[Semacam] review The Little Prince [movie]

1

Kau hanya bisa melihat jelas dengan hatimu.
Hal yang penting tak terlihat oleh manusia.

Adegan dibuka dengan menampilkan seorang gadis kecil yang ditemani oleh ibunya yang terlihat cemas dan tegang. Mereka akan berhadapan dengan orang-orang yang berkuasa untuk menentukan masuk tidaknya gadis kecil tersebut di sekolah – lupa nama sekolahnya :p – yang (kelihatannya) bergengsi tersebut. Sebelum mereka menghadap, si Ibu berpesan “jika mereka terlihat tertarik pada esai dan cv yang dikirim, mereka hanya akan memberi satu pertanyaan besar.” Dan Ibu tersebut sudah menyiapkan jawaban terbaik untuk dikatakan oleh gadis kecilnya jika dia mendapat pertanyaan tersebut.
“No. 107, silahkan masuk!” giliran mereka tiba. Gadis kecil berdiri kaku di atas panggung, menatap kepada tiga penanya yang sudah membaca dan memeriksa cv dan esai miliknya. Lalu petaka itu terjadi. Penanya hanya memberikan satu pertanyaan pada gadis kecil tersebut, namun bukanlah pertanyaan yang telah diduga sebelumnya. Seperti telah ditemplate, gadis kecil tersebut malah memberikan jawaban yang telah dia hapal. Salah total.
Sebuah mobil berjalan memasuki kompleks perumahan yang tertata rapi. Di salah satu rumah, papan penanda telah dibeli diturunkan. Ibu dan gadis kecil itu telah pindah. Sang Ibu memberitahu gadis kecil itu apa-apa saja yang harus dilakukan gadis kecil itu agar dapat mengikuti seleksi di sekolah bergengsi tersebut pada periode selanjutnya, yakni dengan memberinya segudang peraturan dan to do list yang harus dilakukan setiap harinya. Ibunya membuatkan jadwal yang rinci dan teratur. Agar nantinya si gadis kecil siap untuk memulai semuanya. Gadis kecil itu ‘dipaksa’ mengikuti ritme hidup orang dewasa.

2

Pagi hari, selepas Ibu pergi ke kantor, gadis kecil tersebut mulai menjalankan satu persatu apa yang tertulis dalam jadwalnya, hingga sebuah kejadian ‘mengacaukan’ segalanya. Tetangga mereka, seorang kakek yang mencoba menerbangkan pesawatnya mengalami kecelakaan dengan tidak sengaja merusak rumah gadis kecil itu. Dari situlah pertemuan pertama si gadis kecil dengan kakek yang ternyata seorang penerbang.

Kakek penerbang jugalah yang sengaja mengirimkan sebuah pesawat kertas yang merupakan sobekan dari cerita little prince yang dia terbangkan melalui atap rumahnya ke kamar gadis kecil sebagai permintaan maaf. Gadis kecil itu acuh. Namun si kakek tidak menyerah, dia benar-benar ingin meminta maaf dengan memberikan sekarung uang koin yang dia kumpulkan sebagai ganti rugi atas kerusakan yang telah terjadi.

Gadis kecil itu menumpahkan isi karung, menghitung koin yang ada satu persatu, hingga dia menemukan semacam pedang dalam tumpukan koin. Lalu matanya menangkap sebuah manekin rubah dan seorang laki-laki kecil. Laki-laki yang pernah dia lihat sebelumnya. laki-laki yang mirip dengan tokoh cerita yang dikirim oleh kakek penerbang. The Little Prince.
Rasa penasaran gadis kecil itu terusik. Dia mengambil kembali secarik pesawat kertas yang telah dibuangnya ke dalam tempat sampah, merapikannya kembali, lalu membacanya. Itu pulalah yang membawanya pergi ke rumah si kakek penerbang, dia ingin tahun lebih banyak. And the story begin.

*****

Ini adalah film animasi pertama yang gue tonton sendirian. Di bioskop. Padahal biasanya gue gak terlalu addict sama yang namanya animasi, tapi ini The Little Prince lhoo.
Apa ?
Lu belum tau The Little Prince itu apa?
Jadi gini, The Little Prince itu awalnya adalah sebuah novel klasik berbahasa Perancis (1943) yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry. Novel ini bercerita tentang seorang pangeran kecil yang meninggalkan planet tempat tinggalnya (asteroid) untuk berpetualang dari satu planet ke planet lain. Jangan terkecoh dengan ilustrasi ‘cantik’, berwarna dan khas anak-anak yang betebaran dalam novel ini. Memang novel ini berkisah tentang anak-anak, tapi sebenarnya novel ini lebih tepat dibaca oleh orang dewasa. Banyak pemikiran yang mengajak kita agar lebih merenungi arti hidup dari kisah yang disajikan oleh pangeran kecil dan orang-orang yang ditemuinya dalam petualangan tersebut. Kalau mau tau lebih lengkapnya, google aja atuh atau beli aja bukunya (kalau gak salah, bakal di cetul lagi deh sama Gramedia)

“Jika kau berkata kepada orang-orang dewasa, “Aku melihat rumah indah terbuat dari bata merah jambu, dengan bunga geranium di jendela-jendelanya, dan merpati di atapnya, mereka tak bisa membayangkan rumah semacam itu. Kau harus berkata, ‘Aku melihat rumah yang harganya seratus ribu franc;’ Maka mereka akan berseru, ‘Oh pasti indah sekali!” (halaman 24).

Film The Little Prince adalah campuran yang keren lagi bagus antara papercraft animasi (untuk kisah Little Prince sendiri) dan Pixar-esque CG (untuk cerita sampingan – gadis kecil, ibunya dan si kakek penerbang). Untuk kisah The Little Prince sendiri, tidak jauh berbeda dengan novelnya, pangeran kecil bertemu dengan seorang raja, pengusaha yang sibuk dengan angka-angka, orang yang angkuh, dan seekor rubah. Pangeran kecil juga akan bertemu dengan ‘mawarnya’.

3

Sangat disayangkan jika film seperti ini tidak populer dari segi pemasukan dibanding film-film yang bersamaan jadwal tayangnya – misal : paranormal activity 5, film-film Indonesia yang bahkan gue lupa judulnya, Spectre dll – karena ketika gue memasuki studio 6, hanya ada satu penonton pria yang berada di tribun atas. SATU. Ditambah gue jadi ada dua (dalam hati : macem bioskop punya sendiri bah). Selang lima – sepuluh menit kemudian gue mendengar derap langkah mencari kursi yang sesuai dengan yang tertera di tiket. Jika di total hanya ada enam orang saat itu. Enam orang yang gue terka menonton film itu karena sudah terlebih dahulu membaca novelnya.

Kekhusyukan menonton sedikit terganggu ketika tidak ada suara yang terdengar, namun teks di bawah telah berganti-ganti. Salah seorang penonton melaporkan kejadian tersebut kepada yang bertanggung jawab. Film sempat dihentikan, mungkin sekitar 2-5 menit. Lalu setelahnya, gue dapat menikmati film itu secara utuh. Malah pake acara crying pulak, haha (biarin cengeng :P). Moment itu terjadi dalam scene kakek penerbang dilarikan ke rumah sakit, dan gadis kecil itu menerobos hujan lebat demi ingin ikut menemani. Ah, hujan selalu punya sisi melankolis.

Trus scene pangeran kecil di gurun, sehabis bertemu ular.
Pangeran kecil melangkah pelan lalu……..
Scene lain yang bikin gue merembes mili ketika pangeran kecil (yang belum kembali mengecil) pulang ke asteroid untuk melihat mawarnya. Mawar yang perlahan layu lalu menghasilkan sinar kemerahan yang indah. (Gue juga heran sama diri sendiri, masa adegan begini aja gue udah nyaris mewek. Hadeh :p)

4

Paling favorit adalah ketika pangeran kecil bertemu rubah, sahabat baiknya.

Kita berisiko menangis sedikit jika kita membiarkan diri dijinakkan.

Pada akhirnya The Little Prince mengajarkan bahwa orang dewasa cenderung membuat hidup menjadi kaku, monoton, dipenuhi angka-angka dan terlalu serius. Sesekali hidup perlu dijalani dengan cara pikir khas anak-anak serta yang penting adalah hubungan antar manusia dan hal-hal yang hanya bisa dilihat dengan hati.

5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s