[Resensi] Sabtu Bersama Bapak

Lengkap.

Satu kata buat novel Adhitya Mulya yang bersampul biru dengan sebuah CD bergambar keluarga sederhana bersahaja yang terdiri dari Bapak, Mamah, dan dua anak laki-lakinya.
Sabtu Bersama Bapak.


Novel yang gue selesaikan dalam sekali hadap. Empat jam saja. Sebelas malam hingga dua dini hari. Perasaan puas didapat setelah sampai pada halaman terakhir novel tersebut. Setelah sebelumnya sukses dibuat ketawa ditengah malam hingga merenung sebentar memikirkan pesan yang disampaikan oleh tokoh Bapak dalam sebuah video yang ditujukan untuk kedua anak lelakinya.
Satya dan Cakra.
Meski tidak dapat duduk dan bermain di samping kedua anaknya, Bapak telah menyiapkan sebuah video untuk mereka menjelang kepergian sang Bapak untuk selamanya karena kanker. Video itulah yang menjadi media untuk Bapak ‘seolah hadir’ dalam mengawasi tumbuh kembang anak-anaknya. Video berisi cerita dan ajaran yang belum sempat Bapak sampaikan pada anak-anaknya.

Satya – anak tertua dari pasangan Gunawan Garnida dan Itje – kini telah menginjak usia 33 tahun, berumahtangga dan memiliki 3 orang anak laki-laki. Sebagai seorang Bapak yang harus bekerja jauh dari rumah, dia jarang memberi perhatian pada keluarganya. Sampai pada suatu ketika terjadi pertengkaran dengan istrinya, hingga sang istri mengirim sebuah email yang berisi unek-unek tentang kehidupan keluarga mereka. Satya tercengang lantas berpikir, seburuk itukah selama ini dia menjadi seorang Bapak bagi keluarganya?

Cakra – usia 30 tahun, punya rumah sendiri, seorang Deputy of Director (DD) dalam divisi micro finance, suka lagu melow dan warna merah namun sayang dia jombloh. Kejombloan Saka (nama kecil Cakra) yang telah lama ini mendapat perhatian khusus dari teman-teman satu divisinya yang menyebabkan gue tengah malam ketawa-ketiwi.
Ini nih satu part yang gue suka :

From : Cakra Garnida
To : +all ID sales micro finance POD
Subject : Stop it!
Dear all,
Terima kasih atas waktu dan usaha kalian habiskan mencari saya jodoh. Memang saya akui, saya rada kering beberapa tahun terakhir ini. Pun demikian, saya ingin mengingatkan bahwa ada jauh yang lebih penting dari nasib saya seperti contohnya, achieve target 2016. Memang sudah growing 13% dari tahun lalu, tapi masih 95% dari target tahun ini. Jadi mohon konsentrasi ke sana. Atau mencoba menjawab soal matematika di bawah.
Jika kalian bertanya selama tiga tahun, kapan saya punya pacar, maka coba hitung berapa penurunan gaji kalian tahun depan.
Mari kita renungkan.
CG 

Balasan muncul kemudian.

From : Ivan Marpaung
To : +all ID sales micro finance POD
Subject : Re: Stop it!
Lae, ada soal lain.
Seorang jomblo berumur 30 tahun. Menyatakan cinta 3 kali. Ditolaknya 5 kali. Sudah menjomblo 13 tahun, berapa tekanan batin yang disimpan di hati si Jomblo?
Marpaung 

Masih banyak part-part yang buat gue senyam-senyum gak jelas. Apalagi dengan kehadiran Ayu, yang ditaksir Cakra, namun Ayu tidak memberikan lampu hijau padanya karena menurutnya Cakra agak sedikit ‘aneh’. Belum lagi Mamanya Cakra (Itje) yang mulai khawatir kenapa anak bungsunya tidak kunjung menikah, sehingga acara ‘mak comblang’ pun menjadi alternatif mencari jodoh. Cakra dijodohkan dengan Retna, anak temen Mamanya.

Mama, perempuan kuat yang tidak ingin menyusahkan kedua anaknya. Yang memiliki keinginan menyaksikan si bungsu menikah. Dan yang diam-diam menyimpan rahasia dari anak-anaknya.

Bapak, sosok orangtua cerdas yang mengajarkan anak-anaknya tentang bagaimana caranya menghadapi hidup. Baik sebagai anak, dan orangtua nantinya. Menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap tahap usia kembang anak-anaknya. Memberi pemahaman bahwa semoga anak-anaknya dapat menjadi orang-orang yang berguna bagi orang lain.

4.5 buat novel ini.
1. Untuk kovernya yang simpel tapi keren.
2. Untuk kisah kasih Ayu-Cakra-Retna yang lucu+sweet.
3. Untuk pelajaran-pelajaran berharga yang Bapak ceritakan lewat video.
4. Terakhir, untuk Mama, Satya-Rissa-Ryan-Miku-Dani yang mengajarkan tentang suka-dukanya hidup berumah tangga.

Eh hampir lupa, 0.5 untuk peran brilian Ivan Marpaung, Bambang Pram, Wati Maemunah serta Firman. Merdeka ^^/
Nah karena gue menganut sistem pembulatan ke atas, jadi gue genapkan 5 bintang untuk novel ini. Bravo. Bravo.

Ps :
Meski gue agak sedikit agak kecewa, kenapa diakhr-akhir cerita gak ada lagi kemunculan anak buah Saka yang ‘perhatian’. Kan pengen baca respon-respon mereka mendengar si Bos akhirnya punya pacar juga. Hahaha. Tapi tetep gak mengurangi 5 bintang yang udah gue berikan.

Ah ya, dan dari banyak pelajaran yang bertebaran dalam novel ini, gue paling suka tuh part :

Mendiang Bapak telah mengajarkan kepada anak-anaknya dalam sebuah posting, bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan.

Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s