[Resensi] The Life-Changing Magic of Tidying Up

20170805_192212

Berbenah yang efektif hanya terdiri atas dua aktivitas esensial : membuang dan menentukan di mana harus menyimpan barang. Di antara keduanya, membuang harus didahulukan (hal : 20)

Bicara tentang berbenah berarti dua hal :

  1. Menyimpan
  2. Membuang

Namun jangan pikir untuk memutuskan apakah suatu benda/barang itu akan disimpan atau dibuang adalah perkara mudah. Kalau itu mudah, sudah tentu takkan ada lagi tumpukan ‘yang sebenarnya tidak dibutuhkan’, tumpukan ‘tak kasat mata yang mungkin tersempil di salah satu pojok rumah’, tumpukan ‘yang nanti akan dipakai/dibaca’ dan jenis-jenis tumpukan lainnya. Jika berbenah adalah perkara mudah, maka rumah ataupun kamar sudah tentu akan senantiasa rapi.

the life – changing magic of tidying up

(seni beres-beres dan metode merapikan ala jepang)

Beres-beres merupakan seni? Yang benar saja. Itu adalah pikiran pertama yang terlintas kala membaca sebuah judul buku dari laris versi new york times.

Buku setebal 206 halaman ini tak hanya berisi tentang cara-cara berbenah yang baik dan benar sesuai KonMari Method, namun juga menampilkan sekelumit kisah dari berbagai klien Marie Kondo – selaku konsultan ahli spesialisasi benah-benah – seputar benda-benda yang ingin mereka bereskan/benahi. Benda yang mungkin bagi sebagian orang tidak patut untuk disimpan, namun karena benda tersebut memiliki nilai sentimentil bagi pemiliknya maka benda itu pun dikategorikan sebagai benda layak simpan.

Selain nilai fisik sebuah barang, ada tiga faktor lain yang menambah nilai harta benda kita : fungsi, informasi dan keterikatan emosional. Orang-orang berat hati membuang barang yang masih bisa mereka pergunakan (nilai fungsional), yang memuat informasi bermanfaat (nilai informatif), dan yang bernilai sentimental (nilai emosional) (hal : 38)

Dalam buku ini dijelaskan bahwa benda yang paling sulit untuk dibuang adalah benda yang memiliki nilai sentimental, oleh karenanya benda-benda yang termasuk dalam kategori ini sebaiknya dikerjakan paling akhir. Dijelaskan pula urutan benah-benah sebaiknya dimulai dari pakaian – buku – kertas – pernak-pernik – dan terakhir adalah (benda yang penuh) kenang-kenangan. Biasanya pula benda yang sulit untuk dibuang adalah benda yang berupa hadiah, meskipun kenyataannya benda hadiah tersebut bukanlah benda yang dibutuhkan, rasa sungkan atau takut dianggap tidak berterima kasih pada si pemberi hadiah adalah alasan klasik mengapa benda tersebut masih disimpan, walaupun tidak memiliki nilai fungsionalnya lagi. Akupun termasuk orang yang berpikiran serupa, bahwa tak elok rasanya jika ‘membuang’ hadiah dari seseorang, namun setelah membaca buku ini, tampaknya aku akan mengubah cara pandangku mengenai hadiah.

Fungsi sejati hadiah adalah untuk diterima. Hadiah bukan ‘benda’, melainkan sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang.” (hal : 100)

Yang perlu kulakukan adalah menerima hadiah tersebut, berterima kasih pada si pemberi karenanya lah aku merasakan kegembiraan. Merasa gembira karena itu berarti si pemberi merelakan materi dan waktunya untuk mengungkapkan perasaannya bahwa dia ‘memperhatikan’ dan ‘peduli’ padaku dengan memberikan hadiah.

Dan akhirnya, buku ini ingin menyampaikan bahwa membuang ataupun menata barang dapat mempengaruhi bahkan mengubah hidup kita. Hidup yang penuh dengan kegembiraan dan kedamaian bersama benda/barang yang memang kita cintai dan butuhkan.

*****

Jika bukan karena ulasan dari seorang penulis perempuan yang kukagumi, aku mungkin tak akan melirik buku ini jika melihatnya secara tak sengaja di toko buku. Karena membaca buku inspirasi jenis ini tidak pernah masuk dalam to be read ku selama ini. Belum lagi, beberapa hari sebelum buku ini akhirnya kubawa pulang, KonMari Method yang merupakan metode benah-benah khas buku ini, banyak dibicarakan dalam media sosial orang-orang yang kuikuti. Rasa penasaran pun memuncak, ‘sebagus apa sih bukunya?’

Satu hal yang kupahami pasca menutup buku ini adalah, penulis memperlakukan benda/barang layaknya makhluk hidup, memiliki jiwa. Andai sepasang kaus kaki yang dilipat secara asal dapat bicara, dia mungkin akan marah karena lipatan asal itu membuatnya menjadi ‘melar’. Baju-baju yang berada ditumpukan paling bawah akan menangis, selain karena jarang dipergunakan si pemilik, dia pun harus menanggung ‘beban’ baju-baju yang di atasnya.

Untuk menyimpan barang, kuncinya adalah memberdirikan alih-alih menidurkannya (hal : 67)

Daripada membuat benda/barang itu ‘tidak bermanfaat’ bagi kita mengapa tidak dibuang atau diberikan pada yang lebih membutuhkan selama kondisi benda/barang tersebut masih bagus. Coba cek lemari masing-masing, apakah baju-baju yang terlipat maupun tergantung di sana akan digunakan semuanya? Jangan bilang, ‘nanti akan dipakai’ yang dapat berarti ‘baju itu akan terlipat/tergantung di sana selamanya’ tanpa digunakan. Aku juga begitu, karena pada dasarnya aku hanya akan menggunakan baju yang kusuka, yang membuatku nyaman – pengecualian untuk beberapa baju yang tidak terlalu nyaman kupakai, namun harus tetap kugunakan karena aku punya alternatif penggantinya.

Esensi utama dari KonMari Method adalah : pertahankan benda/barang yang membuat kita gembira. Yang memiliki nilai sentimental saat tangan ini meraba, menyentuh dan menatanya.

Memutuskan hendak menyimpan apa berdasarkan tergugah tidaknya hati Anda merupakan langkah paling penting dalam proses berbenah (hal : 35)

Bukan berarti setiap benda yang memiliki kenangan harus tetap dipertahankan, karena kalau begitu yah sama saja, proses benah-benah nya tak akan berlangsung dengan baik. Cukup diingat bahwa benda/barang itu pernah berjasa dan berguna untuk kita, namun jika ‘peran’ nya dalam hidup kita telah usai, kita pun harus ikhlas melepasnya. Mem’buang’nya. Tak ubahnya seperti orang-orang yang silih berganti datang dan pergi dalam siklus hidup kita. Ikhlaskan mereka. Ucapkan terima kasih karena pernah ada dan mewarnai lingkaran kehidupan kita.

Namun, keengganan kita untuk membuang barang tertentu sejatinya hanya berakar pada dua penyebab : keterikatan pada masa lalu atau kecemasan akan masa depan (hal : 174)

Salah satu keajaiban berbenah adalah membuat kita percaya diri akan kemampuan kita dalam mengambil keputusan (hal : 171)

Keputusan untuk mempertahankan benda/barang yang menyalurkan energi positif kegembiraan atau menyingkirkan benda/barang tersebut yang mana telah berakhir perannya dalam hidup kita.

Dan yah, baru kali ini aku membaca buku tentang berbenah yang penuh dengan filosofi di dalamnya, diberikan tutorial cara melipat baju agar dapat ditata ‘berdiri’ (aku sampai lihat tutorialnya via youtube, haha), serta bagaimana cara belajar ‘mengikhlaskan’ hadiah yang tentunya punya nilai sentimentil hehe 🙂

oooo
Percobaan pertama KonMari Method ala Indri. Masih belum rapi sih, nanti dicoba lagi 😛
Advertisements

2 thoughts on “[Resensi] The Life-Changing Magic of Tidying Up

  1. Ulan Fitriani August 6, 2017 / 8:48 am

    Waaaahh hmm bagus banget isinya. Keren keren 😁

    Like

  2. Indriani August 26, 2017 / 9:26 pm

    Lebih keren lagi kalau kamu juga ikutan baca 😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s