[Resensi] Penjual Kenangan

Judul            : Penjual Kenangan

Penulis        : Widyawati Oktavia

Penerbit      : Bukune

Halaman      : 209

IMG-20160510-01189

Kau berbahagialah. Jangan menengok kembali kenangan kau-aku itu. Itu bukan lagi tentang kita. Itu hanyalah tentang kau-aku. Kau bisa melihat perbedaannya, bukan? (Halaman : 58)

 Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata kenangan?

Fragmen masa kecil yang berlarian dengan teman sebaya sambil menerbangkan layang? Mengejarnya bersama ketika dikejauhan kamu melihat layangan itu putus benang lalu terbang. Lalu kamu dan teman berusaha menjadi yang pertama yang menemukannya. Atau ingatan samar dongeng tentang peri dan kunang-kunang yang Ibu bacakan menjelang kamu tidur? atau ketika beranjak dewasa, kenangan seringnya soal berakhirnya sebuah hubungan dengan seseorang yang kamu kasihi.

Setali tiga uang, itu jualah yang terangkum dalam buku ini. Kenapa aku menyebutnya buku bukannya novel (meski kadang dibeberapa tulisanku penggunaan novel maupun buku memiliki makna yang sama) seperti yang tertera pada cover belakangnya adalah karena menurutku ini memang bukanlah sebuah novel. Menurut sedikit ilmu yang kumiliki novel adalah sebuah karya tulis fiksi yang di dalamnya terdiri atas satu cerita yang tunggal. Sedangkan menurut KBBI, novel memiliki arti sebagai karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Sementara yang kutemukan dalam buku ini bukanlah seperti definisi di atas.

Buku ini lebih menyerupai sebuah novelet yang dicampur dengan beberapa cerita pendek. Cerita-cerita pendek yang adapun sebelumnya pernah diterbitkan di koran lokal maupun nasional. Ada juga satu atau dua cerita pendek yang baru.

Berikut adalah repih kenangan dalam buku ini :

  • Carano

“Kau, carilah keluarga yang mau makan sirih,” ujar Amak menggodaku. “Biar segera Amak bawakan carano* ke rumahnya.” (halaman : 16)

Novelet 58 halaman ini bercerita tentang perempuan yang sudah bertemu laki-laki yang keluarganya ingin dia bawakan carano. Namun ternyata takdir berkata lain, laki-laki itu mengkhianatinya hanya karena perkara jarak di antara mereka. Perempuan itu kecewa. Sangat dalam. Hingga pada suatu ketika, takdir mempertemukan mereka kembali, laki-laki itu meminta maaf dan berharap kenangan mereka bersama dapat terulang.

Sudah terlalu banyak hati yang meluka, karena sesuatu yang mereka sebut cinta. (Halaman : 52)

*Carano adalah syarat untuk meminang sesuai adat etnis di tanah Minangkabau. Dalam Carano biasanya berisi sirih lengkap dengan kapur, gambir, pinang dan juga tembakau.

  • Dalam Harap Bintang Pagi

Kisah tentang Peri yang menginginkan punya sayap agar dapat terbang dan melihat apa yang ada di balik pelangi. Apakah sesuai dengan yang diceritakan oleh Si Petualang, yang diam-diam dicintainya?

  • Percakapan Nomor-Nomor

Cerita pendek yang awalnya tidak kuduga berkisah tentang apa. Sampai disatu bagian di mana sang tokoh utamanya menemukan dirinya tidak mengerti mengapa orang-orang yang dikenalnya – yang berada satu lingkungan dengannya – berbicara dengan menggunakan nomor-nomor. Angka-angka.

Cerdas dan realistis, dua kata itu untuk pantas untuk menggambarkan isi dari cerpen ini. Ide ceritanya sederhana dan sesuai realitas pada sebagian besar masyarakat kita pada masa lalu – kalau sekarang aku kurang tahu, apakah masih ada masyarakat yang melakukan ‘percakapan nomor-nomor’.

  • Kunang-Kunang

Satu kata. Absurd.

  • Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela

Ada sempilan dongeng dalam cerpen ini. Tentang bidadari yang tidak dapat kembali ke kayangan karena selendangnya hilang. Sejujurnya aku kurang mengerti makna dari cerita ini, mengapa perempuan tua itu sungguh yakin dia tidak dapat mati. Namun aku menyukai anak laki-laki dari perempuan tua itu, yang sangat sayang pada Ibunya.

  • Penjual Kenangan

Entah mengapa aku merasa suram membaca bagian ini. Kesan kesedihan yang teramat dalam kental menghiasi lembar demi lembar cerpen yang juga menjadi judul buku ini. Berkisah tentang seorang gadis dewasa yang duduk sendirian di bangku taman dengan sekeranjang kenangan yang ingin dia jual untuk memperoleh sedikit harapan.

“Harapan. Kau hanya perlu tinggalkan sedikit harapan untukku, lalu kau akan dapatkan kenangan indah ini.” (halaman : 134)

  • Tengara Langit

Lagi, Mbak Iwied mampu menangkap realitas sosial yang sering terjadi pada masyarakat kita ke dalam barisan kata yang enak untuk dinikmati. Realitas tentang kartu duit yang seringnya malah membawa petaka bagi si penerima.

  • Menjelma Hujan

Seringnya seseorang yang kita anggap memberikan kenyamanan, – sahabat – itu pulalah yang akhirnya menorehkan sakit di hati. Sahabat yang dicintai dengan diam, mencederai hati begitu dalam. Sampai suatu ketika seseorang datang, menawarkan sebuah kenyamanan yang baru. Nyaman yang dirasa mampu menyembuhkan luka. Pelipur lara. Namun pada akhirnya itu sia-sia. Ilusi semata.

Ah, hati mengapa masih saja ada harapan yang lepas dan bersembunyi? (Halaman : 161)

  •  Nelangsa

Seharusnya aku lebih teliti dalam membaca pertanda. Petunjuk yang Mbak Iwied tebar dalam cerpen ini sungguh rapi. Mestinya aku sudah menduga dari panggilan teman-teman Nela di awal paragraf. Lalu pujian gurunya di halaman berikutnya. Cerpen ini keren sekaligus mengharukan.

  • Tembang Cahaya

Kurang ngerti maksud dari cerpen ini, hehe 😀

  • Bawa Musim Kembali, Nak

“Setiap malam, doa selalu kukirimkan pada bocah-bocahku. Semoga sampai ke tempat mereka. Di seberang laut sana. Kukirim selalu, anakku. Pada kau yang mengadu nasib. Sudahkah kau menang? Ataukah kau kalah?” (halaman : 201)

Rasanya ingin terbang ke Medan setelah membaca cerita ini.

Pulang.

Sebagai penutup sebelum kuakhiri tulisan ini, jika kamu mencari bacaan ringan namun sarat makna dengan untaian kalimat yang rapi, metafora indah serta ada sedikit unsur dongeng besertanya, buku ini pantas kamu coba.

Mungkin kamu juga akan sepertiku, merasa tertipu dengan alur cerita di salah satu cerpennya, dan juga mengharu biru di bagian yang selanjutnya.

Buku ini lengkap.

Untuk kamu yang (mungkin) juga penikmat kenangan.

Seperti jendela yang menyetia, kenangan ini pun tak pernah lelah. Akan selalu ada sela untukmu dan harapan yang kau bawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s