[Resensi] Elegi Rinaldo – Bernard Batubara

Judul : Elegi Rinaldo

Penulis : Bernard Batubara

Penerbit : Falcon Publishing

ISBN : 6026051406 (ISBN13: 9786026051400)
Halaman : 204
Series : Blue Valley
aldoo3
Edited by me

Elegi Rinaldo berkisah tentang pemuda kribo yang tak lagi menyukai roti. Dialah Aldo, food fotografer yang hampir memasuki usia kepala tiga – 28 lebih tepatnya – namun tak jua berniat untuk menikah. Baginya menikah itu adalah sesuatu yang konyol dan terikat dalam sebuah pernikahan adalah perbuatan bodoh. Toh, kalau sendirian saja sudah bebas dan bahagia ngapain juga harus menikah. Meskipun begitu, orang-orang terdekat Aldo – Tante Fitri, yang cerewetnya minta ampun dan penyuka Rihanna. Begitupun dengan Mbak Ratih (klien pertama Aldo yang membuatnya merasakan rindu akan kelengkapan sebuah keluarga) – malah  mendoakan agar dirinya segera membina rumah tangga.

“Happy Birthday, ya, Do! Makanya kamu tuh punya istri, biar kalo pulang kerja ada yang nungguin, masakin, nemenin makan.”

“Makasih, ya, Tante.”

Istri. Lagi-lagi istri. (Halaman : 9)

Ternyata bukan hanya Aldo yang menganggap menikah itu konyol, Jenny pun sama. Chef andalan UNO ini punya alasan mengapa dia berpikiran begitu. Alasan yang berasal dari masa lalunya.

Dua orang yang berpikiran sama. Bekerja dalam satu lingkungan dan sering menghabiskan waktu bersama,  mungkinkah ada yang terjadi di antara mereka?

Yep. Tepat.

Aldo yang mulanya merasa enggan berurusan dengan cewek jutek macam Jenny malah mulai menyadari bahwa bersama Jenny dia merasa nyaman. Buktinya dia bisa bercerita tentang kehilangan Ibu dan Rahayu – mantan kekasihnya – yang  menjadi alasan  mengapa Aldo menutup rapat dirinya dan tak ingin lagi memulai sebuah hubungan.

Rasa yang dimiliki Aldo tak sepihak, Jenny pun mulai menganggap Aldo lebih dari seorang rekan kerja. Namun sebagai seorang perempuan, menanti adalah hal yang lumrah bukan? Sayangnya yang dinanti tak menyadarinya sama sekali.

Sampai ketika, seorang dari masa lalu Jenny kembali, Dipa.

Kehadiran Dipa membuat Aldo berpikir ulang, perasaan seperti apakah yang dia miliki untuk Jenny? Siapkah Aldo kembali merasakan kehilangan?

*****

Novel ketiga Bara yang aku baca, setelah Cinta. (baca : Cinta dengan titik), Jika Aku Milikmu dan aku menyukainya. Memang belum sebesar rasa sukaku pada karya Bara yang lain – Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri – namun Elegi Rinaldo dirasa cukup untuk para penikmat cerita romansa, sepertiku.

Kisah yang dihadirkan dalam novel berhalaman 204 ini sungguhnya sederhana. Tentang dua orang yang enggan atau belum mau menikah (membuat sebuah hubungan lagi) karena berbagai alasan. Mungkin karena pernah merasakan kehilangan, pernah dikhianati atau masih belum dapat berdamai dengan penyesalan yang berasal dari masa lalu.

Alasan itulah yang diwakili oleh karakter Aldo dan Jenny.

Bicara tentang karakter Aldo, aku mengerti sikap ragu-ragunya pada Jenny merupakan ketakutannya akan mengalami kehilangan. Aldo agaknya terlalu ‘bodoh’ dan ‘naif’ untuk tidak mengerti segala laku Jenny yang berharap ‘dikejar’ olehnya. Gregetan sendiri pas baca bagian Aldo bukannya mencegah Jenny pergi Dipa, eh malah dianya pergi sama Ines.

“Kamu sok enggak butuh siapa-siapa. Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri. Padahal kamu juga takut kesepian. Kamu takut ditinggalin. Kamu takut kehilangan orang yang kamu sayang.” (Halaman : 177)

Jenny, perempuan yang jarang tampil feminin ini terlihat jutek pada awalnya. Namun siapa sangka di balik sikap jutek dan cueknya, Jenny peduli pada anak-anak. Anak-anak yang kurang beruntung dalam hal pendidikan. Diapun sama seperti Aldo, takut memulai sebuah hubungan karena pernah ditinggalkan oleh orang yang paling dia cintai. Orang yang menjadi cinta pertamanya. Dipa. Orang yang sangat mengenal dirinya.

elegi-rinaldo-quote
Edited by me

Selain Aldo, Jenny dan juga Dipa ada satu karakter yang berperan penting dalam novel ini, dialah Tante Fitri. Dirinya yang cerewet dan selalu peduli pada Aldo menjadi karakter kesukaanku. Adapula Ines, Mbak Ratih, Wicak dan juga Dinda yang menjadi karakter pelengkap.

Alur yang mengalir dalam novel ini membuat pembaca ingin menamatkan buku ini dengan segera. Meskipun klise dan gampang ditebak, Bara menuliskannya dengan smooth. Cukup. Pas. Paling yang menurutku agak tiba-tiba adalah scene ketika Aldo mengantar Jenny pulang ke kost lalu turun hujan. Kayaknya sih itu adegan karena terbawa suasana gitu yah? haha.

Kalau tentang sampul buku, aku tidak menemukan makna yang bersinggungan dengan isi cerita selain alasan ‘karena panda adalah hewan kesukaan Jenny dan juga Rahayu.’ Aku pikir akan ada alasan filosofi lainnya gitu yang lebih mendalam (halah, Ndri, mikirnya kejauhan haha). Kayak misalnya orang Cina percaya bahwa Panda adalah hewan yang menyimbolkan yin dan yang, keseimbangan.

“Iya, kalau reinkarnasi beneran ada, gue pengin di kehidupan berikutnya jadi panda. Hidupnya enak, Cuma guling-guling, tidur, makan, main, enggak kerja dan semua orang suka dia.” (Halaman : 25)

Pada akhirnya, jika kamu butuh bacaan yang ringan dan manis, bolehlah Elegi Rinaldo dimasukkan ke dalam daftar bacaan selanjutnya.

Sederhana bukan berarti tak bermakna.

“Konyol sekali orang-orang itu, yang menukar kebebasan dengan pernikahan dan mengganti hidupnya yang sudah baik-baik saja dengan keruwetan dan bencana” (Halaman : 12)

 

elegi-rinaldo
Zizu, beruangku bersama ‘si panda’

Tiga ketukan di pintu untuk rumah bernomor 16.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s