[Resensi] Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa

Berulang kali aku meletakkan novel bersampul biru dengan hiasan bunga ditiap sudutnya ke dalam rak yang dimulai dari abjad P. Bimbang memutuskan untuk membawanya pulang atau tidak. Kubaca lagi sinopsis yang tertera di belakang cover novel tersebut. Tidak terlalu menarik, pikirku. Membalik cepat halaman dan mengintip beberapa halaman penghabisan dari novel tersebut, masih juga tidak menarik, batinku. Namun entah mengapa akhirnya aku membawanya juga. Novel berjudul “Kastil Es dan Air Mancur Yang Berdansa” itu ke meja peminjaman.

*****

Florence L’etoile tak pernah menyangka ‘pelariannya’ dari kencan buta yang diatur oleh orangtuanya – Monsieur dan Madame Leroy – akan  membawanya bertemu dengan pemuda baik hati yang memberinya sebuah tas mahal Chanel – yang diduganya hanya tas murahan karena tidak dibungkus dengan kertas yang terlihat mahal – dalam perjalanan menuju Honfleur. Vinter Vernalae, nama pemuda itu. Seorang yang kesepian, muram dan lupa bagaimana caranya tertawa.

 “Selama ini, tidak ada yang bisa membuatnya tertawa. Dia sudah lupa cara tertawa. Tapi, kau membuatnya tertawa.”

“Karena aku sangat konyol.”

“Aku sudah hidup cukup lama dan tahu bedanya tawa ejekan dan tawa yang tulus, Mademoiselle. Aku sudah berpengalaman dengan ejekan hampir sepanjang umurku.”

Itulah yang dikatakan Zima, seorang konduktor yang dikenal misterius, eksentrik yang sok Vivaldi dan gosipnya menyimpan mayat di ruangan di bawah taman bunganya. Karena Zima lah Florence dan Vinter memiliki keterikatan satu sama lain, bisa dikatakan begitu. Vinter merupakan teman Zima yang selalu memberinya ide tentang seniman mana saja yang bisa dipanggil untuk melakukan pertunjukan di rumahnya. Namun hari itu, seniman yang harusnya mengisi pertunjukan di rumah Zima membatalkan pada saat-saat terakhir, Vinter yang tidak enak hati mengabarkan berita itu memilih untuk memberitahunya langsung ke Honfleur dan disitulah dia bertemu dengan Florence. Dalam kereta api. Florence yang akibat ‘pelariannya’ itu harus merelakan tasnya yang biasanya hanya bertahan tiga bulan menghuni tong sampah karena sudah tidak lagi layak di gunakan, mendapat tas dari seorang pemuda baik hati, Vinter. Merasa tidak enak diberi tas secara cuma-cuma oleh Vinter, Florence berniat membantunya dengan tampil menggantikan seniman yang tidak dapat hadir tersebut. Melukis, membaca puisi, bermain drama, dan bermain piano juga biola. Dari sana semua bermula. And the story begins….

Interaksi yang terjalin antara Vinter dan Florence, membuat Florence menyadari bahwa sikap muram, sedih dan kesepian yang Vinter rasakan berawal dari masa lalu. Masa lalu yang membuat Vinter menjadi seorang yang ‘self-harmer’ – sebutan bagi orang yang suka menyakiti dirinya sendiri, biasanya dengan melukai kulitnya. Kadang dilakukan oleh orang yang tidak bahagia dengan hidupnya dan mengalami depresi berat – dan penyendiri. Dan Florence ingin membantunya, karena Florence tahu Vinter membutuhkannya. Karena Florence tahu, dialah yang mampu membuat Vinter kembali tertawa akibat ulahnya ditengah pementasan puisi Edgar Allan Poe, The Raven (Le Corbeau) yang meninggalkan panggung karena mendengar dering ponselnya yang berada di bangku penonton.

“Dia membutuhkan seseorang untuk membuat dirinya cerah. Dan tegar. Dan aku merasa bisa melakukannya. Walaupun aku sendiri juga sangat rapuh. Tetapi tidak lebih gelap dibandingkan dirinya.”

Bukan berarti masa lalu Florence bahagia, dia pernah begitu sangat mencintai, bahkan cenderung mendekati bodoh karena Jean Michel. Orang yang pernah menjadi pacarnya, yang kemudian meninggalkannya begitu saja dengan teman satu kampusnya dengan alasan aku bukanlah orang yang dia inginkan. Itu membuat Florence sedih, dan karena itulah Maman dan Papa nya serta Celine – sahabatnya – begitu melindunginya jika berkenaan dengan seorang pemuda. Hingga akhirnya Maman dan Papanya mengatur rencana sebuah  kencan buta untuknya. Florence tak ingin menyakiti hati orangtuanya dengan membatalkan kencan tersebut, namun dia juga tidak mudah mengabaikan perasaan hangat yang pelan-pelan muncul di hatinya ketika bersama Vinter. Lalu apakah yang akan di lakukannya ??

*****

Novel keempat Prisca Primasari yang berhasil kuselesaikan setelah Beautiful Mistake, Paris : Aline, Evergreen. Dan aku paling menyukai yang ini. Semua tokoh dalam novel ini memberi peranan penting untuk keutuhan serta sistematika cerita. Mulai dari Florence, Vinter, Zami, tiga tokoh utama menurutku, diikuti Celine – sahabat Florence, Annelies – pemilik grup drama Le Theatre de Rocher, Maman dan Papa Florence. Tokoh favoritku awalnya adalah Celine, aku ingin punya sahabat seperti Celine yang rela menyeretku pulang ke rumah ketika aku melarikan diri dan membantuku berdamai dengan masa lalu dengan cara berolahraga. Namun semakin mendekati akhir, aku juga menyukai karakter Maman dan Papa Florence yang mencarikan jodoh untuk Florence. Bukan, aku bukannya ingin dicarikan jodoh juga oleh kedua orangtuaku, lho. Aku suka bagaimana cara mereka menemukan pemuda yang mereka rasa akan cocok untuk putrinya.

“Aku semakin yakin dia adalah orang yang tepat untukmu, ketika aku sadar bahwa aku tidak hanya memikirkan kebahagiaanmu. Tapi juga kebahagiaannya.

Saat aku membicarakan dirimu, dia tidak bertanya, “Apakah dia cantik? Bagaimana wajahnya? Bagaimana perangainya?”

Tetapi, yang dia tanyakan adalah, “Apa yang disukainya? Apa yang membuatnya bahagia? Aku sangat berharap aku bisa memberikan sesuatu untuknya…”

(Ucapan Papa Florence ketika menjelasakan mengapa menyuruhnya melakukan kencan buta)

Selain itu, tentu saja aku berhasil menemukan beberapa quote yang kurasa cukup keren untuk di posting pada wall facebook atau menghias timeline kicauan pribadiku.

Orang lain tidak melihatmu seperti kau melihat dirimu sendiri.

Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan dan menyayangi dirimu sendiri.

Dan jika disuruh memberi bintang dari skala 1 sampai 5. Maka aku dengan senang hati akan memberinya angka 5…

Sekian. Terimakasih 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s