[Resensi] Daylight

Judul : Daylight | Penulis : Robin Wijaya

| Halaman : 296 | Penerbit : Elex Media Komputindo

Setiap orang selalu punya motivasi yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu (Halaman : 232)

Itulah yang dilakukan oleh Gabriel Hanggia, pemilik The Cushy Cafe, ketika sebuah pesan masuk ke dalam surel miliknya. Pesan yang memberitahu bahwa ia lolos seleksi awal sebuah kompetisi memasak yang selama ini menjadi impiannya. Berangkat ke Jakarta dan menjalani serangkaian seleksi agar dapat masuk 20 besar dalam Star Chef sudah terbayang di depan mata hingga sebuah telepon membuatnya bimbang.

Mengejar impiannya atau mengambil kembali perannya sebagai ayah dari Kate (putri dari pernikahannya dulu) pasca meninggalnya mantan isterinya bersama suaminya yang baru akibat kecelakaan mobil. Awalnya Gabriel bingung memilih diantara pilihan yang ada, namun Amanda (kekasihnya) menawarkan bantuan untuk menjaga Kate secara bergantian bersama Angga dan Tari (staf The Cushy Cafe) jika Gabriel bersedia mengikuti proses seleksi di Jakarta.

Kompetisi yang dihadapi oleh Gabriel tidaklah mudah. Semua berkeinginan menjadi pemenang meski dengan cara-cara yang tidak sportif. Strategi diperlukan untuk memetakan kekuatan dan kelemahan lawan. Gabriel berkoalisi dengan Petra – yang suka memasak karena didikan sang kakek – untuk berusaha mencapai babak Final. Keinginan itu mungkin akan terwujud jika saja Gabriel tidak mendengar kabar bahwa telah terjadi sesuatu pada Kate.

Lalu apakah Gabriel akan terus melanjutkan perjuangannya mengejar mimpinya untuk menjadi pemenang dalam Star Chef ? ataukah Gabriel lebih memilih pulang ke Bandung demi putri kecilnya ?

*****

Tulisan kesekian dari Kak Robin yang berhasil diselesaikan. Awalnya mengira novel ini akan ada sedekit keterkaitan dengan Nightfall, tapi ternyata tidak sama sekali. Natalie kukira akan memiliki porsi lebih di sini, namun lagi-lagi aku salah. Natalie memang disebutkan di awal cerita, memasuki pertengahan hingga akhir Natalie benar-benar menghilang.

Kak Robin menulis dengan rapi, hampir tidak ada typo. Penggambaran akan suasana kompetisi memasaknya keren. Aku dapat wawasan baru tentang bagaimana cara memasak (kalau aku sih menganut paham, yang penting masakannya matang :P) dan bahwa garnis pun berperan penting dalam penilaian sebuah kompetisi memasak. Riset yang dilakukan Kak Robin detail. Sayang alurnya terasa lambat dan bertele-tele ketika masa kompetisi tersebut. Aku sudah menduga ada yang tidak beres ketika Amanda seakan menyembunyikan sesuatu dari Gabriel tentang Kate. Dari sana, alur mulai cepat dan Gabriel harus memilih untuk melanjutkan mimpinya ataukah bersama keluarganya.

Kalau dua orang yang terikat merasa tak punya satu topik pun untuk dibicarakan, kurasa mereka perlu memugar hubungan itu kembali (Halaman : 169).

Chemistry yang terjalin antara Gabriel dan Amanda tidak cukup kuat untuk kurasakan. Aku malah lebih suka interaksi antara Gabriel, Petra, Aly dan teman-temannya selama masa karantina. Untuk karakter Kate, aku menyukainya. Gadis kecil yang manis, cerdas dan penyuka kelinci.

IMG-20160110-01010

Jadi jika ditanya ‘pin bintang warna’ apa yang akan kuberikan untuk novel Kak Robin yang khusus kubeli dengan mengikuti PO (Kak, bonus card Indri manaaa? *tetep ditanya* :P) aku akan menjawab : Perak !!!

Penuhi dulu isi hatimu sebelum kau memenuhi isi hati orang lain. Teko yang kosong tak akan pernah mampu mengisi cangkir-cangkir (Hal: 2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s