[Resensi] Kita & Rindu yang Tak Terjawab

Judul : Kita & Rindu yang Tak Terjawab (Seri Indonesiana #3)
Penulis : Dian Purnomo
Penerbit : GagasMedia
Halaman : 279

“Ada perempuan-perempuan yang menikah muda karena terpaksa, diharuskan oleh adatnya atau karena hal lain dan mereka tidak berakhir dengan bahagia. Perkawinan sama sekali bukan solusi, Mam” (p. 62)

Naiza Rosauli Situmorang, dihadapkan pada pilihan untuk mengikuti anjuran Papa dan Mama Batak – untuk menikah dengan Sidney Sinaga – ataukah menanti orang yang dia cinta – tetangga yang sedang menyelesaikan beasiswa S2 nya di Belanda, Tantra. Anjuran untuk menikah itu bukan tanpa sebab, kondisi Papa Batak yang sedang sakit membuatnya ingin melihat Naiza menikah lalu memiliki anak dengan orang BATAK. Ya, Papa Batak bermimpi punya menantu Batak. Dan semua itu ada pada diri Sidney Sinaga.

“Kalau kawin sama non-Batak, itu seperti kau kawinkan berlian sama imitasi dari kaca. Bukan batu kaca yang naik derajatnya, tapi berlian yang turun” (p. 110)

Sidney Sinaga : lelaki Batak berusia awal tiga puluhan, punya pekerjaan mapan dan sedikit tampan. Mulanya dia enggan ikut campur dengan upaya ‘perjodohan’ ini namun pada akhirnya dia seolah pasrah dengan apa yang diinginkan orangtuanya. Orangtua Sidney pun bercita-cita punya menantu Batak. Naiza sendiri tak kuasa untuk menolak keinginan orangtuanya, namun dilain pihak dia tidak mudah mengesampingkan perasaannya untuk Tantra, teman masa kecilnya yang selalu menjadi tempat pelampiasan emosinya. Dia bingung apakah harus menerima ‘perjodohan’ itu sementara dia tidak mencintai Sidney, dia pun tidak yakin Sidney juga mencintainya – karena selama mereka bersama, Sidney tidak pernah menatap mata Naiza. Seolah-olah ada sesuatu yang Sidney sembunyikan. Ataukah Naiza harus berkorban mengubur perasaannya pada Tantra yang beretnis Jawa.

*****

Setelah sukses dengan seri STPC – setiap tempat punya cerita – GagasMedia merilis seri terbaru mereka, yaitu Indonesiana. Seri Indonesiana ini di luar ekspektasiku. Kupikir dalam seri ini – yang menjadi latarnya adalah Sumatera Utara – berarti lokasi ceritanya di sana. Ternyata aku salah, yang dimaksud dengan cerita yang berasal dari Sumatera Utara adalah adat budaya yang sangat kental yang ada di Sumatera Utara. Dalam novel ini adalah budaya Batak.

Orang Batak pada umumnya sangat berharap menikah dengan sesama Batak.
Terdengar rasis ya? Tapi memang itulah yang terjadi.
Lahir dan besar di Medan, fenomena seperti itu kerap kulihat pada teman-temanku yang sebagian besar beretnis Batak. Mereka boleh berpacaran dengan etnis mana saja yang disuka, tapi jika berbicara mengenai pernikahan, maka mereka sebisa mungkin menjalin hubungan dengan sesama etnis.

Awalnya aku menduga akan ada salah satu kota di Sumatera Utara yang setidaknya berperan banyak sebagai latar, namun menjelang halaman-halaman menuju akhir barulah kota tersebut muncul, kota Sitorang Nabolon (yang aku sendiri pun tidak tahu itu di daerah Samosir di sebelah mananya. Ah nilai geografiku :p).

Dalam novel ini ada nama Tantra yang sepertinya menjadi tokoh utama pria, tetapi aku merasa intensitas kemunculannya kurang banyak dibandingkan Sidney. Lagi pun aku kurang dapat merasakan ‘chemistry’ antara Tantra dan Naiza, meski penulis telah menjelaskan di bab-bab awal bahwa hubungan Tantra dan Naiza ‘dekat’. Aku malah menyukai tokoh Tama – kakak Tantra – yang digambarkan sebagai orang yang sibuk dengan telepon genggam, sekaligus bijak. Sayang, Tama hanya cameo yang numpang lewat. Selain Tama aku juga suka dengan Mama Batak, apa ya, karakternya itu ‘batak kali lah pokoknya’ hehe 😛

Terkait masalah penulisan, aku menemukan beberapa typo.

Kudenganr (p. 15) – kudengar
Perjalananku.nJauh (p.57) – perjalananku jauh
Menajtuhkan (p.61) – menjatuhkan
Lau (p. 89) – lalu
Menyudarinya (p.152) – menyadarinya
Pomsel (p. 177) – pons
el

Novel ini memberi gambaran bagaimana budaya masyarakat Batak di perkotaan. Meskipun mereka telah hidup di kota sejak lama, Mama dan Papa Batak tetap memegang teguh adat budaya mereka. Lain halnya dengan Naiza maupun Sidney, yang telah mengalami percampuran budaya selama berada di kota, apalagi dengan pekerjaan Sidney yang mengharuskannya ke luar negeri membuatnya tidak menganggap penting suatu adat.

“Menikah itu bukan tentang ingin atau tidak ingin, niat atau nggak niat. Di dalam keluarga Batak, kita ini rata-rata menikah karena kewajiban meneruskan keturunan, meneruskan marga, menjaga adat. Padahal, sama sekali tidak kulihat urgensinya di mataku untuk meneruskan sebuah marga. Kenapa harus diteruskan? Apa untungnya buat umat manusia kalau Sinaga bertahan sampai seribu lapis anak pinak berikutnya?” (p. 88)

Ada beberapa kalimat yang menjadi favoritku dalam novel ini :

“Bagaimana bisa tahu kalau dia jodoh kita? Tuhan saja merahasiakannya, kok. Jodoh itu proses seumur hidup. Nggak ada berhentinya. Itu yang benar. Siapa bilang orang yang sudah menikah itu pasti jodoh? Bagaimana kalau mereka bercerai? Apa itu berarti tulang rusuknya yang hilang itu bercabang?” (p. 90)

“Pernikahan seperti sebuah tarian berpasangan. Siapa pun yang menjadi pasanganmu, kalian harus memastikan bahwa satu sama lain bisa mengimbangi tarian pasangannya. You might step on each other foot, but you can choose to get mad or laugh and start all over again. There’s no such things as win or lose in a marriage.” (p. 154)

“Karena mencintai itu tidak pernah berdiri sendiri. Ada pengorbanan di sana. Mencintai adalah kata kerja yang harus kita lakukan setiap hari.” (p. 168)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s