tembok awan yang tebal. Hingga akhirnya perempuan itu memilih meninggalkan langit dan jatuh cinta pada hujan. Hujan yang diciptakan oleh langit dengan tembok awan tebalnya.

“Dan kamulah yang membuatku jatuh cinta pada hujan itu. Selalu kamu. Selalu kamu…”

Medan.

12 April 2013. 01.08

Ps : Dengan membeli buku ini, secara gak langsung juga ikutan nyumbang di Dana Kemanusiaan Kompas. Karena seluruh royalti dari buku ini akan disalurkan kesana. Sekalian menikmati isi bukunya, sekalian ikut membantu sesama (Lho kok, gue jadi ikutan promosi. Hohoho)