[Resensi] Elegi Rinaldo – Bernard Batubara

Judul : Elegi Rinaldo

Penulis : Bernard Batubara

Penerbit : Falcon Publishing

ISBN : 6026051406 (ISBN13: 9786026051400)
Halaman : 204
Series : Blue Valley
aldoo3
Edited by me

Elegi Rinaldo berkisah tentang pemuda kribo yang tak lagi menyukai roti. Dialah Aldo, food fotografer yang hampir memasuki usia kepala tiga – 28 lebih tepatnya – namun tak jua berniat untuk menikah. Baginya menikah itu adalah sesuatu yang konyol dan terikat dalam sebuah pernikahan adalah perbuatan bodoh. Toh, kalau sendirian saja sudah bebas dan bahagia ngapain juga harus menikah. Meskipun begitu, orang-orang terdekat Aldo – Tante Fitri, yang cerewetnya minta ampun dan penyuka Rihanna. Begitupun dengan Mbak Ratih (klien pertama Aldo yang membuatnya merasakan rindu akan kelengkapan sebuah keluarga) – malah  mendoakan agar dirinya segera membina rumah tangga.

“Happy Birthday, ya, Do! Makanya kamu tuh punya istri, biar kalo pulang kerja ada yang nungguin, masakin, nemenin makan.”

“Makasih, ya, Tante.”

Istri. Lagi-lagi istri. (Halaman : 9)

Ternyata bukan hanya Aldo yang menganggap menikah itu konyol, Jenny pun sama. Chef andalan UNO ini punya alasan mengapa dia berpikiran begitu. Alasan yang berasal dari masa lalunya.

Dua orang yang berpikiran sama. Bekerja dalam satu lingkungan dan sering menghabiskan waktu bersama,  mungkinkah ada yang terjadi di antara mereka?

Yep. Tepat.

Aldo yang mulanya merasa enggan berurusan dengan cewek jutek macam Jenny malah mulai menyadari bahwa bersama Jenny dia merasa nyaman. Buktinya dia bisa bercerita tentang kehilangan Ibu dan Rahayu – mantan kekasihnya – yang  menjadi alasan  mengapa Aldo menutup rapat dirinya dan tak ingin lagi memulai sebuah hubungan.

Rasa yang dimiliki Aldo tak sepihak, Jenny pun mulai menganggap Aldo lebih dari seorang rekan kerja. Namun sebagai seorang perempuan, menanti adalah hal yang lumrah bukan? Sayangnya yang dinanti tak menyadarinya sama sekali.

Sampai ketika, seorang dari masa lalu Jenny kembali, Dipa.

Kehadiran Dipa membuat Aldo berpikir ulang, perasaan seperti apakah yang dia miliki untuk Jenny? Siapkah Aldo kembali merasakan kehilangan?

*****

Novel ketiga Bara yang aku baca, setelah Cinta. (baca : Cinta dengan titik), Jika Aku Milikmu dan aku menyukainya. Memang belum sebesar rasa sukaku pada karya Bara yang lain – Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri – namun Elegi Rinaldo dirasa cukup untuk para penikmat cerita romansa, sepertiku.

Kisah yang dihadirkan dalam novel berhalaman 204 ini sungguhnya sederhana. Tentang dua orang yang enggan atau belum mau menikah (membuat sebuah hubungan lagi) karena berbagai alasan. Mungkin karena pernah merasakan kehilangan, pernah dikhianati atau masih belum dapat berdamai dengan penyesalan yang berasal dari masa lalu.

Alasan itulah yang diwakili oleh karakter Aldo dan Jenny.

Bicara tentang karakter Aldo, aku mengerti sikap ragu-ragunya pada Jenny merupakan ketakutannya akan mengalami kehilangan. Aldo agaknya terlalu ‘bodoh’ dan ‘naif’ untuk tidak mengerti segala laku Jenny yang berharap ‘dikejar’ olehnya. Gregetan sendiri pas baca bagian Aldo bukannya mencegah Jenny pergi Dipa, eh malah dianya pergi sama Ines.

“Kamu sok enggak butuh siapa-siapa. Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri. Padahal kamu juga takut kesepian. Kamu takut ditinggalin. Kamu takut kehilangan orang yang kamu sayang.” (Halaman : 177)

Jenny, perempuan yang jarang tampil feminin ini terlihat jutek pada awalnya. Namun siapa sangka di balik sikap jutek dan cueknya, Jenny peduli pada anak-anak. Anak-anak yang kurang beruntung dalam hal pendidikan. Diapun sama seperti Aldo, takut memulai sebuah hubungan karena pernah ditinggalkan oleh orang yang paling dia cintai. Orang yang menjadi cinta pertamanya. Dipa. Orang yang sangat mengenal dirinya.

elegi-rinaldo-quote
Edited by me

Selain Aldo, Jenny dan juga Dipa ada satu karakter yang berperan penting dalam novel ini, dialah Tante Fitri. Dirinya yang cerewet dan selalu peduli pada Aldo menjadi karakter kesukaanku. Adapula Ines, Mbak Ratih, Wicak dan juga Dinda yang menjadi karakter pelengkap.

Alur yang mengalir dalam novel ini membuat pembaca ingin menamatkan buku ini dengan segera. Meskipun klise dan gampang ditebak, Bara menuliskannya dengan smooth. Cukup. Pas. Paling yang menurutku agak tiba-tiba adalah scene ketika Aldo mengantar Jenny pulang ke kost lalu turun hujan. Kayaknya sih itu adegan karena terbawa suasana gitu yah? haha.

Kalau tentang sampul buku, aku tidak menemukan makna yang bersinggungan dengan isi cerita selain alasan ‘karena panda adalah hewan kesukaan Jenny dan juga Rahayu.’ Aku pikir akan ada alasan filosofi lainnya gitu yang lebih mendalam (halah, Ndri, mikirnya kejauhan haha). Kayak misalnya orang Cina percaya bahwa Panda adalah hewan yang menyimbolkan yin dan yang, keseimbangan.

“Iya, kalau reinkarnasi beneran ada, gue pengin di kehidupan berikutnya jadi panda. Hidupnya enak, Cuma guling-guling, tidur, makan, main, enggak kerja dan semua orang suka dia.” (Halaman : 25)

Pada akhirnya, jika kamu butuh bacaan yang ringan dan manis, bolehlah Elegi Rinaldo dimasukkan ke dalam daftar bacaan selanjutnya.

Sederhana bukan berarti tak bermakna.

“Konyol sekali orang-orang itu, yang menukar kebebasan dengan pernikahan dan mengganti hidupnya yang sudah baik-baik saja dengan keruwetan dan bencana” (Halaman : 12)

 

elegi-rinaldo
Zizu, beruangku bersama ‘si panda’

Tiga ketukan di pintu untuk rumah bernomor 16.

 

[Kutipan Kesukaan] – dalam novel The Architecture of Love – Ika Natassa

Mood kembali unggul.
Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa menulis ulang beberapa kutipan yang kusuka dari novel teranyar karya Kak Ika Natassa. Novel The Architecture of Love ini sudah menjadi incaran untuk dibaca sejak Kak Ika mengabarkan akan merilisnya dalam bentuk buku (awalnya TAoL ini adalah cerita bersambung yang menggunakan fitur #PollStory di Twitter, yang dimulai pada malam Tahun Baru 2016 dan kemudian hadir secara berkala di Hari Selasa dan Kamis malam sampai episode terakhirnya itu pada 14 Februari 2016). Aku baru berkesempatan membaca novel ini di bulan terakhir di 2016, itu juga karena kebaikan hati seorang teman – yang merupakan fansnya Kak Ika garis keras – untuk meminjamkan novel miliknya.
Makasih banyak Fit, atas pinjamannya 🙂

img-20161221-01363
Lihatlah betapa banyak pembatas yang kugunakan untuk menandai kutipan kesukaan dalam novel ini.

Hidup ini dijalani dan dinikmati, bukan dipikirkan (halaman : 13)

Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do (halaman : 15)

Ada beberapa pertanyaan yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya, tapi justru kita tidak bisa menjawab (halaman : 19)

Tidak ada orang yang tidak tahu kapan dia pulang jika tidak ada sesuatu yang besar yang membuatnya pergi (halaman : 40)

Pemikiran manusia memang terbiasa untuk memutar ulang kejadian masa lalu di dalam kepala, memainkan beberapa skenario berbeda – “what if” scenarios – yang dapat mengubah kejadian itu, kebiasaan yang dalam psikologi disebut counterfactual thinking (halaman : 41)

Fascination is what keeps a writer going. To be able to write, a writer has to be fascinated about a particular something that becomes the idea for the story (halaman : 42)
Kita memang tidak pernah bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan (halaman : 60)

People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory (halaman : 66)

Semua perempuan selalu jadi gampangan di depan laki-laki yang sudah terlanjur dia sayang (halaman : 164)

Patah hati tidak akan pernah jadi lebih gampang walau sudah dialami berkali-kali. Tidak akan pernah jadi berkurang sakitnya (halaman : 225)

Orang-orang bilang, siapa pun yang kita ingat pertama kali ketika ingin berbagi berita bahagia, bisa jadi sesungguhnya adalah orang yang paling penting dalam hidup kita tanpa kita sadari (halaman : 266)

Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir (halaman : 270)

Diingat oleh seseorang yang disayangi itu juga menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan memiliki alasan untuk pulang (halaman : 288)

[Resensi] Purple Eyes

Judul : Purple Eyes
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Inari
Terbit : April 2016
Halaman : 144 halaman

img-20160917-01292

“Senang menulis surat, menggunakan segel dari lilin cari berwarna merah, tidak tahu apa-apa soal ‘Harry Potter’. Gadis ini sebenarnya berasal dari zaman apa?” (Hal : 71)

Adalah Solveig, gadis misterius dan aneh yang tiba-tiba hadir dan mengusik hidup Ivarr Amundsen. Solveig yang mengaku berasal dari Inggris datang bersama bosnya Halstein untuk memesan boneka troll mungil pada Ivarr. Awalnya Ivarr menganggap kehadiran Solveig seperti gadis-gadis kebanyakan yang terpikat akan pesonanya, memintanya untuk menemaninya ke kafe, ke pesta atau berbelanja. Namun nyatanya Solveig malah meminta Ivarr pergi menemaninya ke tempat-tempat yang mengingatkan Ivarr pada adiknya, Nikolai – yang meninggal karena dibunuh dengan keji.

Meski telah mengunjungi tempat-tempat tersebut, Ivarr tak juga merasakan emosi apa-apa di sana. Kehampaan, kehilangan ataupun kesedihan. Ibarat patung lilin, kemampuan merasanya seakan mati, bahkan ketika Nikolai meninggal, Ivarr tak menangis. Ada yang tidak benar dalam diri Ivarr, sehingga Solveig berusaha untuk menghidupan kembali emosi dalam diri Ivarr – tentu saja itu karena perintah Halstein – sang dewa kematian yang sengaja turun ke bumi bersama asistennya – Solveig, untuk mencari pembunuh berantai yang telah dengan keji mengambil lever para korbannya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan Ivarr?

Mengapa dia tidak merasakan emosi apa-apa terkait kematian adiknya?

Lalu mengapa Halstein dan Solveig mendatanginya?

*****

Cukup enam puluh menit waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan Purple Eyes. Bahasa sederhana dengan alur yang mengalir tidak membuatku sulit memahami novel ini, meski latar Norwegia dengan segala makhluk mistis yang diceritakan, baru kali pertama ini kuketahui.

Lagi, novel ini sungguh khasnya Mbak Prisca, dingin dan sedikit kelam. Meski bernuansa suram, novel ini juga memiliki pesan tersirat dan sisi hangat di dalamnya. Seperti misalnya, selalu ada alasan di balik setiap sikap atau tindakan seseorang, contohnya Ivarr yang lebih memilih tidak merasakan daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi. Bahkan ketika dihadapkan pada pilihan untuk membenci seseorang yang memang ‘pantas’ untuk dibenci.

“Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih” (Hal : 117)

Membaca novel ini membuatku teringat pada salah satu drama korea yang pernah ku tonton. Tentang seorang perempuan yang nyaris mati dan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa. Ada kesamaan di dalamnya, seperti adanya pilihan bagi orang-orang yang ‘nyaris’ mati untuk memutuskan ingin melanjutkan hidup atau menyerah saja dan berjalan menuju gerbang kematian.

Aku tahu ini semacam mitos atau mungkin pula dongeng, karena sejatinya kematian adalah hak prerogatif si Pemilik Kehidupan. Namun bukan berarti Allah tidak mengabulkan permohonan hambanya yang masih ingin hidup bukan? Kurasa karena itulah ada ucapan ‘Semoga panjang umur’ pada tiap perayaan ulang tahun.

Harapan, mungkin salah satu dari alasan mengapa kita sebagai manusia masih ingin terus hidup.

Akhirnya, tiga sayap Hades ku pinjam untuk Purple Eyes

P.S :

Entah mengapa aku menyukai Hades/Halstein, yah bukan karena tampangnya yang cukup cantik untuk seorang dewa kematian atau tingkahnya yang kadang sewenang-wenang, tapi kurasa ada ‘sesuatu’ dalam karakternya yang layak disukai (oh oke, ini memang subjektif sekali) haha 😀

[Resensi] Daylight

Judul : Daylight | Penulis : Robin Wijaya

| Halaman : 296 | Penerbit : Elex Media Komputindo

Setiap orang selalu punya motivasi yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu (Halaman : 232)

Itulah yang dilakukan oleh Gabriel Hanggia, pemilik The Cushy Cafe, ketika sebuah pesan masuk ke dalam surel miliknya. Pesan yang memberitahu bahwa ia lolos seleksi awal sebuah kompetisi memasak yang selama ini menjadi impiannya. Berangkat ke Jakarta dan menjalani serangkaian seleksi agar dapat masuk 20 besar dalam Star Chef sudah terbayang di depan mata hingga sebuah telepon membuatnya bimbang.

Mengejar impiannya atau mengambil kembali perannya sebagai ayah dari Kate (putri dari pernikahannya dulu) pasca meninggalnya mantan isterinya bersama suaminya yang baru akibat kecelakaan mobil. Awalnya Gabriel bingung memilih diantara pilihan yang ada, namun Amanda (kekasihnya) menawarkan bantuan untuk menjaga Kate secara bergantian bersama Angga dan Tari (staf The Cushy Cafe) jika Gabriel bersedia mengikuti proses seleksi di Jakarta.

Kompetisi yang dihadapi oleh Gabriel tidaklah mudah. Semua berkeinginan menjadi pemenang meski dengan cara-cara yang tidak sportif. Strategi diperlukan untuk memetakan kekuatan dan kelemahan lawan. Gabriel berkoalisi dengan Petra – yang suka memasak karena didikan sang kakek – untuk berusaha mencapai babak Final. Keinginan itu mungkin akan terwujud jika saja Gabriel tidak mendengar kabar bahwa telah terjadi sesuatu pada Kate.

Lalu apakah Gabriel akan terus melanjutkan perjuangannya mengejar mimpinya untuk menjadi pemenang dalam Star Chef ? ataukah Gabriel lebih memilih pulang ke Bandung demi putri kecilnya ?

*****

Tulisan kesekian dari Kak Robin yang berhasil diselesaikan. Awalnya mengira novel ini akan ada sedekit keterkaitan dengan Nightfall, tapi ternyata tidak sama sekali. Natalie kukira akan memiliki porsi lebih di sini, namun lagi-lagi aku salah. Natalie memang disebutkan di awal cerita, memasuki pertengahan hingga akhir Natalie benar-benar menghilang.

Kak Robin menulis dengan rapi, hampir tidak ada typo. Penggambaran akan suasana kompetisi memasaknya keren. Aku dapat wawasan baru tentang bagaimana cara memasak (kalau aku sih menganut paham, yang penting masakannya matang :P) dan bahwa garnis pun berperan penting dalam penilaian sebuah kompetisi memasak. Riset yang dilakukan Kak Robin detail. Sayang alurnya terasa lambat dan bertele-tele ketika masa kompetisi tersebut. Aku sudah menduga ada yang tidak beres ketika Amanda seakan menyembunyikan sesuatu dari Gabriel tentang Kate. Dari sana, alur mulai cepat dan Gabriel harus memilih untuk melanjutkan mimpinya ataukah bersama keluarganya.

Kalau dua orang yang terikat merasa tak punya satu topik pun untuk dibicarakan, kurasa mereka perlu memugar hubungan itu kembali (Halaman : 169).

Chemistry yang terjalin antara Gabriel dan Amanda tidak cukup kuat untuk kurasakan. Aku malah lebih suka interaksi antara Gabriel, Petra, Aly dan teman-temannya selama masa karantina. Untuk karakter Kate, aku menyukainya. Gadis kecil yang manis, cerdas dan penyuka kelinci.

IMG-20160110-01010

Jadi jika ditanya ‘pin bintang warna’ apa yang akan kuberikan untuk novel Kak Robin yang khusus kubeli dengan mengikuti PO (Kak, bonus card Indri manaaa? *tetep ditanya* :P) aku akan menjawab : Perak !!!

Penuhi dulu isi hatimu sebelum kau memenuhi isi hati orang lain. Teko yang kosong tak akan pernah mampu mengisi cangkir-cangkir (Hal: 2)

[Tentang Conan : 85]

IMG-20150830-00875

Akhirnya seri merah telah berhasil terungkap kebenarannya!

Terkuaknya simpul misteri terlarang yang dinantikan semua penggemar Conan telah terselesaikan!

Di sisi lain, Taiko Meijin, Haneda Shukichi,dan Conan muncul untuk memecahkan kode. Saat Sera dan adiknya berpenampilan pakaian renang di kolam renang glamor ditemukan mayat tenggelam.

***

Semakin dibuat penasaran dengan organisasi jubah hitam.
Muncul pula tokoh baru dengan nama sandi RUM, yang katanya adalah orang yang lebih penting daripada Gin.

..dan seperti biasa setelah selesai membaca edisi terbaru ini ada fakta-fakta baru sekaligus pertanyaan yang terbersit ketika aku menutup halaman terakhir seri ini:

1. Aku punya dugaan kalau RUM adalah Haneda Shukichi – pacarnya Yumi yang juga seorang Taiko Meijin – karena sepertinya Akai menaruh perhatian pada berita kemenangan Haneda merebut 7 gelar. Namun entah dugaanku ini benar atau tidak. We will see in next volume.

2. Toru Amuro adalah seorang ‘penyusup’ yang juga mengincar organisasi jubah hitam namun berbeda kepentingan dengan para agen FBI. Itu mengapa Conan menyebutnya sebagai seorang pembohong. Toru Amuro memiliki nama asli Rei Furuya (nama sandinya Zero) yang ternyata memiliki keterikatan masa lalu dengan Shuichi Akai. Masa lalu yang seperti apa? itu juga yang akan kunantikan di volume berikutnya. Timbul pertanyaan, mengapa Vermouth tidak menyadari kalau Toru Amuro itu seorang penyusup – di organisasi jubah hitam, nama sandinya adalah Bourbon – ? bukankah Vermouth itu sangat pintar? atau Vermouth berpura-pura tidak tahu
karena suatu alasan? (aishhh banyak kali pertanyaanku kan :P)

3. Siapa sebenarnya yang ingin dilindungi oleh agen FBI, Shuichi Akai – yang ternyata masih hidup dan menyamar sebagai Subaru Okiya yang tinggal di rumah Shinichi ?

4. Siapa itu Scotch?

Di balik banyaknya yang menjadi pertanyaanku, ada kalimat yang menjadi favoritku dalam seri ini. Kalimat yang Akai tujukan pada Rei Furuya :

“Jangan terpaku dengan apa yang ada di depanmu supaya kau tidak salah menentukan siapa yang harusnya kau kejar.”

[Resensi] Kita & Rindu yang Tak Terjawab

Judul : Kita & Rindu yang Tak Terjawab (Seri Indonesiana #3)
Penulis : Dian Purnomo
Penerbit : GagasMedia
Halaman : 279

“Ada perempuan-perempuan yang menikah muda karena terpaksa, diharuskan oleh adatnya atau karena hal lain dan mereka tidak berakhir dengan bahagia. Perkawinan sama sekali bukan solusi, Mam” (p. 62)

Naiza Rosauli Situmorang, dihadapkan pada pilihan untuk mengikuti anjuran Papa dan Mama Batak – untuk menikah dengan Sidney Sinaga – ataukah menanti orang yang dia cinta – tetangga yang sedang menyelesaikan beasiswa S2 nya di Belanda, Tantra. Anjuran untuk menikah itu bukan tanpa sebab, kondisi Papa Batak yang sedang sakit membuatnya ingin melihat Naiza menikah lalu memiliki anak dengan orang BATAK. Ya, Papa Batak bermimpi punya menantu Batak. Dan semua itu ada pada diri Sidney Sinaga.

“Kalau kawin sama non-Batak, itu seperti kau kawinkan berlian sama imitasi dari kaca. Bukan batu kaca yang naik derajatnya, tapi berlian yang turun” (p. 110)

Sidney Sinaga : lelaki Batak berusia awal tiga puluhan, punya pekerjaan mapan dan sedikit tampan. Mulanya dia enggan ikut campur dengan upaya ‘perjodohan’ ini namun pada akhirnya dia seolah pasrah dengan apa yang diinginkan orangtuanya. Orangtua Sidney pun bercita-cita punya menantu Batak. Naiza sendiri tak kuasa untuk menolak keinginan orangtuanya, namun dilain pihak dia tidak mudah mengesampingkan perasaannya untuk Tantra, teman masa kecilnya yang selalu menjadi tempat pelampiasan emosinya. Dia bingung apakah harus menerima ‘perjodohan’ itu sementara dia tidak mencintai Sidney, dia pun tidak yakin Sidney juga mencintainya – karena selama mereka bersama, Sidney tidak pernah menatap mata Naiza. Seolah-olah ada sesuatu yang Sidney sembunyikan. Ataukah Naiza harus berkorban mengubur perasaannya pada Tantra yang beretnis Jawa.

*****

Setelah sukses dengan seri STPC – setiap tempat punya cerita – GagasMedia merilis seri terbaru mereka, yaitu Indonesiana. Seri Indonesiana ini di luar ekspektasiku. Kupikir dalam seri ini – yang menjadi latarnya adalah Sumatera Utara – berarti lokasi ceritanya di sana. Ternyata aku salah, yang dimaksud dengan cerita yang berasal dari Sumatera Utara adalah adat budaya yang sangat kental yang ada di Sumatera Utara. Dalam novel ini adalah budaya Batak.

Orang Batak pada umumnya sangat berharap menikah dengan sesama Batak.
Terdengar rasis ya? Tapi memang itulah yang terjadi.
Lahir dan besar di Medan, fenomena seperti itu kerap kulihat pada teman-temanku yang sebagian besar beretnis Batak. Mereka boleh berpacaran dengan etnis mana saja yang disuka, tapi jika berbicara mengenai pernikahan, maka mereka sebisa mungkin menjalin hubungan dengan sesama etnis.

Awalnya aku menduga akan ada salah satu kota di Sumatera Utara yang setidaknya berperan banyak sebagai latar, namun menjelang halaman-halaman menuju akhir barulah kota tersebut muncul, kota Sitorang Nabolon (yang aku sendiri pun tidak tahu itu di daerah Samosir di sebelah mananya. Ah nilai geografiku :p).

Dalam novel ini ada nama Tantra yang sepertinya menjadi tokoh utama pria, tetapi aku merasa intensitas kemunculannya kurang banyak dibandingkan Sidney. Lagi pun aku kurang dapat merasakan ‘chemistry’ antara Tantra dan Naiza, meski penulis telah menjelaskan di bab-bab awal bahwa hubungan Tantra dan Naiza ‘dekat’. Aku malah menyukai tokoh Tama – kakak Tantra – yang digambarkan sebagai orang yang sibuk dengan telepon genggam, sekaligus bijak. Sayang, Tama hanya cameo yang numpang lewat. Selain Tama aku juga suka dengan Mama Batak, apa ya, karakternya itu ‘batak kali lah pokoknya’ hehe 😛

Terkait masalah penulisan, aku menemukan beberapa typo.

Kudenganr (p. 15) – kudengar
Perjalananku.nJauh (p.57) – perjalananku jauh
Menajtuhkan (p.61) – menjatuhkan
Lau (p. 89) – lalu
Menyudarinya (p.152) – menyadarinya
Pomsel (p. 177) – pons
el

Novel ini memberi gambaran bagaimana budaya masyarakat Batak di perkotaan. Meskipun mereka telah hidup di kota sejak lama, Mama dan Papa Batak tetap memegang teguh adat budaya mereka. Lain halnya dengan Naiza maupun Sidney, yang telah mengalami percampuran budaya selama berada di kota, apalagi dengan pekerjaan Sidney yang mengharuskannya ke luar negeri membuatnya tidak menganggap penting suatu adat.

“Menikah itu bukan tentang ingin atau tidak ingin, niat atau nggak niat. Di dalam keluarga Batak, kita ini rata-rata menikah karena kewajiban meneruskan keturunan, meneruskan marga, menjaga adat. Padahal, sama sekali tidak kulihat urgensinya di mataku untuk meneruskan sebuah marga. Kenapa harus diteruskan? Apa untungnya buat umat manusia kalau Sinaga bertahan sampai seribu lapis anak pinak berikutnya?” (p. 88)

Ada beberapa kalimat yang menjadi favoritku dalam novel ini :

“Bagaimana bisa tahu kalau dia jodoh kita? Tuhan saja merahasiakannya, kok. Jodoh itu proses seumur hidup. Nggak ada berhentinya. Itu yang benar. Siapa bilang orang yang sudah menikah itu pasti jodoh? Bagaimana kalau mereka bercerai? Apa itu berarti tulang rusuknya yang hilang itu bercabang?” (p. 90)

“Pernikahan seperti sebuah tarian berpasangan. Siapa pun yang menjadi pasanganmu, kalian harus memastikan bahwa satu sama lain bisa mengimbangi tarian pasangannya. You might step on each other foot, but you can choose to get mad or laugh and start all over again. There’s no such things as win or lose in a marriage.” (p. 154)

“Karena mencintai itu tidak pernah berdiri sendiri. Ada pengorbanan di sana. Mencintai adalah kata kerja yang harus kita lakukan setiap hari.” (p. 168)

[Resensi] Made Of Stars

Apa jadinya jika harapan selalu memberi kecewa? Berharap menjadi sesuatu yang menakutkan. Itulah yang dialami oleh Aubrey Voerman (Bree) yang tak lagi mau berharap dalam hidupnya. Karena berharap akan membuatnya kecewa dan kehilangan semangat hidup. Sesuatu di masa lalunya menjadi penyebab. Sampai suatu ketika Bree memohon pada bintang jatuh yang melintas di langit Roma dan tak pernah menyangka bahwa Bree akan bertemu dengannya. Anael.

Anael adalah Protector bagi Bree, malaikat yang melindunginya sejak lahir. Anael tahu persis apa yang membuat Bree menjadi dingin dan antipati terhadap hidup karena dia selalu bersama Bree. Bree merupakan anak lindungannya yang istimewa, karena Bree dapat merasakan kehadiran Anael di dalam setiap mimpinya meski Anael sering berganti-ganti wujud. Anael menikmati interaksi mereka dalam tidurnya Bree, sebelum Anael mengetahui bahwa ada sesuatu yang ditambahkan dalam buku takdir milik Bree, yang membuatnya khawatir akan keselamatan Bree hingga membuat Anael memutuskan untuk turun ke bumi dan melindungi Bree dengan caranya sendiri. Dengan meminjam tubuh Milo Cassini – yang telah meninggal – yang merupakan saudara tiri Zach, kekasih Bree.

Hubungan Bree dan Zach sudah tidak lagi layaknya sepasang kekasih, mereka masih bersama hanya karena sebatas status. Tidak lebih. Kadang Zach masih menjemput Bree untuk pergi ke sekolah bersama, seperti pada hari itu. Zach ingin menjemput Bree sebelum menerima telepon dari ayahnya untuk terlebih dahulu mengantarkan pakaian untuk diberikan pada Milo di rumah sakit. Dari situlah awal pertemuan Bree dengan Anael.

*****

3 dari 5 bintang.

1 bintang aku berikan karena dengan membaca novel ini aku memiliki perbendaharaan kosa kata baru. Yep, ada beberapa kosa kata yang baru pertama kali aku baca, yang bisa menambah koleksi kosa kata milikku.

*merendengi : Lucrezia hampir pingsan, tetapi dia segera menguasai diri dan merendengi langkah panjang Zach menuju mobil (halaman : 7)

**didaraskan : ….. dibarengi doa yang didaraskan dalam suara rendah (halaman : 8).

***tergeragap : Bree tergeragap ketika mengetahui di mana dirinya (halaman : 16).

****sureal : Semuanya terasa sureal sekarang, setelah dia merasakan hal-hal yang lebih bisa dirasakan (halaman : 25).

*****berkesiur ; Angin berkesiur pelan di antara mereka (halaman : 40).

2 bintang untuk filosofi awan mendung yang aku suka.

“Matahari sedang berjuang untuk mengirim sinarnya ke sini. Itulah indahnya mendung, kau dapat melihat perjuangan matahari untuk terus bersinar di atas bumi. Kalau sedang cerah, matahari tidak mendapat kesulitan apa-apa untuk bersinar. Itu tidak mengesankan buatku. Sinar yang jatuh ke bumi bukan sinar yang dia dapat dari perjuangan. Itu sinar yang biasa aja. Sinar matahari di waktu mendung berbeda. Itu adalah sinar yang harus dia kaluarkan dengan susah payah. Walaupun lemah, sinarnya lebih indah karena mengandung perjuangan matahari.”

“Seperti hidup. Sekecil apa pun hal yang kita lakukan, kalau kita harus mengeluarkannya dengan usaha keras – itu akan jauh lebih berarti dari hal besar yang bisa kita lakukan dengan mudah. Keindahannya terletak di balik usahanya” (Halaman : 41).

Bintang ke 3 kuberikan untuk ide cerita yang meski terlihat klise (malaikat yang jatuh cinta dengan manusia. Tiba-tiba teringat film City Of Angels) namun dibalut dengan deskripsi yang detail dan manis – ketika Milo memberikan Bree bunga dandelion yang gundul pada Bree. Konon katanya, jika berhasil menerbangkan serbuk bunga dandelion dalam satu tiupan, maka harapan kita akan terkabul. Dan Milo memberikan bunga dandelion yang gundul pada Bree dengan harapan, agar hari yang Bree jalani menyenangkan.

Ah ya, untuk sebuah novel pertama dari Hana Krisviana, Made of Stars itu keren.