[Resensi] Gelombang : Alfa

Kamu, dan para Peretas yang amnesia, tak ubahnya keping-keping yang berserakan. Menanti untuk terhubung.(Hal : 428)”

image

Semua bermula dari mimpi.

Mimpi yang muncul pertama kali sejak Alfa Sagalamenyaksikan ritual upacara pemanggilan roh Raja Uti dengan iringan gondang – yang membuatnya bertemu dengan sesosok makhluk hitam besar bersayap, Si Jaga Portibi. Hidupnya tidak sama lagi. Pamuhai tersakti di kampung (Ompu Togu Urat) menduga Alfa mempunyai ‘kemampuan’ yang tidak biasa dan bermaksud mengangkatnya menjadi murid. Dalam pertemuan pertamanya dengan Togu Urat, Alfa bercerita tentang mimpi yang kerap kali mendatanginya. Mimpi buruk yang sama.

“Di mimpi itu, ada jalan batu berliku-liku, ujungnya selalu buntu. Aku terperangkap di situ. Tak bisa keluar. (Hal : 46)“

Ternyata tak hanya Togu Urat saja yang menyadari kemampuan Alfa. Seorang Pamuhai lain – Ompu Ronggur Panghutur – pun ingin mengangkat Alfa sebagai murid. Alfa bingung mengapa tiba-tiba ada dua orang sakti yang memperebutkannya.

Mimpi itu masih sering menghantui Alfa meskipun dia sudah berada jauh dari kampungnya, di Jakarta. Namun ada yang berbeda dari mimpinya sekarang. Ada sebatang kapur yang muncul di kantong. Langit mendung. Tak ada lagi cahaya. Dunia dalam mimpinya semakin suram. Jakarta hanyalah persinggahan sementara Alfa, karena Amerika adalah tujuan utamanya, Hoboken. Di sana dia memiliki dua sahabat karib – Troy dan Carlos – yang sama-sama berjuang memperoleh beasiswa dari Cornell University.

Tak sampai di situ, Alfa yang cerdas juga memperolah kesempatan untuk magang – pada awalnya, di Wall Street atas kejelian insting dari seorang Tom Irvine dalam mengamati potensi yang Alfa miliki. Mulanya Alfa ragu untuk berkata ‘iya’ atas tawaran tersebut karena statusnya yang masih imigran gelap. Namun pada akhirnya Alfa menjelma menjadi seorang anak bawang yang mampu menghasilkan profit 250 ribu dolar untuk Andromeda Capital pada 3 bulan masa magangnya.

Di suatu malam pada hari ulang tahunnya, mimpi yang selalu Alfa hindari – dengan tidur kurang dari satu jam – kembali hadir. Adalah Ishtar Summer yang menjadi pemicunya. Seorang perempuan ‘hadiah’ dari Troy dan Carlos untuk a birthday boy. Ishtar membuatnya ‘tidur’ selama lima jam. Membuatnya meminta bantuan dr. Nicky Evans untuk mengatasi masalah tidurnya.

Somniverse – klinik gangguan tidur – adalah tempat di mana Alfa mencoba mengobati masalah tidurnya. Nicky dan dr. Colin meminta Alfa untuk tidur lalu mengamati polisomnogram tidurnya sebagai langkah pertama untuk mengatasi masalah tidurnya. Langkah pertama yang mendebarkan, karena ternyata Alfa dihantui mimpi itu lagi. mimpi yang membuatnya nyaris meregang nyawa. Ada yang ingin membunuhnya dalam mimpi tersebut. Sesuatu atau seseorang.

Alfa tak lagi berniat untuk mengobati masalah tidurnya, namun dengan bujukan Nicky dan dr. Colin, Alfa membuat keputusan untuk berani bertaruh demi tidak lagi dihantui mimpi tersebut.

“Satu hal yang kupelajari dari Wall Street. Dunia ini adalah arena judi besar. Suka tak suka, sadar tak sadar, apa pun profesi dan standar moralnya, semua berjudi setiap hari. Semua keputusan melibatkan konsekuensi yang harus ditaksir seberapa menguntungkan dan seberapa merugikan. Ada harga yang harus dibayar. (Hal : 289)”

Dan harga yang dibayar oleh Alfa adalah perjalanannya ke Lembah Yarlung, Tibet untuk bertemu dengan Dr. Kalden Sakya demi terkuaknya satu persatu arti dari mimpi yang telah menghantuinya selama ini. Tentang Gelombang. Tentang sesuatu yang bernama Asko dan Antarabhava. Tentang Infiltran, Peretas, dan Sarvara.

Alfa Sagala adalah gelombang.

Seorang Peretas. Kaum yang memilih amnesia sebagai bentuk penyamaran agar mampu mengingat dan melaksanakan rencananya. Infiltran bertugas membantu Peretas agar semua berjalan sesuai dengan rencana. Sementara Sarvara memiliki tugas memburu dan menyingkirkan Peretas.

Dan Alfa Sagala, tidaklah sendirian…

*****

Gelombang menyuguhkan kisah pencarian identitas seorang Thomas Alfa Edison aka Alfa aka Ichon yang berusaha mencari tahu arti mimpi yang sering mendatanginya. Mimpi buruk yang sama. Mimpi yang membawanya ke Jakarta – Amerika hingga Tibet. Mimpi yang tidak sesederhana dia pikirkan. Dalam pencariannya tersebut, dia bertemu dengan banyak orang. Orang yang ingin membantunya dan yang ingin menghancurkannya.

Dari seri Supernova – kpbj, akar, petir dan partikel – gelombang menjadi kesukaanku selain petir. Membaca gelombang hanya dalam one shot. Tak perlu berganti hari. Pada awal membaca gelombang aku terhibur dengan kisah keluarga Ichon – yep, aku lebih suka memanggilnya dengan nama Ichon ketimbang Alfa – yang terasa Batak kali. Memasukkan unsur kepercayaan tradisional Batak (baca : Parmalim) sebagai bumbu cerita adalah pilihan yang bijak. Meski banyak kebetulan dan kemudahan yang dialami begitu saja oleh si tokoh utama dalam novel ini, namun entahlah aku bisa saja memakluminya.

Dee kembali memberiku pengetahuan baru tentang mimpi. Mimpi yang memiliki banyak fungsi dalam kehidupan ini. mimpi yang biasanya hanya dianggap sebagai bunga tidur ternyata tidaklah sesederhana itu. Ada makna yang mungkin bisa ditangkap dari sana. Yang bisa menjadi ruang belajar atau semacam intuisi.

“Teknik mimpi sadar (lucid dream), yoga mimpi (dream yoga), meditasi mimpi, adalah sekian banyak jalan untuk memanfaatkan mimpi lebih dalam. (hal : 471)”

Setelah mencapai akhir dari kisah gelombang, membuatku ingin membaca ulang seri Supernova lainnya, terutama akar, yang salah satu tokohnya memiliki keterikatan dengan gelombang. Sekaligus menduga-duga siapa lagikah dua Peretas yang akan melengkapi gugus Oktahedral. Dan kurasa yang mampu kulakukan hanyalah menunggu. Menunggu Dee menyelesaikan Inteligensi Embun Pagi sebagai jawaban sekaligus penutup dari seri Supernova.

PS : Keenan kelas berapa sih sebenarnya, kok udah ngerti math question yang menjadi kata pengantar dalam buku ini ya? 😛

#diikutsertakan dalam Dee’s Coaching Clinic

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s