[Resensi] Purple Eyes

Judul : Purple Eyes
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Inari
Terbit : April 2016
Halaman : 144 halaman

img-20160917-01292

“Senang menulis surat, menggunakan segel dari lilin cari berwarna merah, tidak tahu apa-apa soal ‘Harry Potter’. Gadis ini sebenarnya berasal dari zaman apa?” (Hal : 71)

Adalah Solveig, gadis misterius dan aneh yang tiba-tiba hadir dan mengusik hidup Ivarr Amundsen. Solveig yang mengaku berasal dari Inggris datang bersama bosnya Halstein untuk memesan boneka troll mungil pada Ivarr. Awalnya Ivarr menganggap kehadiran Solveig seperti gadis-gadis kebanyakan yang terpikat akan pesonanya, memintanya untuk menemaninya ke kafe, ke pesta atau berbelanja. Namun nyatanya Solveig malah meminta Ivarr pergi menemaninya ke tempat-tempat yang mengingatkan Ivarr pada adiknya, Nikolai – yang meninggal karena dibunuh dengan keji.

Meski telah mengunjungi tempat-tempat tersebut, Ivarr tak juga merasakan emosi apa-apa di sana. Kehampaan, kehilangan ataupun kesedihan. Ibarat patung lilin, kemampuan merasanya seakan mati, bahkan ketika Nikolai meninggal, Ivarr tak menangis. Ada yang tidak benar dalam diri Ivarr, sehingga Solveig berusaha untuk menghidupan kembali emosi dalam diri Ivarr – tentu saja itu karena perintah Halstein – sang dewa kematian yang sengaja turun ke bumi bersama asistennya – Solveig, untuk mencari pembunuh berantai yang telah dengan keji mengambil lever para korbannya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan Ivarr?

Mengapa dia tidak merasakan emosi apa-apa terkait kematian adiknya?

Lalu mengapa Halstein dan Solveig mendatanginya?

*****

Cukup enam puluh menit waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan Purple Eyes. Bahasa sederhana dengan alur yang mengalir tidak membuatku sulit memahami novel ini, meski latar Norwegia dengan segala makhluk mistis yang diceritakan, baru kali pertama ini kuketahui.

Lagi, novel ini sungguh khasnya Mbak Prisca, dingin dan sedikit kelam. Meski bernuansa suram, novel ini juga memiliki pesan tersirat dan sisi hangat di dalamnya. Seperti misalnya, selalu ada alasan di balik setiap sikap atau tindakan seseorang, contohnya Ivarr yang lebih memilih tidak merasakan daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi. Bahkan ketika dihadapkan pada pilihan untuk membenci seseorang yang memang ‘pantas’ untuk dibenci.

“Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih” (Hal : 117)

Membaca novel ini membuatku teringat pada salah satu drama korea yang pernah ku tonton. Tentang seorang perempuan yang nyaris mati dan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa. Ada kesamaan di dalamnya, seperti adanya pilihan bagi orang-orang yang ‘nyaris’ mati untuk memutuskan ingin melanjutkan hidup atau menyerah saja dan berjalan menuju gerbang kematian.

Aku tahu ini semacam mitos atau mungkin pula dongeng, karena sejatinya kematian adalah hak prerogatif si Pemilik Kehidupan. Namun bukan berarti Allah tidak mengabulkan permohonan hambanya yang masih ingin hidup bukan? Kurasa karena itulah ada ucapan ‘Semoga panjang umur’ pada tiap perayaan ulang tahun.

Harapan, mungkin salah satu dari alasan mengapa kita sebagai manusia masih ingin terus hidup.

Akhirnya, tiga sayap Hades ku pinjam untuk Purple Eyes

P.S :

Entah mengapa aku menyukai Hades/Halstein, yah bukan karena tampangnya yang cukup cantik untuk seorang dewa kematian atau tingkahnya yang kadang sewenang-wenang, tapi kurasa ada ‘sesuatu’ dalam karakternya yang layak disukai (oh oke, ini memang subjektif sekali) haha 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s