[Resensi] Rumah Tangga

Judul : Rumah Tangga
Penulis : Fahd Pahdepie
Penerbit : PandaMedia
Halaman : 298
Harga : 64.000
No. ISBN : ISBN (13) 9789797808136
Mulai baca : 17 Juli 2015 – Selesai : 18 Juli 2015

“Kelak, jangan bercita-cita membelikan rumah untuk istrimu, bercita-citalah untuk tinggal bersama dan hidup berbahagia dengannya, selama-selamanya. Jangan berdoa ingin membelikan kendaraan mewah untuk anak-anakmu, berdoalah agar kalian bisa pergi bersama-sama bertamasya, atau berbelanja dengan bahagia. Jangan bermimpi ingin memberangkatkan orangtuamu naik haji, bekerjalah sungguh-sungguh, lalu berangkatlah kalian bersama-sama untuk berbahagia bisa bersujud di rumah Tuhan sebagai keluarga” (hal : 36)

Dalam buku ini tulisan Kak Fahd terasa sungguh personal, mungkin karena ini semacam ‘surat cinta’ Kak Fahd kepada keluarganya. Pada Rizqa – istrinya – serta  pada Kalky dan Kemi – kedua anak lelakinya. Kumpulan cerita yang ada dalam buku ini dikisahkan secara sederhana, namun dieksekusi dengan sentuhan manis sekaligus romantis. Meskipun ditulis dengan sederhana, cerita-cerita dalam buku ini memiliki banyak pesan tersirat.
Pesan tentang keluarga. Sebuah rumah tangga.

Banyak topik yang Kak Fahd cantumkan seperti topik tentang manakah yang lebih mulia, apakah seorang ibu penuh waktu atau perempuan yang bekerja. Tentang bebagi peran antara suami dan istri yang kerap kali disalah artikan dengan ‘ayah pergi ke kantor, ibu memasak di dapur’. Serta tentang poligami.

“Di atas semua itu, tenang saja. Bekerja atau tidak, seorang ibu selalu mulia.” (Hal : 75)

Awal tahu kalau Kak Fahd akan merilis buku ini Juni lalu, aku segera memasukkannya menjadi wishlist yang wajib dimiliki. Karena sejak 2010 akhir aku mulai menyukai gaya menulis Kak Fahd – gaya menulis sederhana yang sarat makna – maka sebisa mungkin aku mengoleksi buku-bukunya. Sempat tergoda untuk mengikuti PO namun apa daya ketika itu kondisi keuangan belumlah memungkinkan, hingga bersabar menunggu tabungan kembali berisi. Cukup gembira ketika tahu ada sebuah lomba menulis surat yang Kak Fahd selenggarakan dan berhadiah buku ini, sempat ingin ikut serta tapi pada akhirnya aku kalah sebelum bertanding. Kalah denganmood untuk menulis maksudnya.

Terlepas dari adanya beberapa tulisan yang ada dalam blog pribadinya (aku pikir dalam buku ini semua tulisan adalah tulisan yang baru), adanya kesalahan cetak (halaman yang berulang, yaitu halaman 143 “Terima dengan Kasih” sampai halaman 155 “Sebelum Gelap”), serta sedikit typo yang tidak menghalangiku untuk menyelesaikan buku ini dalam sehari. Sebenarnya aku mampu menyelesaikannya dalam beberapa jam saja, namun aku salah memilih waktu untuk membacanya, aku membacanya satu jam sebelum tidur hingga akhirnya aku terlelap sementara bukunya belum habis dibaca. Alhasil begitu bangun tidur lanjut baca lagi deh.

(Halaman yang berulang)

Overall aku masih tetap menikmati buku ini.
3.5 bintang lah. Digenapkan menjadi 4.

Oia, banyak kalimat-kalimat yang menjadi kesukaanku dalam buku ini :

“Bersama laki-laki yang hebat, selalu ada perempuan luar biasa. Mereka tumbuh bersama dan saling memberi makna.” (hal : 78)

“Cara Tuhan tidak mengabulkan sebagian doa kita adalah untuk mengabulkan doa-doa kita yang lainnya. Tuhan Maha Tahu mana yang paling baik bagi kita, sementara kita hanya bisa mengira-ngira.” (hal : 109)

Apa yang paling kita rindukan dari masa lalu?
Mungkin eksistensi.
Kita mencari-cari diri sendiri di dasar ingatan, di rongga-rongga waktu yang sudah kita lewatkan.

Apa yang paling merisaukan kita pada masa kini?
Mungkin eksistensi.
Hari-hari kita dipenuhi keresahan dan kecemasan.
Tentang uang. Tentang cinta. Tentang Pendidikan. Tentang pekerjaan. Tentang Keluarga.

Apa yang paling ingin kita ketahui dari masa depan?
Mungkin eksistensi.
Akan jadi apa kita nanti?
Akan jadi apa anak kita kelak?
(hal : 90-91)

Sedikit sekali orang yang tak bisa ‘mendengar’, tetapi banyak sekali orang yang tak bisa ‘mendengarkan’. (hal : 166)

Ah, adakah yang lebih menenangkan daripada doa-doa? (hal : 218)

Cinta dan kebahagiaan kadang-kadang harus dirayakan, untuk alasan-alasan yang bisa kita buat sendiri (hal : 242)

Cerita-cerita paling favorit :

Eksistensi
Bagaimana Jika Ibumu Bukan Ibu Terbaik di Dunia?
Terima dengan Kasih
Belajar Mendengarkan
Mengapa Tidak Semua Orang Perlu Menyukai Kita?

PS : Walaupun buku ini bercerita tentang ‘rumah tangga’, namun percayalah buku ini juga recommended banget untuk dibaca bagi yang belum berumah tangga – hitung- hitung sebagai pemanasan sebelum memasuki ‘roller coaster’ pernikahan – seperti aku 😛 *abaikan* haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s