[Resensi] Let’s Fall In Love – Rina Suryakusuma

Judul : Let’s Fall In Love

Penulis : Rina Suryakusuma

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Baca via ScooPremium

Capture+_2017-06-24-18-29-13

“Cara terbaik untuk melewati sesuatu adalah dengan mulai melangkah dan berjalan melaluinya. Bukan dengan membeku ketakutan dan tak berbuat apa-apa”

(Halaman : 137)

Memiliki jabatan sebagai Financial Analyst di sebuah hotel bintang lima tidak membuat Florida Adinegoro (Flo) merasa bangga apalagi nyaman dengan pekerjaannya. Analis cashflow, dasar pembiayaan awal, pembiayaan perbulan serta analisis return on assests terlihat bagai momok yang ‘menakutkan’ baginya. Bergelut dengan angka merupakan salah satu cara untuk membuat ‘ibunya’ melihat padanya, cara lainnya adalah dengan tetap mempertahankan hubungannya dengan Frans Sudrajat, si dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, walaupun Flo tidak bahagia.

Tekanan yang dihadapi oleh Flo sebenarnya berasal dari Ibunya yang selalu memaksakan kehendaknya pada Flo. Baik soal pekerjaan maupun pendamping hidup. Lagi pun ibunya selalu membandingkan Flo dengan Trisia – kakak Flo yang sangat berbeda dengannya. Di mata Ibunya, tak ada sisi baik yang dimiliki oleh Flo termasuk dalam selera berpakaian. Sialnya, Frans (pacar Flo) sependapat dengan ibunya. Dia beranggapan selera berpakaian Flo yang sedikit nyentrik dan unik seperti fondant kue warna-warni dan gadis gipsi.

Dalam pekerjaan, ketidakbahagiaan Flo berdampak pada hasil pekerjaannya yang salah dan berantakan, sehingga membuatnya menerima SP, agar lebih berhati-hati dalam menganalisa serta bersikap profesional dalam bekerja – dengan tidak berselancar di dunia maya lalu mengumpulkan berbagai macam resep masakan dan kue-kue serta tidak melakukan chat di sela-sela jam kerja.

Adalah Jonathan Aswary, General Manager yang pernah diberi kue kopi oleh Flo sekaligus orang yang memberikan surat peringatan kepada Flo karena ketidakbecusannya dalam bekerja. Dia jugalah yang berperan sebagai mentor bagi Flo dalam menghadapi asessment terkait penilaian kinerja Flo yang dilakukan oleh HRD hotel. Meskipun awalnya terkesan galak dan acuh pada Flo, sungguhnya Jo peduli padanya. Tanpa sadar, Jo pun mulai menyukainya.

Lalu apakah Jo akan menyatakan perasaannya pada Flo? Sementara Flo memiliki seorang kekasih? Dan apakah Flo akan melakukan sesuatu yang disukainya – yakni mengaplikasikan resep yang dilihatnya, membuat kue dan menu baru – walau tahu Ibunya tidak menyukainya?

“Menurutku, kamu harus melakukan apa yang membuatmu bahagia, Flo”

(Halaman : 150)

*****

Ini adalah karya pertama Rina Suryakusuma yang ku baca, aku menyukai cara Mbak Rina mendeskripsikan kue-kue buatan Flo. Detail dan jelas, sehingga aku bisa membayangkan bagaimana wujud visual dari kue yang dibawa Flo pada pertemuannya dengan orangtua Frans.

Bicara tentang karakter, Mbak Rina sukses membuatku mengernyit sebal pada karakter Frans yang pengen ditendang. Ironisnya, banyak karakter seperti ini dalam realitas sosial masyarakat kita. Belum lagi dengan penggambaran karakter Ibu yang tidak membuatku simpati sama sekali. Kok yah, ada gitu Ibu yang gak bisa diajak diskusi dan merasa paling tahu apa yang anaknya inginkan. Ibu yang sungguh egois sekali. Untungnya si tokoh utama (Flo) memiliki Bianca (teman sekantor) dan Trisia (kakak) yang berada dipihaknya, kalau tidak sungguh malang nasib Flo.

Karakter kesukaan? Tentu saja Jo, hahaha.

Sepintas aku merasa karakter Jo mirip karakter CEO-CEO dalam drama korea yang belakangan ini kutonton. Sikap jutek dan galak yang ditampilkannya adalah kamuflase agar orang yang disukainya tidak mengetahuinya. Namun dibalik itu, diam-diam memperhatikan dengan sayang, halah :p. Tentang plot, aku tidak menduga alasan mengapa Jo ‘memandang tidak suka’ pada Flo di awal. Ku pikir, itu murni karena ketidakbecusan Flo dalam bekerja. Bukan karena ada sesuatu pada diri Flo yang mengingatkan Jo akan masa lalunya di Surabaya.

Melalui tokoh Flo, novel ini membawa pesan untuk dapat memilih apapun itu – cita maupun cinta – dengan syarat : yang kita pilih nantinya adalah sesuatu yang kita suka. Yang dapat membuat kita bahagia. Karena kalau dengan senang hati mengerjakannya, apapun masalah yang terjadi, kita akan menganggapnya sebagai proses pembelajaran, dan tak enggan untuk segera bangkit memperbaikinya.

“Dengan hati, segala rintangan yang datang menerpa dapat kau terima dengan senyum dan tekad untuk memperbaiki diri.”

“Saat bekerja dengan hati, kau bahagia” (Halaman : 206)

Dan jika ternyata memiliki orangtua seperti Ibunya Flo, yang bisa dilakukan adalah tak pantang menyerah untuk selalu memberi penjelasan serta pengertian mengapa ingin mengambil pilihan tersebut, dan berusaha untuk bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil serta tak lupa berdoa pada Tuhan agar kiranya membuka pintu hati Ibu agar meridhoinya, karena kalau Ibu gak ridho, gawat juga nanti hehehe.

flying-fish-3[6]