[bukan review] Detective Conan 89

detektif-conan-89

“Sinar matahari menyebabkan udara di dalam kantong menghangat hingga mengembang lalu melayang karena kepadatan udara di luar kantong lebih rendah daripada di dalam. Kantong berwarna hitam akan memudahkan untuk mengumpulkan panas matahari, sedangkan bentuk silinder untuk memudahkan menghangatkan udara di dalam kantong sampai ke pusatnya.”

Mungkin saja dulu hal semacam ini pernah dipelajari dalam pelajaran sains, namun sesungguhnya aku tidak mengingatnya sama sekali #plak #maafkanakuibubapakguru. Terima kasih Tuan Aoyama Gosho telah menambah lagi wawasanku dengan adanya kasus ‘ufo’.

Ditambah lagi dengan penjelasan Conan mengenai kesan pertama dari sebuah benda yang tertangkap oleh mata, yang dipengaruhi baik ukuran maupun warna yang ada di sekitarnya.

“Kesan yang terlihat mata itu dipengaruhi oleh ukuran benda di sekitarnya. Makanya jadi terlihat berukuran sama. Jika warna di sekelilingnya hitam, maka warna yang di kelilingnya akan terlihat lebih terang dari sesungguhnya.”

Selalu ada sisi positif dan negatif dalam segala hal, termasuk tentang penampilan fisik seseorang. Jika orang yang kita sukai memiliki wajah yang rupawan plus body proporsional, pastinya kita akan bangga mengenalkannya pada semua orang. Buruknya, banyak orang lain yang juga menyadarinya lalu akan mencoba mendekatinya juga. Saingan pun semakin banyak. Itulah yang dirasakan oleh penggemar Kazunobu Chiba yang berupaya membuat Chiba menguruskan berat badannya, tapi berakhir dengan mengirimi cokelat yang banyak untuk Chiba.

Bukan hanya itu saja, aku pun dibuat mupeng dengan isi surat yang diberikan oleh Master Shukichi Haneda pada Yumi.

Kapankah aku bisa menerima surat seperti itu dari orang yang aku cintai?

Kapan?

Kapan?

Oh Tuhan, Kapankah?

..

..

..

..

Sudah. Cukup. Dramanya.

4 balon matahari untuk Detektif Conan volume 89.

Advertisements

[Resensi] Apa Pun Selain Hujan

Judul            : Apa Pun Selain Hujan

Penulis        : Orizuka

Penerbit      : GagasMedia

Terbit           : April 2016

Halaman      : 288

image

“Aku mohon, Kay,” kata Wira, tak tahan lagi melihat Kayla yang sudah kuyup.  “Apa pun selain hujan.” (halaman : 217)

Hujan adalah ‘musuh’ bagi seorang Wirawan Gunadi.

Setidaknya sejak hari itu, ketika hujan turun deras kala Wira bertanding taekwondo dengan sahabatnya, Faiz Hasan dalam Jakarta Cup Open Tournament 2013. Pada akhir pertandingan, Wira berhasil menang dengan mendaratkan tendangan berputar ke arah kepala yang mengenai rahang atas Faiz. Namun kemenangan itu tidak lagi berarti, karena bersamaan dengan itu Wira telah kehilangan sahabatnya. Sekaligus cinta dan juga cita-citanya.

Tak ingin terus terbayang oleh masa lalu, Wira memutuskan pergi meninggalkan Jakarta untuk berkuliah di Malang dan tinggal bersama neneknya. Tidak mudah bagi Wira untuk melanjutkan hidupnya pasca kejadian itu. Bayangan masa lalunya kerap menghantui apabila hujan turun. Ingatan akan Faiz, Nadine dan juga taekwondo.

Sampai pada suatu hari, Wira tidak dapat melarikan diri lagi dari masa lalunya ketika dia berusaha membantu seorang perempuan – Kayla – yang diganggu preman. Tanpa sadar, dia kembali menggunakan kemampuan taekwondonya untuk menghajar preman itu. Kayla yang ternyata seorang taekwondoin pun segera menyadarinya, namun Wira menyangkalnya. Tak percaya begitu saja, Kayla mengajak Wira menemaninya ke UKM dengan alasan melihat kucing yang mereka selamatkan ‘bersama’.  Di sana Kayla sengaja menyerang Wira untuk membuktikan dugaannya.

Kayla sangat menyayangkan kenapa Wira tidak ingin kembali menekuni taekwondo, karena sepertinya Wira telah mahir dalam olahraga itu. Penasaran membuat Kayla mencari tahu apa terjadi pada hidup Wira di masa lalu. Tanpa dia sadari hal itu jualah yang akan membawa kembali luka dan bayangan masa lalu Wira.

Lalu apa yang akan terjadi pada Wira?

Mampukah Wira bangkit dari kenangan buruk masa lalunya lantas melanjutkan kembali hidupnya?

“Nggak apa-apa Wira. Selama kamu tahu letak kesalahanmu dan bersedia memperbaiki diri, nggak apa-apa.” (halaman : 56)

*****

Ini adalah buku kesekian dari Orizuka yang pernah aku baca. Kalau biasanya Orizuka menulis masa muda yang cerah ceria dan riang gembira, kali ini sedikit berbeda. Nuansa hujan yang sendu kelabu tergambar jelas dalam kisah Wira.

Hujan. Kenangan.

Kenangan. Hujan.

Kenangan dan hujan tampaknya dua hal yang sulit dipisahkan. Entah sudah berapa banyak buku yang mengaitkan keduanya. Hujan seakan punya magis untuk memerangkap setiap kenangan yang ingin diingat ataupun yang tidak sengaja teringat. Aku pun punya kenangan akan hujan, syukurlah bukan kenangan buruk layaknya kenangan milik Wira.

Bagiku hujan selalu membawa ingatan masa kecil yang membahagiakan. Berlarian menembus hujan dengan teman sebaya, meski pada akhirnya harus siap sedia menerima omelan dari Ibu. Hujan juga mengingatkanku bahwa akan selalu ada sinar cerah mentari setelahnya.

Sunshine after the rain.

Seperti kisah dalam novel ini, hujan menjadi masa lalu Wira yang kelam, dan aku menyukai saat Wira mencoba untuk bangkit menghadapi masa lalunya. Dan tidak boleh ketinggalan kehadiran Sarang juga berarti bagi proses bangkitnya Wira dari masa lalu.

“Ada studi yang bilang kalau hewan peliharaan bisa mengurangi stress dan memperbaiki mood. Dengan membelai bulunya atau memperhatikan mereka bermain kita bisa terhibur.” (halaman : 86)

Dalam novel ini, aku malah jatuh hati pada karakter teman-teman satu jurusan Wira yang hangat, akrab walau kadang absurd. Pasti senang rasanya jika punya teman-teman seperti Junaedi, Dion, Ramdhan, dll. Mereka tidak menjauhi Wira meskipun Wira jelas-jelas tidak membuka diri pada mereka. Untuk karakter Wira maupun Kayla, Orizuka membuatnya dengan baik. Wira yang tidak agresif, penyendiri, dan takut pada hantu terlihat serasi bila dipasangkan dengan karakter Kayla yang blak-blakan dan agresif.

Bicara tentang latar, Orizuka sukses membuatku ingin berkunjung ke Batu Night Spectacular dan menyaksikan festival lampion. Pasti indah. Dari segi konflik, sedari awal telah dapat diduga bahwa masa lalu yang menjadi sebab. Orizuka mengemasnya dengan sangat baik, bagaimana akhirnya Wira dapat mengatasi masa lalunya itu dengan bantuan peran keluarga, teman-teman dan yang paling utama adalah dirinya sendiri.

“Saya tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kamu, tetapi kamu sekarang ada di sini. Kamu sekarang ada di sini. Kamu tidak bisa mundur. Kamu hanya bisa berjuang.” (Halaman : 222)

Memaafkan diri sendiri adalah salah satu cara untuk terus dapat melanjutkan hidup.

Setidaknya itulah pesan yang kupahami dari buku 288 halaman ini. Sekelam apa pun masa lalu yang pernah terjadi, percayalah akan selalu ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran untuk melangkah lebih baik ke depan.

….. semua orang pernah berbuat kesalahan. Kalian juga harus belajar memaafkan diri kalian sendiri.” (Halaman 268)

Terakhir, aku memberikan empat medali emas untuk kisah ini.

[Resensi] Love Theft #2

<< sebelumnya – resensi Love Theft #1, di sini >>

Judul : Love Theft #2
Penulis : Prisca Primasari
Halaman : 242
Penerbit : Selfpublished

 

IMG-20160301-01066
Frea Rinata Series

Belum selesai.

Pasca pesta dansa yang harusnya menjadi akhir dari masalah kalung Coco ternyata tidaklah sesuai harapan. Semua menjadi semakin rumit. Coco masih tidak mau merelakan begitu saja kalung pemberian ibunya yang hilang dicuri oleh Liquor. Setali tiga uang dengannya, Liquor pun tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak mengembalikan kalung itu pada pemiliknya. Frea yang bingung dengan situasi itu coba menghubungi Night berkali-kali, namun tak ada tanggapan. Khawatir adalah yang Frea rasakan selanjutnya, hingga membawanya pergi ke apartemen Night – dengan ditemani Liquor – untuk memastikan bahwa Night baik-baik saja. Namun bukan Night yang mereka temui di depan pintu apartemen Night, melainkan Coco Kartikaningtias.

Apa yang Coco lakukan di sana ?

Bagaimana Coco tahu mengenai Night ?

“Ada yang salah dengan gadis itu,” ujarnya, memajukan mobil sedikit saat kemacetan mulai terurai. “Saya baru merasakannya waktu berdansa dengannya. Saya tidak tahu apa, tapi saya merasakannya.” (Liquor –  Hal : 18)

Dan mengapa Coco masih bersikeras untuk mengambil kembali kalung pemberian almarhum Ibunya. Sementara dia bisa memperoleh kalung yang sama dengan kekayaan yang dia miliki ? Benarkah kalung itu hanya semata kenangan dari ibunya ? Atau apakah mungkin kalung itu bukan sekadar barang sentimentil ?

Bukan saja tentang Coco dan kalungnya, namun dalam 242 halaman ini juga akan menguak masa lalu Liquor dan Night. Alasan mengapa mereka memilih menjadi pencuri. Masa lalu yang coba mereka lupakan, kembali menguar, berharap menemukan penyelesaian. Juga tentang Frea yang akhirnya tak lagi mengingkari perasaannya bahwa dia sangat mencintai Liquor. Selain itu juga, akan muncul beberapa tokoh baru yang berperan penting mengungkap kerumitan masalah yang dihadapi.

*****

Sequel Love Theft ini ku miliki dengan cuma-cuma karena kebaikan dua orang. Arigatou.

Lima sore, sepulang kerja, hingga delapan malam, aku telah mengetahui semua jawaban dari teka-teki dan masa lalu – alasan mereka (Night – Liquor) menjadi kriminalis, serta nama asli mereka. Dengan sekali duduk dan aku cukup puas. Jika ada beberapa hal yang perlu ditambahi, kurasa part akhir kemunculan Coco dibuat lebih dramatis atau sadis juga boleh, bukan cuma sekadar ‘dibego-begoin’ doank hehe :D.

Novel ini mengingatkanku bahwa cara terbaik untuk melupakan kelamnya masa lalu adalah dengan belajar menerimanya. Menerima bahwa hal-hal buruk di masa lalu itu pernah ada dalam siklus hidup, hanya saja seberapa jauh masa lalu itu berpengaruh pada masa sekarang dan masa depan tergantung dari cara menyikapi pada masing-masing orang.

Dan untuk Liquor yang sedang berjuang melupakan masa lalu, sini – sini aku puk puk plus peluk #eh #plakk ^^V

Terakhir, aku ingin mengutip beberapa quote yang ku suka :

“Ada tipe lelaki yang bisa kau kagumi, tapi tidak akan pernah bisa kau miliki.” (Hal : 71)                  

“Neraka ada tujuh lapis,” ujar Night. “Dan penghuni lapisan ketujuh tidak akan pernah bisa naik ke surga.”

“Sementara penghuni lapisan pertama sampai keenam masih punya kesempatan.” Liquor melanjutkan. (Hal : 156)

 

Kurasa pipiku tentu juga akan memanas jika dirinya menanyakan hal yang sama seperti ini, hehehe :

IMG-20160309-01071
(Maafkan kualitas gambar yang kurang baik. Lebih jago difoto daripada memfoto :P)

[Resensi] Barakamon Volume 1

IMG-20150830-00879

“Bakat yang paling hebat itu adalah bekerja keras.” (Hiroshi)

Seishu Handa, kaligrafer tampan yang berusia 23 tahun ini memutuskan pindah ke desa karena sebuah insiden yang terjadi pada pesta penghargaan Eika. Sebagai seorang pemenang, Handa merasa ‘diremehkan’ dengan perkataan kepala museum yang mengkritik hasil karyanya.

Handa pikir dengan pindah ke desa dia bisa menghasilkan sebuah karya yang ‘tidak seperti huruf baku’. Sebuah karya yang tidak hanya ditulis untuk meraih penghargaan. Namun dia salah jika menduga rencananya dapat berjalan mulus. Karena di desa itulah dia bertemu dengan Naru – seorang bocah perempuan badung yang menjadikan tempat tinggal Handa sebagai markasnya.

Dapatkah Handa hidup dengan tenang dan menghasilkan karya nya di desa itu tanpa ‘gangguan’ dari Naru serta para tetangga yang ternyata begitu ‘peduli’ terhadap kedatangan orang baru di desanya?

“Kamu tak perlu mengincar sesuatu yang telah didapat orang, tapi kamu juga tak perlu menyerah.” (Nenek Yasuba)

*****

Para tokoh dalam komik ini :

Seishu Handa : Kaligrafer. Senang dipuji. Tidak suka dikritik. Harga dirinya tinggi.

Naru : Bocah perempuan kelas 1 SD yang ceria, bersemangat, dan juga polos.

Hiroshi : Siswa kelas 3 SMA yang sering mendapat angka 3 di rapornya. Baik hati. Mudah menyerah dan kurang bekerja keras.

Kenta dan Hiina : Teman-teman sekelas Naru.

Miwa dan Tama : Siswi SMP yang juga menjadikan rumah Handa sebagai markas.

Nenek Yasuba : Bijaksana dan sayang pada Naru.

*****

Mengenal Barakamon dari seorang teman yang merupakan penggemar anime, dan dia menyukainya. Berbalut rasa penasaran karena belum menonton versi anime, begitu tahu ada komiknya langsung menjadi wishlist. Dan ternyata aku juga menyukainya.

Ada pesan dalam komik ini yang kumengerti, seperti misalnya :

‘Jangan mudah menyerah karena hanya sebuah kritik.’

Bukankah kritik pada dasarnya adalah masukkan agar sebuah karya menjadi lebih baik.

‘Jangan melakukan pekerjaan dengan setengah-setengah.’

Lalu ada percakapan antara Nenek Yasuba dan Handa yang menjadi kesukaan. Ketika Handa merasa putus asa dalam acara menangkap mochi.

“Kamu tak boleh melihat ke atas terus, kamu pikir mochinya jatuh dari atas. Walaupun kamu incar pada saat itu, kamu takkan bisa menangkapnya. Tunggu dengan sabar. Tangkap saat mereka jatuh ke tanah. Lihatlah ke bawah karena di luar dugaan kesempatan jatuh ke bawah.”

…. dan aku harus sabar menanti volume 2 dari komik ini.

Semoga tak lama 🙂

[Resensi] To All the Boys I’ve Loved Before

Judul : To All the Boys I’ve Loved Before
Terbit  : April 2015 by Spring
Halaman : 382
Penulis : Jenny Han
Penerjemah : Airien Kusumawardani
No ISBN : 6027150513 (ISBN13: 9786027150515)
Harga : – (hadiah dari penerbit)

“Kotak ini untuk menyimpan benda-benda istimewamu,” kata Mommy. “Kau bisa menyimpan benda yang paling berharga, paling kau suka dan paling rahasia di dalam kotak ini.”
“Misalnya apa?” tanyaku.
“Apa pun yang muat di dalamnya. Apa pun yang ingin kau simpan hanya untukmu sendiri.” (P. 374)

Lara Jean Song Covey menyimpan surat cintanya di sana. Di kotak topi milik Ibunya. Surat cinta untuk kelima orang yang pernah dicintainya.
1. Peter Kavinsky – orang yang mencuri ciuman pertama Lara Jean di kelas 7 merupakan tipikal cowok tampan mempesona. Ada sesuatu dalam dirinya yang disukai oleh semua cewek.

2. Josh Sanderson – tetangga sebelah rumah yang menjadi kesayangan para gadis Song – Margot, Lara dan Kitty. Josh adalah mantan pacar Margot sekaligus orang yang masih dicintai oleh Lara Jean.

“Josh, kau membuatku patah hati. Dan kau adalah pembohong. Karena kau mengenalku lebih baik dari siapa pun dan kau tidak mencintaiku.” (P. 240)

“…Selama ini kupikir aku sudah melupakanmu. Bagaimana mungkin aku tidak mungkin melupakanmu jika Margot adalah orang yang kau cintai? Kau selalu mencintai Margot.” (P. 68)

3. John Ambrose McClaren – cowok yang memiliki kenangan ‘di bawah guyuran hujan’ bersama Lara Jean di kelas 8, ketika pelajaran olahraga.

4. Kenny – cowok yang dikenal Lara Jean pada acara perkemahan gereja.

5. Lucas Krapf – cowok ‘gay’ yang memakai dasi cravat pada pesta dansa tahunan.

…hingga suatu ketika di suatu hari surat-surat yang dia tulis itu dikirimkan oleh entah siapa, yang kemudian mengubah kehidupan cinta Lara Jean. Apa yang ditakutinya terjadi, Josh – yang masih dicintainya dan mantan pacar kakaknya – Margot – menanyainya perihal surat tersebut. Demi menjaga harga dirinya di hadapan Josh serta tak ingin melukai hati kakaknya – karena Lara Jean tahu bahwa Margot masih mencintai Josh. Namun karena Margot memilih untuk kuliah ke Skotlandia, maka hubungan Margot dan Josh putus – Lara Jean berkata kalau itu hanyalah masa lalu dan Josh tidak perlu memikirkan hal itu dan berjanji tidak memberitahu Margot, karena sekarang Lara Jean telah menjalin hubungan dengan Peter Kavinsky. Dimulailah ‘drama cinta’ antara Peter K dan Lara Jean. Peter K setuju memainkan peran ‘pacar’ demi mempertahankan egonya karena telah dicampakkan oleh Genevieve (Gen) sekaligus membuat Gen cemburu.

“Aku akan menulis satu pesan untukmu setiap hari.” Kata Peter tiba-tiba bersemangat. “Itu akan membuat Gen gila.” (P. 129)

*****
Untuk yang menyukai drama cinta khas remaja yang ringan dan manis, novel ini sangat direkomendasikan. Tidak hanya nuansa cinta yang kental dalam novel best seller karangan Jenny Han ini, tetapi juga kehangatan sebuah keluarga campuran Amerika – Korea, keluarga Lara Jean. Lara Jean adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Margot, si anak sulung yang mengambil peran Ibu semenjak Ibu mereka meninggal dunia bertahun lalu. Lalu ada Kitty, si bungsu yang pintar dan sedikit menyebalkan.  Kisah sisterhood yang diangkat berperan penting dalam alur yang disajikan oleh Jenny Han. Bagaimana Lara Jean yang tidak ingin Margot tahu kalau dia juga menyukai Josh karena tidak ingin Margot kecewa padanya.

Novel ini termasuk novel yang ku ‘selingkuhi’ – aku membaca tiga sampai lima novel sekaligus, dan lebih dulu selesai – karena tidak segera menyelesaikannya begitu aku mulai membuka halaman pertama. Butuh waktu sekitar dua bulan hingga aku mencapai akhirnya. Pada halaman-halaman awal aku sedikit bosan dengan alur lambat yang diceritakan oleh Jenny Han. Tapi dari bagian itulah dapat dirasakan bagaimana kedekatan emosional kakak beradik Song. Bagaimana Lara dan Kitty bergantung pada Margot. Novel ini semakin sulit kulepaskan begitu aku sampai pada bagian Peter mendatangi Lara Jean untuk memberitahunya, bahwa dia tidak mengidap STD dan tidak menghabiskan potongan piza yang terakhir.

“Apa yang sedang kau bicarakan?”
“Itulah yang kau katakan. Dalam suratmu.” (P.76)

Ketika satu persatu, surat itu terkirim ke nama yang tertera di dalamnya konflik mulai terasa. Perubahan sikap Josh yang terlalu gampang, menurutku, untuk beralih dari Margot kepada Lara Jean. Kecemburuan Josh karena Kitty juga menyukai Peter. Serta bagaimana kepiawaian Lara dan Peter berpura-pura agar skenario mereka dipercayai oleh orang yang ingin mereka kelabui, Josh dan Gen. Meski porsi Gen dalam novel ini tidaklah banyak, namun Gen masih memiliki pengaruh besar dalam hidup Peter. Peter tidak mudah mengabaikan mantan pacar empat tahunnya itu begitu saja, meski Peter sudah dicampakkan oleh Gen.

Karakter favoritku dalam novel ini tentu saja Peter K. Cowok yang memiliki kepercayaan diri tinggi, wajah tampan, suka bercanda dan tentu saja sikapnya pada Lara itu sungguh manis (meski hanya pura-pura). Cewek mana sih yang mampu mengabaikan pesonanya *apaasih* #TimPeterK

“Peter memiliki wajah cowok tampan dari masa lalu. Dia bisa saja menjadi seorang tentara gagah di Perang Dunia I. Cukup tampan hingga seorang gadis bersedia menunggunya kembali dari perang selama bertahun-tahun. Begitu tampan hingga gadis itu bersedia menunggu selamanya” (P.46)

Selain Peter, aku juga menyukai Kitty, si bungsu keluarga Song yang manis dan pintar. Aku menyukai ketika dia membagi minumannya dengan Peter lalu berjanji akan membawakan Peter sebotol minuman yang sama yang dibelinya dari toko bahan makanan Korea sebagai imbalan atas ‘servis’ yang Peter lakukan tiap pagi padanya dan Lara Jean.
Aku membaca novel ini setelah diterjemahkan oleh Penerbit Spring. Hasil terjemahannya bagus, aku seolah bisa ikut merasakan apa yang Lara Jean rasakan. Novel ini memiliki sekuel yang sayangnya belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. PS. I Still Love You adalah judulnya, dan karena penasarannya aku sempat berniat untuk memesan online saja namun urung karena harga bukunya masih terlalu mahal untuk ukuran dompetku. Huhuhu. Mesti bersabar sajalah sampai penerbit Spring menerjemahkannya lagi. Berapa lama lagi menunggu? Entahlah, semoga tidak lama.

PS :
Kalau novel ini diadaptasi menjadi film aku dengan senang hati akan menontonnya. Demi Peter K #eh hahaha ^^

(selain covernya yang begitu manis dan cantik, pembatas bukunya juga unyu banget kan ya ^^)

[Resensi] Rumah Tangga

Judul : Rumah Tangga
Penulis : Fahd Pahdepie
Penerbit : PandaMedia
Halaman : 298
Harga : 64.000
No. ISBN : ISBN (13) 9789797808136
Mulai baca : 17 Juli 2015 – Selesai : 18 Juli 2015

“Kelak, jangan bercita-cita membelikan rumah untuk istrimu, bercita-citalah untuk tinggal bersama dan hidup berbahagia dengannya, selama-selamanya. Jangan berdoa ingin membelikan kendaraan mewah untuk anak-anakmu, berdoalah agar kalian bisa pergi bersama-sama bertamasya, atau berbelanja dengan bahagia. Jangan bermimpi ingin memberangkatkan orangtuamu naik haji, bekerjalah sungguh-sungguh, lalu berangkatlah kalian bersama-sama untuk berbahagia bisa bersujud di rumah Tuhan sebagai keluarga” (hal : 36)

Dalam buku ini tulisan Kak Fahd terasa sungguh personal, mungkin karena ini semacam ‘surat cinta’ Kak Fahd kepada keluarganya. Pada Rizqa – istrinya – serta  pada Kalky dan Kemi – kedua anak lelakinya. Kumpulan cerita yang ada dalam buku ini dikisahkan secara sederhana, namun dieksekusi dengan sentuhan manis sekaligus romantis. Meskipun ditulis dengan sederhana, cerita-cerita dalam buku ini memiliki banyak pesan tersirat.
Pesan tentang keluarga. Sebuah rumah tangga.

Banyak topik yang Kak Fahd cantumkan seperti topik tentang manakah yang lebih mulia, apakah seorang ibu penuh waktu atau perempuan yang bekerja. Tentang bebagi peran antara suami dan istri yang kerap kali disalah artikan dengan ‘ayah pergi ke kantor, ibu memasak di dapur’. Serta tentang poligami.

“Di atas semua itu, tenang saja. Bekerja atau tidak, seorang ibu selalu mulia.” (Hal : 75)

Awal tahu kalau Kak Fahd akan merilis buku ini Juni lalu, aku segera memasukkannya menjadi wishlist yang wajib dimiliki. Karena sejak 2010 akhir aku mulai menyukai gaya menulis Kak Fahd – gaya menulis sederhana yang sarat makna – maka sebisa mungkin aku mengoleksi buku-bukunya. Sempat tergoda untuk mengikuti PO namun apa daya ketika itu kondisi keuangan belumlah memungkinkan, hingga bersabar menunggu tabungan kembali berisi. Cukup gembira ketika tahu ada sebuah lomba menulis surat yang Kak Fahd selenggarakan dan berhadiah buku ini, sempat ingin ikut serta tapi pada akhirnya aku kalah sebelum bertanding. Kalah denganmood untuk menulis maksudnya.

Terlepas dari adanya beberapa tulisan yang ada dalam blog pribadinya (aku pikir dalam buku ini semua tulisan adalah tulisan yang baru), adanya kesalahan cetak (halaman yang berulang, yaitu halaman 143 “Terima dengan Kasih” sampai halaman 155 “Sebelum Gelap”), serta sedikit typo yang tidak menghalangiku untuk menyelesaikan buku ini dalam sehari. Sebenarnya aku mampu menyelesaikannya dalam beberapa jam saja, namun aku salah memilih waktu untuk membacanya, aku membacanya satu jam sebelum tidur hingga akhirnya aku terlelap sementara bukunya belum habis dibaca. Alhasil begitu bangun tidur lanjut baca lagi deh.

(Halaman yang berulang)

Overall aku masih tetap menikmati buku ini.
3.5 bintang lah. Digenapkan menjadi 4.

Oia, banyak kalimat-kalimat yang menjadi kesukaanku dalam buku ini :

“Bersama laki-laki yang hebat, selalu ada perempuan luar biasa. Mereka tumbuh bersama dan saling memberi makna.” (hal : 78)

“Cara Tuhan tidak mengabulkan sebagian doa kita adalah untuk mengabulkan doa-doa kita yang lainnya. Tuhan Maha Tahu mana yang paling baik bagi kita, sementara kita hanya bisa mengira-ngira.” (hal : 109)

Apa yang paling kita rindukan dari masa lalu?
Mungkin eksistensi.
Kita mencari-cari diri sendiri di dasar ingatan, di rongga-rongga waktu yang sudah kita lewatkan.

Apa yang paling merisaukan kita pada masa kini?
Mungkin eksistensi.
Hari-hari kita dipenuhi keresahan dan kecemasan.
Tentang uang. Tentang cinta. Tentang Pendidikan. Tentang pekerjaan. Tentang Keluarga.

Apa yang paling ingin kita ketahui dari masa depan?
Mungkin eksistensi.
Akan jadi apa kita nanti?
Akan jadi apa anak kita kelak?
(hal : 90-91)

Sedikit sekali orang yang tak bisa ‘mendengar’, tetapi banyak sekali orang yang tak bisa ‘mendengarkan’. (hal : 166)

Ah, adakah yang lebih menenangkan daripada doa-doa? (hal : 218)

Cinta dan kebahagiaan kadang-kadang harus dirayakan, untuk alasan-alasan yang bisa kita buat sendiri (hal : 242)

Cerita-cerita paling favorit :

Eksistensi
Bagaimana Jika Ibumu Bukan Ibu Terbaik di Dunia?
Terima dengan Kasih
Belajar Mendengarkan
Mengapa Tidak Semua Orang Perlu Menyukai Kita?

PS : Walaupun buku ini bercerita tentang ‘rumah tangga’, namun percayalah buku ini juga recommended banget untuk dibaca bagi yang belum berumah tangga – hitung- hitung sebagai pemanasan sebelum memasuki ‘roller coaster’ pernikahan – seperti aku 😛 *abaikan* haha.