[Resensi] Barakamon Volume 1

IMG-20150830-00879

“Bakat yang paling hebat itu adalah bekerja keras.” (Hiroshi)

Seishu Handa, kaligrafer tampan yang berusia 23 tahun ini memutuskan pindah ke desa karena sebuah insiden yang terjadi pada pesta penghargaan Eika. Sebagai seorang pemenang, Handa merasa ‘diremehkan’ dengan perkataan kepala museum yang mengkritik hasil karyanya.

Handa pikir dengan pindah ke desa dia bisa menghasilkan sebuah karya yang ‘tidak seperti huruf baku’. Sebuah karya yang tidak hanya ditulis untuk meraih penghargaan. Namun dia salah jika menduga rencananya dapat berjalan mulus. Karena di desa itulah dia bertemu dengan Naru – seorang bocah perempuan badung yang menjadikan tempat tinggal Handa sebagai markasnya.

Dapatkah Handa hidup dengan tenang dan menghasilkan karya nya di desa itu tanpa ‘gangguan’ dari Naru serta para tetangga yang ternyata begitu ‘peduli’ terhadap kedatangan orang baru di desanya?

“Kamu tak perlu mengincar sesuatu yang telah didapat orang, tapi kamu juga tak perlu menyerah.” (Nenek Yasuba)

*****

Para tokoh dalam komik ini :

Seishu Handa : Kaligrafer. Senang dipuji. Tidak suka dikritik. Harga dirinya tinggi.

Naru : Bocah perempuan kelas 1 SD yang ceria, bersemangat, dan juga polos.

Hiroshi : Siswa kelas 3 SMA yang sering mendapat angka 3 di rapornya. Baik hati. Mudah menyerah dan kurang bekerja keras.

Kenta dan Hiina : Teman-teman sekelas Naru.

Miwa dan Tama : Siswi SMP yang juga menjadikan rumah Handa sebagai markas.

Nenek Yasuba : Bijaksana dan sayang pada Naru.

*****

Mengenal Barakamon dari seorang teman yang merupakan penggemar anime, dan dia menyukainya. Berbalut rasa penasaran karena belum menonton versi anime, begitu tahu ada komiknya langsung menjadi wishlist. Dan ternyata aku juga menyukainya.

Ada pesan dalam komik ini yang kumengerti, seperti misalnya :

‘Jangan mudah menyerah karena hanya sebuah kritik.’

Bukankah kritik pada dasarnya adalah masukkan agar sebuah karya menjadi lebih baik.

‘Jangan melakukan pekerjaan dengan setengah-setengah.’

Lalu ada percakapan antara Nenek Yasuba dan Handa yang menjadi kesukaan. Ketika Handa merasa putus asa dalam acara menangkap mochi.

“Kamu tak boleh melihat ke atas terus, kamu pikir mochinya jatuh dari atas. Walaupun kamu incar pada saat itu, kamu takkan bisa menangkapnya. Tunggu dengan sabar. Tangkap saat mereka jatuh ke tanah. Lihatlah ke bawah karena di luar dugaan kesempatan jatuh ke bawah.”

…. dan aku harus sabar menanti volume 2 dari komik ini.

Semoga tak lama 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s