[Resensi] What If

Judul Buku : What If
Penulis : Morra Quatro
Halaman : 280
Penerbit : GagasMedia
CPk9YHOUYAAWfM6

Adalah Kamila Rasyid, mahasiswi Antropologi semester atas yang tak peduli jika orang-orang memanggilnya dengan julukan “Si Anal”. Bertemu dengan Jupiter Europa di lapangan basket pada siang yang terik. Pertemuan pertama yang canggung, yang diakhiri dengan Piter yang meminta no telepon Kamila.

“Nomornya gimana?”

“Nomor apaan?”

“Nomor pemadam kebakaran. Ya nomor telepon kamulah.”

“Buat apa?”

“Ya buat nelepon.”

“Piter, kamu tuh adik tingkatku.”

“So?” (P. 30)

Sikap percaya diri Piter yang super duper tinggi membuatnya tak urung menyerah untuk mendapatkan sederet angka milik Kamila, meski Kamila menanggapinya dengan acuh tak acuh. Perjuangannya sedikit membuahkan hasil ketika Kamila mengajukan penawaran, Piter bisa mendapatkan no telepon Kamila jika Piter memperoleh nilai A  pada esai teori Ilmu Sosial. Dan Piter pun menyetujuinya, segera ia menuju perpustakaan. Sesuatu yang jarang dilakukannya. Belajar.

Setelah itu baik Piter maupun Kamila menyadari kalau mereka berbagi rasa yang sama. Mereka saling menyukai. Hubungan mereka berjalan baik-baik saja, pada awalnya. Namun ada satu kenyataan yang tidak bisa mereka pungkiri. Kenyataan yang membuat mereka menjadi lebih kuat daripada apa yang mereka pikir. Kenyataan tentang sebuah perbedaan.

CK_qn9OUwAAG5wP

*****

Kehadiran What If telah lama kunanti, sejak Mbak Morra membagi sedikit demi sedikit nukilan dialog dalam novel di akun twitter/tumblr miliknya. Namun aku sama sekali tidak menyangka bahwa ‘perbedaan’ itulah yang menjadi ide cerita antara Piter dan Kamila. Perbedaan yang sangat klise untuk dijadikan dalam cerita romance. Tapi dengan kepiawaian Mbak Morra meramu ide tersebut, hal yang klise pun menjadi tidak biasa.

Seperti dalam novel yang sebelumnya (Notasi, Forgiven) Mbak Morra tidak lupa menyisipkan ilmu-ilmu pengetahuan yang tentunya akan menambah wawasan siapapun yang membaca novel ini. Tentang Ilmu Sosial, menyinggung tentang agama dan suasana politik yang terjadi dalam kehidupan kampus. Novel ini berhasil membuatku berkeinginan untuk kembali mengunjungi perpustakaan dan meminjam ‘Das Kapital’. Sebagai alumni ISIPOL, yang kebetulan satu jurusan dengan Kamila – abaikan :p – aku malah lupa teori-teori ilmu sosial dasar yang menjadi mata kuliah wajib diawal-awal perkuliahan. Selain itu, aku juga jadi ingin lebih tahu mengenai Ibnu Kholdun, hikayat-hikayat serta literatur Islam yang masih minim ku ketahui.

Selain ilmu sosial dan agama, dalam What If juga ditemukan istilah kedokteran dan sejarah politik bangsa pada tahun-tahun lalu (era Soekarno – Reformasi). Percayalah, kalau saja pelajaran sejarah politik dibuat dalam bentuk semenyenangkan seperti novel ini, maka akan banyak pelajar-pelajar yang tidak memilih mencoret-coret buku catatannya atau berbagi pesan melalui kertas pada temannya ketika guru menerangkan.

Karakter-karakter dalam novel ini juga terasa nyata dan manusiawi. Bagaimana Kamila, Piter, Finn, Anjani, Helena bergelut dengan pikiran mereka masing-masing karena kenyataan yang tidak bisa mereka hindari. Mbak Morra juga sukses menciptakan karakter cowok yang likeable seperti Piter serta Finn. Tidak perlu sempurna dan to good to be true, namun loveable dan pacarable #eh #plak.

Lalu kekurangan dalam What If ?

Ehmm, hampir gak ada sih menurutku. Typo ada sedikitlah tapi gak mempengaruhi keasikan membaca novel ini kok. Mungkin kurangnya adalah….. part-nya Finn kurang banyak Mbak, hehe. Oke, aku lebih charming pada Finn dibanding Piter 😛

Tiba di rumah menjelang sore dan langsung dibaca sangkin penasarannya. Sekitar pukul 10 malam sudah selesai. Lalu berujar dalam hati : “I Feel you Kamila, I feel you”

…..karena aku juga pernah mengalaminya. Ingin bersama tetapi ada perbedaan yang tidak bisa dikompromikan….

CMNb07gUkAAxgIf

Dan sebelum resensi ini jadi ajang curhatku tentang kisah yang mirip, lebih baik diakhiri saja dengan empat bintang yang kurasa pantas untuk diberikan untuk Si Anal – Penyuka Basket – Gembul.

“Berdoalah dulu kepada Tuhan-mu. Aku akan menunggu di sini. Aku tak tahu apa aku diizinkan masuk. Jadi aku akan menunggu. Di sini.” (P. 86)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s