[Resensi] Apa Pun Selain Hujan

Judul            : Apa Pun Selain Hujan

Penulis        : Orizuka

Penerbit      : GagasMedia

Terbit           : April 2016

Halaman      : 288

image

“Aku mohon, Kay,” kata Wira, tak tahan lagi melihat Kayla yang sudah kuyup.  “Apa pun selain hujan.” (halaman : 217)

Hujan adalah ‘musuh’ bagi seorang Wirawan Gunadi.

Setidaknya sejak hari itu, ketika hujan turun deras kala Wira bertanding taekwondo dengan sahabatnya, Faiz Hasan dalam Jakarta Cup Open Tournament 2013. Pada akhir pertandingan, Wira berhasil menang dengan mendaratkan tendangan berputar ke arah kepala yang mengenai rahang atas Faiz. Namun kemenangan itu tidak lagi berarti, karena bersamaan dengan itu Wira telah kehilangan sahabatnya. Sekaligus cinta dan juga cita-citanya.

Tak ingin terus terbayang oleh masa lalu, Wira memutuskan pergi meninggalkan Jakarta untuk berkuliah di Malang dan tinggal bersama neneknya. Tidak mudah bagi Wira untuk melanjutkan hidupnya pasca kejadian itu. Bayangan masa lalunya kerap menghantui apabila hujan turun. Ingatan akan Faiz, Nadine dan juga taekwondo.

Sampai pada suatu hari, Wira tidak dapat melarikan diri lagi dari masa lalunya ketika dia berusaha membantu seorang perempuan – Kayla – yang diganggu preman. Tanpa sadar, dia kembali menggunakan kemampuan taekwondonya untuk menghajar preman itu. Kayla yang ternyata seorang taekwondoin pun segera menyadarinya, namun Wira menyangkalnya. Tak percaya begitu saja, Kayla mengajak Wira menemaninya ke UKM dengan alasan melihat kucing yang mereka selamatkan ‘bersama’.  Di sana Kayla sengaja menyerang Wira untuk membuktikan dugaannya.

Kayla sangat menyayangkan kenapa Wira tidak ingin kembali menekuni taekwondo, karena sepertinya Wira telah mahir dalam olahraga itu. Penasaran membuat Kayla mencari tahu apa terjadi pada hidup Wira di masa lalu. Tanpa dia sadari hal itu jualah yang akan membawa kembali luka dan bayangan masa lalu Wira.

Lalu apa yang akan terjadi pada Wira?

Mampukah Wira bangkit dari kenangan buruk masa lalunya lantas melanjutkan kembali hidupnya?

“Nggak apa-apa Wira. Selama kamu tahu letak kesalahanmu dan bersedia memperbaiki diri, nggak apa-apa.” (halaman : 56)

*****

Ini adalah buku kesekian dari Orizuka yang pernah aku baca. Kalau biasanya Orizuka menulis masa muda yang cerah ceria dan riang gembira, kali ini sedikit berbeda. Nuansa hujan yang sendu kelabu tergambar jelas dalam kisah Wira.

Hujan. Kenangan.

Kenangan. Hujan.

Kenangan dan hujan tampaknya dua hal yang sulit dipisahkan. Entah sudah berapa banyak buku yang mengaitkan keduanya. Hujan seakan punya magis untuk memerangkap setiap kenangan yang ingin diingat ataupun yang tidak sengaja teringat. Aku pun punya kenangan akan hujan, syukurlah bukan kenangan buruk layaknya kenangan milik Wira.

Bagiku hujan selalu membawa ingatan masa kecil yang membahagiakan. Berlarian menembus hujan dengan teman sebaya, meski pada akhirnya harus siap sedia menerima omelan dari Ibu. Hujan juga mengingatkanku bahwa akan selalu ada sinar cerah mentari setelahnya.

Sunshine after the rain.

Seperti kisah dalam novel ini, hujan menjadi masa lalu Wira yang kelam, dan aku menyukai saat Wira mencoba untuk bangkit menghadapi masa lalunya. Dan tidak boleh ketinggalan kehadiran Sarang juga berarti bagi proses bangkitnya Wira dari masa lalu.

“Ada studi yang bilang kalau hewan peliharaan bisa mengurangi stress dan memperbaiki mood. Dengan membelai bulunya atau memperhatikan mereka bermain kita bisa terhibur.” (halaman : 86)

Dalam novel ini, aku malah jatuh hati pada karakter teman-teman satu jurusan Wira yang hangat, akrab walau kadang absurd. Pasti senang rasanya jika punya teman-teman seperti Junaedi, Dion, Ramdhan, dll. Mereka tidak menjauhi Wira meskipun Wira jelas-jelas tidak membuka diri pada mereka. Untuk karakter Wira maupun Kayla, Orizuka membuatnya dengan baik. Wira yang tidak agresif, penyendiri, dan takut pada hantu terlihat serasi bila dipasangkan dengan karakter Kayla yang blak-blakan dan agresif.

Bicara tentang latar, Orizuka sukses membuatku ingin berkunjung ke Batu Night Spectacular dan menyaksikan festival lampion. Pasti indah. Dari segi konflik, sedari awal telah dapat diduga bahwa masa lalu yang menjadi sebab. Orizuka mengemasnya dengan sangat baik, bagaimana akhirnya Wira dapat mengatasi masa lalunya itu dengan bantuan peran keluarga, teman-teman dan yang paling utama adalah dirinya sendiri.

“Saya tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kamu, tetapi kamu sekarang ada di sini. Kamu sekarang ada di sini. Kamu tidak bisa mundur. Kamu hanya bisa berjuang.” (Halaman : 222)

Memaafkan diri sendiri adalah salah satu cara untuk terus dapat melanjutkan hidup.

Setidaknya itulah pesan yang kupahami dari buku 288 halaman ini. Sekelam apa pun masa lalu yang pernah terjadi, percayalah akan selalu ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran untuk melangkah lebih baik ke depan.

….. semua orang pernah berbuat kesalahan. Kalian juga harus belajar memaafkan diri kalian sendiri.” (Halaman 268)

Terakhir, aku memberikan empat medali emas untuk kisah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s