[Kutipan Kesukaan] – dalam novel The Architecture of Love – Ika Natassa

Mood kembali unggul.
Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa menulis ulang beberapa kutipan yang kusuka dari novel teranyar karya Kak Ika Natassa. Novel The Architecture of Love ini sudah menjadi incaran untuk dibaca sejak Kak Ika mengabarkan akan merilisnya dalam bentuk buku (awalnya TAoL ini adalah cerita bersambung yang menggunakan fitur #PollStory di Twitter, yang dimulai pada malam Tahun Baru 2016 dan kemudian hadir secara berkala di Hari Selasa dan Kamis malam sampai episode terakhirnya itu pada 14 Februari 2016). Aku baru berkesempatan membaca novel ini di bulan terakhir di 2016, itu juga karena kebaikan hati seorang teman – yang merupakan fansnya Kak Ika garis keras – untuk meminjamkan novel miliknya.
Makasih banyak Fit, atas pinjamannya πŸ™‚

img-20161221-01363
Lihatlah betapa banyak pembatas yang kugunakan untuk menandai kutipan kesukaan dalam novel ini.

Hidup ini dijalani dan dinikmati, bukan dipikirkan (halaman : 13)

Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do (halaman : 15)

Ada beberapa pertanyaan yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya, tapi justru kita tidak bisa menjawab (halaman : 19)

Tidak ada orang yang tidak tahu kapan dia pulang jika tidak ada sesuatu yang besar yang membuatnya pergi (halaman : 40)

Pemikiran manusia memang terbiasa untuk memutar ulang kejadian masa lalu di dalam kepala, memainkan beberapa skenario berbeda – β€œwhat if” scenarios – yang dapat mengubah kejadian itu, kebiasaan yang dalam psikologi disebut counterfactual thinking (halaman : 41)

Fascination is what keeps a writer going. To be able to write, a writer has to be fascinated about a particular something that becomes the idea for the story (halaman : 42)
Kita memang tidak pernah bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan (halaman : 60)

People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory (halaman : 66)

Semua perempuan selalu jadi gampangan di depan laki-laki yang sudah terlanjur dia sayang (halaman : 164)

Patah hati tidak akan pernah jadi lebih gampang walau sudah dialami berkali-kali. Tidak akan pernah jadi berkurang sakitnya (halaman : 225)

Orang-orang bilang, siapa pun yang kita ingat pertama kali ketika ingin berbagi berita bahagia, bisa jadi sesungguhnya adalah orang yang paling penting dalam hidup kita tanpa kita sadari (halaman : 266)

Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir (halaman : 270)

Diingat oleh seseorang yang disayangi itu juga menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan memiliki alasan untuk pulang (halaman : 288)

Advertisements