[Resensi] Autumn Once More

Lima bintang untuk Autumn Once More.

Sebagai pembukaan gue mau said thanks to my bro yang udah ikhlas nyisihin uangnya untuk dikasih sama gue. Dan gue pake buat beli nih novel. Haha.

Tau nih novel dari Kak Ika yang rajin banget promoin novel ini dari twitternya, dan sebagai salah satu followernya yang rajin mantengin tl nya, taulah gue tentang nih novel yang ternyata adalah kumpulan cerpen dari para penulis kebanggan GPU aka Gramedia Pustaka Utama. Sebut saja, Ilana Tan, Ika Natassa dan AliaAzalea beserta para editor GPU yang ‘dipaksa’ untuk menulis sebuah karya cerita pendek. Alasan utama pengen beli kumpulan cerpen metropop ini sebenarnya adalah akibat rasa penasaran – lihat rasa penasaran gue akan sesuatu begitu besar – sama sosok Ale yang bakal digadang-gadang jadi objek delusinya para perempuan selain Harris Risjad dan Beno Wicaksono, tentu saja (dua tokoh utama dari novel Kak Ika sebelumnya Antologi Rasa dan Divortiare-Twivortiare, yang mampu membuat para perempuan berdecak kagum, ngiri, mimpi, dan berharap sosok Harris dan Beno adalah nyata. Dan rela-relain stalkingin twitternya Harris dan biniknya Beno – see, yang di suka si Beno nya, yang diintipin tweet istrinya. Maklum, Beno gak pake twitter).

Nah balik lagi ke kumpulan cerpen ini, ada tiga belas cerita pendek dari tiga belas ‘penulis’ yang mengisi 229 halaman novel ini. Temanya masih tentang cinta – yang merupakan tema yang tidak akan pernah habis dan basi untuk dibahas di alam semesta ini – dari masing-masing sudut pandang penulis. Ada kisah cinta tentang seorang anak perempuan pada mamanya. Cerita tentang pertemuan seorang Tanya dengan Ale dalam penerbangan ke Sydney yang sayang ceritanya mesti di potong karena ini bakal dibuatin novel sama Kak Ika nya yg janjinya rilis 2015. Hiks. Masih lama. Mesti sabar menanti Ale. Lalu ada kisah tentang seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang dijodohkan oleh Eyangnya, di hari dia mengetahui bahwa sahabat yang dijatuh cintainya juga menyukainya. Masih banyak cerita lain yang kalo gue sebutin satu-satu nanti jatuhnya jadi spoiler pulak. Btw, dari tiga belas cerita itu, ada dua cerita lagi yang gue suka banget, selain Critical Eleven nya Kak Ika tentunya.

  1. Perkara Bulu Mata, yang ditulis oleh Nina Addison.

Cerita tentang empat orang anak muda yang bersahabat sejak SMA, Vira, Lilian, Jojo dan Albert. Kisah dibuka dengan Vira yang curhat sama ketiga sahabatnya tentang masalah gebetannya, Tom. Alur yang cepat dan ringan membuat gue ‘ngeh’ mau kemana cerita ini dibawa. Dan benar saja, ujung-ujungnya berakhir dengan rasa suka sama sahabat sendiri, karena sekian lama bersama baru menyadari kalo, hei,, sahabat gue ternyata punya bulu mata panjang dan lebatnya.

‘Nggak heran, cuma dia yang bisa bikin orang curhat hanya dengan memberikan perhatian lewat matanya’ (Vira).

Yah ini hanya perkara bulu mata.

  1. Senja Yang Sempurna, karya Rosi L. Simamora.

Nama Rosi L. Simamora gak asing lagi di kuping gue, karena rajin merhatiin editor dari tiap buku yang gue baca, maka gue langsung ‘ting’ gitu tau kalo Mbak Rosi ini adalah salah satu editornya GPU yang juga mengeditori (bahasa apa deh gue ini) novel favorit gue LHHP dan LCHP nya Karla M. Nashar. CMIIW. Kalo gak salah inget, dia juga pernah jadi editornya salah satu novelnya Kak Ika (kalo gak salah nih yaa. Maklum ingatan udah lemah). Awal baca cerpennya Mbak Rosi, beneran bete dan ngebuat ngantuk. Abisnya isinya puitis semua, deskripsinya keren memang, cuma gue kadang gak suka aja kalo deskripsinya keindahan dalam tatabahasanya karena gue kadang jadi susah nangkep maksudnya (ini subjektif sekali memang, dan ini murni masalah otak gue aja kok. Upsss). Namun entah karena pengaruh ngantuk, lama-lama gue ngerti juga maksud cerpen ini, dan lagi-lagi karena subjektifitas, gue ngerasa nih cerpen ada mirip-miripnya sama kisah gue. Hahaha. Kepedean banget kan.

Tentang seorang perempuan selama lima tahun yang dengan sabar berusaha menyingkirkan tembok-tembok awan tebal dan menyeruakkan sinar-sinar matahari sekarat yang paling lembut dan paling tidak menyilaukan ke balik awan di langit. Namun langit itu tidak pernah mau mengakuinya, terlalu takut jujur akan perasaannya. Ya, perempuan itu adalah matahari sekarat pencinta senja, dan pemuda yang dicintainya adalah langit dengan tembok awan yang tebal. Hingga akhirnya perempuan itu memilih meninggalkan langit dan jatuh cinta pada hujan. Hujan yang diciptakan oleh langit dengan tembok awan tebalnya.

“Dan kamulah yang membuatku jatuh cinta pada hujan itu. Selalu kamu. Selalu kamu…”

Medan.

12 April 2013. 01.08

Ps : Dengan membeli buku ini, secara gak langsung juga ikutan nyumbang di Dana Kemanusiaan Kompas. Karena seluruh royalti dari buku ini akan disalurkan kesana. Sekalian menikmati isi bukunya, sekalian ikut membantu sesama (Lho kok, gue jadi ikutan promosi. Hohoho)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s