[Resensi] Always and Forever, Lara Jean

20180111_224107

…cinta adalah tentang membuat keputusan-keputusan berani setiap hari… (hal : 180)

Seri ketiga dari serial gadis-gadis Song

Tersebutlah Lara Jean yang masih berpacaran dengan Peter Kavinsky dihadapkan pada pilihan-pilihan untuk masa depannya tentang pendidikan. Setelah kecewa karena tidak diterima di kampus impiannya yang juga kampus Peter (nantinya), Lara Jean membuat rencana. Dia ingin kehidupan kuliah dan cintanya berjalan mulus. Untuk itu menurutnya salah satu cara adalah dengan kuliah di kampus yang sama, UVA.

Namanya juga rencana belum tentu akan terlaksana.

“Um…. Sepertinya aku baru saja diterima di UNC Chapel Hill.” (hal : 211)

Apalagi saat dia mendapat kabar bahwa dirinya telah dikeluarkan dari daftar tunggu UNC yang berarti dirinya sah diterima sebagai mahasisiswa UNC (mungkin kalau di Indonesia UNC ini kayak UI atau kampus-kampus beken negeri kali ya?)

Lara Jean akan di UNC. Peter akan di UVA.

Jarak yang terentang di antaranya disinyalir akan membuat mereka sukar bertemu. Belum lagi Peter harus berjuang mempertahankan beasiswa Lacrossenya agar dapat terus berkuliah. Jika nanti intensitas pertemuan kian jarang, komunikasi (mungkin) nyaris hilang, akankah hubungan mereka masih dapat bertahan ?

“Ayolah, Covey. Kita menciptakan keberuntungan kita sendiri.” (hal : 9)

Lain pula dengan Margot.

Gadis sulung keluarga Song ini masih merasa aneh dengan kenyataan bahwa tetangga depan akan menikah dengan ayah mereka. Margot yang tidak dekat dengan Trina (calon ibu tirinya) memiliki kecemasan akan lunturnya kenangan tentang ibu kandungnya, tentang korea, jika ayahnya menikah. Bagaimana jika nanti Trina ‘menggantikan’ posisi ibu kandungnya?

Kitty, si bungsu adalah karakter yang paling kusuka sejak novel pertama ini ada. Meskipun yang paling kecil, tingkahnya seakan dia mengerti dunia orang dewasa. Dengan sikap sok tahu khas anak-anak, tingkah Kitty sungguh menggemaskan (apalagi ketika Kitty memaksa ingin ikut pesta bujang). Bayangkan jika Kitty tidak marah besar pada Lara Jean di seri pertama, maka bisa dipastikan surat itu tak akan sampai. Kitty adalah yang paling berbahagia dengan keputusan ayah yang ingin menikah.

*****

… keluarga bisa berkurang dan bisa bertambah. Satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah merasa bahagia karenanya, bahagia karena satu sama lain, asalkan kita masih memiliki satu sama lain… (hal : 336)

Jago olahraga. Tampan. Setia. Populer.

Siapa yang tidak ingin memiliki pacar pertama sekeren Peter Kavinsky. Lara Jean pun menyadari hal itu, hingga dia takut kehilangan Kavinsky saat mereka akan berpisah demi pendidikan. Beruntungnya Lara Jean karena dari hasil pemahaman pembaca moodyan sepertiku, Peter yang terlihat lebih mencintai Lara.

Novel 354 halaman ini memuaskan penantian pembaca akan kelanjutan hubungan Peter Kavinsky dan Lara Jean. Eksekusi akhirnya manis (aku suka kalimat kontrak yang Peter tuliskan di buku tahunan milik Lara) meski menurutku konfliknya baru mulai terasa mendekati akhir saat mereka mengadakan Minggu Pantai dan mencapai klimaks kala Ibu Peter berbicara empat mata dengan Lara.

 

PS :

Berbeda dengan 2 seri sebelumnya yang kumiliki dengan cuma-cuma. Always and Forever, Lara Jean adalah novel pertama yang kubeli secara preloved dan membawa novel cuma-cuma lain besertanya.

“Lihat, kan? Ada begitu banyak yang bisa membuatmu gembira, kalau kau membiarkan dirimu untuk gembira.” (hal : 109)

Advertisements

[Resensi] Let’s Fall In Love – Rina Suryakusuma

Judul : Let’s Fall In Love

Penulis : Rina Suryakusuma

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Baca via ScooPremium

Capture+_2017-06-24-18-29-13

“Cara terbaik untuk melewati sesuatu adalah dengan mulai melangkah dan berjalan melaluinya. Bukan dengan membeku ketakutan dan tak berbuat apa-apa”

(Halaman : 137)

Memiliki jabatan sebagai Financial Analyst di sebuah hotel bintang lima tidak membuat Florida Adinegoro (Flo) merasa bangga apalagi nyaman dengan pekerjaannya. Analis cashflow, dasar pembiayaan awal, pembiayaan perbulan serta analisis return on assests terlihat bagai momok yang ‘menakutkan’ baginya. Bergelut dengan angka merupakan salah satu cara untuk membuat ‘ibunya’ melihat padanya, cara lainnya adalah dengan tetap mempertahankan hubungannya dengan Frans Sudrajat, si dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, walaupun Flo tidak bahagia.

Tekanan yang dihadapi oleh Flo sebenarnya berasal dari Ibunya yang selalu memaksakan kehendaknya pada Flo. Baik soal pekerjaan maupun pendamping hidup. Lagi pun ibunya selalu membandingkan Flo dengan Trisia – kakak Flo yang sangat berbeda dengannya. Di mata Ibunya, tak ada sisi baik yang dimiliki oleh Flo termasuk dalam selera berpakaian. Sialnya, Frans (pacar Flo) sependapat dengan ibunya. Dia beranggapan selera berpakaian Flo yang sedikit nyentrik dan unik seperti fondant kue warna-warni dan gadis gipsi.

Dalam pekerjaan, ketidakbahagiaan Flo berdampak pada hasil pekerjaannya yang salah dan berantakan, sehingga membuatnya menerima SP, agar lebih berhati-hati dalam menganalisa serta bersikap profesional dalam bekerja – dengan tidak berselancar di dunia maya lalu mengumpulkan berbagai macam resep masakan dan kue-kue serta tidak melakukan chat di sela-sela jam kerja.

Adalah Jonathan Aswary, General Manager yang pernah diberi kue kopi oleh Flo sekaligus orang yang memberikan surat peringatan kepada Flo karena ketidakbecusannya dalam bekerja. Dia jugalah yang berperan sebagai mentor bagi Flo dalam menghadapi asessment terkait penilaian kinerja Flo yang dilakukan oleh HRD hotel. Meskipun awalnya terkesan galak dan acuh pada Flo, sungguhnya Jo peduli padanya. Tanpa sadar, Jo pun mulai menyukainya.

Lalu apakah Jo akan menyatakan perasaannya pada Flo? Sementara Flo memiliki seorang kekasih? Dan apakah Flo akan melakukan sesuatu yang disukainya – yakni mengaplikasikan resep yang dilihatnya, membuat kue dan menu baru – walau tahu Ibunya tidak menyukainya?

“Menurutku, kamu harus melakukan apa yang membuatmu bahagia, Flo”

(Halaman : 150)

*****

Ini adalah karya pertama Rina Suryakusuma yang ku baca, aku menyukai cara Mbak Rina mendeskripsikan kue-kue buatan Flo. Detail dan jelas, sehingga aku bisa membayangkan bagaimana wujud visual dari kue yang dibawa Flo pada pertemuannya dengan orangtua Frans.

Bicara tentang karakter, Mbak Rina sukses membuatku mengernyit sebal pada karakter Frans yang pengen ditendang. Ironisnya, banyak karakter seperti ini dalam realitas sosial masyarakat kita. Belum lagi dengan penggambaran karakter Ibu yang tidak membuatku simpati sama sekali. Kok yah, ada gitu Ibu yang gak bisa diajak diskusi dan merasa paling tahu apa yang anaknya inginkan. Ibu yang sungguh egois sekali. Untungnya si tokoh utama (Flo) memiliki Bianca (teman sekantor) dan Trisia (kakak) yang berada dipihaknya, kalau tidak sungguh malang nasib Flo.

Karakter kesukaan? Tentu saja Jo, hahaha.

Sepintas aku merasa karakter Jo mirip karakter CEO-CEO dalam drama korea yang belakangan ini kutonton. Sikap jutek dan galak yang ditampilkannya adalah kamuflase agar orang yang disukainya tidak mengetahuinya. Namun dibalik itu, diam-diam memperhatikan dengan sayang, halah :p. Tentang plot, aku tidak menduga alasan mengapa Jo ‘memandang tidak suka’ pada Flo di awal. Ku pikir, itu murni karena ketidakbecusan Flo dalam bekerja. Bukan karena ada sesuatu pada diri Flo yang mengingatkan Jo akan masa lalunya di Surabaya.

Melalui tokoh Flo, novel ini membawa pesan untuk dapat memilih apapun itu – cita maupun cinta – dengan syarat : yang kita pilih nantinya adalah sesuatu yang kita suka. Yang dapat membuat kita bahagia. Karena kalau dengan senang hati mengerjakannya, apapun masalah yang terjadi, kita akan menganggapnya sebagai proses pembelajaran, dan tak enggan untuk segera bangkit memperbaikinya.

“Dengan hati, segala rintangan yang datang menerpa dapat kau terima dengan senyum dan tekad untuk memperbaiki diri.”

“Saat bekerja dengan hati, kau bahagia” (Halaman : 206)

Dan jika ternyata memiliki orangtua seperti Ibunya Flo, yang bisa dilakukan adalah tak pantang menyerah untuk selalu memberi penjelasan serta pengertian mengapa ingin mengambil pilihan tersebut, dan berusaha untuk bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil serta tak lupa berdoa pada Tuhan agar kiranya membuka pintu hati Ibu agar meridhoinya, karena kalau Ibu gak ridho, gawat juga nanti hehehe.

flying-fish-3[6]