[Resensi] Love Theft #2

<< sebelumnya – resensi Love Theft #1, di sini >>

Judul : Love Theft #2
Penulis : Prisca Primasari
Halaman : 242
Penerbit : Selfpublished

 

IMG-20160301-01066
Frea Rinata Series

Belum selesai.

Pasca pesta dansa yang harusnya menjadi akhir dari masalah kalung Coco ternyata tidaklah sesuai harapan. Semua menjadi semakin rumit. Coco masih tidak mau merelakan begitu saja kalung pemberian ibunya yang hilang dicuri oleh Liquor. Setali tiga uang dengannya, Liquor pun tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak mengembalikan kalung itu pada pemiliknya. Frea yang bingung dengan situasi itu coba menghubungi Night berkali-kali, namun tak ada tanggapan. Khawatir adalah yang Frea rasakan selanjutnya, hingga membawanya pergi ke apartemen Night – dengan ditemani Liquor – untuk memastikan bahwa Night baik-baik saja. Namun bukan Night yang mereka temui di depan pintu apartemen Night, melainkan Coco Kartikaningtias.

Apa yang Coco lakukan di sana ?

Bagaimana Coco tahu mengenai Night ?

“Ada yang salah dengan gadis itu,” ujarnya, memajukan mobil sedikit saat kemacetan mulai terurai. “Saya baru merasakannya waktu berdansa dengannya. Saya tidak tahu apa, tapi saya merasakannya.” (Liquor –  Hal : 18)

Dan mengapa Coco masih bersikeras untuk mengambil kembali kalung pemberian almarhum Ibunya. Sementara dia bisa memperoleh kalung yang sama dengan kekayaan yang dia miliki ? Benarkah kalung itu hanya semata kenangan dari ibunya ? Atau apakah mungkin kalung itu bukan sekadar barang sentimentil ?

Bukan saja tentang Coco dan kalungnya, namun dalam 242 halaman ini juga akan menguak masa lalu Liquor dan Night. Alasan mengapa mereka memilih menjadi pencuri. Masa lalu yang coba mereka lupakan, kembali menguar, berharap menemukan penyelesaian. Juga tentang Frea yang akhirnya tak lagi mengingkari perasaannya bahwa dia sangat mencintai Liquor. Selain itu juga, akan muncul beberapa tokoh baru yang berperan penting mengungkap kerumitan masalah yang dihadapi.

*****

Sequel Love Theft ini ku miliki dengan cuma-cuma karena kebaikan dua orang. Arigatou.

Lima sore, sepulang kerja, hingga delapan malam, aku telah mengetahui semua jawaban dari teka-teki dan masa lalu – alasan mereka (Night – Liquor) menjadi kriminalis, serta nama asli mereka. Dengan sekali duduk dan aku cukup puas. Jika ada beberapa hal yang perlu ditambahi, kurasa part akhir kemunculan Coco dibuat lebih dramatis atau sadis juga boleh, bukan cuma sekadar ‘dibego-begoin’ doank hehe :D.

Novel ini mengingatkanku bahwa cara terbaik untuk melupakan kelamnya masa lalu adalah dengan belajar menerimanya. Menerima bahwa hal-hal buruk di masa lalu itu pernah ada dalam siklus hidup, hanya saja seberapa jauh masa lalu itu berpengaruh pada masa sekarang dan masa depan tergantung dari cara menyikapi pada masing-masing orang.

Dan untuk Liquor yang sedang berjuang melupakan masa lalu, sini – sini aku puk puk plus peluk #eh #plakk ^^V

Terakhir, aku ingin mengutip beberapa quote yang ku suka :

“Ada tipe lelaki yang bisa kau kagumi, tapi tidak akan pernah bisa kau miliki.” (Hal : 71)                  

“Neraka ada tujuh lapis,” ujar Night. “Dan penghuni lapisan ketujuh tidak akan pernah bisa naik ke surga.”

“Sementara penghuni lapisan pertama sampai keenam masih punya kesempatan.” Liquor melanjutkan. (Hal : 156)

 

Kurasa pipiku tentu juga akan memanas jika dirinya menanyakan hal yang sama seperti ini, hehehe :

IMG-20160309-01071
(Maafkan kualitas gambar yang kurang baik. Lebih jago difoto daripada memfoto :P)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s