Bermain di IRF part 1

Desember ke sepuluh di tahun ini telah kutandai dalam penanggalan sebagai sesuatu yang dinanti. Acara tahunan yang menjembatani para penggiat literatur – penulis, pembaca, penerbit – kembali digelar. Museum Nasional menjadi saksi berkumpulnya para penyuka atau mungkin pencinta buku merayakan acara yang digagas oleh Goodreads Indonesia, bernama, Indonesia Readers Festival (IRF) atau Festival Pembaca Indonesia. Ini kali kedua aku mengikutinya. Berbeda dari tahun lalu, ketika aku berjalan sendirian memutari satu demi satu booth dari berbagai penerbit, di IRF yang sekarang aku bersama dengan dua orang rekan yang sungguh baik hati karena bersedia menjadi fotografer dari tiap moment yang telah kulewati selama acara berlangsung (semoga menjadi ladang amal untuk kalian, karena membuat orang bahagia aka senang akan mendapat pahala bukan?)

Aku menjadi orang yang ingkar.

Selisih 90 menit dari waktu temu yang disepakati membuatku berjalan sendirian menuju tempat penyelenggaraan. Tapi tak mengapa karena kemampuanku membaca petunjuk tempat sudah mengalami kemajuan, tidak lagi ada tersasar seperti tahun lalu. Dua orang teman telah tiba lebih dahulu. Acara belumlah dimulai ketika aku melangkahkan kaki ke dalam ruang berkapasitas 50-60 orang tersebut. Tak sampai lima menit aku duduk, mataku menemukan sosok yang akan menjadi pembicara dalam workshop yang akan kuikuti pagi kala itu. Seorang perempuan yang kukagumi. Setidaknya sejak aku membacai rekam jejaknya dalam dunia kepenulisan yang telah sepuluh tahun lamanya. Perempuan yang biasa disapa dengan “Mbak, W.”

“Udah sana minta tanda tangannya sekarang aja, sebelum ramai.” Temanku memberi saran.

“Nanti ajalah, Mbak W nya masih sibuk liatin laptop. Gak enak, nanti ganggu pulak.” Aku beralasan. Padahal lebih tepatnya aku sungkan dan pemalu 😛 (tapi sungguh jika kalian sudah mengenalku dengan baik, pemalu yang tadi kukatakan bertransformasi menjadi ‘malu-maluin’).

Tak habis akal, temanku malah mengajari bagaimana cara memulai percakapan. “Awali dengan senyum, nanti juga dia bakalan senyum.” Kira-kira begitu petuahnya. Temanku itu belum tahu saja, bahwa ada seorang anak Adam yang ketika aku tersenyum hanya padanya, alih-alih membalas dengan senyum juga, wajah datar tanpa ekspresi malah yang kudapatkan, eh kok jadi curcol kenangan lama ya, maafkan 🙂

Singkat kata, singkat cerita, aku dan dia jatuh cinta. 

Eh bukan, bukan, maksudnya singkat kata, singkat cerita aku dan temanku itu beranjak menuju meja Mbak W dan memintanya untuk membubuhkan autograf di buku Life Traveler kepunyaanku. Buku yang kukirim khusus dari kampung agar dapat ditandatangani langsung oleh penulisnya. Tak lengkap rasanya bila hanya mendapat sebuah tanda tangan tanpa mengabadikannya secara visual dalam wujud potret.

Banyak wawasan baru yang kudapatkan selama mengikuti proses workshop yang bertajuk “Creative Writing 101”. Insya Allah, aku akan menceritakan ‘permainan jari’ apa saja yang dilakukan dalam workshop tersebut di postingan yang selanjutnya. Sekalian bercerita juga tentang workshop lainnya yang dipandu oleh Mbak Lala Bohang tentang “Make Your Own Book With What You Have and What You Can Do” yang juga aku hadiri.

15443052_10207832482234184_7734129306871638396_o
udah pasang gaya maksimal, eh malah blur huhu 😦

 *****

Sarapan, tidak.

Makan siang, lewat.

Biasanya pada pukul 15.00 aku telah mengonsumsi nasi, minimal sekali. Namun karena padatnya acara yang kuikuti hari itu tidak menyempatkanku untuk keluar gedung mencari warteg terdekat. Alhasil, perutku harus bersyukut karena masih kuberi nutrisi berupa dua potong biskuit berlapis gula, beberapa roll stik cokelat dan sebotol air mineral. Setidaknya dapat sedikit mengganjal rasa lapar yang sedari tadi sudah terasa sembari menunggu rangkaian acara selesai pada pukul 17.00.

Selain kedua workshop yang telah kusebutkan, aku juga turut menjadi penonton yang menyaksikan talkshow dan peluncuran perdana buku karangan dari Adhitya Mulya – Bajak Laut dan Purnama Terakhir.

Jika tahun lalu aku memiliki cukup banyak waktu untuk mengitari dan singgah di tiap booth, kali ini tidak. Mungkin hanya sekitar 15-30 menit alokasi waktu antara :

…. aku berdiri menatap satu persatu tumpukan buku di meja panjang bernama arena : book swap.

…. berpindah ke meja satunya yang berisi buku-buku bersampul cokelat yang telah diberi petunjuk, bernama arena : blind date book.

15400900_10207832575756522_2898579477677576684_n

15369082_10207832530955402_4020707477077182244_o
Hasil blind date books and book swap (^_^)

…. berjalan-jalan dari satu booth ke booth lainnya lalu melihat seorang penulis kesayangan ada di sana.

“Mbak Mo, boleh foto bareng gak?”

“Tunggu…” ada jeda dalam kalimatnya “Indri ya? aku ingat kan, padahal udah setahun lalu.”

Aku kaget. Tidak menduga sama sekali kalau Mbak Mo mengingat namaku. Secara pertemuan pertama kami adalah setahun lalu, dalam IRF juga.

“Sebentar ya, aku mau ngobrol sebentar sama Kang Adit”

15392998_10207832499794623_7861304295648976710_o
Menangkap moment temu dengan Mbak Morra 🙂

*****

IRF 2016 ini juga menjadi kali kedua aku melihatnya. Dia yang kumaksud bukan penulis, melainkan pembaca yang entah mengapa dulu pernah hadir di mimpiku setahun silam. Dia masih sama seperti pertama aku menatapnya, dengan kacamata, kumis tipis dan janggut yang sedikit. Kali ini dia mengenakan jaket abu-abu dengan sepatu kets bertuliskan diadora.

Aku senang melihatnya lagi, meski tanpa ada sensasi kupu-kupu di perutku. Hidup adalah drama. Namun tidak semua kejadian dalam hidup sesuai dengan drama kesukaan kita yang biasa disaksikan dalam layar kaca. Misalnya saja ketika dua orang bersilang jalan, mengapa dalam realitanya waktu tidak berjalan lambat dan pelan hingga pada akhirnya dua orang tersebut dapat mengenali satu sama lain. Coba saja di dalam drama layar kaca, sudah pasti akan ada yang namanya slow motion yang menandakan inilah awal mereka bertemu.

Ya, aku bersilang jalan dengannya.

Pintu keluar yang menjadi latar.Aku berniat kembali ke gedung pasca menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan dia sedang menuju tempat yang baru saja kudatangi.

*****

Rintik hujan yang turun.

Bergesernya waktu makan.

Lelahnya tubuh karena sedari pagi melakukan aktivitas dengan membawa 5 buku dalam tas di selempangan bahu dan 4 sisanya dalam goodie bag.

Lalu ditambah dengan terlambat munculnya bus bernomor AC 34.

Membuatku menutup mata di tengah perjalanan pulang. Padahal biasanya aku bukanlah orang yang mudah tertidur dalam transportasi umum. Mungkin itu terjadi karena akumulasi semuanya, dan semakin lengkap dengan dinginnya suhu ruangan dalam bus tersebut. Aku jatuh tertidur dan kembali tersadar ketika kondektur mengatakan “Islamic, Islamic.”

*****

PS : Terima kasih untuk kedua rekan yang meluangkan waktunya untuk bermain bersamaku di IRF kali ini.

Terima kasih kepada F untuk pinjaman buku kesukaannya.Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi diacara serupa tahun depan.

Aamiin.

15356584_10207832518355087_1214878249229915518_n
ki-ka : Mbak Morra, Mbak Windy, Mbak Lala, Kang Adit
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s